The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 239. Armaan Amritaya


__ADS_3

Bab 239. Armaan Amritaya


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Layaknya daun yang gugur, tak selalu yang jatuh daun yang tua atau kering. Kadang tanpa sengaja binatang seperti tupai kerap membuat ranting itu koyak, sehingga daun muda itupun turut gugur sebelum waktunya!"


.


.


Devan


Devan kini sudah sampai di apartemennya. Assiten kepercayaan Abimanyu itu benar-benar letih hari ini. Ia di tuntut untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Untuk itulah ia diberi kelebihan otak yang diatas rata-rata.


Pria itu langsung membuka water showcase di ruang tamunya, mengambil sebotol air mineral dingin, lalu meminumnya dalam sekali tegukan.


" Ahhhhh!" terasa melegakan.


Ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, " Jam delapan lebih ?" Devan terlihat menimbang- nimbang.


" Apa dia sudah tidur ya? merasa bersalah karena selama mendekati Alexa, pria itu malah jarang meluangkan waktu. Tentu saja sebabnya adalah Abimanyu.


Bos yang kadang bersikap seudelnya. Yah, meski Devan harus tahu diri juga sih. Untuk itulah ia dibayar.


" Apa kau sudah tidur?"


Devan mengetik kalimat itu, namun sejurus kemudian ia menghapus kembali.


" Lagi apa?"


Hatinya ragu, ia menghapus kembali kalimat itu. Otaknya sesak dan penuh. Membuatnya tak bisa berpikir.


" Aku baru pulang bekerja, maaf belum bisa menemuimu. Selamat malam"


Akhirnya kalimat itu yang di pilih Devan untuk berkirim pesan kepada Alexa. Sejurus kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Menata air hangat sendiri , meneteskan aromaterapi dan menunggunya hingga bercampur.


Devan melucuti pakaiannya sendiri, sejurus kemudian ia menenggelamkan dirinya ke bathtub berisikan air hangat. Ia memejamkan matanya seraya menikmati sensasi aromatik maskulin yang menenangkan pikirannya.


Mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak dari kepenatan duniawi yang seolah tiada henti mengajaknya berlari.


.


.


Lantai 11 VIP room


Pukul 20.10


Sekar


Badannya terasa menggigil, ia juga merasakan sekujur tubuhnya lemas dan sakit. Bersamaan itu pula, ia mengerjapkan matanya perlahan. Kepalanya juga agak pusing.


" Sekar!" ia mendengar suara wanita yang tidak asing.


" Sekar kamu sudah sadar nak?" ucapan yang agaknya membuat dirinya makin cepat untuk membuka mata.


" Emmm Mama!" tentu ia harus mengklarifikasi suara itu bukan. Dan sejurus kemudian, ia teringat bila mama mertuanya itu memangkunya sedari dalam mobil saat dari rumahnya tadi siang.


" Sekar, ini kami nak. Gimana keadaan kamu, apa yang kamu rasakan nak biar kami panggil dokter!" tuan Wikarna terlihat cemas.


Sejenak Sekar kesulitan hanya untuk menjawab, perutnya terasa nyeri dan tubuhnya menggigil. Ya, obat bius itu mulai berkurang. Membuat tubuh Sekar merasakan dingin yang hebat.

__ADS_1


" Dingin Pa!" ucapnya dengan suara lemah.


Detik itu juga Nyonya Lisa menekan tombol emergency untuk memanggil perawat.


.


.


Seorang wanita berpakaian biru terlihat masuk dengan mendorong troli berisikan makanan dan beberapa obat.


" Selamat malam Bu!" sapa petugas itu ramah.


" Mbak, menantu saya kok kedinginan ya. Kenapa ini?" Nyonya Lisa langsung memberondong perawat itu dengan pertanyaan.


" Sebentar, biar saya periksa ya!"


Sekar benar-benar menggigil, wanita itu juga terlihat masih mengenakan baju dari rumah sakit dan tidak mengenakan pakaian dalamnya. Membuatnya kian merasakan kedinginan.


" Ini reaksi wajar yang di alami pasien usai menjalani proses operasi Bu!" tukas perawat itu.


" Operasi?" Sekar menirukan ucapan perawat itu, membuat tuan Wikarna dan Nyonya Lisa langsung meneguk ludah dengan wajah tegang.


" Pasien belum belum di beritahu?" perawat itu berbicara sembari membereskan beberapa peralatan yang ia gunakan untuk memeriksa Sekar.


" Apa yang terjadi Pa?" Mata Sekar sudah memanas.


" Bu, tenang dulu!" Perawat itu terlihat menenangkan Sekar.


"Janin yang ada di dalam kandungan ibu telah meninggal saat dalam perjalanan. Kami harus mengeluarkan janin tersebut demi keselamatan Bu Sekar!"


Duarr


Halilintar seakan menyambar Sekar saat itu juga, tubuhnya mendadak tegang serta degub jantungnya tak beraturan. Air matanya lolos tak terbendung.


" Anakku!" Lirihnya penuh penyesalan.


Nyonya Lisa kini turut menangis, wanita itu kini mengusap punggung menantunya, " Maafkan Mama Sekar, semua ini karena Mama!" istri Tuan Wikarna itu terlihat bersedih.


.


.


Berita tentang Sekar yang sudah sadar agaknya sudah sampai ke telinga para sahabatnya. Bahkan, kini nyonya Alda dan tuan Yusuf juga terlihat datang bersama Danan dan Shinta.


Abimanyu dan Andhira juga datang dalam kondisi sudah berganti pakaian. Mereka semua terlihat lebih segar malam ini.


Bu Kartika juga turut datang untuk menengok mantan pegawai Dhira yang baik itu, ia mengetahui berita ini dari Bastian. Wanita itu datang kesana dengan menggunakan taksi. Membuat Dhira dan Abimanyu terkejut.


" Ibu kenapa gak bilang kalau mau kesini, tadi saya bisa jemput!" Abimanyu mencemaskan ibu mertuanya.


" Tak apa, yang penting kita semua sudah ada disini!"


Sekar sedari tadi hanya diam. Matanya kosong, sementara Wisang usai membersihkan dirinya tadi ia tak berani mendekat ke arah Sekar yang terlihat masih di kerubungi para penjenguk.


Ya, kini Danan beserta Shinta dan keluarganya, sedang berada di dalam ruangan tempat Sekar di rawat bersama nyonya Lisa. Sementara keluarga Abimanyu masih berada di luar bersama Wisang.


" Wis, anak kamu gimana?" Tuan Wikarna kini berjalan keluar menemui putranya, pria itu mengingatkan Wisang untuk segera mengurus jasad calon anaknya yang wafat.


" Wisang masih belum siap Pa. Wisang juga masih belum berani nemui Sekar!!" Pria itu benar-benar berada di titik terendah dalam hidupnya saat ini.


Dhira dan Bu Kartika turut menyuguhkan raut muram. Dua wanita itu turut bersedih atas kemalangan yang menimpa Wisang dan Sekar. Apalagi, ia juga pernah mengalami keguguran.


" Wis!" Abimanyu menepuk pundak sahabatnya itu, ia tahu kesedihan Wisang. " Setelah ini sebaiknya kamu bicara berdua dengan Sekar!"


Wisang nampak tertegun, menimbang saran Abimanyu.


" Sebaiknya di makamkan dengan cara yang benar, anak ini sudah bernyawa saat berada di dalam kandungan. Kebumikan dengan layak dan berilah dia nama!" tutur Bu Kartika memberitahu.


.

__ADS_1


.


Semua penjenguk sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing. Shinta tak bisa menolak ajakan Nyonya Alda untuk diajak menginap. Tentu dengan kamar yang terpisah.


Sementara Abimanyu keukeuh ( ngotot) meminta Bu Kartika untuk menginap di rumahnya. Alhasil, wanita tua itu pasrah.


Semua manusia itu telah teramat lelah malam ini, hari yang mereka lewati begitu luar biasa sulit, mengoyak sisi kelelakian para trio konglo itu. Bahkan, Nyonya Lisa dan Tuan Wikarna kini terlelap di ranjang khusus yang berada di ruang sebelah, hanya tertutup oleh pintu konektor yang sudah di rancang sedemikian rupa.


Mereka semua lelah.


Kini, Wisang benar-benar hanya tengah bersama dengan istrinya. Hati pria itu terasa hancur saat melihat istrinya yang seperti manusia yang kehilangan harapan.


" Sayang!" Ucap Wisang dengan suara bergetar. Pria itu berjalan ke arah istrinya yang duduk berselanjar di ranjang.


Ia memang sedari tadi belum berbicara sepatah katapun dengan Sekar, bahkan ia tidak sempat menyentuh istrinya. Ia merasa tidak becus untuk sekedar menjaga istri dan malaikat kecil mereka yang kini harus kembali ke nirwana bahkan sebelum waktunya untuk terlahir.


Sekar masih bergeming. Sejatinya dua manusia itu sama-sama merasa bersalah.


Sekar yang merasa bersalah karena semua ini terjadi karena Wisnu. Andai Wisang tak mengenal dirinya yang memiliki persolan pelik dengan Wisnu, semua ini mungkin tak akan terjadi.


Dan Wisang yang merasa bersalah, karena gagal melindungi istrinya. merasa menyesal karena tak berlaku tegas sedari dulu kepada wanita yang ia kira bukanlah sebuah ancaman bagi rumah tangga mereka, Mira.


Wajah Sekar pucat, dengan posisi duduk ia tercenung meratapi semua yang telah terjadi.


" Maafkan aku mas!" suara lirih itu akhirnya keluar dari bibir Sekar.


Wanita itu berucap masih dengan tatapan kosong, nyalang menatap selimut tipis yang ia kenakan.


" Semua ini karena kehadiran aku dalam hidup mas!" wanita itu menatap wajah suaminya dengan sebulir air mata yang lolos tanpa seijin darinya.


Wisang turut menitikan air matanya saat menatap kristal bening yang lolos dari kedua netra Sekar, istrinya itu masih sempat menyalahkan dirinya sendiri karena kejadian itu.


" Enggak sayang, aku yang gak becus ngelindungi kamu. Maafkan aku !!" Wisang merengkuh tubuh istrinya yang masih mematung itu. Buncahan penyesalan menyelinap ke dalam relung hatinya.


Sakit dan menyesakkan dada.


Mereka berdua sama-sama menangis dalam getaran tubuh yang hebat. Mereka telah kehilangan calon buah cinta mereka yang amat mereka idamkan.


Wisang menciumi puncak kepala Sekar dan memeluknya erat, seolah tak akan membiarkan siapapun untuk mencelakainya lagi.


" Dia laki-laki, mirip kamu!" ucap Wisang kini melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah istrinya, pria itu sempat melihat wajah bayi seukuran botol air mineral kecil dengan kulit pucat dan mata terpejam, namun sudah berwujud dengan organ yang lengkap di ruangan khusus yang telah di siapkan oleh Richard.


Bahkan, jari-jari sudah terbentuk sempurna.


Sekar tersenyum dengan bibir bergetar karena rupanya ia tersenyum dan menangis dalam waktu bersamaan. Pun dengan Wisang. Mereka berdua tersenyum dalam tangis dan kegetiran.


" Armaan Amritaya!" ucap Wisang kemudian dengan wajah tersenyum.


Sekar menatap suaminya tak mengerti.


" Nama anak kita!" pandangan mereka bertemu, meski dalam duka yang mendalam. Tapi mereka saling menguatkan satu sama lain.


" Nama yang berarti , laki - laki penolong di keabadian!" Wisang memeluk istrinya kembali. Ia yakin, anaknya tersebut di suatu masa yang kekal nanti, pasti akan menolong mereka di tempat yang tak terjangkau itu.


" Armaan Amritaya!" Sekar dengan suara bergetar menirukan ucapan suaminya. Ia menyebut nama calon anaknya yang meninggal itu . Ia memejamkan matanya saat merasakan harum tubuh Wisang yang kini hirup.


Sekar harus mengikhlaskan apa yang memang belum menjadi takdirnya untuk dimiliki.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Like and komennya jangan kasih kendor ya kak 😁


__ADS_2