The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 163. Kebingungan


__ADS_3

Bab 163. Kebingungan


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Manusia sering lupa, bahwa di saat hujan deras pun. Matahari sebenarnya masih tetap bersinar!"


.


.


Degan gelagapan Wisang kini harus menanggung kebodohannya. Mengapa pria itu malah mengangkat telepon dari orang dengan julukan 'Mama' pada layar ponsel yang tertera itu.


Hallo...Ngga!!


Ngga!!!!


Kok diem aja sih ini Pa, apa error' atau gimana?


Wisang menelan ludahnya saat suara wanita di sambungan telepon itu, terlihat mengajak bicara seorang pria, yang Wisang yakini itu adalah suaminya. Ia tahu karena wanita itu memanggil dengan sebutan ' Pa'


Matiin aja dulu Ma, susah signal kali!


Dan wanita itu benar melakukan titah dari pria di dalam sambungan telepon itu. Membuat Wisang cepat- cepat menghampiri keberadaan Abimanyu yang juga terlihat tengah melakukan sambungan telepon.


Sejenak Wisang merasa bersalah karena kelancangannya.


" Aduh gawat!!" ucap Wisang kepada dua wanita yang tengah asik ngobrol di depannya.


" Ada apa mas? "ucap Sekar.


" Ada apa mas?" ucap Dhira.


Ya, mereka kompak dalam menyahuti ucapan Wisang. Abimanyu yang berada di berada di bawah pohon palem itu juga sudah terlihat memungkasi kegiatan teleponnya.


" Kalian itu kalau urusan gak sabarannya, selalu kompak ya!" cibir Wisang. Sementara yang diberikan cibiran hanya mendengus.


" Barusan orang tuanya Rangga telepon !" ucap Wisang menatap dua wanita di depannya.


" Telepon, kok bisa?" Sekar lebih dulu menyahuti.


" Tadi Pak Made ngasih barang-barang Shinta sama Rangga yang gak sempat ke bawa pas olah TKP kemaren ke aku. Ini ponselnya!" Wisang memperlihatkan benda pipih itu kepada tiga manusia di depannya.


" Elu angkat tadi?" kini Abimanyu yang mulai mengerti arah pembicaraan mereka tanpa harus bertanya itu, turut penasaran.


" Dua kali dering, gak tahan Ama suaranya. Berisik soalnya!" kilah Wisang berdalih.


" CK, elu tu ya Wis. Jangan di angkat harusnya ,ponsel orang itu!!!. Terus apa yang beliau katakan tadi?" tanya Abimanyu kembali, kali ini ia fokus ke Wisang.


" Ehem!" Wisang berdehem seakan melakukan persiapan untuk memperjelas suaranya.

__ADS_1


"Halo.....Rangga, kamu dimana? papa sama Mama baru sampai dirumah kamu, tapi istri kamu gak ada ini!"


Wisang terlihat mahir dan lihai, dalam menirukan dan membuat suaranya menjadi suara wanita. Membuat Dhira dan Sekar terkekeh.


" Ya gak elu praktekan juga kali Wis!" dengus Abimanyu.


" Sekalian aja, biar elu gak bolak balik tanya. Semenjak nikah elu kan tambah oon!" cibir Wisang.


Abimanyu mendelik ke arah Wisang. Dan ucapan mereka selalu akan berakhir dengan sindiran saja.


" Udah- udah, kok malah geger!" Dhira berucap.


" Kamu jawab apa mas tadi terusan?" tanya Dhira kembali.


" Aku diem aja, terus dimatiin sendiri sama beliau!" tukas Wisang.


Sejenak Dhira tertegun. Ia pernah sekali di curhati Shinta mengenai mertuanya yang selalu mendesak Shinta lewat sindiran halus, untuk lebih berusaha kerasa dalam urusan anak.


Dhira sejenak berfikir, bagaimana bila mamanya itu tahu jika Rangga dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dan kenapa bisa pas begini.


" You fine?" tanya Abimanyu yang mendadak melihat perubahan raut wajah istrinya itu.


Dhira menarik nafasnya, sejurus kemudian ia menceritakan apa yang pernah ia ketahui tentang keluh Shinta akan mertuanya itu. Meski sahabatnya itu tak detail saat bercerita, namun sebagai wanita, ia dapat memahami perasaan yang dialami Shinta selama ini. Wanita itu hidup under pressure ( dibawah tekanan).


Raut muram yang menaruh iba ,kini nampak di ketiga wajah manusia yang menjadi pendengar cerita Dhira barusan. Terutama Sekar. Ia menjadi insecure sendiri.


" Sebaiknya kamu silent dulu ponsel itu. Kita ke rumah sakit sekarang. Jika Shinta sudah sadar, biar dia saja yang menjawab!" ucap Abimanyu.


" Benar mas, lagipula cepat atau lambat mereka juga pasti tahu. Semoga tidak terjadi apa-apa!" Dhira mendadak berwajah lesu.


Abimanyu mengusap punggung istrinya. Hormon kehamilan yang acap kali berubah tak menentu, makin membuat Dhira larut dalam kesedihan.


Sekar menatap wajah suaminya dengan raut muram. Wanita itu turut prihatin dengan masih mantan rekan kerjanya itu.


...šŸšŸšŸ...


" Goblokkk?!!" seorang wanita menggebrak meja, saat dua orang pria itu memberikan laporan.


Dua pria itu menunduk dan saling memandang.


" Kenapa selalu saja mereka itu beruntung!!" wanita itu terlihat bangkit dari singgasananya, mengumpat dan berteriak tak terima dengan kegagalan salah satu rencana jahatnya.


" Kami sudah melakukan seperti yang anda minta, kami tidak bertanggung jawab jika korbannya bukan target. Sekarang kami cuma butuh bayaran atas pekerjaan kami!" ucap pria yang terlihat berusia muda, dan kini menjadi tidak sabar.


" Bayaran apa, mengurus dua orang saja kalian tidak becus!!" maki wanita itu.


Ceklek Ceklek


Pria muda yang baru saja berucap itu terlihat tidak sabar, ia menarik magazine dari senjata api yang ia tarik dari balik punggungnya. Bersiap meluncurkan timah panas ke arah wanita itu.


" Kami sudah bekerja, dan kami mau bayaran kami!" pria itu menodongkan senjatanya, ke arah wanita itu. Pria itu tak suka basa basi rupanya. Kini mereka saling memberi tatapan sengit.


Sementara pria yang lebih dewasa itu terlihat menahan pria yang lebih muda itu. " Keep calm, turunkan senjatamu!" ucap pria yang lebih dewasa itu, saat melihat suasana menjadi tegang.


Wanita itu masih menatap bengis kearah pria yang menodongkan pucuk senjatanya itu, ke arahnya.

__ADS_1


Wanita itu terlihat menarik laci mejanya dengan cepat. Ia meraih amplop coklat berisikan uang yang pasti berjumlah banyak. Hal itu bisa di simpulkan lantaran tebalnya amplop itu.


" Ambil ini, dan bereskan sisa pekerjaan kalian!" wanita itu melempar amplop itu ke arah pria yang lebih dewasa itu.


Membuat amplop itu kini tepat berada di pangkuan si pria dewasa itu.


" Turunkan senjatamu brengsek!!" maki wanita itu, usai memberikan sejumlah uang.


Pria muda itu menatap pria dewasa di sampingnya, ia memberi anggukan. Menandakan untuk segera menurunkan pistol yang di acungkan oleh rekannya itu. Dan sejurus kemudian, pria muda itu menarik senjatanya untuk masuk ke tempat senjata yang ada di belakang punggungnya.


" Kalau begitu kami permisi!" dan tanpa mengucap kata lain selain hal itu, dua pria berwajah tak ramah itu melesat keluar dari ruangan dengan aksen mewah itu.


Braaaaakkkk


Pintu tertutup dengan kerasnya.


" Arggghhhh, brengsek!!" wanita itu mengacak rambutnya frustasi. Ia mengumpat karena rencananya untuk melenyapkan Sekar dan Wisang, malah berakhir pada celakanya orang lain.


...šŸšŸšŸ...


Dhira sudah menghubungi Rania terlebih dahulu untuk mengurus kepulangan anak-anak. Raka dan Jodhi. Ia meminta adik iparnya itu, untuk membawa mereka ke rumah utama saja.


Ia yakin, ia dan Abimanyu akan melalui hari ini dengan sangat panjang dan melelahkan.


Rania sempat melayangkan protes lantaran kenapa baru sekarang memberitahunya bila Shinta berserta suami terlibat kecelakaan.


Namun Dhira berdalih, kejadian yang mendadak tak sempat membuatnya untuk memberitahu. Ia memang tak terfikir untuk mengabari siapapun saat itu.


Siang itu jam menunjukkan pukul dua belas tepat. Saat mereka sampai di lantai 10 dan tengah berada di ruang Melati, tempat dimana Shinta di rawat , mereka berempat melihat Danan yang baru menutup handle pintu.


" Mas Danan!"


" Mas Danan!"


Dhira dan Sekar lagi-lagi kompak saat bertanya. Membuat Abimanyu dan Wisang saling menatap. Sepertinya isi otak para istri mereka tak jauh berbeda. Selalu diliputi rasa penuh ingin tahu.


Danan yang di panggil namanya terlonjak kaget.


Dan di saat yang bersamaan, ponsel yang di kantongi Abimanyu dan sudah mereka silent tadi, kini bergetar kembali, dengan nama yang tertera, sama dengan nama yang melakukan panggilan sewaktu di kantor polisi tadi.


Abimanyu merogoh sakunya, lalu meraih benda yang membuatnya geli karena bergetar itu. Meski tak mengeluarkan suara, namun getaran itu justru membuat Abimanyu tak nyaman.


Mama calling


Abimanyu menunjukkan ponsel dengan layar yang menyala itu, kepada ketiga manusia lain yang datang bersama dirinya tadi.


Membuat mereka berempat kini saling menatap.


" Ada apa?" Danan bertanya dengan segala ketidaktahuannya, lantaran melihat ke empat manusia di depannya itu sama-sama berwajah bingung.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2