The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 48. Oma sakit


__ADS_3

Bab 48. Oma sakit


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Kesehatan itu tidak hanya datang dari obat-obatan. Namun juga lahir dari pikiran yang happy"


Indra


Pasca penggerebekan tempo hari, Indra berniat mengambil mobilnya yang masih tertinggal di Diskotik tempat dimana ia tak sengaja bertemu dengan Anggi.


Beruntunglah menurut informasi yang ia dapat dari beberapa temannya,rupanya diskotik itu aman, memiliki ijin lengkap dan tak ada di temukan barang haram.


Namun karena ada laporan dari masyarakat yang rupanya salah, membuat semua yang disana terjaring dan harus mengisi surat pernyataan. Sebagian turut mengikuti serangkaian tes. Langkah itu diambil, sebagai upaya penekanan penyakit masyarakat dan juga peredaran barang terlarang.


Namun sedikitpun ia tak menyesali langkah kaburnya, karena disaat yang rumit ia tentu saja malas berurusan dengan birokrasi rumit di kantor polisi.


Beberapa orang memang musti di gelandang menuju kantor polisi, lantaran melakukan perlawanan, juga kedapatan memiliki senjata api tanpa surat-surat yang lengkap.


Definisi dari panik, saat melihat polisi yang datang.


" Jadi gimana?" Indra terlihat ngobrol dengan seorang pria disana.


"Jancok memang!, gue panik sampai nyebur ke kali!" ( Jancok adalah sejenis umpatan daerah)


" Gak taunya, aman!!" pria itu berucap kesal, seraya menghisap rokoknya.


Ucapan pria itu membuat Indra terkikik geli, pasalnya ia pun turut melakukan hal yang sama. Namun, kilasan ingatannya justru kembali kepada wanita muda yang menolongnya kemarin.


"Mobil gue dimana?" tanya Indra.


"Aman!"


.


.


Abimanyu


Ia tak masuk ke kantor hari ini, begitu juga Rania. Oma tengah sakit, ***** makan wanita tua itu juga menghilang, bahkan tak mau beranjak dari tempat tidur.


"Rania coba kau hubungi Richard!" perintah Abimanyu kepada adiknya.


"Baik kak!"


Mereka berdua cemas, Oma mengeluh sakit di kepalanya. Dan merasa sekujur badannya sakit,merasa mual, bahkan keringat dingin tak hentinya terproduksi.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Abimanyu saat melihat adiknya kembali.


"Meluncur kemari!"


.


.


Richard adalah dokter keluarga Aryasatya, dia berusia sama dengan Abimanyu. Ia juga sudah berkeluarga, dan memiliki dua orang anak. Harusnya Abimanyu juga begitu, apabila kisah cintanya berjalan lancar. Namun, nasib siapa yang mengira.


Dokter tampan dengan wajah khas Asia itu terlihat memeriksa Nyonya Regina. Ia terlihat membuka sebuah alat untuk mengukur tekanan darah.


Tensimeter, atau yang lebih tepatnya disebut sfigmomanometer, adalah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan darah.


Abimanyu dan Rania terlihat memperhatikan setiap tindakan yang dilakukan oleh Richard.


"Bagaimana?" tanya Abimanyu tak sabar.


Richard Terlihat mengangkat tangannya, memberi kode untuk " tunggu sebentar."


Abimanyu mengangguk paham, ia akan menunggu.


"Nyonya anda harus banyak istirahat, dan nanti akan saya buatkan resep!" jawab Richard.


"Bisa ikut aku sebentar!" ucap Richard.


Abimanyu mengangguk, kemudian berjalan mengikuti Richard. Mereka hendak membicarakan sesuatu. Abimanyu mengajak temannya itu menuju ruang kerjanya, agar lebih leluasa untuk mengobrol.


Mereka menaiki tangga, karena ruang kerja Abimanyu ada di lantai dua rumah itu.


"Oma mu mengalami hipertensi. Jika dibiarkan akan menjadi struk!" Richard menatap lekat Abimanyu.


" Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hipertensi, makanan, usia, bahkan stres"


"Aku harap kalian bisa menjaga pikiran nyonya Regina untuk tetap dalam kondisi tidak stres, banyak pikiran cenderung memperparah!"


"Dan ini obatnya, kemarin saat aku kemari dia menolak untuk aku periksa!"


"Apa?" Abimanyu kaget, benar-benar tak mengetahui bila neneknya menolak untuk diperiksa.


"Terimakasih !" ucap Abimanyu sejurus kemudian.


Richard hendak pamit, namun langkahnya terhenti.


"Sepertinya kalian berdua yang menjadi titik pemikiran Nyonya Regina!" ucap Richard di ambang pintu.


"Apa maksudmu?" tanya Abimanyu.


"Saat ku tanya kemarin, ia memiliki harapan ingin melihat kalian berdua menikah sebelum dia tutup usia!"


...šŸšŸšŸ...

__ADS_1


Abimanyu


Abimanyu terduduk lesu di ruang keluarga rumah besar itu, memikirkan ucapan Richard tadi. Seolah mengoyak batinnya. Ia tak menyangka, bila neneknya itu tidak bahagia dengan hidup yang dijalani ia dengan Rania.


Tapi dia bisa apa?


Ia menyalakan rokok, menghisapnya dalam. Sejurus kemudian terlihat kepulan asap putih yang membumbung, memenuhi ruang tengah itu.


Bayangannya melayang kepada Gwen, entah dimana wanita itu kini berada. Ia hanya ingin menghargai sucinya pernikahan dengan menunggu. Ya, meski ia pernah mengikuti ajakan Wisang dan Danan untuk mencicipi surga dunia dari lubang yang lain, tak sering namun pernah.


Namun, belakangan ini keyakinannya tergoyahkan dengan sosok Andhira yang memberi warna dalam hidupnya. Wanita yang menarik perhatiannya saat ini, tapi sikap Dhira benar-benar membuat dirinya sulit untuk mendekati. Berbeda dari wanita kebanyakan.


Ia kembali menghisap rokok itu dalam dalam, mengeluarkannya berulang-ulang. Pikirannya penat.


Tak bisa menafikkan, bila ketidaksempurnaan biduk rumah tangganya juga membuatnya acapkali merasa sedih, sendiri dan kosong.


"Kak, Oma muntah lagi!!" terdengar suara Rania yang panik dari arah belakang, membuat dirinya segera menggerus batang rokok ke dalam asbak kristal di depannya.


.


.


Nyonya Regina


Ia yang selalu tampil tegar, tiba-tiba menjadi sosok pemikir. Acara arisan kapan hari, membuatnya dirinya memikirkan ucapan teman-temannya.


"Duh gimana sih jeng, masa dua cucunya satu duda satu janda!!"


"Jodohkan saja dengan yang lain!"


Ucapan yang cenderung seperti sebuah ejekan itu agaknya membuat risih Nyonya Regina. Hampir tiap malam ia bersedih, karena mengapa jalan kehidupan dua cucunya nyak semulus karir yang mereka capai.


Ia hanya orang tua yang ingin melihat cucunya bahagia, tak ada yang tersisa selain Abimanyu dan Rania. Selepas kematian orang tua Abimanyu dan Nyonya Regina yang menggantikan sosok orang tua untuk kedua cucunya.


Ia hanya ingin melihat Abimanyu menikah dan memiliki keturunan, hanya itu.


Ia merasa mual, kemudian mengeluarkan seluruh isi perutnya. Entah mengapa belakangan ini ia merasa tak sesehat biasanya.


"Oma, kita kerumah sakit sekarang!!"ucap Abimanyu yang panik.


"Tidak, aku disini saja. Bawakan aku makan dan obat, aku ingin tidur saja!" masih bersikeras menolak.


Rania dengan sigap menuruti permintaan neneknya, ia berlari menuju dapur. Meminta bik Surti untuk menyiapkan makanan.


"Oma, apa yang sebenarnya Oma pikirkan?"


"Aku ingin melihatmu bahagia Bim!" mata keriput itu mengeluarkan cairan bening, pikirannya terforsir kepada cucunya itu.


" Kalian berdua harus bahagia!" ia menangis, membuat hati Abimanyu bak teriris. Karena mustahil akan menuruti kemauan neneknya dengan cepat. Apalagi ini menyangkut soal hati dan perasaan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2