The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 141. Pria Menyebalkan


__ADS_3

Bab 141. Pria Menyebalkan


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Hati kecil berbisik, untuk kembali padanya. Seribu kata menggoda, seribu sesal di depan mata seperti menjelma...."


( Diambil dari lirik lagu Iwan Fals ~ Yang Terlupakan)


.


.


Dengan rahang mengeras , Shinta langsung beringsut mundur lalu berdiri dari atas tubuh Danan. " Dasar laki-laki kurang ajar!!" Shinta menyambar satu kardus seukuran kardus air mineral, lalu melemparkannya ke muka Danan.


Whuussshhh


Braaakkk


Dengan nafas memburu, Shinta langsung beranjak kembali ke kamar tempat dimana bajunya tertinggal. Meninggalkan Danan yang masih meraba wajahnya usai terkena lemparan kardus.


" Hey, kau yang menabrakkku!!! kenapa jadi kau yang marah?" Danan berucap dengan posisi duduk diatas lantai mengkilat itu, seraya mencondongkan dua tangannya ke belakang. Menjadikan dua lengan kokohnya itu tumpuannya bersandar.


Dari kejauhan ia bisa melihat wajah Shinta yang marah. Shinta kini sudah terlihat mengenakan kaos warna navy yang fit di tubuh wanita itu. Sejurus kemudian...


Brakkkkk....


Ia membanting pintu itu dengan kesalnya, kemudian meninggal Danan yang tersenyum simpul. Dia gila, benar-benar gila.


.


.


Dengan wajah bersungut-sungut, Shinta membuka segel botol air mineral di meja yang berada di dekat Rania. Wanita itu meneguk sebotol air itu hanya dalam sekali tegukan.


Membuat Bastian dan Rania yang sibuk dengan bahan pangan di kitchen set itu, saling menatap.


" Mbak Shinta habis ngapain sih?" tanya Bastian dengan dahi berlipat. Kenapa wanita itu terlihat bernafas tak normal.


" Habis ketemu setan!"


" Setan apa mbak?"


" Ya setan beneran lah!" usai berkata seperti itu, Shinta melesat pergi. Entah mau kemana dia.


" Setan? rumah ini infonya gak angker kok?" Rania menautkan kedua alisnya.


Bastian hanya mengendikkan bahunya, seoalah mewakili pernyataan ' entahlah!'.


Di lantai atas, Wisang rupanya tengah sibuk memasang beberapa aksesoris untuk kamar Raka. " Besok kalau kita punya baby, aku juga pingin kita prepare kamar anak kita?" Wisang terlihat antusias.


Sekar hanya duduk di ranjang seraya membuka double tip dari stiker yang hendak di tempelkan Wisang. " Belum juga nikah, udah kesana aja arah pikirannya?" Sekar mencibir.


" Ya rencana sama niat aja dulu, urusan terselenggara apa tidak itu belakang!" kekeh Wisang.


Sekar terlihat memasang sprei juga bad cover di kamar Raka. Ia tersenyum puas akan hasil rapih yang barusaja ia kerjakan. Mereka berdua telah menyelesaikan pekerjaannya.


" Begini aja capek banget rupanya!" Wisang mengelap dahinya yang berkeringat.


" AC nya kok belum di pasang sih?" dengus Wisang.


" Itu kan di bawah baru datang yang tukang pasang tadi!" jawab Sekar.


Mereka berdua menyibak tirai putih di kamar itu, mencondongkan tubuhnya untuk melihat kegiatan di bawah. Dan benar saja, telah banyak sekali orang yang sibuk memasang alat pendingin di rumah itu.


Wisang memperhatikan lekat wajah Sekar yang manis dan tak membosankan itu. Ia menelan ludahnya, begitu pandangannya tertuju pada bibir lembab Sekar. Detik kemudian Sekar yang merasa di perhatikan, menatap Wisang.


" Mas ngelihatin aku?" tanya Sekar menatap mata Wisang. Ia bahkan bisa melihat pori-pori Wisang yang terbuka karena panas, juga buliran keringat yang kentara di dahi Wisang.


Wisang membelai rambut Sekar yang berantakan, ia menekan pinggang wanita itu mendekat ke arah tubuhnya. Ia mencium Sekar.


Dan saat mereka tengah saling melu*mat, Danan dengan nafas tersengal mengumpat saat itu juga.


" Si anjing ini kerjaannya sosar- sosor aja!"


" Mana pintu di jeblak begini lagi, sialan emang!" Danan menggerutu, bisa-bisanya dua anak manusia itu berciuman dengan kondisi pintu yang tak tertutup.


Sejurus kemudian, ia mendekat lebih dalam.


" Enak ya njing ciuman terooosss!!!" cibir Danan dengan suara keras. Membuat kegiatan dua manusia beda jenis itu terhenti secara paksa.


Sekar langsung memalingkan wajahnya karena malu. Wajahnya sudah merah padam saat ini, ia malu karena Danan memergoki kegiatan enak-enak mereka .

__ADS_1


Sementara Wisang hanya bersikap B aja. Ia tak terganggu dengan aksi Danan, Danan bahkan sudah pernah melihat dirinya yang di goyang oleh wanita telanjang.


" Berisik banget sih lu, udah dateng telat ganggu orang aja!!" Wisang mendengus kesal.


.


.


" Mas, Sekar kayaknya udah makin dekat ya sama mas Wisang?" ucap dhira seraya menata baju-baju yang kesemuanya baru. Dan itu semua, adalah hasil jerih lelah Devan yang selalu menjadi bulan-bulanan Abimanyu untuk riwa-riwi.


" Kayaknya dia mau menikahi Sekar meski tanpa restu ibunya!" ucap Abimanyu yang menata dasinya, ke laci transparan khusus dasi.


" Apa?" Dhira mendelik, ia menjadi teringat dirinya dan ibunya.


" Kamu pasti baper ya?" ucap Abimanyu tersenyum simpul.


" Dhir, Wisang itu pria dewasa. Lagipula Om Wikarna sudah merestui mereka. Bukankah itu bagus, Sekar jadi ada yang melindungi!"


Dhira menatap suaminya, hangat nafas Abimanyu bisa ia hirup dengan lancar. Suaminya itu selalu lembut jika dengannya.


" Aku juga tidak mengira, jika Sekar bisa menaklukkan Wisang yang seperti itu!"


" Seperti itu?" Dhira menautkan alisnya, meminta jawaban.


" Ya kita pria dewasa yang normal, ya hal biologis macam itu udah cincailah buat dia. Tapi yang bikin aku salut sama Sekar, Wisang itu orangnya sebetulnya dingin loh. Kok bisa malah luluh sama anak lugu kayak gitu!" Abimanyu menggeleng tak percaya.


" Hal biologis?"


" Pria dewasa yang normal?"


"Kita?"


Dhira menatap tajam suaminya.


" Berarti mas selama ini?" Kening Dhira makin mengernyit. Membuat Abimanyu menelan ludahnya. Sepertinya dia sudah salah bicara.


" Dhir, maksud aku..." Abimanyu mulai panik. Istrinya mulai merajuk, kini ia harus dibuat menyesal karena asal bicara. Membuat dirinya gelisah ,memikirkan nasibnya nanti malam.


...šŸšŸšŸ...


Shinta merasa pria itu melecehkannya. Ia kesal bukan main. Dan lagi-lagi , hal itu terjadi saat mereka hanya berdua.


" Kenapa sih musti datang. Untung mas Rangga gak ikut, CK!!" Shinta mendecak kesal.


Shinta duduk di kursi halaman belakang rumah baru Dhira. Halaman belakang itu sangat asri. Terdapat banyak tanaman hias disana, pohon Cemara yang sudah setinggi orang dewasa itu juga memperindah tampilan halaman itu.


Namun sudah seperti hukum alam, kita akan sering di pertemukan dengan hal yang tidak kita sukai.


Danan yang sebal karena bolak- balik harus mendapat suguhan kegiatan sosor- menyosor si anjing Wisang, ia memilih untuk menghisap rokok diluar. Dari kejauhan, ia melihat Shinta yang tengah menyiangi daun bunga yang sudah menguning itu.


Dengan derap langkah yang tak terdengar, Danan mengendap-endap menuju tempat Shinta.


" Awas ada ulat!" Danan sengaja melempar daun kering ke lengan Shinta.


Wanita itu sontak berjingkat takut, seraya mengibaskan kedua tangannya. Membuat Danan tertawa terpingkal-pingkal.


Sadar dirinya di kerjai, Shinta menatap Danan yang wajahnya merah karena gelak tawa. Shinta mendelik, tak bosan-bosannya pria itu terus mengganggunya.


"Hiiihhhhhhh!!" Shinta memelintir ****** Danan dengan cubitan kecil. Membuat pria itu meringis kesakitan.


" Gak ada jeranya ya gangguin orang mulu!!!" Shinta sudah diambang kesabarannya saat itu.


" Auuuwwwhhh, heh lepas sakit!!!" Danan mencoba melepaskan cubitan Shinta, namun semakin ia berusaha melepas ,Shinta semakin menekan cubitan itu. Mungkin kulit Danan sudah terkoyak saat itu juga.


" Rasain tu!!!" Shinta melenggang pergi dengan kekesalan. Ia menabrak tubuh Danan hingga pria itu terhuyung kebelakang.


" Gilaaa, sadis banget tu perempuan!!!" ucap Danan seraya menahan perih di kuncup susunya.


.


.


Jam makan siang sudah tiba. Para pekerja sudah mendapat jatah makan. Semua kru diluar Devan yang mengurus. Sementara Abimanyu dan yang lainnya, kini lesehan di gelaran permadani di ruang tengah. Mereka mabar ( makan bersama) dengan duduk bersila.


Rania memang berkompeten untuk urusan pilih memilih menu. Para ladys tentu saja menyukai olahan yang kesemuanya bertajuk persambalan, sementara para pria mereka lebih memilih menu yang lebih ramah di lambung mereka.


Abimanyu duduk berhadapan dengan Dhira, sekar tentu saja bersama Wisang. Bastian yang malu-malu bersama Rania yang nampak kemayu.


Dan Shinta..., wanita itu duduk menjauh mepet ke tembok usai menaruh beberapa lauk dalam piring nasinya. Menghindari pria menyebalkan yang sedari tadi menatapnya meminta pertanggungjawaban.


" Mbak Shinta jauh amat?" tanya Bastian.


" Gak apa-apa Bas, jauh dimata tapi dekat di hati!" sahut Shinta. Membuat semua yang disana tergelak.


" Mas Rangga gak nyusul mbak?" kini Sekar yang ganti bertanya.


" Enggak, nunggu last flight dia!" jawab Shinta sekenanya. Danan masih memerhatikan Shinta lekat.

__ADS_1


Mereka melanjutkan acara makan mereka. Terasa makin nikmat karena makan bersama.


" Dan, elu diem aja tumben. Biasanya lu paling ribut!" tukas Abimanyu, membuat semua yang disana turut menatap Danan.


" Susu gue baru kena serangan!" jawab Danan sambil menggigit ayam goreng.


" Serangan apa?" Dhira kini bertanya. Membuat Shinta mendelik ke arah Danan.


Awas aja kalau sampai bilang! Shinta mengintimidasi Danan.


" Tadi gak sengaja ketemu tawon betina, ngentup susu gue. Nih lihat!" Danan membuka kaos hitamnya, menunjukkan bekas tancap kuku Shinta yang membuat kuncup kecil itu memerah dan bengkak.


" Itu beneran tawon Kak, kok bisa sih?" Rania heboh. Kesemua yang disana bergidik ngeri melihat luka di kuncup susu Danan.


"Tadi mbak Shinta bilang ketemu setan, sekarang kak Danan bilang di entup tawon. Kak Abi, rumah ini udah kamu sterilisasi belum sih. Ngeri deh aku!!" sergah Rania.


Kesemua yang disana mendadak saling pandang. Dan dari banyaknya manusia disana, hanya Wisang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia tergelak dalam hati. Pasti sahabatnya itu barusaja berurusan dengan istri orang.


.


.


Habis kenyang, terbitlah ngantuk.


Usai makan mereka semua bak ikan pindang, yang terkapar diatas permadani lembut. AC dirumah itu juga sudah on. Membuat semua yang disana terlelap karena lelah dan kenyang.


Shinta memilih pergi ke atas, ia ingin menuju balkon dan menelpon suaminya.


Meski hanya sekedar basa-basi singkat, tapi ia sangat rindu dengan suaminya. Semua yang disana berpasangan, hanya dirinyalah yang selalu sendiri karena pekerjaan sang suami.


Usai menutup sambungan telepon itu, Shinta lagi- lagi dibuat kaget karena Danan menarik tangannya untuk masuk kedalam kamar Raka.


Ia kaget, mengapa pria itu bisa ada disana. Pria itu mengunci pintu kamar, kemudian bersidekap dengan membelakangi pintu.


" Heh, mau apa kamu?" Shinta takut dan juga sebal. Menatap tajam Danan.


" Aku mau tanya sama kamu, kamu begitu sekali ke aku kenapa sih?" Danan menatap Shinta yang terlihat tak nyaman.


" Minggir?!, buka enggak!!" Shinta mencoba mendorong Danan untuk minggir, namun sia- sia. Bobot tubuh pria itu berat rupanya. Ia bahkan tak bisa menggeser satu senti pun keberadaan Danan.


" Dengar, kejadian waktu di pernikahan Abimanyu tempo hari aku tak sengaja. Kejadian tadi juga kamu kan yang gak lihat. Terus kenapa, seolah aku yang salah?" Danan menatap wajah Sekar yang sudah kembang kempis karena menahan amarah.


" Kamu gila ya, aku bisa aduin kamu ke suamiku!!" ancam Shinta.


Danan tersenyum, sejurus kemudian ia menarik tubuh Shinta dan menempelkannya ke dinding. Danan menekan tubuh Shinta dari depan. Pandangan mereka kini tak berjarak.


" Aku sangat takut!" ucap Danan seraya tersenyum mengejek. " Kau harus tanggung jawab karena membuat tubuhku terluka, hm?" hembusan hangat nafas Danan terhirup olehnya.


"Shin!" sayup-sayup terdengar suara Dhira yang mencarinya.


" Lepasin gak!" Shinta sangat ketakutan, bisa-bisanya pria gila itu nekat. Ia benar- benar takut jika mereka semua salah paham.


Danan masih tertawa smirk, ia senang melihat Shinta yang kini berwajah pias karen panik.


" Ayo minta maaf yang benar!" ucap Danan.


" Aku gak sudi!!" sahut Shinta.


Shin.. Shinta kini suara Dhira lebih terdengar mendekat.


" Kalau begitu aku tidak akan melepaskan mu!" ucap Danan masih tersenyum, dengan keadaan tubuh mereka yang masih rapat.


Brengsek orang ini, apa maunya sih Shinta mengumpat dalam hati.


" Shinta!" suara Dhira kini lebih jelas terdengar, sepertinya wanita itu sudah berada di lantai dua.


" Kau sendiri yang tentukan!" ucap Danan mengintimidasi.


Sial


" Maafkan aku Tuan Danan, aku tidak akan melakukan hal itu lagi!" Shinta akhirnya merendah. Ia bahkan benci dirinya karena sudah menjadi penjilat.


Danan tersenyum puas, " Kau membuatku tertantang!" bisik Danan, membuat Shinta mendelik. Sejurus kemudian pria itu pergi dan membuka pintunya.


Samar-samar ia mendengar Danan yang berdialog dengan Dhira.


" Mas lihat Shinta?" suara Dhira masih bisa Shinta dengar.


" Tadi aku lihat dia ke halaman belakang!" sahut Danan. Shinta mengumpat dalam hatinya. Pria itu benar-benar licin sekali.


" Ya udah makasih ya mas!" terdengar derap langkah Dhira yang kian menjauh. Kini Shinta bernafas lega. Nyaris saja ia dalam bahaya salah paham. Ia mengeraskan rahangnya, Dananjaya memang pria menyebalkan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2