
Bab 227. A shocking news
.
.
.
...ššš...
" Sedihku ini tak ada arti, jika kaulah sandaran hati!"
~ Letto
.
.
Debaran cinta yang melanda kini seakan terluapkan dengan diterimanya lamaran singkat versi apa adanya itu.
Sebuah pernyataan singkat, yang membuat kembang api di hati Danan meletup- letup.
Danan telah jatuh hati pada sebentuk cincin berlian yang baru datang dari pengiriman tempo hari. Cincin yang akan menjadi koleksi terbaru di strore jewelry milikinya.
Ia langsung teringat kepada Shinta. Hanya bermodalkan pernah menggenggam tangan Shinta, ia bisa sedikit mengukur lingkaran jari manis Shinta.
Ia membawa benda itu kemanapun ia pergi. Di dasbor mobil, bahkan di sakunya. Ia tak membiarkan benda itu jauh darinya , sambil menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan.
Dan di pagi menjelang siang ini, adalah saat yang ia rasa tepat. Yang penting usaha dulu, perkara hasil urusan belakangan. Begitu pikir Danan.
.
.
" Mau kemana?" Abimanyu telah mengganti pakaian formalnya dengan sandangan rumahan. Celana katun warna krem sebatas dengkul dengan kaos ketat warna hitam, mencetak otot dan dada bidangnya yang terlihat keras.
" Mau panggil Shinta!" jawab Dhira tanpa curiga.
" Kita langsung ke belakang aja, abis ini mereka pasti nyusul" Abimanyu benar-benar menuruti permintaan Danan. " Awas pelan. Duh Dhir, aku kok jadi kasihan lihat kamu kemana-mana bawa perut sebesar ini!" ucap Abimanyu melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya yang terlihat, ia tak mau sampai istrinya jadi curiga.
Dhira mencibir " Kasihan tapi bolak balik bikin aku kurang istirahat!"
Abimanyu meringis, sambil berjalan mereka berbicara " Kalau yang satu itu mana bisa di tidak Dhir, sebelum aku puasa selama 40 hari!" ucap Abimanyu terkekeh.
Dhira hanya menyebikkan bibirnya.
Diperkirakan dua bulan lagi, Dhira akan mengalami persalinan buah cinta mereka. " Tapi kok mereka gak ada di ruangan tengah ya mas kayaknya!"
" Perasaan kamu aja, dia ada kok!" Abimanyu mendudukkan istrinya di sofa empuk, yang berada di sebuah tempat mirip gazebo berdesain modern dengan gaya outdoor. Gemericik hujan membuat suasana kian syahdu dan menentramkan hati.
Tempat itu kerap kali Dhira gunakan untuk mengobrol disaat malam bersama Abimanyu. Atap dari tempat itu bisa di setting untuk terbuka, dan tertutup. Mengabdi pada cuaca.
"Sayang!" panggil Abimanyu.
" Iya!" Ucap Dhira yang baru saja mendaratkan bokong di sofa empuk itu.
" Tadi Shinta ngomong apa aja?" Abimanyu menumpukan tangan kanannya ke sandaran sofa seraya menyangga kepalanya. Pria itu tak lekang menatap wajah ayu istrinya yang sepertinya berat badannya kini bertambah.
" Ya intinya dia sebenarnya insecure, masih setengah tahun lah kiranya ya mas Rangga pergi. Tapi...."
__ADS_1
Sejenak mereka berdua hening.
" Di satu sisi Shinta agak kecewa mas dengan semua yang mas Rangga sembunyikan!" ucap Dhira menerawang saat mengingat cerita Shinta yang ia hubungi lewat telepon, beberapa hari yang lalu.
" Tapi, aku tahu dia juga berhak bahagia kan?" Dhira kini menatap wajah suaminya.
" Ya, aku sih cuman bisa berharap Shinta bisa move on mas. Bayangin satu dekade hidup dalam fatamorgana harapan"
Abimanyu terkekeh " Kamu makin kesini makin dewasa banget, terus kata- katanya itu loh!"
" Kayak pujangga ajah!" Abimanyu terkekeh demi mendengar kata ' fatamorgana".
Pria merengkuh tubuh istrinya dalam sekali tarikan, ia menciumi puncak kepala Dhira dibawah rintikan hujan yang terhalau atap kaca transparan. Ia begitu menyayangi Dhira dengan sepenuh hati dan segenap jiwanya.
Suasana seketika hening. Dhira meresapi aroma tubuh suaminya yang menenangkan, begitu juga dengan Abimanyu. Ia menghirup aroma shampo istrinya yang memabukkan.
Detik berikutnya, mereka berdua saling menatap. Abimanyu menyusui wajah Dhira dengan meneguk ludahnya. Membuat jakun yang kentara itu naik turun.
Dhira juga menatap wajah suaminya dengan intens. Wajah yang kerap mend*esahkan namanya saat percintaan panasnya di tiap-tiap malam.
Abimanyu memiringkan kepalanya, ia mengecup lembut bagian tubuh kenyal yang terlihat ranum. Menjadi candu buatnya, setiap hari, setiap saat. Tak bosan, tak ada habisnya.
Bibir Dhira terbuka menyabut ciuman itu. Kini, tak pernah terhenti rasanya ia mendapat sentuhan seperti itu. Sentuhan memanjakan, yang mengandung rasa kasih sayang yang tiada bertepi.
.
.
Dering ponsel membuat kegiatan Danan dan Shinta terhenti " Halo mas, oh udah sampai ya. Ia sebentar ya!" Shinta tersenyum menatap Danan yang sepertinya berwajah gelisah.
" Abang kurirnya udah datang, kita ke depan yuk mas!" Ucap Shinta seraya mengantongi ponselnya kembali.
" Oke kamu temuin dulu ya , aku mau pakai baju bentar!"
" Pyuhffffttt!" Danan mengembuskan napas, lalu dengan rakusnya menghisap kembali seluruh oksigen di ruangan itu.
Danan keranjingan karena menahan gejolak menuntut yang meminta hal lebih selain ciuman panas.
But not today, ia harus bisa menahan diri.
Sesuatu di bawah sana rupanya bereaksi dengan cepat dan kini membuat diri Danan gelisah sekaligus tak nyaman. Reaksi alamiah, saat tak sengaja dua benda kenyal yang bertengger di dada Shinta menyentuh tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun itu.
Oh **** man!!
" Tenang dulu ya, kamu dilarang panik dulu!" ucap Danan merentangkan tubuhnya ke atas kasur, sambil menepuk- nepuk kelelakiannya, yang kini mengeras.
Ini gila!
Pria itu mentralkan buncahan rasa tak nyaman dengan diam dan melakukan gerakan tarik buang napas. Tidak mungkin ia keluar dengan kesesakan yang melanda benda di bawah udelnya itu.
Merasa pengerasan bagian bawahnya telah sedikit berkurang, ia mencari baju di lemari Abimanyu. Sebuah celana joger panjang yang ia padukan dengan kaos warna green Army.
" You are indeed handsome, Mr. Danan!" ia berucap kepada bayangannya di cermin seraya mengedipkan matanya sebelah, dan kedua tangannya menirukan gerakan menembak ke depan.
Definisi dari hati yang berbunga-bunga.
Ya ya, mentang-mentang sudah selangkah lebih maju.
.
.
__ADS_1
" Bim, ini makan...." ucapnya Danan menguap percuma ke udara halaman belakang itu, saat ia melihat punggung Abimanyu yang menunduk. Jelas menandakan bila mereka berdua tengah asek- asek.
" Benar-benar anjing, gak si Wisang gak si sableng itu, kalau nyosor gak tahu tempat!" dengus Danan, untung Shinta masih di belakang membawa sisa makanan yang mereka pesan.
Padahal, sendirinya juga begitu. Hanya saja, nyonya Alda tidak menginterupsinya kemaren. Ahay!
.
.
Dhira sudah lebih tenang meski ia tahu, kegiatan asoy geboy - nya di pergoki Danan. Jika dulu ia pasti langsung malu, lambat laun ia bisa mengatasi semuanya.
" Shinta mana mas?" ucap Dhira yang melihat Danan membawa beberapa tentengan.
" Di belakang, kalian tadi pesan apa aja sih. Banyak banget loh!" Danan meletakkan beberapa kantong makanan ke atas gelaran karpet lembut, yang sudah Yuni siapkan tadi.
Abimanyu mengendikkan bahunya, " Jangan banding, yang pesen itu istriku sama Shinta tadi. Kita bapak-bapak terima aja!"
" Dhira....!" Shinta datang dengan wajah cerita, wanita itu membawa dua tentengan yang terlihat berat.
Abimanyu juga tak menyangka bila dua kaum hawa itu, memesan makanan se banyak itu.
" Ini rujaknya, duh Dhir kok aku jadi ingat Sekar ya dia juga hamil keponakanku!" ucap Shinta sembari menata beberapa makanan yang ia beli.
Dhira tersenyum, sementara ludah Abimanyu dan Danan seketika mengecer tatkala melihat buah yang kesenuanya bercitarasa asam. Namun, bagi Dhira terasa menggiurkan.
Shinta juga terlihat menata dimsum, dan beberapa makanan berat lainnya. Mata Dhira menangkap benda cantik yang tersemat di jari manis Shinta, yang menarik perhatiannya. Benda yang ia rasa belum ada, sewaktu Shinta berbuka dengan dirinya tadi.
" Tadi kayaknya belum ada!" batin Dhira bermonolog.
Di saat yang bersamaan, Dhira juga melihat wajah Danan yang senyam-senyum tak jelas memandangi Shinta yang sibuk menata makanan di bawah. Jelas sesuatu yang belum ia ketahui, telah terjadi.
Dhira tak bisa duduk di bawah karena perutnya yang besar.
" Mau kemana?" tanya Shinta yang melihat Dhira hendak beranjak.
" Mau bantu kamu!"
Shinta menggeleng " No need, duduk dan tinggal request aja maunya apa. Membuat Dhira menghela napas pasrah.
Dan baru saja mereka berempat akan menikmati makanan itu, suara getaran ponsel Dhira membuat ketiga orang lain menatap.
" Sekar!" Dhira mengerutkan keningnya.
Shinta dan Danan saling menatap dan memasang telinga mereka masing-masing, sementara Abimanyu yang baru akan mencomot dimsum itu juga terdiam sejenak.
Dhira menggeser tombol hijau itu, "Ya Sekar ada apa?"
Namun mendadak yang terdengar adalah isakan dan suara yang terdengar tidak baik-baik saja" Bu tolong saya, mas Wisang..."
" Aaaaaaaa lepas!"
Dhira mendelik demi mendengar jeritan Sekar, dan suara ribut-ribut melalui sambungan telepon itu. Membuat ketiga orang lainnya itu, juga ingin tahu hal apa yang membuat wajah Dhira seketika menjadi pias.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.