The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 139. Titian Takdir


__ADS_3

Bab 139. Titian Takdir


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Kemana kelok lilin, kesana arah angin."


(Kemana langkahnya, disitu sebenarnya tujuannya)


.


.


Tuan Wikarna tertegun mendengar jawaban Sekar. Gadis itu terlihat benar-benar lugu. Ia menjadi tak yakin dengan putranya. Mengingat rekam jejak putranya, yang sebelumnya tak pernah serius ke wanita.


Mengapa wanita se-polos Sekar, bisa mau dengan pria brengsek macam putranya.


" Kenapa?" tanya Tuan Wikarna kepada Sekar.


" Saya rasa, legalitas lebih penting dari sekedar selebrasi" entah mendapat ilmu dari mana, gadis itu bisa berucap dengan kosakata sedemikan apiknya.


Membuat Wisang terperangah.


Sekar tak memiliki orang tua lagi, lagipula nyonya Lisa masih belum membuka hatinya. Dan ia rasa, ia tak ingin membuat calon ibu mertuanya itu makin benci kepadanya, dengan menyelenggarakan pesta yang akan membuatnya makin di salahkan. Ia tak mau dikira silap harta.


Luar biasa, tuan Wikarna mengangguk mantap. Ia bisa melihat kejujuran di mata Sekar. Wisang merasa terenyuh saat Sekar mengutarakan kondisinya yang selama ini sebatang kara.


" Ucapan mama Wisang tadi jangan kamu masukkan hati. Dia belum kenal kamu saja!" tukas tuan Wikarna.


Mereka berdua masih tekun mendengar sabda orang tua itu. Sekar sebenarnya kecut hati, lantaran ia tak mengantongi restu dari wanita yang melahirkan calon suaminya itu.


" Saya cuma mau bilang sama kamu. Anak saya sudah tua. Dan kamu masih sangat muda, saya takut kamu meninggalkan dia karena saat kamu masih cantik, dia sudah peot!"


" Papa!!" Wisang mendengus kesal. Bisa-bisanya papanya itu mengatakan hal itu.


Sekar dan tuan Wikarna tergelak. Papa mertuanya itu, malah lebih mirip dengan sahabat Wisang yang sangat doyan banyolan. Siapa lagi kalau bukan Dananjaya.


" Dan dia ini..." ucapan pria dengan rambut putih itu seketika terhenti, kala mata Wisang mendelik. Seolah ia tak rela jika papanya membongkar tabiatnya yang seorang Casanova.


" Dia kenapa pak?" Sekar penasaran. Ia bisa nyambung berucap, karena calon mertuanya itu juga sangat ramah.


" Dia ini pria yang bertanggungjawab!" ucap Tuan Wikarna sedikit di bumbui kecurangan. Ia tersenyum penuh ironi.

__ADS_1


Sekar mengerti maksud dari ucapan calon mertuanya itu. " Saya belum pernah di perlakukan se normal ini oleh seorang pria manapun pak selain mas Wisang. Saya malah merasa beruntung, karena mas Wisang mau sama saya!" Sekar meringis.


" Mas Wisang adalah sosok yang lebih dari yang saya doakan selama ini!" ucap Sekar menatap ke arah Wisang, seraya mengelus lengan liat dengan otot kentara milik calon suaminya itu.


Wisang merasa terbang saat itu juga. Hidupnya sudah bisa di pastikan tidak akan membosankan kedepannya. Tapi dia masih harap-harap cemas, bila Sekar nanti tahu seperti apa masa lalunya.


Apa Sekar akan meninggalkannya seperti yang dikatakan papanya tadi. Ia bergidik ngeri demi membayangkan hal itu. Dalam hati ia berjanji, akan lebih sering berolahraga agar awet muda.


Ia juga memantapkan hati, untuk membuat Sekar tak berhenti mengandung anak mereka. Makin sibuk, makin bagus pikirnya.


...šŸšŸšŸ...


Indra


Ia masih menekuni beberapa tumpukan berkas seputar catatan barang masuk dan keluar di tokonya.


Ya, pria itu kini tengah menjalankan usahanya di bidang penjualan. Ia telah membangun tiga ruko dua lantai dengan ukuran besar. Di bangunan pertama ada supermarket, toko baju, dan terakhir toko perabotan rumah tangga.


Semua itu juga atas ide dan pertolongan pak Joko. Ia menghabiskan sisa tabungannya untuk bangkit dari keterpurukannya. Ia memulai segala sesuatunya dari nol. Meski tak memiliki harta yang tak habis dimakan tujuh turunan, namun ia kini berbangga karena bisa berdiri diatas kakinya sendiri.


Ia memiliki 20 orang karyawan tetap, dari semua itu ia kini bisa belajar untuk lebih menghargai apa yang ia miliki. Keluarga, orang terdekat, pekerjaan dan hal lain.


Tambah air, tambah sagu. Tambah pekerjaan, tambah pula penghasilan. Ia kini juga merambah usahanya di bidang jasa percetakan. Membuatnya bisa membuka lapangan pekerjaan untuk fresh graduate yang tak bisa melanjutkan kuliah.


Sedikit demi sedikit, ia berupaya menjadi makhluk yang lebih baik dan sedikit berguna untuk sesama.


Wanita itu menceritakan sepenggal kisah hidupnya. Ia terpaksa bekerja di dunia malam sebagai pelayan club', dan pemandu lagu. Latar pendidikan yang terbilang rendah, membuatnya kesulitan mendapatkan pekerjaan yang baik.


Tempaan kehidupan membuatnya terlempar ke dunia gelap. Meski dengan susah payah, ia menjaga barang berharga miliknya sebisa mungkin.


Ia nampaknya menaruh hati kepada wanita itu, namun ia masih tak yakin. Ia sadar jika dia adalah mantan pria yang buruk.


" Tuan kopinya!" ucap Anggi menghidangkan secangkir kopi untuk bos-nya yang terlihat sibuk di ruangannya.


Mereka hanya berdua, sebab karyawan lainnya tengah melaksanakan tugas mereka. Semua karyawan disana sudah tahu bila Anggi lah yang selalu bertugas membuatkan minum untuk Indra. Tak ada yang berani banding untuk hal itu.


" Makasih Nggi!" jawab Indra menggeser tumpukan kertas itu. Ia kini meraih kopi buatan Anggi.


Anggi menatap Indra dengan senyum. Pria itu sudah teramat baik untuknya. Mau menampung dirinya untuk bekerja. Anggi duduk di depan meja Indra, seraya memangku nampan coklat.


Indra menawarkan pekerjaan kepada Anggi, lantaran wanita itu bercerita bila rekannya membuat masalah sewaktu di club'. Persaingan pekerjaan adalah lagu lama di setiap sendi tempat kerja. Alasan klasik yang nyaris semua orang pernah mengalami.


Indra merasa berhutang budi kepada Anggi, wanita itu baik dan mau menolongnya saat terluka sewaktu pengerebekan tempo hari.


Dengan dalih ingin membalas kebaikan Anggi, Indra menawarkan wanita itu pekerjaan. Karena menjadi freelance seperti tempo hari, tidaklah cukup untuk menutup kebutuhan Anggi.


Selama itu pula, Indra berusaha bersikap profesional. Ia belajar dari pengalaman hidupnya sendiri. Bahwa segala sesuatu yang menuruti hawa nafsu, hanya berakhir dengan penyesalan.

__ADS_1


" Kamu jangan panggil saya Tuan lah. B'rasa tua banget!" Indra mencoba mencairkan suasana.


" Lalu?" tanya Anggi.


" Mas Indra aja lah!"


" Kalau Om, nanti kesannya kok kayak Om- Om!" Indra terkekeh. Anggi senang dengan Indra yang begitu ramah.


Kini mereka cenderung seperti seorang teman. Simbiosis mutualisme terjadi disana. Indra yang perlu seorang pegawai untuk supermarket miliknya, sementara Anggi yang membutuhkan pekerjaan tetap.


" Mas, pengantin wanita pas aku kerja di hotel kemaren itu dia baik banget lo!" Anggi mencoba menceritakan pengalamannya.


Indra menatap Anggi, " Oh ya, kenapa memangnya?" Indra melipat kedua tangannya keatas meja. Ia berusaha menanggapi Anggi dengan wajah antusias. Ia bisa memulainya dengan menjadi teman dulu bukan.


" Dia ramah ke pelayan kelas bawah kayak aku. Selain cantik, dia katanya janda Lo mas. Gak nyangka kalau wanita secantik itu punya pengalaman hidup yang gak sempurna ya!" mata Anggi menerawang.


Sejenak Indra tertegun. Andai kamu tahu, wanita itu adalah mantan istri yang aku sia-siakan Nggi. Batinnya berbicara.


" Kenapa wanita secantik dan sebaik Nyonya Dhira harus gagal dalam pernikahannya yang sebelumnya ya mas. Padahal aku aja yang perempuan, sangat seneng lo lihatnya."


" Dia baik, ramah, terus sopan. Apa yang kurang dari dia ya mas?" Anggi menepuk dagunya dengan jari telunjuknya. Berekspresi layaknya orang yang berfikir keras.


Dia tidak kurang apapun Nggi, aku saja yang tidak tahu di untung. Indra tersenyum kecut dalam hati.


Ucapan Anggi bak menonjok harga dirinya, jelas Indra memang pria payah yang sarat akan tindakan sebagai pengecut dan pria brengsek.


" Semua orang berjuang menghadapi ujiannya masing-masing Nggi. Nyonya Andhira kini sudah bersama pria yang tepat. Dia pasti lebih bahagia sekarang!" jawab Indra tersenyum kecut.


" Ya, mas Indra benar. Selain kaya, Tuan Abimanyu itu juga ramah lo mas. Gaji aku kemaren aja di tambahin lo!" Anggi berucap dengan wajah berbinar.


Indra membalas senyuman Anggi.


Andai Anggi tahu bila dia adalah pria yang bodoh itu, pria yang rela menukar sebuah berlian dengan batu kali, pasti Anggi akan merubah pandangannya terhadap Indra. Dan hal itu, membuat Indra ciut nyali untuk mendekati Anggi.


" Benar juga sih mas, hidup itu kan sawang- sinawang ( Yang terlihat belum tentu yang sebenarnya)"


Dan obrolan seputar mantan istrinya itu, membuat Indra makin jatuh dalam dasar penyesalan. Semesta benar-benar sudah menghukumnya.


Ia menatap Anggi yang tersenyum simpul. " Katanya mas juga pernah gagal, mantan istri mas orang mana?"


Dan pertanyaan Anggi barusaja sukses membuat mata Indra mendelik.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2