The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 69. Niat Ibu


__ADS_3

Bab 69. Niat Ibu


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Dalamnya laut dapat di ukur, dalamnya hati siapa yang tahu"


( Kita tidak akan pernah tahu, apa yang sedang di pikiran seseorang dalam hatinya)


Pagi menjelang, Raka sudah kembali semalam. Ia tiba saat Dhira sudah tertidur, Indra juga terlihat lebih sopan kepadanya. Tapi mantan suaminya itu langsung bertolak menuju rumahnya, dan pagi ini Dhira terlihat sibuk menyiapkan sarapan buat Raka.


"Kakung sama Uti sehat nak?" ucap Dhira pagi itu, seraya menuang segelas susu untuk Raka. Bukti cinta kasih yang nyata dari seorang ibu.


"Sehat ma, mereka titip salam ke mama. Kuenya enak banget katanya. Mereka suka!"


Dhira tersenyum, rupanya benar kata orang-orang bijak, bila waktu adalah sebaik-baiknya penyembuhan keadaan.


"Ma!" ucap Raka di sela dia melahap nasi goreng buatan Dhira.


"Ya?"


"Aku tiap Sabtu boleh iku papa kan?"


"Papa rencananya tiap Sabtu bakal ke rumah Kakung!"


Dhira tertegun, kini putranya harus menjadi repot sendiri guna memantaskan diri sebagai seorang anak yang baik, membagi waktunya sendiri dan Dhira sedih akan hal itu. Dhira merasa bersalah karena membuat hidup Raka tak seperti bocah pada umumnya, yang hidup senang dengan keharmonisan keluarga.


"Boleh, mama seneng Raka bisa bagi watu buat mama sama papa. Mama bangga sama Raka yang selalu berbesar hati buat terima keadaan mama!" Dhira tersenyum, menahan air matanya yang hendak lolos.


Hari berganti dan tak ada yang bisa menghindari, selama seminggu pula Abimanyu disibukkan dengan urusan perceraian, Wisang lah orang yang paling memasang garda depan buat menolong sahabatnya itu. Mulai dari menyusun gugatan, mengantar Abimanyu untuk mengajukan cerai talak, mereka riwa- riwi ke pengadilan agama.


Setelah membayar biaya perkara yang telah tertuang sesuai perundang- undangan yang berlaku, Abimanyu tinggal menunggu panggilan sidang. Urusan blokir memblokir nomor juga sudah selesai. Tiap hari mereka saling berkabar layaknya orang yang dimabuk jatuh cinta.


Meski Dhira backstreet kepada keluarganya terutama Raka, namun ia masih bisa meluangkan waktu untuk berbalas pesan kepada Abimanyu. Ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri.


"Dhir, kamu jadi nerima anak baru?" Shinta bertanya seraya memasukan brownies kedalam kukusan.


"Jadi, hari ini dia bakal datang!" Dhira diminta untuk tak menceritakan perihal biaya yang di tanggung oleh Abimanyu, dalam urusan gaji menggaji karyawan baru itu. Abimanyu tak mentolerir urusan Dhira yang akan capek.


Jangan cuma satu orang, saya gak mau kamu capek


Ini perintah, kamu harus menurut


Selalu saja Abimanyu mendesak dirinya untuk patuh dan taat, namun terlepas dari hal ngeyel yang dilakukan Abimanyu, Dhira merasa jika itu adalah salah satu dari sekian banyak bentuk perhatian Abimanyu. Entahlah, ia takut jika Abimanyu kecewa bila dia menolak, dan ia tahu pria yang pernah mengungkung tubuh sebanyak dua kali itu, adalah tipe pria nekat.


Gwen juga sudah angkat kaki dari rumah besar Aryasatya. Belakang ini Rania sering bolak-balik ke luar negeri karena urusan pekerjaan, sehingga membuat wanita itu tak memiliki teman lagi disana. Nyonya Regina juga sudah kepalang benci.


Harusnya ini akan mudah, harusnya bisa sesuai rencana. Tapi persoalan yang sebenarnya belum mereka sadari. Hidup selalu saja membawa banyak misteri.


Bu Kartika nampaknya ingin mengenalkan seorang pria kepada Dhira. Ya, selama ini hubungan backstreet yang dilakukan Dhira membuat Ibunya Dhira tak mengetahui, bila anaknya itu tengah menunggu Abimanyu.


Hal itu di pilih Dhira, karena rencananya setelah Abimanyu resmi bercerai dan menyandang status duda, dia akan pelan-pelan memberikan pengertian kepada Raka, juga keluarganya. Tapi, nampaknya persoalan yang lebih berat akan mereka hadapi.


...Flashback On...

__ADS_1


Bu Kartika yang rutin mengikuti pengajian anjangsana itu, tak sengaja bertemu degan Bu Hana. Seorang mantan bidan, yang dulu sempat menolong kelahiran tetangganya yang tak bersuami namun hamil.


"Bu, ibu Bu Kartika kan?" ucap Bu Hana.


"Iya Bu" Bu Kartika nampak sedang mengingat wajah wanita yang memanggilnya.


"Saya Hana, yang bantu lahiran Kinasih dulu!"


"Astaga Bu Hana, ibu apa kabar. Ya Allah saya pangling!" Mereka saling bersapa, kemudian memeluk melepas kerinduan.


Bu Hana tersenyum, dia mengenal Bu Kartika sewaktu muda dulu. Perempuan yang sangat baik dan supel. Mereka sempat berteman, namun karena Bu Hana harus ikut suaminya untuk buka praktek di kota lain, hubungan mereka akhirnya terputus.


"Saya gak nyangka Bu masih diberi umur panjang sampai sekarang!" ucap Bu Hana.


"Ya Allah Bu, saya juga senang. Kita masih diberi kesempatan bertemu!"


Akhirnya mereka bercerita banyak tentang kisah hidup masing-masing, tentang suami Bu Hana yang sudah meninggal, dan juga anaknya yang baru saja di tinggal menikah oleh tunangannya. Benar-benar mengenaskan.


Bu Kartika juga bercerita sedikit dari penggalan kisah hidupnya yang juga tak kalah menyedihkan, tentang anaknya yang harus mengalami kegagalan rumah tangga, juga ratap dan tangis yang mengiringi kisah rumah tangga anak perempuannya itu.


" Anak Ibu yang perempuan itu?" Bu Hana nampak antusias ngobrol.


"Iya Bu, dulu waktu Bu Hana masih disini, saya sering bawa bawa Dhira periksa ke klinik Ibu!"


"Kalau yang laki gak tahu, sampai sekarang belum bisa kasih saya calon mantu!" Bu Kartika terkekeh.


Mereka kembali melanjutkan cerita, sangat menyenangkan memang bertemu orang yang pernah ada di kepingan masa lalu , membuat kita bisa mengenang hal indah.


"Anak saya juga kurang beruntung Bu, dia padahal seorang Dokter. Tapi kok ada aja wanita yang menolak dia!"


Bu Kartika nampak menyimak," Usianya kan sama dengan anak ibu" tukas Bu Hana.


Dan dari obrolan itu, tercetus ide kedua teman lama itu. Untuk mengenalkan Dhira dan putra Bu Hana.


Kebetulan anak Bu Hana sore itu akan menjemputnya, mereka berencana akan datang ke ruko Dhira. Bu Hana cukup takjub dengan cerita Dhira yang bisa move on, dengan berani membuka usaha sendiri.


Dan sore itu, usai pulang dari pengajian, mereka menuju Ruko Dhira.


...Flashback Off...


Arya Wiguna, adalah nama putra tunggal Bu Hana. Seorang Dokter berusia sama dengan Dhira, Ia baru sebulan dipindahkan ke kota ini. Entahalah mengapa karir yang sukses dan cemerlang, malah bertolak belakang dengan kisah cintanya. Di tinggal pas lagi sayang- sayangnya itu berat.


Arya adalah keturunan cina Jawa, kulitnya sawo matang namun matanya sipit. Ia memiliki pembawaan yang tenang dan juga lugas dalam berbicara.


"Itu Arya Bu!" tunjuk Bu Hana kepada mobil Expander keluaran terbaru berwarna putih.


Mereka adalah keluarga yang berada, namun sangat ramah. Mengikuti jejak sang ayah, Arya lebih memilih mendedikasikan dirinya sebagai seorang dokter.


"Wah Bu, ganteng begitu kok ya ada aja yang nolak!" Bu Kartika mengomentari sosok Arya yang baru turun dari mobilnya.


Pria itu mengenakan kemeja yang tergulung sebatas siku, juga masih terlihat mengenakan celana bahan lengkap dengan sepatu slip on warna hitam. Rambut juga masih mengkilat rapih.


"Belum jodoh Bu. Makanya kita ke tempat Dhira sekarang, siapa tahu kita bisa besanan!" tukas Bu Hana bersemangat, sambil terkekeh.


"Assalamualaikum!" ucap Arya.


"Walaikumsalam!" jawab dua ibu itu kompak.


"Ya, kita antar Bu Kartika dulu ya. Ini teman mama dulu waktu kamu masih kecil dulu!"

__ADS_1


Arya dengan tersenyum menyalami Bu Kartika, meraih tangan itu dan mencium takzim. Bukti nyata bila Bu Hana selama ini telah berhasil mendidik anaknya dengan baik, kesopanan nampak ada didalam diri pria matang yang masih bujang itu.


Arya


Satu jam perjalanan, Arya masih bersikap biasa saja. Yang ia tahu, hanya ingin mengantar mamanya untuk bernostalgia kepada temannya dulu.


Ia sore itu sebenarnya cukup lelah, ia yang berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam itu hari ini usai mengoperasi dua orang pasien yang mengalami kanker usus.


Namun, mengingat jika dia adalah satu- satunya yang dimiliki oleh mamanya. Ia selalu memprioritaskan mamanya diatas segalanya.


Ia memarkirkan mobilnya di depan sebuah ruko yang tak besar juga tak kecil, Ia turun mengikuti langkah mamanya.


Seketika ia merasa terhipnotis dengan wajah ayu yang baru saja keluar, wanita dengan wajah teduh dan memiliki aura keibuan.


.


.


Andhira


Ia terkaget saat melihat ibunya yang datang di sore hari bersama dengan seorang wanita, Dhira juga tak familiar dengan mobil putih itu. Ia buru-buru menyambut kedatangan Ibunya.


Sejurus kemudian matanya melihat pria dengan wajah diam turut menyongsong kedua wanita yang berjalan di depannya. Pria itu terlihat mengekor di belakang .


" Nah Bu, ini Dhira!" Bu Kartika memperkenalkan Dhira kepada Bu Hana, saat sudah sampai di dalam Ruko.


"Dhira, saya Bu Hana. Kamu pasti udah lupa, dulu saya yang biasa periksa kamu!" Bu Hana tersenyum. Dhira juga tersenyum, reaksi alami saat bertemu degan tamu.


Dhira meraih tangan Bu Hana, menyalami dengan takzim.


Dhira sejenak memperhatikan wajah yang sudah di hiasi garis kerutan milik Bu Hana, wanita itu masih cantik di balik balutan hijab yang dikenakan.


"Kamu cantik banget Dhir. Dan ini ruko kamu!"


"Terimakasih Bu, monggo pinarak ( mari silahkan)" ucap Dhira mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam.


"Oh iya lupa, kenalkan ini anak saya Arya!"


Ia langsung memandang pria itu, kemudian meraih tangan pria yang sudah terulur lebih dulu itu.


"Andhira!"


"Arya!"


Kedua perempuan itu tersenyum puas, dengan saling memandang, berharap ini adalah titik awal mereka akan saling mengenal.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2