
Bab 202. Kabut Jiwa
.
.
.
...ššš...
" Teringat ku teringat, pada janjimu ku terikat. Hanya sekejap ku berdiri, ku lakukan sepenuh hati. Peduli ku peduli, siang dan malam yang berganti. Sedihku ini tak ada arti, jika kaulah sandaran hati"
( Diambil dari lirik lagu Letto ~ Sandaran Hati)
.
.
Danan melepas ciumannya dengan perlahan saat ia menyadari kegelisahan dalam gestur Shinta. Shinta membuang wajahnya perlahan ke arah lain. Ia menjadi susah hanya untuk sekedar menekan ludahnya sendiri.
" Aku ke atas sebentar!" dengan tubuh gemetar Shinta beranjak dari dapur itu. Berjalan menjauh meninggalkan Danan yang mematung.
Entahlah, ia tak berani menatap mata Danan saat itu. Isi hatinya campur aduk .
"Sial!!!!, Kenapa kau tak bisa menahan dirimu Danan!" Danan bermonolog seraya merutuki kebodohannya. Ia benar-benar tak bisa lagi menahan dirinya. Ia sangat merindukan Shinta.
Danan mengatur nafasnya, pria itu menumpukan kedua tangannya ke kitchen set yang berada di depannya seraya menggelengkan kepalanya tak percaya.
Harusnya ia bisa lebih sabar lagi.
Danan memejamkan matanya, lalu menarik napasnya dalam. Bibir lembut Shinta benar-benar membuatnya kehilangan akal sehat.
Sementara Shinta yang dengan langkah cepat setengah berlari menuju kamarnya yang berada diatas , terlihat tergesa-gesa saat menutup pintu kamarnya. Wanita itu langsung beringsut ke lantai usai ia mengunci pintu kamarnya seraya menangis.
Ia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Sebagai wanita yang di tinggal suaminya wafat, wajib hukumnya bagi dia untuk menjalani masa Iddah selama empat bulan lebih sepuluh hari.
Tapi barusan apa yang dilakukan Danan terhadapnya? sungguh semua ini terlalu cepat baginya. Kini ia harus bagiamana. Ia menangis seraya memeluk lututnya dengan tubuh gemetar.
Ciuman hangat Danan yang terkesan penuh sejuta pertanyaan itu, mendadak membuat Shinta gelisah.
" Maafkan aku mas Rangga. Maafkan aku!" Shinta menangis dengan suara bergetar. Wanita itu kini tak tau harus melakukan apa.
Danan kehilangan selera makannya. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul Tujuh sebenarnya masih. Tapi ia telah membuat kesalahan. Tapi dia bisa apa, dia bukan manusia suci yang kuat menahan serangan mendadak itu. Apalagi Danan telah mencintai Shinta sejak lama.
Salahkah?
Pria itu terlihat meminum kopi yang dibuatkan Shinta tadi, dalam sekali tegukan. Terasa dingin dan pahit di mulut. Sejurus kemudian ia menyambar jas yang tadi ia campakkan di sofa ruang tamu Shinta.
Sejenak Danan menatap tangga yang menuju ke kamar Shinta seraya menelan ludah. Pria itu membuka pintu dan berniat untuk pulang. Ia tahu ini salahnya. Terlalu terburu-buru.
*Aku pulang.
Maaf membuatmu tak nyaman.
__ADS_1
Aku, benar-benar tak bisa mengendalikan diri*.
Tiga pesan itu ia kirimkan ke nomer WhatsApp Shinta. Sejurus kemudian ia menuju luar dan menarik pintu gerbang Shinta.
" Huft!" hembusan nafas berat dan kasar terdengar dari mulut Danan. Ia senang sekaligus merasa brengsek dalam waktu bersamaan.
.
.
" Bu Dhira ini apa?"
Di jam yang sama namun di tempat yang berbeda, empat manusia itu terlihat memenuhi sebuah kamar luas. Kamar apartemen milik Wisang.
Ya, mereka kini telah berada di kamar Sekar.
" Kamu coba cek. Tadi mas Wisang cerita ke aku kalau kamu beberapa hari ini kurang enak badan!" Dhira tersenyum.
Sekar menatap Wisang yang berwajah muram. Sejurus kemudian Sekar membaca aturan pakai benda berbentuk strip itu.
" Disini kalau bisa pas pagi hari" ucap Sekar masih diatas ranjang.
Abimanyu dan Wisang saling pandang. Mereka tentu saja tidak terlalu mengerti apa yang di bicarakan dua mahkluk keturunan Hawa itu.
" Kalau memang iya, pasti dua strip walau dipakai di jam berapapun!" tutur Dhira.
" Apasih?" Wisang berbisik ke arah Abimanyu.
Mereka tadi memang sempat berhenti di apotek demi menunggu Dhira yang entah membeli apa. Rupanya istri Abimanyu itu membeli empat jenis tespeck dengan harga terbaik dan berbagai model.
" CK, kan yang beli bini elu!" dengus Wisang seraya berbisik.
" Kan gue di mobil kayak elu sialan!" Abimanyu membalas bisikan Wisang dengan berbisik di depan pipi Wisang. Sejenak mereka terlihat seperti berciuman.
" Mas, kalian gak lagi..." Dhira teringat saat Wisang yang merayakan euforia ketika di rumah Shinta tadi.
" Ih...enggak lah sayang. Dia nih penasaran sama..." Abimanyu menunjuk benda biru yang di pegang Sekar.
Dhira tersenyum. Ia memang tidak memberi tahu suaminya terkait alat yang ia beli. Sebagai wanita berpengalaman, tentu ia ingin menolong Sekar yang masih awam dalam urusan begituan.
" Ini alat penguji kehamilan mas Wisang. Jangan cuma bisa buat hamil, mas Wisang juga harus tahu tetekbengeknya!" cibir Dhira.
" Tuh dengerin, jangan bisanya bikin bunting aja...ngurus begini gak bisa lu!" dengus Abimanyu.
" CK, istri elu kok jadi julid kayak elu sih Bim. Mana gue gak punya tim sukses lagi!" Wisang berdecak seraya bermuram durja.
Sekar dan Dhira kompak tergelak.
" Ya udah yuk aku anter!"
" Bapak-bapak please wait outside! " Dhira mengibaskan tangannya seperti gerakan mengusir.
" Seorang Nyonya Abimanyu mengusir suami dan pemilik apartemen!" gerutu Wisang saat mereka balik kanan kiri seperti bubar gerak jalan.
__ADS_1
Pletak
" Aduh!" Wisang mengaduh saat Abimanyu menjitak ubun-ubun Wisang.
" Istri gue tuh!" ucap Abimanyu.
" Danan elu dimana sih, gue di keroyok nih!"
.
.
Sekar malu, tapi Dhira malah dengan gencar mengajari wanita yang terpaut hampir separuh usianya itu, dengan semangat.
" Kamu pipis terus taruh sini!" ucap Dhira memberikan sebuah gelas plastik kecil mirip cup ice cream yang transparan. Benda itu juga ia beli dari apotek tadi.
" Terus gimana Bu?" Sekar benar-benar mirip seperti seorang bocah yang diajari oleh ibunya.
" Nanti kamu celupkan ini, sampai batas ini?" Dhira menunjukkan benda itu sesuai anjuran.
Sekar mengangguk paham. Sejurus kemudian ia masuk ke kamar mandi. Dhira menunggu di luar dengan tak sabar.
Entah mengapa ia turut bahagia. Itu artinya, Jika Sekar positif hamil, anak keduanya nanti akan lahir di tahun yang sama dengan anak Sekar. Alias mereka akan tumbuh bersamaan.
Selang beberapa menit pintu itu terlihat mengayun terbuka. Terlihat Sekar yang menyembul dari balik pintu kamar mandi itu.
" Gimana?" tanya Dhira tak sabar.
" Ini Bu!" Dhira menyerahkan strip itu ke arah Dhira. Dhira menatap Sekar dengan wajah tak percaya.
" Sekar kamu..."
.
.
.
.
.
.
.
Hay Readers, udah nyampai bab 200 an nih. Mommy boleh dong minta pesan dan kesannya untuk karya Mommy ini.
Komen ya...
Karena gak mengira bakal tembus bab 200 an. Hampir 300 ribu kata yang mommy tulis. Buat author baru seperti aku, jelas ini hal yang awalnya tak mungkin. Semua itu karena para pembaca yang terus kasih semangat buat aku.
Terimakasih banyak para reader šššš¤š¤š¤
__ADS_1