
Bab 150. Poin untuk Devan
.
.
.
...ššš...
" Nanti kau tahu artinya sepi, bagaikan pisau mengiris hati .
Nanti kau tahu artinya rindu, bagai tertusuk duri sembilu.
Batin akan tersiksa ,jasad pasti merana"
( Diambil dari lirik lagu Iklim ~ Satu Persinggahan)
.
.
Manusia selalu di pasangkan dengan begitu pas-nya. Saling melengkapi dan saling menutupi satu sama lain. Satu vokal, satu konsonan. Satu hangat, satu dingin. Semua itu ialah demi keseimbangan semua lini kehidupan.
Seperti Sekar misalnya, ia yang sebenarnya memiliki hati yang lapang di pasangkan dengan Wisang yang mudah tersulut emosi. Meski pria itu memiliki sikap solutif tinggi, tapi untuk urusan hal pribadi ia agaknya agak sentimentil.
Ia sebenarnya marah dengan mamanya, tapi saat Sekar mengusap lembut lengannya buncahan api di dadanya kian surut.
" Sudah, biarkan mamamu. Ayo kita masuk sarapan!" ajak tuan Wikarna, segera mengalihkan suasana yang terlihat mulai tak nyaman.
Untung saja masih ada satu manusia waras disana, membuat Wisang sedikit berlega hati. Setidaknya istrinya itu masih ada yang mau menyambut.
.
.
Ada rasa sakit di hati Sekar. Ia merasa asing dalam rumah suaminya. Wanita yang menjadi ibu mertuanya itu, membangun tembok pemisah yang kokoh dengan dirinya.
" Ayo makan dulu, nanti kita lanjut ngobrol lagi?" papa mertuanya itu bagai malaikat buat Sekar. Pria itu kaya, namun keramahannya bisa di adu.
" Kamu jangan terlalu mikir sikap mama ya, papa yakin seiring berjalannya waktu nanti dia kan kenal kamu!" tuan Wikarna tersenyum.
" Kalau gini nyesel aku ngajak Sekar balik pah!" sungut Wisang dalam tajuk muka yang sebal.
" Mas!!" Sekar memperingati Wisang. Ia yang selama ini tak pernah seatap bersama orang tua, sudah pasti tak setuju dengan sikap Wisang yang seperti itu.
" Aku kesel sama mamah!" jawab Wisang masih dengan alis berkerut.
Mereka makan dalam diam, Sekar membiarkan suaminya terus saja mengerutkan dahinya sepanjang ia menyuapkan makanan itu. Ia paham, jika mengusir emosi tak semudah mengguyur api lalu padam.
...ššš...
Pagi buta Dhira bangun sebelum ayam berkokok, meski ia tak tahu apa di kota ada yang memelihara ayam yang bisa berkokok.
Usai percintaan panasnya bersama Abimanyu semalam pastinya. Tidak ada hari libur untuk Dhira dalam urusan pelayanan ranjang untuk sang suami, yang sepertinya tiada lelah untuk menabur benih.
Dengan mata masih terkantuk-kantuk, Dhira kini beringsut pelan dan menuju kamar mandi. Doktrin jika urine di pagi hari bisa lebih meningkatkan akurasi hasil pengecekan kehamilan kini ia lakoni.
Ia membuka lemari dan mengambil benda yang dibeli Yuni sedari tadi pagi, sejurus kemudian ia mengunci pintu kamar mandi dengan pelan. Berharap kegiatannya tak membangunkan suaminya.
Usai menampung isi kemih ke dalam gelas monouse ( sekali pakai) kecil nan transparan, ia membuka bungkus alat penguji kehamilan itu.
Jenis tes yang dibelikan Yuni, adalah jenis tetes. Ia mengambil pipet lalu mencelupkan benda itu kedalam isi kemih yang tertampung di gelas itu. Sejurus kemudian, ia meneteskan urine ke tempat khusus di ujung tespect.
__ADS_1
Dengan hati berdebar, ia menelan ludahnya seraya memejamkan matanya. Menanti hasil dalam beberapa menit, sesuai anjuran dari balik kemasan alat itu.
Matanya membulat sempurna, begitu dua garis merah nan sedikit samar muncul di alat itu. Hatinya berdetak tak karuan, ia bahagia saat itu.
" Mas, keinginan kamu bakal terwujud. Kamu bakal jadi papa!" dengan bermonolog, mata Dhira menjadi berair. Ia tak menyangka Tuhan memberikan dia kepercayaan dengan begitu cepat.
Debaran rasa yang timbul kali ini, sangat berbeda saat ia yang juga melihat dua garis merah sewaktu diminta Bu Hana untuk melakukan uji beberapa bulan yang lalu.
Definisi dari berani karena benar dan takut karena salah itu, nyata adanya.
.
.
" Mbak, Nyonya dimana?" Abimanyu sedari membuka mata tak mendapati istrinya dikamar.
" Maaf saya juga tidak tahu Tuan, sejak saya belanja di depan tadi belum lihat nyonya Dhira!" sahut Yuni yang menata beberapa menu untuk sarapan.
" Pagi pa!" sapa Raka yang sudah rapih dengan seragam biru putihnya.
" Pagi nak, mama sama kamu?" tanya Abimanyu yang mulai menarik kursi di meja makan itu.
"Enggak, biasanya kan sama papa!" tukas Raka mengatakan sejujurnya. Ia memang belum melihat namanya sedari ia membuka matanya. Biasanya Dhira memang akan menengok Raka dulu, atau bahkan membangunkannya.
Abimanyu terdiam, kemana istrinya pergi. Biasanya Dhira akan naik ke kamar kembali usai turut campur tangan menyiapkan menu sarapan buat mereka.
" Pa, lusa aku ada pertandingan. Emmmm papa kalau gak sibuk, datang ya!" ucap Raka sambil menyendokkan suapan pertamanya.
Ya, Abimanyu dan Raka memang terlihat makin akrab saat mereka kini pindah. Abimanyu menang menerima Raka dengan tangan terbuka sedari awal ia tertarik dengan Dhira. Bahkan, saat ini segala fasilitas Raka ia cukupi dengan baik.
" Oh ya? pasti..pasti papa datang!" Abimanyu antusias menjawab info dari anaknya itu.
Hingga sarapan mereka akan berakhir, Dhira belum juga menampakkan dirinya. Membuat Abimanyu gusar.
" Mama kamu kemana sih, ini kita udah mau berangkat loh!" Abimanyu gelisah. Tak melihat istrinya sejenak saja, sudah membuat ia bak kebakaran jenggot.
Raka mengangguk, sesaat sebelum ia menyambar segelas susu untuk ia teguk. Empat sehat lima sempurna kini bisa ia nikmati dengan rutin.
Abimanyu menapakkan kakinya menuju lantai dua, tempat dimana kamar mereka berada. Saat ia membuka pintu kamarnya, ia tak menemukan istrinya, kamar itu kosong melompong. Membuatnya panik. Kemana Dhira Sebenarnya.
"Dhira!!" ia kini berteriak dengan nada cemas cendrung panik karena tak menemukan istrinya itu.
" Mbay Yun, minta mas Sugeng buat cari Nyonya juga. Saya cari-cari gak ketemu tadi!" titah Abimanyu.
" Baik Tuan!" mbak Yuni turut cemas, secepat kilat ia mencari suaminya untuk memberitahu titah dari sang majikan.
Namun hingga jam menunjukkan pukul setengah tujuh, ia belum menemukan Dhira. Dan baik Yuni maupun Sugeng, juga tak menemukan Dhira.
" Pah!!" Raka menunjuk ke arah jam tangannya. Ia bisa terlambat jika menunggu Abimanyu. Merasa Raka juga adalah prioritasnya, Abimanyu tersenyum lesu.
" Ya sudah mbak, bilang sama Nyonya untuk telpon saya nanti ya. Gak biasanya dia pergi gak pamit begini?" Abimanyu agak jengkel dibuat istrinya pagi ini.
" Mungkin mama jalan-jalan keliling komplek pa. Kemaren Raka lihat banyak yang ngucapin makasih sama mama karena dikirimin hampers.
Ya, sebagai tetangga baru di kompleks perumahan elite, mengharuskan Dhira untuk Kulo Nuwun ( permisi dan bertegur sapa) kepada para penghuni kompleks yang lebih senior.
Dhira membagi beberapa bingkisan untuk para tetangga, sebagai ucapan perkenalan.
" Masa sih?" Abimanyu lupa, jika mereka bukanlah satu satunya makhluk penghuni di komplek itu. Bisa jadi, ucapan Raka itu ada benarnya.
Dengan hati dan pikiran yang masih tertinggal dirumahnya, Abimanyu menghantarkan Raka ke Tunas Bangsa.
" Pah, pulangnya nanti sama Jodhi. Papah langsung aja ya!" Raka tak lupa menginfo Abimanyu, agar pria itu tak terlalu khawatir akan kepulangannya. Belum memiliki supir kadang membuat Abimanyu sering tak tenang.
__ADS_1
.
.
Dengan langkah gontai, Abimanyu melangkah malas menuju ruangannya. Sapaan dari para manager dan kepala divisi juga berlalu begitu saja. Menguap tiada arti ke udara.
" Tuan, ada....."
" Diam kamu Van, saya lagi malas bicara sama kamu. Beresin dulu itu kamu punya bau parfum. Gara-gara kamu saya mual." Abimanyu langsung mendamprat Devan, saat assistennya itu menyongsong kedatangannya.
Devan diam, ia masih terlihat ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
" Tuan, di dal....!"
" Kamu gak punya kuping?, udah sana pergi. Makin buat pagi saya suram aja!" sungut Abimanyu yang merasa pagi ini tak mendapat kiss morning before departure ( ciuman pagi sebelum berangkat) dari istrinya.
Devan memilih diam. Ia mengekor di belakang Abimanyu dengan derap langkah yang nyaris tak terdengar. Sejurus kemudian, ia menuju ruangannya sendiri. Berniat akan mengenakan jaket, guna mengahalau aroma wangi yang sering di sebut Abimanyu mirip solar itu.
Abimanyu memasuki ruangannya dengan malas, ia melempar punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya.
Kamu kemana sih Dhir, tega banget gak melayani suami kamu pagi ini. Aku salah apa ya semalam.
Perasaan dia merem melek aku buat enak.
Dengan dua tangan bertumpu diatas kepalanya, Abimanyu memejamkan mata seraya mengeluh dalam hatinya.
" Ada paket!" Devan yang memakai jaket tebal di ruangan itu, lebih mirip dengan orang yang hendak periksa ke tabib, karena meriang.
" Kamu aneh banget pakai jaket?" Abimanyu memindai tampilan Devan.
" Katanya Tuan pusing, ya saya tutupi biar bau wangi saya gak menyeruak kemana-mana!" Devan mendengus kesal. Apa maunya bos-nya itu.
" CK, sini!" Abimanyu menyambar kotak dengan ukuran mini itu.
" Siapa yang kirim paket sepagi ini!
" Seseorang yang penting!" jawab Devan asal.
Ia merasa di kerjai karena bungkusan paket itu, rupanya berlapis. Abimanyu sudah berkali-kali mengumpat.
" Orang gak waras mana sih yang bungkus paket kayak gini. Gak pernah tahu dalil apa jika Tuhan akan mempersulit hidup orang yang dengan sengaja juga mempersulit hidup orang lain!" gerutu Abimanyu.
Dan saat ia masih berkali-kali mengumpat perihal bungkus paket itu, ia mendengar suara seseorang.
" Siapa yang mas bilang orang gak waras, heh?" Dhira dengan tangan bersidekap muncul dari pintu kamar Istirahat, yang berada di ruangan Abimanyu.
Dengan mata mendelik, dan mulut ternganga Abimanyu terkaget-kaget. Istrinya berada di sana. Tapi sejak kapan, dan bagaimana bisa.
" Van?" Abimanyu hendak mendamprat Devan.
" Tadi saya sudah dua kali mau bicara, tapi tuan meminta saya untuk diam. Ya sudah!" bagai diatas angin, karena sudah pasti ia akan mendapatkan pembelaan dari Dhira.
Devan kini unggul satu poin, diatas bos-nya itu.
Membuat Abimanyu seketika menjadi belingsatan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.