
Bab 164. Antara Bertahan atau Merelakan?
.
.
.
...ššš...
"Disini aku sendiri
Menatap relung relung hidup
Aku merasa hidupku
Tak seperti yang ku inginkan
Terhampar begitu banyak warna kelam sisi diriku
Seperti yang mereka tahu
Seperti yang mereka tahu
Aku merasa disudutkan kenyataan
Menuntut diriku dan tak sanggup ku melawan
Butakan mataku semua tentang keindahan
Menggugah takutku menantang sendiriku
Temui cinta
Lepaskan rasa
Temui cinta
Lepaskan rasa
Disini aku sendiri
Masih seperti dulu yang takut
Aku merasa hidupku pun surut
Tuk tumpukan harap
Tergambar begitu rupa samar
Seperti yang kurasakan
Kenyataan itu pahit
Kenyataan itu sangatlah pahit
Aku merasa disudutkan kenyataan
Menuntut diriku dan tak sanggup ku melawan
Butakan mataku semua tentang keindahan
Menggugah takutku menantang sendiriku
Temui cinta
Lepaskan rasa
Temui cinta
Lepaskan rasa"
( Iwan Fals ~ Sesuatu yang tertunda)
.
.
__ADS_1
Dananjaya
Usai menemani Shinta sarapan, ia keluar sebentar lantaran mendadak staf kantornya menelpon dirinya. Setelah berpamitan dengan kikuk kepada Shinta, pria itu kini melesat ke luar.
" Ya ada apa Jen?" tanya Danan melalui sambungan telepon itu sesaat setelah berada di luar ruangan.
Adalah Jeniffer, wanita itu adalah staf keuangan di perusahaan perhiasan milik Danan. Memiliki stand dan gerai perhiasan yang sudah memiliki banyak anak cabang di berbagai kota.
Pak, apa bapak libur hari ini. Pak Danuarta meminta bertemu dengan bapak untuk membahas kelanjutan kerjasama.
" Ah..., anu .....saya lagi ada urusan yang enggak bisa saya tinggal. Kalau dirasa tidak terlalu krusial, kamu ACC saja. Yang penting harga batu mulia yang di tawarkan, harus sesuai dengan list yang ada di draft kita!" ucap Danan memijat keningnya. Pria itu sudah beberapa hari mangkir dari perusahaannya.
Baik pak kalau begitu, selamat pagi
Danan menghela nafas pendek. Pria itu bahkan kini terlihat bingung dengan apa yang lakukan. Ia menunggui istri orang.
Dan saat ia kembali ke ruangan Shinta, ia melihat wanita itu sudah lelap kembali. Sepertinya obat penenang yang diberikan oleh suster tadi sudah bekerja. Ya, Danan meminta kepada suster itu agar membuat Shinta bisa beristirahat. Ia tak kuasa bila harus melihat istri dari Rangga itu, terus bersedih karena meratapi suaminya yang koma.
Ia sejenak memandang wajah pucat Shinta yang terlihat begitu kasihan. Sejurus kemudian, ia menuju ruangan dimana Rangga terbaring.
Usai menutup pintu konektor itu dengan pelan, Danan melangkahkan kakinya menuju ranjang Rangga. Ia berdiri tepat di depan Rangga yang masih tak sadarkan diri itu.
Gue mau minta maaf ke elu Ngga, gue udah lancang tertarik sama istri elu!
Tapi ngelihat elu begini, rasanya gue gak ada muka kalau harus bersaing dengan orang yang bahkan gak bisa menolong dirinya sendiri.
Danan hanya berucap dalam batinnya. Ia memandang wajah Rangga tak lekang. Pria itu terlihat mengeraskan rahangnya. Berusaha menghalau rasa sesak di dadanya.
Bangun lo!!! istri elo sedih elo enak- enaknya tidur begini!!!
Saat mengucapkan hal itu di dalam hatinya, mata Danan memanas. Sibulir air mata meluncur. Secara tak sadar ia melemparkan dirinya ke pusaran kerumitan dalam rumah tangga Shinta dan Rangga.
Gue janji gak akan merebut istri elo. Tapi elo harus bangun, elo harus janji buat jagain dia terus!!
Danan menyeka air matanya. Perasaan macam apa ini. Hatinya sesak, ia tahu Shinta begitu mencintai Rangga, dan ia begitu mencintai Shinta. Tapi dia bisa apa.
Jika sadarnya Rangga adalah hal bisa membuat Shinta bahagia saat ini, tentu ia harus bisa mewujudkannya. Tak ada definisi dari kasta cinta tertinggi selain melihat orang yang kita cintai bahagia. Meski dirinya, bukanlah alasan di balik kebahagiaan yang tercipta itu.
" Bangun Ngga, istri elu butuh elu saat ini!" bisik Danan pelan di samping telinga Rangga. Meski ia sendiri tak yakin, Rangga mendengarnya apa tidak.
Danan meninggalkan Rangga sejurus kemudian. Ia tak terlalu tahan berlama-lama disana.
Dia menidurkan dirinya di sofa hijau, yang berada di dekat pintu keluar. Merebahkan dirinya barang sejenak, untuk membunuh kantuk yang gencar menyerangnya.
Pria itu tidur dengan menaikkan lengannya, keatas keningnya. Membuat suasana kamar itu kini hening.
.
.
Pukul Dua belas siang, di ruang Melati.
Bunyi ayunan pintu mengagetkan Danan yang telah lelap siang itu. Ia terperanjat saat seorang perawat membuka pintu kamar Shinta.
" Maaf Pak, saya tidak ...!" perawat itu tak enak hati melihat keterkejutan Danan.
" Tak apa sus, mau periksa?" tanya Danan yang kini merubah posisinya menjadi duduk.
" Iya Pak..... Saya mau memeriksa sekaligus memberikan makan siang buat Bu Shinta!" jawab suster itu ramah
" Oke , kalau begitu saya keluar dulu!" ucap Danan seraya tersenyum.
Pria dengan tinggi nyaris melampaui gawang pintu kamar Shinta itu, kini terperanjat saat dua suara wanita memanggilnya dengan waktu yang bersamaan.
" Mas Danan!"
" Mas Danan!"
Ia menoleh, rupanya itu adalah dua sahabatnya beserta sang istri masing-masing. Pas sekali pikirnya.
...ššš...
Kini Danan sudah tau duduk persoalan yang membuat empat manusia di depannya itu dilanda kebingungan.
" Shinta lagi di periksa, setelah ini kalian bisa berikan ponselnya!" ucap Danan lesu.
" Shinta udah sadar?" Dhira menatap wajah Danan dengan antusias. Meminta jawaban Danan persegera.
__ADS_1
" Udah, dia syok. Dan Rangga masih koma. Richard hilang, Rangga mengalami hal serius di otaknya!" terang Danan.
Dan saat mereka sibuk mengobrol, suster yang sedari tadi memeriksa kini telah memungkasi tugasnya.
" Udah selesai sus? kami boleh masuk sekarang?" Dhira menjadi yang paling antusias dalam hal itu.
" Silahkan Pak Bu, Bu Shinta baru saja saya periksa. Mohon untuk terus memberikan semangat ya, dukungan orang-orang terdekat bisa membantu mempercepat kesembuhan pasien!"
" Makasih sus!"
" Terimakasih kembali, mari...!" suster itu meninggalkan lima manusia disana.
Dhira dan Sekar langsung ngeloyor masuk tanpa memperdulikan para suami di belakangnya. Sementara Danan yang nampak lesu kini mendudukkan tubuhnya ke kursi panjang dari baja yang berada di luar ruangan itu.
Wisang dan Abimanyu saling menatap, sejurus kemudian mereka turut mendudukkan diri mereka di samping Danan yang berwajah kusut.
Danan menatap kedua sahabatnya yang duduk mengapit dirinya itu. Abimanyu di sebelah kanan, dan Wisang di sebelah kirinya.
" Gak ikut masuk?" tanya Danan.
" Nanti aja, kayaknya yang pria sehat di depan kita ini yang lebih butuh perhatian dari kita!" ucap Wisang terkekeh.
" Jangan bilang elu ngambil kesempatan disaat dia begini!" cibir Abimanyu memberikan banyolan.
" Apaan sih, gue kan udah janji. Gue gak bakalan kelewatan batas!" Danan berengut. Membuat kedua pria di sampingnya terkekeh.
" Percaya deh, percaya!!" ucap Wisang menahan tawanya.
Abimanyu memahami sahabatnya itu. Selama ini Danan adalah pribadi yang paling ceria diantara mereka bertiga. Dan selama itu pula, Danan adalah pria yang nyaris tak pernah memusingkan soal kehidupan.
Namun sepertinya, pria bergaya hidup bebas itu memang terlihat memperbaiki dirinya, usai menderita sakit tempo hari.
" Gue gak nyangka aja, kenapa dari sekian banyak wanita di dunia ini musti istri orang yang masuk ke hati gue!" Danan menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecut.
Wisang dan Abimanyu yang duduk di sebelah kanan dan kiri Danan itu, masih tekun memandangi sahabatnya itu.
Jika ketiga sahabat itu diibaratkan beberapa prinsip hidup, maka Abimanyu adalah Kejujuran dan Kesabaran. Wisanggeni adalah Kekuatan dan Keberanian, dan Dananjaya adalah Keindahan dan Keramahan.
Namun, agaknya tiga sekawan itu memiliki ujian percintaannya masing-masing. Tak bisa disamakan dan tak bisa di urai dengan cara yang sama. Hanya satu kesamaan yang mereka pegang. Yakni doktrin klasik alias petuah kuno.
' Kalau jodoh enggak kemana.'
" Gue cuma bisa ngomong Dan. Disaat elu bimbang, coba dengerin suara dari dalam hati kecil elu. Karena disana kebenaran berbicara!" ucap Abimanyu menepuk pundak sahabatnya.
Ya, memiliki usia yang tingkat kematangannya mencapai puncak namun belum memiliki pendamping hidup, agaknya membuat mereka bertiga kini mulai mengerti apa itu pentingnya membuat rancangan kehidupan.
Namun, sematang-matangnya sebuah rancangan hidup. Bukankah kita semua memiliki Dzat yang maha mengatur segala?
" Elu lihat gue, lihat Abimanyu juga. Jika itu terbaik buat elu. Maka pasti itu yang terjadi, meski harus merelakan. Hati hanya bisa di sembuhkan dengan hati Dan. Dan tentu saja dengan cara yang hati-hati pula!" kini Wisang berbicara serius.
Ia bermaksud meminta sahabatnya itu untuk membuka hati kepada orang lain. Karena jelas, Shinta sudah berkeluarga dengan Rangga.
Ya, mereka bertiga belum pernah berbicara se serius, seperti saat ini.
Danan tertegun menelaah ucapan kedua sahabatnya itu, yang mendadak menjadi motivator ulung kelas harian.
Dan benar saja, kisah perjalanan cinta Abimanyu dan Wisang bisa sedikit ia jadikan teladan. Bila apa yang ditakdirkan menjadi milik kita, pasti akan tetap menjadi milik kita. Meski dengan cara apapun.
Dan begitu juga sebaliknya. Sekeras apapun kita mengejar, meski dengan jungkir balik atau berdarah sekalipun. Jika hal itu, tidak tertakdirkan untuk kita. Maka semua hal itu tak akan pernah menjadi milik kita.
Tuhan tak kekurangan cara untuk membuat semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
" Thanks buddy!!" ucap Danan tersenyum.
" Oh .. common man!!!, your sorrow our sorrow too! ( kesedihanmu, kesedihan kami juga!)
Abimanyu dan Wisang menepuk pundak kokoh Danan. Ia tahu tak mudah mengahalau perasaan, apalagi melibatkan urusan hati.
Tapi satu hal yang bisa mereka lakukan bersama. Yakni saling menguatkan dalam situasi apapun.
Itulah definisi dari sahabat sejati.
.
.
.
__ADS_1
.