The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 154. Naas


__ADS_3

Bab 154. Naas


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Mungkin suatu saat nanti, kau temukan bahagia meski tak bersamaku...."


( Diambil dari lirik lagu Naff ~ Kenanglah Aku)


.


.


Empat hari berlalu, berita bahagia dari Dhira dan Abimanyu nampaknya sudah menyebar ke telinga para sahabat dan handai taulan. Lagi-lagi Abimanyu dengan semangat membara, ingin melakukan acara syukuran dirumahnya. Ia yang di usia kepala empat ini baru akan merasakan menjadi seorang papa, tak bisa menahan diri untuk menularkan kebahagiaannya kepada keluarganya.


Seperti biasa, malam ini hanya acara makan- makan dan kumpul- kumpul. Meski di gelar secara tak heboh, tapi yang terpenting bagi Dhira adalah kehangatan sebuah keluarga ada di sana.


Wisang dan Sekar terlihat datang lebih dulu, pasangan pengantin baru itu terlihat sigap membantu mbak Yuni dalam menata aneka olahan untuk jamuan kasih.


" Sini mbak biar suami saya aja!" ucap Sekar kepada wanita paruh baya itu, saat mengangkat panci berisikan kuah pekat dan banyak sekali potongan daging yang berenang ceria diatasnya. Makanan kesukaan Raka.


Rawon.


Selang beberapa menit, Bastian dan Bu Kartika juga terlihat datang. Mereka banyak sekali membawa kue basah olahan sendiri, kemudian Rania yang datang bersama Jodhi dan Oma Regina. Mereka juga terlihat membawa banyak oleh-oleh.


Shinta malam ini datang bersama Rangga, meski tidak dari rumah. Seperti biasa, Rangga usai lepas dinas langsung melesat ke tempat Dhira menggunakan taksi, ia tak membawa mobil lantaran mobil mereka masih berada di bengkel. Sementara Shinta, ia menuju rumah Dhira dengan menaiki ojek online.


Hanya Danan, pria itu datang paling akhir. Mau bagaimana lagi, ia selalu menjadi bahan Bullyan lantaran tak memiliki pasangan sendiri. Belum lagi, waktu yang di berikan oleh mamanya kian terkikis.


Ia sangat frustasi jika sudah menyangkut wanita pilihan mamanya. Bisa jadi ia semacam kalah taruhan, lantaran belum juga menemukan wanita untuk ia jadikan istri.


" Nah itu dia yang di tunggu, sekarang elu seringnya datang terlambat pulang cepat ya Dan!!" cibir Wisang kepada Danan.


" Diem lu, enak lu ya sekarang. Bisa bully gue terus, mentang-mentang habis belah duren!" Danan mendengus kesal.


Belah duren apaan, orang palang merahnya aja belum selesai.


Itu isi hati Wisang, namun ia tak mau dong terlihat menderita di hadapan teman-temannya. Sebisa mungkin tak mau menunjukkan kenestapaan yang ia alami.


" Iya lah, emang elu celap celup sama paralon lower!!!" kekeh Wisang merasa diatas angin.


Untung para wanita tengah sibuk di belakang, membuat Sekar tak tahu bila suaminya telah ngibul. Bastian yang mendengar ucapan absurd dari Wisang dan Danan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Rangga hanya mengulum senyum.


" Ayo ayo para pria jantan, kita makan yuk!!" Rania datang membawa satu wadah besar ikan bakar yang terasa menggugah selera.


Ya, malam itu sengaja mereka habiskan untuk bersafari lidah.


Saat berada di meja makan, Shinta merasa suaminya begitu tampan malam itu. Auranya lain, wajah suaminya begitu cerah. Ia tak jemu memandangi suaminya malam itu.


" Udah mbak Shin, jangan di pandang terus, entar di rumah kelonin dan sampai lemes!!" ucap Rania seraya terkekeh geli.


Danan yang melihat hal itu entah mengapa ada rasa cemburu. Pria itu memang sudah gila.


Rangga yang menjadi bahan kelakaran, hanya tersenyum simpul. Suasana hangat muncul disana. Ia menatap wajah istrinya lama, Shinta juga begitu tatapan yang menyiratkan cinta.


.

__ADS_1


.


Semua orang yang berada di dalam rumah Abimanyu tak menyadari sebuah petaka telah mulai tersusun di luar sana.


Seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam, terlihat membekap Sugeng. Pria itu lemas seketika usai menghirup bius yang terkandung di dalam sapu tangan merah itu.


Satu orang pria lain terlihat mencongkel pintu mobil Wisang. Entah apa yang di lakukan mereka, mereka cukup lihat dan cekatan dalam melakukan aksinya. Tak membutuhkan waktu lama, mereka memungkasi kegiatan mereka dengan rapi. Tak meninggalkan jejak barang sedikitpun.


Sejurus kemudian, mereka membawa Sugeng pergi dari sana.


.


.


Shinta masih menyimpan jaket Danan dirumahnya usai di laundry. Berniat esok akan mengirimkannya lewat paket saja. Lebih aman pikirnya, ia tak mau menemui Danan hanya seorang diri. Tak mau timbul fitnah nantinya.


" Mas, banyak yang gak ambil order ini gimana. Udah malam kayaknya ya?" Shinta mengeluh karena sedari tadi ia tak kunjung mendapat taksi online.


" Jam berapa sekarang?" tanya Rangga.


" Jam dua belas kurang tujuh menit!" ucap Shinta.


Ya, mereka semua larut dalam obrolan hingga lupa waktu.


" Kenapa mbak, kok gelisah banget ?" Wisang dan Sekar yang hendak pulang melihat raut gelisah di wajah Shinta.


" Taksi online udah gak ada yang terima order ke arah rumahku, kemaleman deh kayaknya!" tukas Shinta kepada Sekar.


" Mas..." Sekar kasihan, ia menatap ke arah suaminya meminta solusi.


" Bawa mobilku saja bro, ini udah malam!" tukas Wisang.


" Oh enggak, kami bisa pulang sama Danan kok, ya kan Dan!" Wisang merangkul bahu Danan yang tepat melintas di depan mereka.


" Hah...kenapa?" Danan bingung, karena semua menatap dirinya.


" Udah iyain aja!" bisik Wisang.


" Iya..iya!" Danan malah menatap Shinta yang makin cantik malam itu. Sial.


" Udah mas Rangga bawa saja, jangan sungkan. Kami kan searah dengan mas Danan, udah malam mas, kasihan mbak Shinta capek" imbuh Sekar meyakinkan.


" Baiklah kalau begitu, terimakasih banyak!"


...šŸšŸšŸ...


Abimanyu dan Dhira mengantar para tamunya yang akan pulang hingga ke pelataran. Lambaian tangan mengiringi kepergian mereka.


Bu Kartika dan Oma menginap dirumah mereka, sementara Raka dan Jodhi sudah hanyut terbawa mimpi sedari pukul sembilan tadi.


" Makasih semuanya ya!" Dhira melepas kepergian para sahabatnya dengan senyuman.


Wisang dan Sekar duduk di bangku belakang, sementara Danan sudah berkali-kali mengumpat karena ia berada di depan seorang diri. Ia sudah seperti supir.


Lebih kesalnya lagi, ia melihat Wisang yang malah enak-enakan berciuman di belakang. Membuat Danan seolah menjadi kambing congek disana.


" Si anjing emang gak pernah tau tempat!!" gerutu Danan.


Sekar selalu tak bisa menghindari suaminya yang lihai dalam mencuri kesempatan itu. Namun sejurus kemudian, " Dan berhenti!!!!!"


Wisang berteriak.

__ADS_1


"CK, ada apa lagi njing!!!!?" Danan menginjak pedal rem mobilnya mendadak karena Wisang berteriak, Sekar bahkan menjadi panik.


" Kunci Apartemen di dasbor mobil gue. Ayo kita susul mobil mereka, belum jauh lah kayaknya!!" tukas Wisang.


" CK!!!!Elu tu ya , emang anjing!!!" Danan mengumpat kesal, sementara Wisang hanya meringis.


.


.


Rangga melajukan mobil Wisang dengan kecepatan sedang, " Mobil bagus enak tunggangannya ya sayang?" ucap Rangga memuji mobil Wisang yang terbilang mahal itu.


" Sama aja mas, buat aku yang penting bisa kita pakai!" Shinta tak mau suaminya itu berkecil hati lantaran selama ini mereka baru memiliki sebuah mobil yang terbilang biasa saja.


" Banyak yang gak punya pingin punya. Artinya kita harus lebih bersyukur!" imbuh Shinta kepada suaminya.


" Makasih sayang, selalu pengertian selama ini!" Rangga meraih tangan istrinya, lalu menciumnya dalam.


Hati Shinta menghangat, entah mengapa malam ini suaminya begitu berbeda. " Aku cinta sama kamu Shin!"


" Aku juga cinta sama mas!!" Shinta tersenyum tulus. Bisa ia rasakan jika malam itu, ia merasakan kebahagiaan di tengah kesedihannya yang menantikan momongan.


Selang beberapa menit mereka melewati turunan, ada sebuah mobil kontainer bertonase besar ada di depan mereka. Jalan itu agak sempit karena berada di tikungan.


" Astaga...!" ucap Rangga panik.


" Kenapa mas?" Shinta juga turut panik.


" Rem nya gak bisa Shin!!" Rangga panik, pedal rem yang ia injak mengalami disfungsi. Jika ia menarik tuas handrem mobil itu bisa berhenti, namun resikonya ia bersama mobilnya akan terpelanting, sementara itu adalah mobil pinjaman.


Sementara truk kontainer itu makin mendekat, malam hari biasanya adalah waktu yang tepat bagi supir bermuatan besar untuk bekerja.


" Mas awas!!!"" suara klakson truk kontainer itu makin gencar di tekan seiring degan mendekatnya kendaraan mereka.


Graaakkkk


Mobil Wisang yang di kendarai Rangga menyerempet bagian bak truk itu, senggolan tak bisa di hindari. Rangga mencoba mengatur kemudi sebisanya. Shinta panik begitu juga dengan dirinya.


Namun naas, dari arah depan ada sebuah mobil pickup lain dan juga sebuah truk yang hendak menyalip pickup itu. Dan dua kendaraan itu luput dari pandangan Rangga yang masih panik dengan serempetan yang baru ia alami.


" Mas awasss!!!!!" teriak Shinta memperingati suaminya akan bahaya lain yang tengah menghadang mereka.


Citttt


Bruaaaakkkkk


Rangga terpaksa membanting setirnya menghantam pembatas jalan dari beton guna menghindari kecelakaan dengan mobil yang ada di depannya.


Mobil Wisang hancur lebur, Shinta mendadak merasa seperti sesuatu telah menimpa kepalanya. Ia merasa dirinya terhantam sesuatu yang berat, pandangannya kabur. Ia masih bisa melihat suaminya yang ambruk tepat di setir bundarnya.


" Sayang!!" ia masih bisa mendengar suara parau Rangga yang nyaris tak terdengar.


" Mas Rangga!!" Shinta tak kuat untuk berucap. Ia bahkan tak bisa menggapai lengan suaminya yang sudah menjuntai ke bawah.


Tubuh mereka bersimbah darah, mobil mereka sudah tak berbentuk dan sejurus kemudian pandangan mereka mengabur, mereka berdua tak sadarkan diri.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2