The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 263. Takdir Tuhan Asli


__ADS_3

Bab 263. Takdir Tuhan Asli


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Hidup hanya tentang diatas dan di bawah!"


.


.


Dua bulan berlalu


Roda- roda terus berputar. Tanda masih ada hidup. Kata Ipang Lazuardi, dalam lagunya yang berjudul Apatis.


Agaknya lirik itu selaras dengan kehidupan yang kini dijalani tiap-tiap insan yang nyaris kesemuanya bak pengantin baru. Meski tidak terlalu baru juga.


Baby Kalyna makin menunjukkan perkembangannya dengan pesat. Terbukti, lebih dari delapan ons kenaikan berat badannya tiap bulannya. Kini, bobot bayi itu hampir mencapai lima kilogram.


Dhira juga semakin sehat dan luka bekas operasinya juga semakin tertutup dengan baik. Lebih gembiranya lagi, Abimanyu sudah lulus menahan 40 hari penyiksaan terberatnya tanpa bantuan sabun atau benda lainnya.


Definisi dari tirakat kelas berat.


" Anak papa gembul banget sih!" Abimanyu kini lebih lihai mengendong putrinya. Tentu saja itu harus terjadi. Ia kerap gagal saat rest menggendong. Terlihat kaku dan tidak luwes sama sekali.


" Gendong bayi itu, kalau mas nyaman, bayinya juga nyaman!" sugesti dari istrinya itu sukses menjadi bekalnya untuk menjadi papa idaman.


Sisi keibuan Dhira juga jangan diragukan lagi. Semua yang disana aman berada di bawah kendalinya.


Raka yang semakin taat dan patuh kepada ke empat orang tuanya, juga layak di acungi jempol.


Raka masih dalam suasana libur semester usai ia menerima rapor dan di nyatakan naik kelas dengan prestasi gemilang baik di bidang akademis maupun non-akademi.


" Kita jadi nginep dirumah Uti ma? soalnya besok lusa Raka mau ikut papa ke tempat kakung Joko buat acara tiga bulanan mama Anggi!"


Hanya kebahagiaan yang terdengar dan terpancar setiap hari . Sungguh, Abimanyu merasa bersyukur atas segala pencapaian yang ia dapatkan.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Mas kenapa?" Sekar menatap muram suaminya yang sedari pagi meringkuk diatas ranjang. Bibinya pucat dan tak memiliki tenaga. Lemas dalam arti sebenarnya.


" Kita ke dokter ya?" Sekar khawatir dengan suaminya yang sedari kemaren memperlihatkan gelagat orang tak sehat.


Kehilangan selera makan, dan mengeluhkan perutnya yang tak beres.


" Pijit kepalaku dong yang!" Wisang merasa pusing dan persendiannya nyeri. Singkat kata dia demam.


Tok...Tok..Tok..


" Ini mama!"


" Masuk ma, enggak di kunci kok!" Sahut Sekar yang kini memangku kepala suaminya di pahanya. Memijat lembut kepala suaminya dengan tenang.


Pintu mengayun dan menampilkan Nyonya Lisa yang masuk dengan tersenyum.


" Kamu kena....?"


"Huek!!! Huek!!" Wisang langsung mual-mual saat mamanya datang masuk ke kamar mereka. Ia merasa perutnya bergejolak dan seperti di aduk.


" Huek!!! Huek!!!" suaranya masih terdengar lirih saat ia menutup pintu kamar mandi itu.


Baik Sekar maupun nyonya Lisa kini saling menatap bingung kepada Wisang yang kocar-kacir melesat ke kamar mandi kala wanita tua itu masuk kamar.

__ADS_1


.


.


...šŸšŸšŸ...


Tiada hari tanpa bercinta. Begitulah tajuk utamanya.


Shinta bahkan merasa tubuhnya remuk tiap pagi. Tak jarang mbak Suko dan Mbak Sundari kerap membuatkan jamu dari rempah-rempah alami yang bisa membuat Shinta lebih bugar.


" Biar gak gampang sakit!" ucap duo ART itu dengan tawa senang.


Suaminya itu benar-benar tak pernah mengijinkannya untuk beristirahat barang sehari pun. Shinta tak kekurangan nafkah lahir terlebih nafkah batin.


Dan petang ini.


" Mbak, nanti kalau mas Danan datang jangan lupa kasih tahu aku ya?"


" Siap Bu!" Sundari mengacungkan jempol. Entah apa yang mereka sedang rencanakan.


Dan sesuai perintah, Sundari memberitahu Shinta jika mobil suaminya sudah memasuki gerbang rumahnya.


Jelang petang pria dengan tindik di telinganya itu bersiul- siul sembari melantunkan lagu favoritnya.


"Kau adalah belahan jiwa, Aku tau itu sayang sedari dulu"


Pria itu terus bernyanyi dengan gaya bar-bar nya. Meliuk-liuk tidak jelas.


"Kau cinta yang hembuskan aku


Surga dunia di sepanjang nafasku"


Sukoco turut manggut-manggut menikmati lagu yang di dendangkan oleh majikannya.


"Kau adalah belahan jiwa


Aku cinta kamu sedari dulu


Sayangku


Hanya kamu huu-uu-uu"


( Tompi~ Belahan jiwa)


" Istri saya dimana mbak?" tanya Danan yang telah memungkasi lagunya


" Ada diatas pak!" jawab Sukoco terkikik geli melihat tingkah Danan.


" Barusan masak banyak buat makan malam sama Pak Danan Katanya!"


" Makan malam?" bergumam dalam hati.


Dengan semangat ia ingin menemui istri tercintanya. Ah beginikah rasanya menikah. Happy sepanjang waktu.


Namun Danan mendapati istrinya terlelap sore itu saat ia baru membuka pintu kamarnya. Istrinya terlihat begitu lelah.


Danan mencium kening Shinta. " Istirahatlah, karena nanti malam kau harus lelah bersamaku lagi!"


Sejurus kemudian ia melepaskan bajunya, lalu menuju kamar mandiri. Shinta terkikik geli demi mendengar ucapan suaminya.


Suaminya itu benar-benar.


Dikamar mandi.


Matanya membulat dan hatinya merasa bahagia begitu melihat benda yang diletakkan diatas meja sabun dengan hiasan warna merah yang mengundang perhatiannya.


Ia meriah benda itu lalu seketika tubuhnya mendadak merinding dan mengahru biru.


Air mata Danan seketika menggenangi pelupuk netranya. Ia kembali melesat menuju ke ranjang istrinya dan mendapati istrinya telah duduk sembari tersenyum menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Oh astaga, rupanya Shinta telah merencanakan ini semua. Pria itu menatap istrinya dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


" Terimakasih sayang!"


"Terimakasih!"


Danan menghujani Shinta dengan ciuman yang tiada henti demi merasakan kebahagiaan tak terkira yang kini mereka dapatkan.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Rania tersenyum- senyum demi mengingat keperkasaan Bastian yang selama dua bulan ini tiada henti-hentinya mengungkungnya dalam balutan gelora panas yang menggairahkan.


Melebur cinta tiada henti dan berharap benihnya yang tersebar akan menjadi zigot lalu menjadi embrio yang berkembang.


" Aku malam ini akan menginap dirumah Ibu!" pesan dari Dhira membuat seulas senyuman terbit di bibir Bastian.


Ia kini tengah duduk menemani sang istri memasak. Entahlah, agaknya Rania maju di urusan servis di ranjang, namun masih harus banyak belajar dalam urusan memuaskan lidah.


Sebab masakan merupakan bentukan kasih kudus bukan?


" Pa, cuminya mau di goreng aja atau di masak gimana" Rania kini telah membiaskan memangil Bastian dengan sebutan Papa seperti Jodhi memanggilnya.


" Buat saus asam manis bisa enggak?" Bastian memeluk Rania dari belakang. Mencium pipi Istrinya penuh cinta.


" Pernah buat tapi gagal, kita Googling ya?" sahut Rania mencoba berdiplomasi.


" Ceileee, dari dulu mama gak bisa masak pah. Makanya Jodhi suka makan di kedainya bunda Dhira dulu!" Jodhi mencibir seraya mendudukkan dirinya di atas kursi makan yang berjarak beberapa meter dari Rania dan Bastian.


Rania tak percaya jika Jodhi malah tak menjadi timnya. Benar-benar sebuah ancaman.


" Itu benar!" sahut Oma Regina yang kini di dorong bik Surti. Membuat Rania seolah tak memiliki tim sukses untuk sekedar membelanya.


" Oma!" sahut Rania lesu.


Membuat Bastian terkekeh.


" Sebenarnya jadi wanita itu harus bisa tiga M!" imbuh Oma kembali. Jodhi menatap serius wajah nenek buyutnya.


" Apa itu Oma?" tanya Rania dengan alis bertaut.


" Macak, Masak, Manak!"


Semua orang tertegun kecuali Bastian yang memang sudah tahu bahasa Jawa.


" Jangan cuma bisa Macak, tapi gak bisa Masak sama Manak. Pun yang lainnya. Pokonya tiga itu, kita sebagai wanita harus bisa melakukan!"


Bastian terkikik geli demi melihat ekspresi wajah istrinya yang melongo karena sama sekali tak tahu arti dari ucapan Oma-nya.


Manak?


Macak?


.


.


.


.


Keterangan :


3 M ( Masak, Macak, Manak)


Masak : Memasak


Macak : Berhias atau berdandan


Manak : Beranak atau melahirkan

__ADS_1


__ADS_2