
Bab 23. Gelenyar aneh
.
.
.
...πππ...
"Memihak satu hal, bertahan hidup dengan cara apapun".
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, kini tiba saatnya untuk berpamitan. Kue lapis yang sudah jadi telah di serah terimakan kepada Bik Surti, untuk si simpan di tempat khusus. Untuk acara esok.
Abimanyu yang mendapat tugas ini, merasa sangat antusias. Ia juga menolak tawaran Bagus untuk mengantarkan tamu majikannya itu.
"Saya saja tuan, tuan biar istirahat" ucap Bagus.
"Ga papa Gos, saya sekalian mau keluar" ucap Abimanyu.
Raka terlihat tertidur di mobil. Dhira bersikeras menolak untuk duduk di depan, Akhirnya mereka bertiga duduk berdempetan di kursi belakang.
Membuat Abimanyu bak seorang supir.
Wow, bisa di bayangkan. Seorang Direktur Utama Delta Group, tengah menjadi supir dadakan
"Jadi merepotkan nak Abimanyu" ucap Bu Kartika dari kursi belakang.
"Tidak sama sekali Bu, malah saya berterimakasih atas bantuan Ibu dan mamanya Raka" mulutnya masih kaku untuk menyebut nama wanita itu.
Abimanyu sekilas menatap wajah Andhira dari kaca rear vision, terlihat Andhira membuang pandangannya ke arah luar.
"Kenapa selalu menghindar dan cuek" batinnya
Abimanyu merasa ada debaran aneh, saat ia menatap wajah jelita itu. Rasa yang selalu ingin, dan ingin melihat wajah teduh itu terus menerus.
"Nak Abimanyu, udah punya anak berapa?" tanya Bu Kartika, basa basi sekedar ingin memecah kesunyian.
"Saya kebetulan belum punya Bu, Jodhi itulah yang menjadi anak saya sekarang" jawabnya seraya tersenyum.
Bu Kartika membalas tersenyum, meski tak di ketahui oleh Abimanyu.
"Astaga ibu, kenapa harus menanyakan hal seperti ini" batin Dhira, yang merasa ibunya itu terlalu.
"Jadi, dimana istrinya sebenarnya" ia masih membatin.
Andhira masih enggan terlibat obrolan apapun dengan ibu dan pria di depan kemudi itu. Bu Kartika tak menanyakan hal lain lagi, mereka akhirnya sama sama diam.
Abimanyu menyalakan radio di dashboard mobilnya, guna memecah keheningan.
πΆHe,,, ye,,,iye,,,iye
Berawal dari mata indahnya senyuman
Mengapa harus resah
Berawal tatap mata hangatnya sapamu
Mengapa jadi gundah...."
Langsung di sambut oleh sebuah lagu yang di aransemen oleh anak keyboardis terkenal itu.
Membuat Dhira mengernyit.
Namun Abimanyu justru turut melantunkan lagu itu, dengan santainya.
"Astaga lagu ini"
Itu adalah salah satu lagu favoritnya.
πΆBiar cinta gelora di dada
Biar cinta memadukan kita uwo uwo
__ADS_1
Cerita cinta yang pertama kurasa
Jangan pernah akhir cerita cinta kita...
( Cerita cinta Kahitna)
Sementara Abimanyu nampak menikmati alunan lagu itu, benar benar menjadi backsound dirinya saat ini.
.
.
"Ka, udah sampai nak" Dhira menepuk pipi anaknya itu, namun Raka justru tak kunjung membuka matanya.
"Kenapa?" ucap Abimanyu yang baru saja turun.
Ia datang menghampiri Andhira yang masih susah payah membangunkan anaknya.
"Ini, Raka susah bangun. Kebiasaan kalau ketiduran di mobil susah banguninnya"
"Biar aku coba" ucap Abimanyu, yang membuat Dhira keluar dari kursi mobil itu.
"Ka, Raka udah sampai" Abimanyu mengelus puncak kepala Raka.
Melakukannya dengan penuh kelembutan.Anehnya, seketika tubuh anak itu menggeliat.
"Eeeuuuhhhhgh, udah sampai?" ucap Raka dengan suara parau.
Sementara Bu Kartika sudah lebih dulu memasuki rumahnya. Rumah yang masih gelap, menandakan Bastian belum pulang.
"Dhir, Bastian gak ngabari kamu. Tumben belum pulang" Bu Kartika nampak khawatir, terpancar raut kegelisahan di wajah wanita itu.
Dhira membuka dan mengaduk aduk isi tasnya, kemudian meraih ponselnya.
Ia melihat tidak ada notifikasi pesan apapun di ponselnya, dan jam di layar ponselnya telah menunjukkan angka 20.31 WIB.
"Kemana dia ya" ucap Dhira.
Abimanyu terlihat men-dial seseorang melalui ponselnya, begitu mendengar tentang kepanikan Bu Kartika.
"Nak mari masuk dulu" ajak Bu Kartika.
Bu Kartika terlihat masuk ke dalam, entah apa yang ia perbuat. Menyimpan beberapa pakaian kotornya mungkin.
Raka juga sudah melesat memasuki kamarnya, rasa kantuk yang menyerang benar benar membuatnya tidak tahan untuk segera merebahkan dirinya.
Bahkan tak sempat menemui Abimanyu. Menyisakan Dhira dan Abimanyu di dalam ruang tamu itu.
"Bastian"
"Bastian"
Ucapnya bersamaan, membuat mereka terpaku beberapa detik . Benar benar kebetulan yang memunculkan gelenyar aneh.
"Anda dulu" ucap Andhira.
Abimanyu tersenyum, getaran aneh muncul dari hatinya. Hal yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Bastian, maksud saya semua yang di kantor sudah pulang, tidak ada lagi kegiatan disana" ucap Abimanyu kepada Andhira.
Dhira hanya diam, ia merasa tak nyaman hanya berdua disana bersama seorang pria.
"Kemana dia?, tak biasanya tak memberitahu bila akan ada urusan lain" batinnya berbicara.
Bu Kartika kini kembali ke ruang tamu, mendengar percakapan mereka berdua.
"Mungkin masih di jalan, kita tunggu saja"
Dhira kini yang ganti masuk kedalam rumah.
Abimanyu akhirnya berbicara sekilas dengan Bu Kartika, berbasa- basi sebelum ia pamit.
"Ini tolong di terima Bu, terimakasih telah membantu kami" ucap Abimanyu, seraya menyerahkan sebuah amplop coklat tebal. Jelas berisikan lembaran rupiah yang tak sedikit.
__ADS_1
Bu Kartika meraih amplop itu, membuka dan mulai menghitung.
"Apa tidak salah nak, ini terlalu banyak" Bu Kartika benar benar terkejut, jumlah uang yang di berikan bahkan setara dengan laba jualannya sebulan.
"Saya hanya menyampaikan amanat dari Oma tadi, mohon di terima" ucap Abimanyu tersenyum.
Ia sempat melihat ke arah belakang, mencari sosok wanita itu, namun yang dicari agaknya tak memunculkan batang hidungnya.
"Bu saya pamit dulu" ia merasa tak enak berlama lama disana, karena hari sudah larut.
"Sudah malam, terimakasih banyak sekali lagi" imbuh Abimanyu.
"Saya yang terimakasih nak" ucap Bu Kartika merasa keluarga Abimanyu begitu baik.
"Dhir, Dhira" panggil Bu Kartika.
Akhirnya wanita itu keluar, ia kini sudah mengganti bajunya dengan daster rumahan. Membuat Abimanyu menatap tak jemu.
"Saya pamit!"
...πππ...
.
.
Abimanyu
Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang, jiwa laki lakinya seolah kembali saat memandang wanita yang kini ia ketahui berstatus seorang orang tua tunggal.
Namun sikap acuh dan cenderung menghindar Andhira, jelas membuat dirinya kian tertantang.
Ia adalah pria dewasa yang telah lama tak memiliki warna dalam hidupnya, hingar bingar dunia malam dan seisinya bahkan tak pernah membuatnya tertarik.
Hanya sekedar kebutuhan biologis saja, tak lebih. Tak ada cinta, atau perasaan indah lainnya.
"Wanita yang berbeda" gumamnya didepan kemudi, seraya mengingat wajah cantik Dhira saat memakai daster tadi.
.
.
Andhira
Insomnia lagi lagi menyerang wanita itu, padahal seharian berjibaku membuat kue jelas membuat tubuhnya remuk redam.
Kilasan ingatannya justru kembali saat Abimanyu dengan suara lembut, membangunkan putra semata wayangnya itu.
Juga tatapan penuh arti, yang sering di pancarkan oleh sepasang mata elang milik Abimanyu.
"Tidak, Dhira. Dia hanya menghormatimu sebagai tamu"
Matanya tak jua kunjung terpejam, ia membalikkan badannya menghadap ke arah Raka, yang tengah tertidur lelap.
Ia tatap wajah teduh milik Raka, tersirat sekelebat wajah Indra di wajah pucat itu.
Lagi lagi air mata itu lolos tanpa seijinnya, tak pernah ia mengira jika hidupnya harus jadi seperti ini. Ia telah memulai sesuatu yang ia sendiri belum tahu kapan akan mengakhirinya.
Menjanda.
Ia mencium dahi harta satu satunya itu, bagiamana cara agar terus meniti hidup bersama putranya, di tengah kerasnya badai kehidupan yang menghantam dirinya.
Akankah dia sanggup, akankah bisa ia lalui lembaran hari-hari yang mungkin banyak aral melintang di kemudian hari, seorang diri?
Harusnya ada sosok laki laki yang bisa menjadi sandarannya, ia mengusap rambut hitam Raka.
Sejurus kemudian memejamkan matanya, berharap mimpi sejenak jauh membawanya untuk tersenyum malam itu.
.
.
.
__ADS_1