
Bab 39. Kuasa sang Direktur
.
.
.
...ššš...
"Kasih itu sabar!"
Abimanyu
Ia hendak menuju tempat Andreas, salah satu Direksi di Rumah Sakit itu. Bermaksud untuk membebaskan segala biaya yang mungkin akan timbul.
Namun tak di nyana, ia justru mendapati Dhira yang mendapat perlakuan tak menyenangkan dari Indra. Membuat dia menggertakan giginya, benar-benar kelewatan .
Ia tak terima melihat Dhira yang di tarik paksa dan kasar oleh Indra, nampaknya ucapan kasar Indra jelas menerangkan bila dirinya sudah bosan untuk bekerja di BCS.
Usai terlibat pertikaian dengan mantan suami Andhira, ia segera melenggang pergi tanpa mengucap apapun.
"Tolong temani dia dulu!" ucapnya kepada Rania.
Rania mengangguk," kakak mau kemana?"
"Ada yang ingin aku bereskan!!"
.
.
Rania terlihat merengkuh Dhira, membawanya untuk masuk kedalam ruangan Raka, setelah menjadi tontonan para pengunjung Rumah Sakit itu. Malu?, jelas!.
"Minum dulu Mbak!" ucap Rania memberikan segelas air, sementara Bu Kartika terlihat mengusap pundak Raka di atas ranjang.
Fredy yang baru saja selesai turut berada diruangan sana, membuat Bastian menatapnya.
"Siapa dia?, terlihat dekat dengan Bu Rania" batinnya.
"Cih, mengapa aku memikirkan" ucapnya dalam hati, berusaha menepis anggapan.
"Emm Ran, aku tinggal dulu gapapa?, soalnya aku ada tamu mendadak" ucap Fredy yang terlihat baru saja membaca sebuah pesan singkat.
"Oh gapapa, aku masih disini dulu. Terimakasih banyak Fred" Rania tersenyum ke arah Fredy.
"Saya permisi dulu" Fredy pamit kepada semua yang disana, entah mimpi apa ia terlibat dengan keluarga yang bertengkar.
Bastian yang berpapasan dengan Fredy hanya tersenyum, membalas sapaan Bastian. Mereka sama sekali belum mengenal, tidak tahu dan tidak mau tahu.
__ADS_1
.
.
Andhira
Pandanga Dhira kosong, ia merasa benar-benar malu. Apakah dia memang tak memiliki arti bagi Indra?. Bahkan disaat mereka sudah bercerai sekalipun, mantan suaminya itu masih saja menyakiti hatinya.
"Sabar!" suara Bu Kartika memecah keheningan.
Rania masih menatap Dhira iba, tak berani berkata apapun. Ia mengusap punggung wanita rapuh itu.
"Apa salah Dhira Buk? kini pertahanannya jebol, walau ada Raka dan Jodhi ia tak bisa lagi menahan kesedihannya. Mengingat ucapan Indra yang mengatai dirinya seroang wanita Ja Lang.
Raka terlihat menunduk, ia tak tega melihat mamanya bersedih. Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi diluar tadi. Pun halnya dengan Jodhi, ia makin tak suka dengan pria bernamakan Indra itu.
" Aku mau pulang sekarang ma!" ucap Raka.
...ššš...
.
.
Indra
"Brengsek!!!" ia mengumpat seraya memukul setir bundarnya, kesal tiada terkira. Ia masih duduk di dalam mobil, nafasnya memburu. Masih terbakar sisa-sisa emosi.
Ia sendiri yang membuat rumah tangganya hancur, selama ini kemana saja dirinya?.
Melihat tubuh istrinya yang di bopong Abimanyu, melihat anaknya malah berada satu mobil dengan pria lain, dan melihat Andhira yang selalu sibuk dengan ponselnya. Entah mengapa membuat dirinya meradang.
Mungkinkah ia tengah mengalami buncahan penyesalan?
Bukankah ini sudah terlambat?
"Aku harus menemui Renata!"
.
.
Abimanyu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia berniat menemui Wisang.
Jelas ia memerlukan sahabatnya itu saat ini, sepertinya ia akan benar-benar membuat perhitungan dengan Indra.
"Halo dimana kau!" ucapnya melalui sambungan telepon.
"......"
__ADS_1
"Tetaplah disana!"
Tut
.
.
Wisanggeni
Ia tengah menikmati makan siang yang sudah agak terlambat, di sebuah restoran. Kegiatan makannya terinterupsi dengan ponselnya yang menggelepar.
Abimanyu calling
"Ada apa dia menghubungiku?"
Sejurus kemudian ia menggeser tombol hijau, menandakan dia telah menerima panggilan sahabatnya itu.
"Hallo dimana kau?" ia bahkan belum sempat melakukan greeting, namun suara di seberang terlihat menggebu.
"Aku di Restoran X" jawabnya.
"Tetaplah disana!" ucap Abimanyu.
Tut
"Astaga, sopan sekali dia!" Wisang menggelengkan kepalanya, sikap yang aneh.
Ia melanjutkan makan siangnya yang terlambat, dengan slow, sembari menunggu kedatangan sahabatnya itu.
.
.
Glek glek glek
Minuman dingin itu tandas dalam sekali tegukan, kening Wisang sampai menjadi berlipat. Menandakan bila ia tengah heran.
Wisang memindai tampilan Abimanyu. Kaos pollo hitam, celana casual juga sepatu sneaker dan lagi, wajah yang kusut. What the hell?
"Apa yang bisa aku bantu, hm?" Wisang tak bisa berbasa-basi, kedatangan sahabatnya itu jelas serta merta membawa persoalan.
Abimanyu masih terdiam, terlihat menormalkan nafasnya. Begitu juga dengan Wisang, dengan wajah datar masih menunggu jawaban Abimanyu.
"Pecat kepala bagian BCS yang baru!!"
"Sekarang juga!!"
.
__ADS_1
.
.