The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 160. Sadness


__ADS_3

Bab 160. Sadness


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Kemanakah sirnanya, nurani embun pagi. Yang biasanya ramah, kini membakar hati!"


( Diambil dari lirik lagu Ebiet G Ade ~ Kalian dengarkanlah keluhanku)


.


.


Sekar tertawa dalam hatinya. Ia padahal sangat takut jika malam ia ia akan dimakan oleh suaminya itu. Mengingat ukuran benda penting milik Wisang yang tak sengaja pernah ia senggol tepi hari. Apakah akan cukup apa tidak, bila memasuki liang sempit miliknya.


Tapi lepas dari itu, ia ingin mencari tahu sebab Danan di hadiahi bogem mentah oleh suaminya itu, sebelum ia mempersilakan Wisang untuk mencabik-cabik dirinya pagi itu.


Dan seperti mendapat sugesti dari pesulap, Wisang mempercepat ritme mandinya. Otak kotornya sudah terbang menembus batas , membayangkan adegan erotis antara dirinya bersama Sekar. Apalagi, sudah berbulan-bulan lamanya ia tak menyelam ke lautan kenikmatan itu.


Kejantanannya seolah kian tertantang saat bersama istrinya itu. Wisang membilasi busa di tubuhnya dengan terburu-buru. Ia memungkasi ritual mandinya dengan menggosok gigi, berkumur dengan mouthwash, lalu ber-hah ria, seraya memantulkan aroma nafasnya ke telapak tangannya.


Mantap!.


Dengan semangat ia mengayunkan pintu kamar mandinya, namun saat ia sudah tiba berhasil keluar, seketika wajahnya muram.


Istrinya terlihat telah lelap.


" Astaga!!!" Wisang seketika hopeless.


" Apa cuma aku, pria yang malah semakin tersiksa sehabis menikah?" dengan berkacak pinggang, Wisang bermonolog dengan wajah muram durja.


...šŸšŸšŸ...


Rumah sakit Bhakti Husada


Pukul 07. 37


Richard terlihat memandang serius hasil CT scan milik Rangga. Terlihat penyumbatan di daerah otonomis otaknya. Rupanya ketakutannya terbukti.


" Bagiamana dengan pasien wanita?" tanya Richard kepada perawat wanita di depannya.


" Pasien belum sadar juga dok, tapi kesemuanya menunjukkan hasil yang lebih baik!" terang perawat itu.


Richard langsung menuju tempat dimana Shinta di rawat. Mereka dirawat didalam satu ruangan dengan nomor yang sama.


Wajah pucat Shinta kini terlihat terlelap, wanita itu juga sudah memakai baju khusus pasien berwarna biru muda.


Richard memeriksa Shinta, detak jantung yang normal dan beberapa pemeriksaan lain yang ia rasa masih diambang batas normal. Hanya, beberapa luka memar di wajahnya kini menjadi membiru. Ada rasa prihatin menelusup ke hati dokter itu.

__ADS_1


Dan sedetik kemudian, tangan Shinta terlihat bergerak. Lebih tepatnya hari telunjuk wanita itu.


" Dokter pasien respon!" tukas perawat yang melihat jari Shinta bergerak.


Richard langsung menatap Shinta yang terlihat lekas mengerjapkan matanya itu. Wanita itu mulai membuka kedua netranya.


.


.


Shinta


Saat bangun ia merasa seluruh tubuhnya sakit, dan kepalanya begitu berat. Aroma obat langsung menusuk hidungnya seketika, ia paham betul dengan aroma khas ini. Aroma rumah sakit.


Sembari mengumpulkan kilasan ingatannya yang masih berserakan, ia mencoba memindai satu persatu wajah asing di depannya. Pria dengan jas putih berwajah tampan, serta seorang wanita rapi yang berdiri persis di belakang dokter itu, kini juga turut ia tatap.


Kedua tersenyum kearahnya.


" Auuuwwwhhh!!" Shinta mengaduh lantaran saat ia mencoba untuk bangun, kepalanya mendadak sakit.


" Berbaringlah dulu Bu!" dengan sigap perawat itu menghampiri dirinya.


" Saya dirumah sakit ini mbak?" Shinta bertanya seraya masih memejamkan matanya , wanita itu merasa tak kuat bahkan untuk sekedar duduk.


" Benar, ibu sedang berada di rumah sakit Bhakti Husada!" jawab perawat itu dengan lembut.


" Bu, anda sudah sadar dari pingsan. Saya coba periksa dulu ya?"


Richard menyinari kedua mata Shinta dengan senter kecil, lalu menempelkan stetoskop ke dada wanita itu, ia juga meminta perawat itu untuk kembali mengecek tekanan darahnya.


Richard mengangguk mantap, ia tak percaya Shinta bisa sekuat itu. Tensinya normal. Bahkan untuk ukuran korban kecelakaan.


Saat memandangi dua manusia asing di depan itu, kilasan ingatan Shinta kembali ke kejadian beberapa jam yang lalu. Ia kini ingat, bila ia barusaja mengalami kecelakaan. Kesadarannya sudah kembali sempurna.


" Dokter suami saya?" Shinta dengan membelalakkan matanya, menjadi gusar dan panik seketika.


" Tenang Bu!!" ucap perawat itu.


" Mbak, dimana suami saya, saya mau lihat kondisi dia mbak!!" Shinta panik bukan kepalang. Kini ia benar-benar sadar, bila ia dan Rangga sudah mengalami musibah bersama.


" Tenang dulu ya Bu, suami ibu ada disini. Ibu harus tenang, mari saya bantu!" Richard mengambil alih trauma healing ringan untuk sementara waktu.


" Sus, diapakan wheel chair!" titah Richard.


.


.


Rangga dan Shinta sebenarnya masih dalam satu ruangan, hanya saja ada semacam pintu pembatas, yang terhubung dengan sebuah pintu konektor.


Richard membantu Shinta yang masih terlihat begitu pucat dengan aura kepanikan yang kentara.


" Anda harus tenang Bu, saya akan membawa anda ke tempat suami anda!" ucap Richard.

__ADS_1


Dokter itu bahkan mendorong Shinta dengan tangannya sendiri. Membuat perawat itu keheranan. Apa korban kecelakaan itu termasuk golongan orang penting, sehingga mendapatkan perlakuan khusus dari Richard?


" Silahkan!" Richard mempersilahkan Shinta untuk duduk, sesaat setelah kursi roda itu telah siap.


Shinta di bantu perawatan itu duduk dengan hati-hati, perawat itu terlihat membawakan infus yang masih terhubung ke lengan kiri Shinta.


Richard dengan pelan mendorong Shinta, wanita itu terlihat diam dan berwajah sendu dengan lebam di sana sini.


" Pintunya sus!" tutur Richard.


Suster itu membuka pintu konektor dengan posisi masih memegangi ampul infus milik Shinta. Shinta merasa lemah saat itu, ia melihat sebuah ruangan yang sama persis dengan ruangan yang ia tempati tadi. Baik warna maupun ukurannya. Yang membedakan hanya banyaknya peralatan yang menempel di sekujur tubuh suaminya.


Dan sebuah tabung oksigen besar, yang berada di samping kiri ranjang suaminya itu.


Mata Shinta seketika memanas begitu melihat sajian yang tak pernah ia harapkan untuk terjadi itu. Shinta benar-benar terpukul.


" Mas Rangga!" suara Shinta bergetar saat itu juga, tubuhnya kian lemas dan lututnya mendadak lunglai. Hatinya berdebar saat menatap suaminya yang kini terbaring lemah tak berdaya.


Richard mendekatkan Shinta ke sebelah Rangga. Ia turut mengharu biru disana, bahkan suster yang masih setia memegangi ampul infus itu, terlihat menyusut sudut matanya.


" Mas Rangga?!" panggilnya lagi dengan posisi duduk diatas kursi roda. Ia melihat wajah suaminya yang pucat dengan alat bantu nafas yang tersambung di hidungnya, lalu suaminya itu terlihat mengenakan baju yang sama dengan dirinya.


Air mata Shinta membanjiri pipinya, bahu wanita itu bergetar karena menangis. Suster yang baper itu, langsung mengusap lembut punggung Shinta. Mencoba memberikan kekuatan bagi pasien yang tengah dirundung kesusahan serta kesedihan itu.


" Suami ibu mengalami benturan yang hebat di kepalanya. Kita berdoa saja, agar beliau bisa melewati masa kritisnya!" terang Richard yang nampak turut larut dalam keharuan.


Shinta mencoba meraih tangan kanan suaminya. Wajah Rangga terlihat bonyok disana-sini. Bahkan lengan suaminya itu juga terluka.


" Mas, bangun!!!" Shinta berada pada titik sendunya pagi itu.


" Dok, apa Suami saya bisa sadar kembali?" tanpa menatap Richard, Shinta bertanya seraya menangis menatap suaminya itu.


Richard menghela nafasnya dengan berat.


" Saya tidak bisa pastikan Bu. Tapi, sering berinteraksi dengan pasien yang tengah koma , seperti mengajaknya berbicara bisa jadi salah satu ikhtiar yang dapat di dilakukan!" terang Richard.


" Kita berdoa saja, semoga ada mukjizat dari yang kuasa!"


Dan tanpa mereka sadari, sepasang mata seorang pria melihat dan mendengarkan semua pembicaraan dari balik pintu konektor itu. Pria itu tertegun untuk beberapa saat.


Ia tak kuasa yang melihat Shinta yang terlihat begitu hancur di hadapan Rangga yang terkulai lemah tak berdaya. Hatinya mendadak sesak melihat hal itu.


Apa doktrin bila cinta tak harus memiliki itu masih relevan atau malah justru bertolak belakang dalam kamus hidupnya?


Pria itu mendadak gusar dengan dirinya sendiri, sejumput penyesalan menyelinap ke hatinya. Mengapa ia harus kembali ke rumah sakit itu, apa yang menjadi dasar baginya untuk harus kembali kesana??


Ia bahkan bukan siapa-siapa saat itu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2