
Bab 70. Satnight
.
.
.
...ššš...
"Biarkanlah kurasakan, hangatnya sentuhan kasihmu!"
( Diambil dari lirik lagu Glen Fredly ~ Kasih Putih)
Seminggu berlalu, Sabtu ini Dhira yang sudah siap akan di jemput oleh Abimanyu. Raka juga sudah pergi bersama Indra sejak sore tadi. Tak lupa ia bawakan oleh-oleh produk bikinannya, untuk dibawakan menuju rumah mantan mertuanya.
Dhira mengenakan dress selutut, dress casual dengan warna peach membalut tubuhnya yang nampak padat menggoda. Tak lupa parfum wangi vanilla, ia semprotan ke tubuhnya. Sebuah kalung dengan mata biru makin mempercantik penampilannya. Rambut coklatnya tergerai indah, siapa sangka wanita secantik itu adalah seorang janda beranak satu.
Abimanyu sudah siap menjemput Dhira, dan mereka juga tak pernah makan diluar. Dhira berkata jika ia tak mau terlalu menunjukkan kedekatan mereka, mengingat Dhira belum mengantongi ijin dari keluarganya, terlebih anaknya Raka.
Tuk! Tuk! Tuk!
Pintu kaca itu terketuk, Dhira tersenyum. Abimanyu rupanya telah sampai, ia membuka kunci rukonya. Kebiasaan baru, Abimanyu selalu lewat pintu belakang rukonya.
"Ck, CK ,CK . Cantik banget, mau kemana?" Abimanyu berdecak kagum, kemudian menggoda Dhira yang keharumannya mulai menggugah kejantanannya.
" Mau ke pasar?, Pakai nanya lagi!"
Abimanyu terkekeh, ia senang Dhira kini lebih lugas dalam hubungan mereka. Ia senang karena Dhira tak terlalu tertutup.
"Dhir!" panggilan yang mulai Dhira biasakan, sebagai pertanda jika Abimanyu akan melahap dirinya secara spontan.
Dan benar saja, kini Abimanyu meraih pinggang Dhira lalu menyambar bibir ranum itu. " Aku kangen banget, masa iya ketemunya seminggu sekali" bisik Abimanyu.
Ya, Dhira tak mengijinkan Abimanyu untuk terang-terangan mengunjungi dirinya. Sebab Raka masih dalam mode no kepada dirinya.
Abimanyu masih gencar Melu*mat bibir dengan rasa Cherry itu. Hasil dari sapuan lipthin, yang Dhira poleskan ke bibirnya. Saling meluapkan kerinduan yang membuncah.
"Mas!" wajah Dhira menyiratkan untuk Abimanyu harus lebih bersabar.
"Nanti aku akan coba beri pengertian Raka, tapi tidak sekarang!" Dhira mengusap pipi Abimanyu. Pria itu meraih tangan yang menempel di pipinya, mengecup lembut seolah tiada jemunya.
"Kita pergi sekarang!"
__ADS_1
Tidak ada kencan di luar, ataupun acara jalan jalan. Meski Abimanyu kesal, tapi ini lebih baik dari pada tidak bertemu. Merasa jadi wanita gak bener emang, tapi apa lagi yang bisa dia lakukan. Hatinya sudah tertambat pada pesona Abimanyu, laki-laki nekat dengan segala kebaikannya.
Bermalam di apartemen mewah milik Abimanyu lah yang bisa dilakukan Dhira, dan pagi-pagi ia harus pulang ke ruko. Udah kayak petani saja. Waktunya bahkan menyamai para pedagang mlijo yang berangkat pagi buta untuk menjajakan aneka sayuran.
Mulai dari keluar parkir hingga tiba di unit apartment, Abimanyu tak melepas barang sedikitpun tubuh Dhira, entahalah otaknya sudah gila jika bersama wanita itu. Keperkasaannya selalu tertantang bila bersama wanita yang ia cintai itu.
Mereka tiba di apartemen, dan makan malam adalah hal yang selalu pertama kali mereka lakukan. Tidak ada yang spesial, tapi mereka selalu membuat hal sederhana menjadi spesial.
"Gimana udah dapat yang bantuin kamu?" tanya Abimanyu di sela-sela acara makan mereka.
"Belum mas, kebanyakan dia gak bisa full day. Rata-rata minta kayak office hour"
"Pusing aku" Dhira mengerucutkan bibirnya, membuat Abimanyu serasa ingin melahapnya.
"Sabar, cari yang cocok. Yang bisa jadi teman buat kamu"
"Kamu sih aku carikan gak mau" ucap Abimanyu sesaat sebelum ia memasukkan suapan ke mulutnya.
"Gak mau, entar kalau mas yang pilih jatuhnya dia malah takut. Kerja bukan karena segan sama kita tapi karena takut!"
"Ditakuti sama di hormati itu beda mas!"
Abimanyu mengernyit," Jadi selama ini kamu pikir Devan takut sama aku?"
"CK, kok jadi Devan. Jangan baper!" ucap Dhira terkekeh, sepertinya pria di depannya itu tersinggung.
"Ya makanya, kurang- kurangi sifat diktator, banyakin nyuruh itu dengan kata minta tolong!" ucap Dhira melirik Abimanyu.
"Ya ya, calon istriku ini sepertinya bakal jadi penyelamat buat semua anak buahku!" sahut Abimanyu. Mereka terbiasa makan dengan mengobrol, Abimanyu senang menjadi pendengar Dhira. Dan Dhira juga senang, karena Abimanyu selalu mau menurut apa yang dia keluhkan.
Mereka saling melengkapi satu sama lain, oh seandainya Raka tidak antipati terhadap dirinya. sudah bisa dipastikan ia akan meminang Dhira secepatnya.
Dhira membereskan piring kotor bekas makanan malam mereka, Dhira menolak untuk terlalu dimanjakan. Dengan cekatan ia membereskan semua perabot, dan semenjak hubungan Abimanyu dengan Dhira makin dekat kulkas besar itu kini penuh dengan berbagai makana dan bahan- bahan dapur.
Abimanyu memeluk Dhira dari belakang, ia mencium ceruk leher Dhira yang tengah membilas piring bekas pakai tadi. " Mas!" Dhira menggeliat geli.
"Aku makin gak sanggup Dhir kita begini, aku bilang ke Raka ya?" wajah Abimanyu lesu.
"Aku ajak dia buat beli PS terbaru, atau sekolah voly terbaik!" Abimanyu berpikir akan memberikan sebuah upeti agar ia bisa dengan mudah mengantongi izin dari anak banteng itu.
"Raka bukan anak yang mudah di sogok!" ucap Dhira meniruskan piring ke rak stainless besar itu.
"Bagaimana kalau aku bilang ke ibu kamu!"
__ADS_1
Deg
Saat Abimanyu menyebut nama ibunya, ia menjadi tertegun. Minggu lalu menjadi titik balik kegundahan perasaannya kepada Abimanyu. Bu Kartika secara terang-terangan meminta Dhira untuk saling kenal dengan Arya.
Bu Kartika hanya menganggap keluarga Nyonya Regina adalah sebatas orang kaya yang baik, yang bisa kenal karena Raka yang berteman dengan Jodhi. Tak pernah sekalipun mengira jika mereka saat ini tengah dekat.
"Jangan dulu mas, ibuk selama ini juga belum pernah sekalipun membicarakan soal kita" ucap Dhira.
Kebimbangan mulai menghinggapi hati Dhira. Ia sudah berucap jika belum mau membuka hati untuk orang baru, Dhira berdalih kepada ibunya jika ia lebih nyaman sendiri. Tapi ada satu hal yang membuatnya resah, yakni permintaan ibunya untuk berkenalan dengan Arya.
Apalagi dia menyadari, jika dia sudah pernah melukai hati ibunya, dan berdampak pada hubungannya dengan Indra yang kandas. Lagi-lagi restu saat ini harus menjadi modal awal untuk Dhira melangkah.
Dhira mengabaikan Arya, karena jelas hatinya sudah tertambat pada Abimanyu. Pria perkasa yang memiliki hati selembut kapas, tapi hidup selalu saja menghadirkan gejolak yang datang tanpa di sangka arahnya.
Tapi melihat ibunya berapi-api saat membicarakan Arya, ia menjadi gundah. Takut jika ibunya terlalu memiliki mimpi untuk dirinya dekat dengan Arya, sedangkan dirinya sudah jatuh cinta kepada Abimanyu. Saling mencintai lebih tepatnya.
Tapi ia juga tak sampai hati bila langsung mematahkan keinginan ibunya itu, mengingat dulu ia sudah melawan ibunya dan bayaran dari melawan seorang ibu adalah takdir buruk yang membawanya menjadi seorang janda, hingga saat ini.
Oh astaga, kenapa hidupnya seolah masuk labirin persolan yang pelik. Tak bisakah ia bahagia dengan pilihannya saat ini?. Ia begitu mencintai Abimanyu, meski tak terucap namun Dhira selalu merasakan kebahagiaan. Apalagi sentuhan Abimanyu yang selalu membuat dia melayang berkali- kali.
"Mas, aku minta maaf ya. Karena semua masih sulit begini!" Dhira meraba dada Abimanyu. Ia kini lebih ekspresif dalam menunjukkan perasaannya.
" Aku akan sabar" Abimanyu memeluk Dhira dan mengecup puncak kepala wanita itu. Ia adalah lelaki yang peka, ia menangkap sorot kegelisahan yang terpancar di kornea mata hitam Dhira.
Kamu menyembunyikan sesuatu Dhir, aku tahu itu
Abimanyu membatin dalam hati, tapi ia tak mau langsung bertanya pada Dhira. ia tak mau merusak malam langkanya bersama Dhira malam ini, mengingat untuk bertemu saja ia harus bersabar mulai Senin hingga Jumat. Dan sudah seperti hukum alam, makin di tunggu makin terasa lama.
Abimanyu tak mungkin membiarkan malam itu terlewat dengan hanya untuk mengobrol. Ia mencintai Dhira bukan hanya untuk itu saja, tapi ia ingin memiliki teman hidup yang bersifat lembut dan menenangkan seperti Dhira.
Semua yang dirinya harapkan ada pada Dhira, cinta, kelembutan, keramahan, mahir dalam segala hal.
Abimanyu menyatukan bibirnya dengan milik Dhira, ciuman panas yang selalu di nantikan. Ia meraba pinggang Dhira , berusaha mengoreksi tubuh sintal itu, bokong padat Dhira pun tak lepas dari sapuan tangannya yang tengah bergerilya.
Ia menyusuri tiap jengkal tubuh montok itu, dengan tangannya yang kekar berotot. Dengan tanpa melepas ciuman yang bertaut itu, mereka menuju kamar Abimanyu. Dan terjadilah penuntasan hasrat satu sama lain.
Saling membutuhkan, saling mengisi kekosongan, saling ingin dipuaskan. Mereka melakukan itu hingga lewat tengah malam. Semakin sering melakukan, semakin merasa rasa sayang itu kian tumbuh dan berakar. Menancap di relung hati.
Dua anak manusia yang dilanda cinta, namun semesta masih mengajak mereka berdua untuk bermain-main. Membuat mereka berada dalam satu titik persoalan, dan tidak tahu kapan semua itu akan melandai.
.
.
__ADS_1
.
.