The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 257. Menuju Halal ( Side Danan)


__ADS_3

Bab 257. Menuju Halal ( Side Danan)


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Bagai ayam terterlur di lumbung padi ( seseorang yang sangat bahagia, tanpa khawatir kekurangan sesuatu dalam hidupnya).


.


.


Menepikan persoalan Devan yang justru mendapat angin segar dari Abimanyu, kini kegundahan hadir di sela-sela hati yang diliputi kebahagiaan.


Adalah Nyonya Regina. Di usianya yang begitu senja ia sangat mengucap syukur buat hari yang membahagiakan ini.


Pagi ini ia sarapan bersama Jodhi serta Rania. Yang membedakan, pagi itu Rania yang sengaja mempersiapkan masakannya, lantaran Bastian akan menjemput cucunya itu, untuk mengurus keperluan menikah.


" Ran?" tanya beliau.


" Ya Oma?" jawab Rania sembari sibuk mengambil lauk untuk Jodhi.


" Itunya juga ma!" ucap Jodhi menunjuk ayam goreng mentega yang menggiurkan.


"CK, Jodhi jangan nyela kalau Oma bicara!" Rania kesal kepada putranya yang sedari tadi rewel untuk di layani.


Nyonya Regina tersenyum melihat kerewelan cicitnya.


"Kamu setelah menikah nanti akan tinggal dimana? kamu sama Bastian sama-sama Ragil?"


Oma sebenarnya sudah memikirkan hal ini sejak lama. Mengingat setiap yang menikah pasti ingin tinggal dirumah mereka sendiri-sendiri.


Praktis, semua ini kini menjadi kegundahan Nyonya Regina. " Kamu jangan lupa tanyakan hal ini jauh-jauh hari sama Bastian ya?"


.


.


Dan benar saja! Usai mengantar Jodhi ke sekolah, ia yang kini berdua bersama Bastian terdiam di dalam mobil. Larut dalam pikirannya.


" Apa ada masalah?" tanya Bastian yang masih menatap lurus ke depan. Menyadari Rania yang diam sejak mereka pergi dari rumah Aryasatya.


Rania memanyunkan bibirnya " Oma kayaknya lagi mikirin kita deh" sahutnya lesu.


" Kenapa memangnya? bukannya Oma udah setuju?"


" CK, bukan itu!" ucap Rania layu.


" Terus?" Bastian kini menatap wajah sendu Rania sekilas.


" Oma mikir nanti kita bakal tinggal dimana. Mungkin Oma takut kesepian, soalnya kak Abi sama mbak Dhira udah dirumah mereka sendiri. Sedang kita?"


Bastian tertegun, ia paham. Ia kemaren juga sempat di tanyai oleh Bu Kartika perihal hal yang sama.


Bastian mengembuskan napasnya " Tenang, nanti pasti ketemu jalan keluarnya. Yang penting kita beresin dulu yang ada di depan mata ini ya. Biar kamu gak capek, kalau bisa minta Satrio dulu buat handle. Karena banyak yang musti kita urus ini!"


...šŸšŸšŸ...


Lain cerita dengan Bastian yang masih mengumpulkan persyaratan untuk naik kawin, kini Danan sudah semringah lantaran telah menyebar undangan.

__ADS_1



Shinta tak mengundang siapapun selain Rudi dan mengabari ibunya meski melalui sambungan telepon. Meminta restu untuk melangkah menuju mahligai rumah tangga yang baru.


Dua hari yang lalu ia juga telah menelpon Dian dan juga Pak Ali. Mereka terdengar sangat bahagia, berjanji akan datang meski tidak semua anggota keluarga. Lantaran Bu Nisa yang masih saja belum bisa diajak berkomunikasi dengan normal.


" Mbak turut senang, semoga lancar dalam melangkahkan maju Shin. Jangan pernah lupakan kami sebagai keluarga!" ucap Dian yang sudah menjadi manusia tamatan alias mantan kakak iparnya itu.


" Restu Papa turut mengiringi langkah kalian, semoga apa yang belum di dapat segera didapat bersama Danan nak. Papa turut bahagia akhirnya kamu mau membuka hati untuk orang lain!"


Ucapan dua orang itu begitu membuat hati Shinta terharu. Tak mengira bila mereka benar-benar menjadi sosok orang tua dan kakak ipar yang teramat baik.


.


.


" Mas, Minggu depan kalau kita bawa Kalyna apa bisa ya? acaranya di hotel keluarganya mas Danan kan ini?" tanya Dhira kepada Abimanyu yang sibuk memeluknya dari belakang.


" Janganlah sayang, banyak orang disana. Kalyna masih kecil juga masih kecil banget!" ucap Abimanyu yang saat ini memangku tubuh istrinya saat Kalyna tengah tertidur usai kenyang karena minum ASI.


" Terus sama siapa?" Dhira menatap suaminya manyun.


" Ibuk aja kita bawa kesini, nanti Oma juga biar kesini!"


" Mereka pasti juga di undang mas, gak mungkin mereka gak datang!" Dhira kini ambigu. Antara mengajak atau lebih baik ia tidak hadir, sebab baby Kalyna masih sangat kecil, tapi ia tak bisa untuk tak datang. Bagaimanapun juga, ia harus menyaksikan sahabatnya menyudahi masa jandanya.


Meski hanya sebentar.


.


.


" Sekar, kita berangkat sekarang aja ya. Mama udah janjian sama temen mama. Kamu harus cobain dulu nanti bajunya kurang apa!" Nyonya Lisa sudah bersiap-siap akan menuju butik langganan mereka pagi itu.


TAK!


" Aduh!" Wisang mengaduh lantaran kepalanya di jitak oleh mamanya. Membuat Tuan Wikarna menggelengkan kepalanya sembari membaca koran. Selalu saja anak istrinya itu ribut.


Sekar terkikik geli melihat suaminya di siksa oleh mamanya.


" Kamu makanya jangan lelet, temen udah mau nikah kurang seminggu baju sepotong pun istrimu gak punya! Mama harus buat menantu mama cantik dong!" sergah Nyonya Lisa.


Wisang bermuram durja, istrinya kini dikudeta mamanya dalam suasana apapun. Tak jarang ia malah tak memiliki waktu bersama selain acara kelonan tiap malam.


" Iya-iya!" Wisang berengut.


" Kamu juga pergi saja Wis, istri kamu itu cantik , jangan sampai kamu malah kelihatan seperti Om nya nanti di acaranya Danan!" tukas tuan Wikarna masih bergumul dengan berita media cetak itu.


" Dih papa, sebenarnya papa ini bela mama apa Wisang sih?" ia mendengus, sekarang keadaannya benar-benar terbalik. Ia justru kerap mendapat prioritas akhir dalam segala lini.


Membuat Sekar menahan tawa demi melihat ekspresi wajah kusut Wisang.


...šŸšŸšŸ...


One Week Latter


Ballroom Gedung Airlangga Hotel


Memilih jalan tengah antara tak berlebihan dalam selebrasi, namun tak mengesampingkan niat ingin merayakan, membuat pilihan jatuh pada penyelenggaraan pernikahan di hotel milik sendiri.


Ya, hari itu adalah hari yang sangat di nantikan Dananjaya. Ia akan menyudahi masa lajangnya. Akhirnya ia akan memiliki Shinta seutuhnya.


Tentu saja Shinta tak menginginkan sesuatu yang lebih. Rupanya para janda itu memiliki kesamaan dalam hal rasa tahu diri.

__ADS_1


" Kamu cantik banget!" ucap Dhira yang siang itu sudah menemani Shinta di kamar hotel tempat ia di rias.


Kalyna ia tinggalkan di bawah penjagaan perawat yang di kirim oleh dokter Septa, usai Abimanyu meminta dokter muda itu untuk mengirimkan tenaga medis terbaik.


Abimanyu tak mau kompromi soal kesehatan putrinya. Ia lebih percaya kepada tenaga medis yang tempo hari membantu persalinan istrinya itu. Lagipula, Dhira mungkin tak akan lama. Yang penting ia bisa menyaksikan langsung prosesi akad nikah Shinta hari itu.


" Makasih ya Dhir. Aku bisa ada di titik ini semua karena kamu!" ucap Shinta dengan suara bergetar. Ia sangat terharu.


" Terimakasih banyak!" Shinta menangis demi mengingat Dhira yang turut ambil bahagian untuk kehidupannya yang naik turun itu. Penuh ujian dan persoalan pelik.


" Sttt, jangan nangis, make up kamu udah bagus banget jangan sampai rusak!"


" Yang lalu biarlah berlalu dengan semestinya, semoga jalanmu setelah ini lebih bahagia ya Shin, aku turut berbahagia akan pilihan kamu ini!" Dhira memeluk tubuh sahabatnya itu. Meski ia melarang Shinta untuk tak menangis, namun justru ia sendiri yang kini menitikan air mata.


Usai saling melonggarkan pelukannya, mereka berdua kini tergelak demi melihat mata mereka yang sudah sama-sama merah dan basah.


" Tadi katanya gak boleh nangis!" tukas Shinta menahan haru


" Gak tahu nih Shin, lolos begitu aja dia!" mereka berdua tergelak sembari menyusut air matanya.


" Kalyna gimana nanti? aku sampai lupa nanyain"


" Mas Abi tarik perawat yang bantu dokter Septa kemaren kerumah buat ngurus, tadi aku juga udah pumping ASI banyak!"


.


.


Riuh rendah suara tamu undangan memenuhi ballroom hotel itu. Tak ketinggalan Jodhi dan Raka yang sudah ganteng dengan setelah jas bertuxedo yang fit di tubuh mereka.


" Aku kayak lihat seseorang tadi Ka!" ucap Jodhi pada Raka.


" Siapa?"


" Nanti kamu juga tahu, dia cantik banget!" biisk Jodhi dengan kerlingan mata nakal.


" CK, kamu ini. Masih ingusan juga!" sergah Raka yang selalu tak setuju bila Jodhi membahas betina.


" Astaga kakakku yang ganteng, kita ini pria- pria berkharisma!" ucap Jodhi seraya ngotot menahan Raka untuk tak pergi dari sana.


" Kamu ini, udah jangan aneh-aneh benar lagu ujian!"


Raka meninggalkan Jodhi yang memanyunkan bibirnya, lantaran Raka menolak ajakannya untuk menemui seseorang.


.


.


Abimanyu bersama Wisang dan para pria terlihat terlibat obrolan hangat, sembari menunggu mempelai bersiap.


Akad nikah beserta resepsi diadakan di tempat yang sama. Tuan Yusuf Airlangga terlihat berbincang dengan Rudi, ayah Shinta.


Tuan Yusuf terlihat senang dengan besannya itu. Menurutnya, ia sebelah dua belas dengan putranya. Konyol dan jenaka.


" Saya gak mengira Pak, anak saya yang janda akan jadi istri bujangan seperti Danan. Ya meski sudah agak telat, tapi semoga dia bisa seperkasa kita yang Pak!" ucap Rudi kepada tuan Yusuf. Membuat Tuan Yusuf langsung tergelak.


Andai Rudi tahu banyaknya benih anaknya yang terbuang percuma di berbagai tempat, pria itu pasti akan mendecak sebal dan heran.


.


.


.

__ADS_1


to be continued


__ADS_2