The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 49. Stigma Untukku


__ADS_3

Bab 49. Stigma Untukku


.


.


.


...🍁🍁🍁...


Raka


Malam ini Raka sudah berada di ruko mamanya , di kamarnya lebih tepatnya. Berniat ingin mengetuk pintu kamar mamanya.


Sejak pulang sekolah tadi, Raka belum sempat berbicara dengan Andhira. Lantaran mamanya ,sibuk dan riweh melayani pembeli yang datang ke kedai Dapur Isun. Membuat Raka lebih memilih untuk beristirahat di kamar, hingga sore hari.


Tok tok tok


Tiga kali ia mengetuk pintu berwarna coklat tua itu, ia berharap mamanya masih belum istirahat. Ia kerap merasa kasihan, lantaran wanita nomer satu di hidupnya itu, setiap hari kekurangan jam untuk istirahat.


Mamanya bilang, belum sanggup untuk membayar karyawan lagi. Laba yang di dapat setiap harinya, sengaja dikumpulkan untuk diberikan kepada Bastian, guna menutup hutangnya di pegadaian.


"Masuk nak!" suara Dhira dari dalam.


Ceklek


Pintu itu terbuka, ia menatap mamanya yang terlihat mencatat sesuatu. Sepertinya semacam rekapitulasi laba rugi, atau pembukuan kecil dari hasil jualan hari ini.


"Mama lagi apa?" ia bertanya seraya berjalan mendekat. Ia menyembunyikan sesuatu di belakang tangannya, yang tidak di sadari oleh mamanya.


"Ini, lagi ngitung jualan. Alhamdulilah, hari ini gak nyisa sama sekali jualannya!" ucap Dhira riang, menatap Raka dengan senyum bahagia.


Raka masih diam, ia turut bahagia bila mamanya bahagia.


"Ma!" panggilnya.


"Ya,?" Dhira menoleh namun matanya sesekali fokus kepada kertas dan pulpen di tangannya..


"Ini untuk mama!" ucap Raka menyerahkan sebuah amplop coklat.


Dhira menatap Raka, kemudian meletakkan alat tulisnya ke atas tempat tidurnya. Kini tangannya meraih benda coklat itu. Ia mengira itu adalah sebuah surat dari sekolah Raka.


"Apa ini?" tanya Dhira.


Raka tersenyum," mama buka coba!" ucap Raka makin membuat Dhira penasaran. Ia masih menyembunyikan satu hal lagi di belakang punggungnya.


Dhira terlihat menarik bagian amplop yang merekat, mencoba membuka dan melihat isi dari pada kertas berbentuk kantong itu.


Dan matanya membulat, begitu mendapati isi dari amplop coklat tersebut adalah uang tunai dengan jumlah yang banyak. Semuanya pecahan bergambar Proklamator. Berjumlah 30 Lembar.


"Dari mana kamu dapat?" tanya Dhira curiga.


"Ma, mama jangan negatif thinking dulu" ucap Raka yang menyadari arti tatapan menuduh Dhira.


"Terus?" Dhira mencoba mencari jawaban.

__ADS_1


"Mama udah lihat video live insta strory di akun Tunas Bangsa kan?" tanya Raka.


Dhira mengangguk.


"Raka dapat hadiah uang ini, sama ini!" Raka menunjukkan sebuah sertifikat kompetensi, dari ajang olahraga bergengsi itu.



"Uang itu untuk mama, mama yang pegang!" ucap Raka tersenyum.


"Ini betul nak, Alhamdulillah ya Allah" Dhira seketika mengucapkan rasa syukur, dibalik cedera yang mendera Raka rupanya putranya itu berhasil menjadi atlet dengan torehan prestasi yang gemilang.


Hati Andhira terharu, amat merasa bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati terhadap hidupnya. Dengan memberi kelancaran dan prestasi bagi putra yang menjadi harta satu-satunya itu.


"Mama bangga sama kamu!" dengan mata berkaca-kaca, Dhira menarik tubuh putranya. Ia memeluknya, menciumi puncak kepala Raka dengan dalam.


Raka memejamkan matanya, merasakan pelukan ternyaman yang penuh kasih. Sejurus kemudian Dhira melepaskan pelukannya, mengusap air mata di pipinya secara bergantian.


"Kamu kan ingin sepatu, kebetulan ini ada uang. Kamu pakai saja, karena mama belum bisa beliin kamu!"


Dhira merasa ia masih belum bisa mencukupi kebutuhan putranya itu, namun putranya di usia belia ini sudah bisa begitu mengasihi dirinya.


"Enggak ma, selama ini Raka sering buat repot mama. Uang ini gak seberapa, tapi Raka berharap ini bisa membuat mama senang!"


Dhira memegang tangan kurus putranya, mengusap kepala Raka seraya tersenyum di sela tangisnya.


"Terimakasih nak, mama berharap di hari depan nanti keberuntungan selalu menyertaimu. Dan semoga kamu bisa hidup lebih baik dari mama!" Mereka kembali saling memeluk, merasakan kebahagiaan di tengah cobaan yang mendera. Saling memberikan kekuatan untuk terus melawan badai kehidupan.


.


.


...🍁🍁🍁...


Promosi, juga kelezatan rasa makanan yang yang otentik menjadi salah satu sumber sebab selain pemiliknya yang cantik.


Dhira kini sudah lebih bisa merawat diri, hal itu terjadi lantaran ia sudah bisa menghasilkan rupiahnya sendiri. Berbeda dengan saat menjadi istri Indra dulu. Yang selalu kalah dengan urusan dapur, dan juga keperluan rumah tangga.


Selain bisa menabung untuk membayar hutang kepada Bastian, menggaji Shinta walau temannya itu menolak, ia bahkan bisa melakukan perawatan untuk dirinya sendiri.


Pagi ini di awal Februari, banyak para karyawan kantor Kecamatan yang makan serta makan kudapan lezat di Dapur Isun.


"Mau sarapan apa pak?" tanya Shinta kepada pria yang sudah berusia matang, menggunakan seragam warna khaki khas pegawai Pemerintahan.


"Rawon aja!" ucapnya.


Ya, dari hari ke hari menu disana makin variatif. Hal itu terjadi, lantaran banyak orang yang suka mampir ke kedai Dhira yang berada di ruko bilangan Silasona.


Bahkan, ada seorang pria beristri yang kerap menggoda Dhira. Lantaran ia tahu bila Dhira adalah seorang janda cantik.


"Kamu mau saya jadikan istri kedua?"


"Saya bisa cukupi kamu!" ucap seorang yang mungkin adalah salah satu pegawai tetap di kantor itu. Dari rumor yang beredar, ia juga merupakan tuan tanah di sana.


Tak hanya satu, bahkan ada pria muda yang juga kerap makan disana karena ingin bertemu dengan Dhira. Membuat dia mejadi tak nyaman belakangan ini, apalagi mau tidak mau ia harus tetap melayani orang-orang tersebut yang tak jarang sedikit merendahkan martabatnya sebagai orang tua tunggal.

__ADS_1


"Mau jalan gak?"


"Kapan kamu longgar, kita jalan-jalan ke villa yuk!!"


"Kamu memangnya tahan hidup sendirian begini?, gak butuh belaian?"


Dan masih banyak kata-kata kurang ajar lainnya, mejadi orang tua tunggal dengan sebab bercerai karena orang ketiga membuat stigma kurang menguntungkan melekat kepada dirinya.


Dhira Terlihat memijat keningnya saat semua pengunjung Dapur Isun telah buyar. Setiap hari selalu datang pria pria yang menggoda, bahkan berceloteh agak kurang sopan kepada dirinya.


Namun semua ia pendam, hanya Shinta yang sesekali menyahuti ucapan pria yang keterlaluan. Mau gimana lagi, bila Dhira melawan takut akan berpengaruh terhadap jualannya.


"Udah Dhir, gak usah dipikirin!!"


"Emang tu aki- aki gak tau malu banget!!" Shinta berbicara seraya mengelap meja.


"Kayaknya lu mesti nyari suami baru deh Dhir, biar elo gak diremehin terus. Risih aku kalau mereka datang. Pingin nolak aja bawaannya!!"


Ucapan Shinta baru saja memang benar, jika boleh memilih ia ingin menolah rombongan bapak- bapak dari Kantor Kecamatan tadi. Tapi gimana lagi, nasib penjual makanan adalah pada pembelinya. Ia masih tetap berusaha tak memasukan ucapan para pria itu kedalam hatinya.


Namun saat Dhira sibuk melamun, ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tak ia harapkan. Membuat dirinya langsung berdiri, serta menatap pria itu tak senang.


"Mas Indra!!"


.


.


.


.


.


.


Hallo Readers terkasih, Mommy mau menginformasikan jika mommy tengah ikut Event dari Noveltoon You are the next writer session 6.


Mommy minta dukungannya, dengan mengunjungi karya Mommy yang baru. Berjudul " Sang Pengobral Dosa".



( Covernya masih amatir, masih proses pembuatan)


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan beri like and comment ya.


Maaf kalau sekarang cuma up satu bab. Tapi jika memungkinkan, akan mommy lebihkan.


Maklum, saat ini Mommy tengah menulis tiga judul novel yang masih on Going. Jadi masih bagi waktu juga.


Terimakasih untuk yang sudah setia di karya Mommy, percayalah tanpa kalian karyaku ini tak berarti apa-apa.


Peluk cium darikuπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Mommy Eng πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2