
Bab 143. Devan Lagi
.
.
.
...ššš...
" Harta yang paling berharga adalah keluarga, istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga, mutiara tiada tara adalah keluarga....."
( Diambil dari lirik lagu BCL ~ Harta Berharga)
( Lagu ini pernah menjadi OST serial Keluarga Cemara)
.
.
Satu Minggu berlalu, Dhira makin membiasakan dirinya untuk mengerti kemauan suaminya yang sepertinya tiada jemu memasukinya tiap malam.
Menunaikan tugas sebagai seorang istri, kini bisa di rasakan Dhira kembali. Abimanyu yang makin manja kepada istrinya, seolah malah membuat Dhira merasa senang. Ia senang karena Abimanyu sangat menggantungkan keperluan kecilnya, terhadap dirinya.
Layaknya pagi ini, dengan sedikit membuka langkah kakinya ke samping kanan dan kiri, Abimanyu mencondongkan tubuhnya agar Dhira bisa membuat simpul dasi untuknya.
" Kamu nanti makan siang biar di antar Bagos ke kantor ya?" Abimanyu menatap wajah istrinya yang sepagi itu sudah harum dan cantik.
Bagiamana tidak harum, lawong tiap malam Abimanyu memakannya tanpa ada hari lowong. Membuatnya harus mandi junub pagi- pagi sekali. Itupun kalau tidak nambah.
Pagi hari ia juga harus menyiapkan segala keperluan dua orang laki-laki yang amat berarti dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan anak dan suaminya.
" Siang?, kenapa memangnya mas? aku masih mau nata bunga di depan itu loh!" jawab Dhira seraya menautkan simpul terlahir dasi warna merah milik Abimanyu.
" Kamu jangan sibuk terus, ada mbak Yuni sama mas Sugeng kan?" Rajuk Abimanyu dengan wajah muram durja.
Dhira menyetrika jas depan Abimanyu menggunakan kedua tangannya, usai simpul itu terbentuk sempurna. Puas akan hasil pekerjaan tangannya.
" Aku bosan mas, cuma dirumah aja, kalau ngerawat kembang kan mending gak bosen banget!" Dhira memanyunkan bibirnya.
Terbiasa dengan setumpuk pekerjaan di Dapur Isun, tapi kini ia harus menjadi seorang permaisuri nampaknya cukup membuat Dhira kurang kerjaan.
" Tugas kamu kan memang untuk melayani aku, aku gak mau kamu capek!" Abimanyu mengecup bibir istirnya sekilas.
" Siapa bilang gak capek, orang begitu kok gak capek!" dengus Dhira yang seringkali kuwalahan mengimbangi stamina Abimanyu.
Suaminya itu langsung terkekeh, ia mencubit dagu istrinya lembut lalu mengecup kembali bibir ranum Dhira kembali.
" Raka sama Jodhi mana, kita sarapan yuk!" ajak Abimanyu mengalihkan topik.
.
.
Di meja makan, dua bocah laki-laki itu sudah bertengger rapih di kursi masing-masing. Ya, Jodhi memang sudah tiga kali ini menginap disana, semenjak Dhira tinggal dirumah barunya. Bocah itu bahkan sudah membawa seragam sekolahnya.
" Wah, curang ini anak-anak papa, pada gak mau nungguin!" Abimanyu menyapa kedua anaknya.
__ADS_1
Raka dan Jodhi kompak menoleh ke sumber suara. Dimana Abimanyu yang sudah rapih, menggandeng erat tangan Dhira.
" Salah sendiri lama, ya kan Ka?" Jodhi terkekeh.
Raka tersenyum simpul. Ia senang melihat rona cerah di wajah mamanya. Anak itu sudah di dewasakan oleh keadaan.
" Enggak kok Pa, kita juga baru duduk!" tukas Raka jujur.
Abimanyu senang karena melihat semuanya lengkap di meja makan. " Bunda, aku juga mau di ambilin dong!" Jodhi selalu saja manja, anak itu malah lebih kerasan saat bersama Dhira.
" Boleh, Jodhi mau apa?" Dhira antusias melayani tiga orang laki-laki disana. Seperti itu saja, sudah membuat hatinya menghangat sepagi ini.
Mereka makan dalam diam, aduan sendok dengan piring sajalah yang terdengar menjadi backsound pagi itu.
" Ma, kalau temanku ada yang mau belajar kelompok dirumah boleh enggak ma?" Raka usai menyelesaikan sarapannya, kini bertanya kepada Dhira.
" Boleh dong, kan ini rumah Raka juga. Papa beli rumah ini buat kita semua!" Abimanyu justru lebih dulu menyahuti pertanyaan anaknya itu. Sejurus kemudian ia menatap istrinya yang tersenyum ke arahnya.
Kebahagiaan yang tak terkira, sudah terpatri disana.
" Jodhi gak mau tanya juga?" tanya Dhira menggoda, karena bocah itu biasnya selalu ingin menirukan apa yang Raka lakukan.
" Tanya lah!" sahutnya usai meneguk segelas susu.
Mereka bertiga menunggu bocah itu membuka mulutnya, Abimanyu masih terlihat menyelesaikan beberapa suapannya.
"Kapan mama Rania kasih aku papa baru ya Bun. Raka pernah bilang jika tebakannya gak salah, sebentar lagi aku bakal punya papa baru, siapa? ayah sama bunda tahu juga ?"
Abimanyu tersedak di suapan terakhirnya begitu Jodhi berkata seperti itu. Dhira buru-buru menyambar segelas air, dan memberikannya langsung kepada suaminya.
Satu detik kemudian Abimanyu dan Dhira saling tatap. Mungkinkan putranya yang berpembawaan tenang itu, mengetahui kedekatan para adiknya?
...ššš...
Devan pagi itu seperti biasa, usai melakukan briefing ia meminta tanda tangan Abimanyu untuk di bubuhkan di kertas notula nya. Sign itu penting untuk bukti hitam diatas putih, bahwasanya Devan selalu konsisten melaksanakan tugas dari bosnya itu.
Sebelum memulai pekerjaan mereka semua dibiaskan untuk briefing. Kalau menurut Abimanyu 70 persen pekerjaan kita bisa di katakan selesai, apabila sudah ada persiapan. Sisanya tinggal pelaksanaan saja.
" Van, kamu dari mana sih. Bau kamu kok kayak kabel kebakar gitu!" Abimanyu menutup hidungnya dengan di japit menggunakan jarinya yang bertaut.
Devan spontan menciumi kedua keteknya, secara bergantian. " Kabel kebakar? saya kan sama Tuan sedari tadi di ruang briefing!" dengus Devan. Ia padahal selalu menyemprotkan parfum mahal miliknya.
" Wueekkkk!!" Abimanyu benar-benar langsung mual, perutnya bagai di aduk saat membuka hidungnya kembali.
" Parfum apa yang kamu pakai Van. Ganti!!!" Abimanyu benar-benar tak tahan.
" Kamu mau buat saya semaput disini. Pergi sana kamu!" Abimanyu benar-benar tak tahan dengan aroma Devan.
Aneh sekali, tiap hari parfum ku kan juga ini Tuan. Tiap hari juga, anda menghirup parfum yang sama juga. Habis menikah langsung aneh begini sih.
Devan menggerutu dalam hatinya. Bosnya itu makin rewel setelah menikah.
.
.
Siang itu Abimanyu memaksa Dhira untuk ke kantor. Ia meminta Bagus untuk mengantarkan Dhira. Mereka belum memiliki supir memang, Sugeng tidak bisa menyetir, membuat Abimanyu tak memiliki pilihan selain meminta Bagus untuk menuju rumah barunya.
__ADS_1
Devan menyambut istri bos rewelnya itu. Pria itu agak takut saat bertemu Dhira. Takut jika ucapan Abimanyu itu, mengandung kebenaran terkait aromanya.
" Selamat siang Nyonya!" sapa Devan.
" Siang Pak Devan, panggil saya Bu Dhira aja ya!" Dhira kurang nyaman jika di panggil seperti itu.
" Baik Bu!"
Devan masih mematung. Membuat Dhira menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
" Saya gak di antar ini?" tanya Dhira.
" Diantar Bu, saya agak di belakang saja. Tuan bilang saya bau kabel kebakar!" Devan merunduk dengan wajah muram.
Dhira tergelak kencang, menurut Devan istri bosnya itu memang sangat cantik jika tertawa seperti itu. Pantas bosnya itu edan sewaktu di tinggal.
"Kabel kebakar apa, pak Devan wangi kok. Udah ayo!" ajak Dhira.
Devan dibuat bingung, sejurus kemudian ia dengan langkah cepat segera menyusul Dhira.
.
.
Di ruangan Abimanyu
Seperti biasa, Abimanyu selalu menyambut Dhira dengan ciuman. " Lihat apa kamu Van, madep sana kamu!" gertak Abimanyu saat Devan baru muncul. Membuat pria itu balik badan.
Dhira hanya menggeleng malas, suaminya itu kok bisa lain jika berhadapan dengan assistennya itu.
Edan bos bos, nyosor disini. Menodai mataku aja!
Entah sudah berapa kali Devan dibuat mendengus oleh Abimanyu hari ini. Selain tugas yang makin kompleks, bosnya itu kian rewel to the wel wel.
" Kamu wangi banget Dhir!" ucap Abimanyu.
Devan mendelik, padahal parfum Dhira dan miliknya itu sejenis. Hanya saja miliknya lebih maskulin. Ia bisa mencium dari aroma yang berevapurasi ke udara.
Devan bisa tahu pasti parfum mereka satu merk yang sama.
Sejurus kemudian Devan masuk karena mengambil berkas yang sudah di cek oleh Abimanyu. Namun, belum sempat Devan meraih map kuning itu Abimanyu langsung merasa mual saat mencium bau Devan.
Abimanyu melesat ke toilet di ruangannya itu.
" Mas kamu kenapa!" Dhira mengejar Abimanyu ke toilet, pria itu memuntahkan udara alias mual tanpa bisa mengeluarkan isi perutnya.
Dhira dan Devan panik. Apakah Abimanyu sakit?, tapi tadi pagi baik-baik saja pikir Dhira.
" Saya gak mau ketemu kamu dulu Van. Bau kamu enggak enak. Bisa mati saya kalau begini terus!" ucap Abimanyu usai merasa perutnya lebih baik. Ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena dihajar oleh rasa mual yang luar biasa.
Seketika Dhira membulatkan matanya, padahal aroma Devan baik-baik saja menurutnya. Dhira merasa iba memandang Devan yang sudah berwajah melas usai di semprong oleh suaminya.
.
.
.
__ADS_1