
Bab 133. A Worried
.
.
.
...ššš...
Apakah kau peduli
Jika ternyata ku jatuh hati
Apakah kau mau tahu
Jika kau jatuh hati padaku
Kali ini ku merasa cinta
Memaksaku untuk bicara
*
Berkali-kali ku coba
Mencoba merangkai kata-kata
Tapi apa yang terjadi
Tak satu kata pun ku temui
Kali ini ku merasa cinta
Memaksaku untuk bicara
Kali ini ku merasa cinta
Membuatku tak mampu bicara
(Ipang Lazuardi ~ Jatuh Hati)
.
.
Malam yang sama, namun berada di tempat yang berbeda, Shinta terlihat bermuram durja. Hatinya merasa mencelos, dan tak bisa menutupinya barang sedikitpun. Apa yang ia khawatirkan terbukti.
" Jadi kamu masih belum isi juga?, aku kasihan sama kamu Ngga, bagaimanapun juga anak itu adalah aset orang tua!" ucap Bu Nisa. Mama dari Rangga.
"Kalau begini terus, terus gimana!" Ucap Bu Nisa lagi.
" Ma, udah lah. Rangga sama Shinta kesini itu karena pingin silaturahmi, pingin jenguk mama sama papa!" Rangga akhirnya kesal. Karena ucapan mamanya selalu saja melukai perasaan istrinya, ia melihat raut kesedihan di wajah Shinta.
"Saya sudah selesai, saya permisi dulu!" Shinta tak tahan lagi dengan obrolan yang menohok hatinya. Ia selalu merasa berada dalam titik terendah dalam hidupnya, tatkala mertuanya itu membahas soal rahimnya yang tak jua di hinggapi embrio.
Suasana mendadak senyap.
"Lihat ma! Rangga udah bilang berkali-kali bilang sama mama. Tolong jaga perasaan istri Rangga ma. Mama ini perempuan loh ma. Harusnya bisa lebih tahu!" Rangga menunjuk ke arah Shinta yang baru saja berlalu dari meja itu.
__ADS_1
" Ada apa sih ini!" ucap Pak Ali. Beliau adalah papa Rangga. Seorang purnawirawan TNI yang ramah dan bersahaja sekalipun sarat akan prestasi.
" Ma, kalau tiap Shinta kesini yang mama bahas itu terus. Nanti Shinta kapok kesini loh!" Pak Ali baru saja bergabung ke meja makan. Ia terlihat menyendokkan satu centong nasi ke piringnya.
" Kok semua nyalahin mama sih? justru karena mama ini perempuan. Kamu ini harus ambil langkah dong Ngga!!" ucap Bu Nisa.
"Ma, Rangga udah usaha, udah berdoa juga. Tapi kalau belum di kasih, ya musti gimana lagi. Semua itu Tuhan yang ngatur ma!" Rangga yang awalnya tenang, kini ikut frustasi.
Akibat perdebatan di meja makan itu, Rangga kehilangan selera makannya. Ia meninggalkan meja makan itu dengan sedikit kesal.
" Mama... mama, gak bisa apa sedikit saja ngertiin ke anak!" tukas Pak Ali.
"Anak belum 24 jam dirumah, udah gak dibuat betah. Mbok ya berubah ma!"
.
.
Dikamar ,Shinta berdiri seraya bersidekap. Matanya nyalang menatap rembulan yang cantik malam itu di mulut jendela kamar Rangga. Dinginnya angin malam juga menerpa kulitnya. Membuah hatinya yang dingin semakin terasa membeku.
Rangga menyusul Shinta ke kamar mereka. " Sayang!" ucap Rangga seraya menutup pintu kamar Shinta.
Tak ada sahutan. Istrinya itu masih menatap nanar bulan yang tengah tersenyum kepadanya.
Rangga adalah putra bungsu dari dua bersaudara. Ia memiliki kakak perempuan yang sudah berkeluarga dan tinggal di Indonesia bagian timur. Kakaknya bernama Dian. Dian adalah seorang Polwan yang di persunting oleh seorang Dokter. Dan Mereka menetap di Kota U, bersama kedua anak mereka.
Ya, keluarga pak Ali adalah keluarga abdi negara. Rangga saja yang tak sama, ia mendedikasikan dirinya di BUMN yang bergerak di bidang Transportasi, dan spesifik ke keamanan penerbangan.
" Sayang!" panggilnya lagi. Ia melihat istrinya yang melamun.
" Ucapan mama jangan kamu pikir ya. Mama mungkin..."
Rangga mengembuskan napasnya kasar. Bagai memakan buah simalakama. Berkunjung begini, jika tak berkunjung lebih salah lagi.
Mereka sudah berupaya semaksimal mungkin, konsultasi ke dokter kandungan juga sudah. Pemeriksaan juga sudah. Kendati demikian, Rangga tak pernah mempersoalkan perkara belum atau tidaknya Shinta yang hamil. Ia mencintai wanita itu dengan segenap jiwanya. Menerimanya dengan segala kurang lebihnya.
"Atas nama mama maafin aku ya. Kalau kamu gak nyaman, besok kita pulang ya!" Rangga mencium bibir istrinya. Ia memberikan ketenangan lewat sentuhan lembut penuh kasih mesra. Lagi-lagi acara sowan ke rumah orang tuanya, berkahir dengan kesedihan istrinya.
...ššš...
.
Gudang Minyak Pukul 19.23
Jaket Wisang kini membungkus tubuh Sekar. Terlihat gombrong dan kedodoran. Namun tak apa, itu jauh lebih baik dari pada Wisang harus membiarkan isi dada Sekar yang kini membuatnya gelisah itu, turut dilihat orang lain. No way lah!!!
"Enak Lo njing, sosar- sosor terooosss gak ingat tempat lu!!" dengus Danan.
Wisang tergelak, Sekar masih berdiri di temani seorang Polwan yang tengah mengorek informasi darinya.
"Semua akan nyosor pada waktunya. Lu sabar, dan jangan sampai gangguin bini orang!" tukas Wisang yang mengingatkan Danan, soal Shinta.
"Taiiiikk lu!!"
Danan makin tergelak," aduh...!"ia mengaduh saat pipinya sakit karena terlalu keras dibuat tertawa.
" Syukuri Lo, muka udah bonyok masih aja cengengesan!!!" Danan mendengus sebal.
" By the way, makasih ya udah datang tepat waktu" Wisang menepuk punggung sahabatnya itu.
__ADS_1
"Untuk itulah aku dilahirkan!" Danan jumawa.
"Bastian dimana?" tanya Wisang kemudian.
"Itu lagi di kasih pertolongan pertama, harus ke RS infonya. Buat di jahit!" jawab Danan seraya menunjuk sebuah mobil putih dengan logo plus merah. Mobil yang rupanya turut datang ke lokasi.
"Asli lu tu ya. Gimana bisa elu ada di tempat beginian, terus itu..." ucap Danan menunjuk Sekar menggunakan dagunya.
"Ceritanya panjang. Intinya, semua ini gara-gara Mira sialan!" ucap Wisang sebal.
"Mira?" Danan tak habis pikir. Apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa sahabatnya itu terlibat dengan banyak orang usai hari bahagianya Abimanyu.
"Lu telpon si Abi deh. Bilang suruh ke rumah sakit. Kita antar Bastian setelah ini!"
Wisang sebenarnya merasakan remuk di sekujur tubuhnya. Tapi itu tak sebanding. Kini ia harus kebih waskita lagi. Mengingat Wisnu berhasil kabur.
Usai memberikan ketenangan yang dirasa cukup kepada pihak berwajib untuk kepentingan penyelidikan, mereka berempat sekarang bertolak ke ke RS.
Sementara para preman yang ada di sana, telah di amankan oleh anggota polisi yang bertugas. Dan Johan, rupanya pria itu langsung pingsan usai di tendang mukanya oleh Danan menggunakan kakinya satu kali. Tubuh tinggi tegap Danan jelas membuat tubuh cebol Johan kesulitan mengimbangi kekuatan Danan.
Bastian bersama Danan melesat lebih dulu, sementara Sekar bersama Wisang menyusul di belakangnya. Di dalam mobil Sekar termenung, ia menatap jalanan dari dalam jendela mobil Wisang.
Wisang tahu, apa yang telah terjadi pasti mengguncang jiwa wanita di sampingnya itu. Ia menjadi iba sekaligus tidak tega.
Di dalam rumah sakit, Wisang selalu merangkul pundak Sekar saat berjalan. Mereka kini menunggu Bastian yang tengah memasuki ruang tindakan untuk diperiksa dan dijahit. Dan beberapa menit kemudian, Dhira bersama Abimanyu dan Rania datang menjenguk serta ingin mengetahui, apa yang sebenarnya menimpa mereka.
"Lu gila, kenapa gak ngabarin gue!" Abimanyu melayangkan protes kepada kedua sahabatnya.
"Lu jangan ngremon ke gue. Gue aja tahu agak terlambat. Untung gue datang disaat yang tepat. Kalau enggak, udah kek!!" Wisang menunjukkan gerakan memutus leher menggunakan tangannya.
Wisang akhirnya menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya. Terkait Mira yang juga datang menyerang Sekar.
"Semua ini tiba-tiba banget . Untung ada adiknya Dhira. Ya udah, aku ga ada pikiran lagi. Yang ada di otak gue, cuma gimana nyelametin Sekar!" Wisang mengendikkan bahunya. Ia pasrah jika harus di salahkan saat itu juga.
"Kamu ga apa-apa kan Sekar?" Dhira meraih tubuh Sekar yang acak adul. ia mengusap punggung wanita yang terlihat rapuh itu.
"Maafin Sekar ya Bu. Gara-gara Sekar, ruko Bu Dhira rusak!" Sekar menangis. Ia merasa telah merepotkan semua orang disana.
Dhira dan Abimanyu membulatkan matanya," Apa Maksudnya?" Abimanyu tentu saja cemas dengan apa yang di ucapkan Sekar.
"Ruko Dhira di serang pagi sebelum aku sama Sekar jalan. Besar kemungkinan itu Wisnu!"
Akhirnya ,saat itu menjadi awal terbukanya masa lalu Sekar. Rania bahkan merasa iba. Sesama wanita, tentu ia bisa merasakan posisi Sekar.
" Kurang ajar banget sih mantan kamu!" Rania kesal bukan main.
" Dia pria gak waras emang!" sahut Danan.
"Maaf Dhir, Bastian terluka karena bantuin aku. Aku minta maaf!" Wisang lesu, karena melibatkan Bastian dalam mitigasinya yang tanpa perencanaan, membuat adik dari istri sahabatnya itu harus menanggung jahitan saat ini.
"Apa?, kenapa Bastian kak Wisang?" semua yang disana menatap heran ke arah Rania. Wanita itu terlihat paling panik diantara yang lainnya. Membuat kesemua orang yang disana bertanya- tanya.
"Bastian kenapa?" Rania bahkan sampai menggoyangkan tubuh Wisang. Membuat orang yang disana benar-benar bingung.
.
.
.
__ADS_1
.