The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 174. Apatis


__ADS_3

Bab 174. Apatis


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Dan diriku bukanlah aku , tanpa kamu t'rus memelukku..Kau melengkapi ku, kau sempurnakan aku"


( Diambil dari lirik lagu Noah ~ Tak lagi sama)


.


.


Dengan mengumpat Abimanyu menutup sambungan ponselnya. Pria itu kesal tiada banding kepada Wisang.


" Kenapa mas?" tanya Dhira mengusap lengan ketat suaminya yang nampak berwajah datar tapi tidak dengan suasana hatinya.


" Si Wisang, bisa-bisanya dia jam segini baru bangun. Telpon dari tadi gak di angkat, eh pas giliran nelpon malah tanya salep buat anu istrinya!" Abimanyu mendengus seraya mengetik sesuatu di ponselnya.


Dhira terkekeh. Suaminya itu jika bersama Wisang dan Danan selalu saja ribut.


" Nikahnya udah seminggu, kok bengkaknya baru sekarang mas?" pertanyaan Dhira itu sukses membuat suaminya tersadar.


" Iya - ya" Abimanyu menatap istrinya.


" Pasti mas Wisang puasa pas malam pertamanya mas!" Dhira tergelak. " Pasti Sekar pas lagi datang bulan itu!" Dhira makin tergelak.


" Kok kamu tahu?"


" Kendala bagi kaum perempuan apalagi kalau bukan palang merah. Besok kalau adiknya Raka lahir, mas juga wajib puasa selapan dino ( 36 hari perhitungan Jawa).


" Hah..kenapa lama sekali?" mata di wajah tampan itu kini membulat.


" Ya iyalah, nifas kan kurang lebih empat puluh hari!" tukas Dhira sembari membetulkan dress-nya yang tersingkap terkena angin.


Seketika Abimanyu menelan ludah. Apa semua pria harus begitu pikirnya.


Abimanyu yang memang belum berpengalaman dalam hal itu, agaknya kini menjadi gelisah. Umur sudah matang, tapi ia memang belum secara langsung berpengalaman dalam hal ini.

__ADS_1


Tapi bukankah manusia memiliki waktunya masing-masing, dan tidak perlu menyamaratakan waktu yang di tetapkan oleh yang kuasa?


.


.


Jelang pukul sebelas siang, Wisang datang ke kantor polisi dengan meringis, ia merasa tak enak hati kepada Dhira. Devan yang bersama timnya juga ada disana. Terlihat bersiap dengan barang bukti yang hendak ia setorkan.


" Kami sudah mengunduh video nya pak. Anda bisa mengecek nya setelah ini. Secara kasat mata mereka cukup lihai dalam menjalankan aksi!" ucap Devan memberikan keterangan.


" Baik terimakasih!" sambungnya.


" Kami juga sudah datang ke TKP, dalam hal ini rumah Bapak Abimanyu. Dari hasil penyidikan, sepertinya kami akan mendapatkan data dua orang berdasarkan sidik jari yang berbeda!" Pak Made menatap satu persatu orang yang menjadi tamunya itu.


" Tapi kami masih melakukan pendalaman, dalam hal ini tim Inafis masih bekerja!" imbuh pak Made


" Dan saya juga ingin mohon maaf, sebab tim kami kemarin langsung meluncur ke lokasi saat anda masih dirumah sakit. Karena sidik jari itu mudah rapuh, maximal 5-6 jam dan tergantung pada benda yang di tempeli, juga suhu ruangan. Jadi kami harus bergerak cepat!" Terang Pak Made.


Sidik jari Patent terbentuk akibat bekas yang mungkin terjadi karena usai menyentuh oli, minyak, tinta, darah dll. Para pelaku sabotase itu tak berfikir bila polisi akan bergerak cepat.


Menggunakan silika karbon dan bahan perekat, polisi berhasil memindai menggunakan kertas khusus yang mengkopi pada sidik jari itu. Kemudian lampu mikroskopis memancarkan spektrum cahaya, yang membuat unsur tak kasat mata itu berpendar sehingga bisa terlihat.


Kesemua orang disana mengangguk, masih tekun mendengar penuturan demi penuturan yang di berikan oleh kepala Reserse itu.


" Tidak masalah pak, yang terpenting semuanya berjalan lancar!" terang Abimanyu.


" Jadi berapa lama kamu akan tahu hasilnya pak?" Wisang kian tak sabar.


" Secepatnya, jika hari ini keluar. Kami akan segera merelease dan menghubungi anda sekalian!"


" Dan bukti dari CCTV ini bisa kita jadikan petunjuk. Selain itu hasil sidik jari tersebut masih di periksa oleh tim Inafis!"


Ya, begitulah beberapa birokrasi yang musti terjadi bila melibatkan penegak hukum. Mereka bekerja cepat , terstruktur dan terarah. Tapi ada beberapa tahapan yang memerlukan kesabaran ekstra.


"Li kenapa Wis, ada yang mau elu omongin?" tanya Abimanyu yang melihat Wisang nampak gelisah.


Membuat kesemuanya menatap Wisang kompak. Wisang menghela napas.


" Gue sama Sekar kemaren ada yang ngikutin. Jeep hitam. Gue gak tau itu mobil siapa!"


" Gue takut orang yang ngincer gue tahu kalau gue sama Sekar belum mati. Ini benar-benar mengganggu dan mengancam Pak!" Wisang menatap pak Made muram.


" Anda tahu atau sempat melihat plat nomor mobil tersebut?" tanya pak Made.

__ADS_1


" Ingat Pak, apa itu bisa membantu?" Wisang antusias saat mengatakan hal itu.


" Jika plat nomor itu asli, kita bisa lacak. Tapi yang di takutkan bila itu adalah fake plat.


Wisang kembali muram. Kini ia malah perlu mengkhawatirkan dirinya sendiri. Terlebih istrinya.


" Anda catat saja disini Pak. Kami akan cek dulu nanti!"


Wisang menulis beberapa digit huruf dan angka pada sebuah notebook milik pak Made. Berharap itu bisa menjadi petunjuk siapa orang yang mengancam nyawanya itu.


" Baiklah kalau begitu terimakasih banyak Pak!"


" Kami mohon pamit dulu!"


" Semoga segala sesuatunya lancar. Kami masih belum tenang bila pelakunya belum tertangkap!"


Kesemua orang disana menjabat tangan Pak Made. Sejurus kemudian melesat menuju tujuan mereka masing-masing.


...šŸšŸšŸ...


Di hari yang sama namun di waktu dan tempat yang berbeda, seorang wanita duduk dengan menggenggam tangan seorang pria yang masih terkolek lemah diatas ranjang.


Ya, Shinta sore itu meminta perawat untuk melepas selang infusnya. Wanita itu bersikeras dan mendaulat dirinya sudah lebih baik di hari ini. Membuat dirinya kini buka lagi berstatus sebagai pasien.


Shinta juga telah mengganti bajunya dengan baju biasa yang dibawakan oleh papa mertuanya. Pak Ali dan Bu Nisa sepertinya tengah pulang ke rumah Rangga. Mereka merasa perlu istirahat sebentar.


" Mas, aku disini!" dengan suara bergetar Shinta mencoba selalu berkomunikasi dengan suaminya itu. Wanita itu meraup tangan lemah Rangga.


" Aku kangen sama kamu mas, kapan kamu bangun!" air mata Shinta meluncur begitu saja tanpa seijin darinya.


Tubuhnya bergetar karena tangisnya yang kian menjadi. Wanita itu merasa tak sanggup bahkan untuk sekedar menatap orang yang ia cintai, tergolek lemah tak berdaya.


" Aku kuat meski kata-kata mama Nisa menghujamku dari berbagai sisi mas. Aku masih bertahan. Tapi aku gak kuat mas kalau harus ngelihat kamu gini!" dengan terisak dan dengan seorang diri, Shinta berkeluh kesah kepada suaminya yang terbaring tak berdaya itu.


" Ayo mas bangun, aku janji mau ngadopsi anak kayak yang kamu mau kalau kamu sadar. Maafin aku mas!" Shinta kian larut dalam tangisnya kala ia ingat dengan dirinya yang pernah menolak permintaan Rangga yang pernah mengusulkan ide agar merawat anak dari panti. Kata orang, mengasuh anak bisa membuat pancingan untuk kehamilan. Ya, meski kebenarannya sulit untuk di jelaskan.


" Mas Rangga bangun mas!" suara lirih Shinta terdengar kian putus asa. Wanita itu rapuh dan merasa sendiri. Ia berada di titik tersedih dalam hidupnya.


Tanpa ia sadari, sore itu Danan yang baru kembali dari membeli beberapa makanan untuk Shinta dan dirinya, terlihat mematung di depan pintu konektor. Pria itu hatinya mendadak nyeri melihat Shinta yang menangisi suaminya.


Sembari tersenyum kecut, pria itu menyadari bila dia bukanlah siapa-siapa disana.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2