The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 107. One Step Closer


__ADS_3

Bab 107. One Step Closer


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Biar cinta bergelora di dada, biar cinta memadukan kita..."


( Diambil dari lirik lagu Kahitna~ Cerita Cinta)


.


.


Wisang


Wisang menghela nafasnya, ia memang tak tahu apa-apa soal wanita itu. Ia hanya merasa baru kali ini gelisah karena tangisan seorang gadis muda yang membuatnya penasaran. Detik berikutnya ia mengirimkan pesan kepada Abimanyu.


Gue pulang dulu, jangan enak-enak kan mulu! buruan di halalin.


Ia menatap nanar kamar sekar dengan hati hampa, ia masih belum tahu apa kesalahannya. Ia juga sadar, gadis muda itu mungkin lelah karena beberapa hari ini mengurusi Dhira di RS, Sekar juga adalah wanita yang memiliki tanggung jawab tinggi.


Sahabat Abimanyu itu tak bisa menafikkan perasaannya lagi, bila ia telah jatuh cinta pada gadis itu. Rasa ingin melindungi juga menyelinap di dalam hati dan pikirannya.


Pria itu mengehela nafasnya sekali lagi, sejurus kemudian ia membuka pintu dan melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Melesat menuju rumahnya dengan segala kegundahan.


.


.


Ciuman mereka terlepas karena ponsel Abimanyu bergetar. Membuat wajah Dhira memerah karena malu.


Abimanyu merogoh sakunya, mengambil benda pipih itu. Ia tersenyum. " Si Wisang pamit balik!" ucap Abimanyu.


Dhira tersenyum. " Mas juga pulang kalau gitu, udah sore!" jawab Dhira.


"Kamu ngusir aku?" Abimanyu benar-benar tak mau berpisah dari wanita itu.


"Sabar, semoga urusan kita bisa cepet beres!"


"Biar mas gak rewel begini!" tukas Dhira.


Abimanyu mencium kening Dhira lembut dengan penuh kasih sayang. " Kamu juga istirahat ya, ingat gak usah ngerjain apa-apa dulu. Aku bisa kirimkan pembantu berapapun buat bantu kamu!"


"CK, iya ..udah sana pulang!" Dhira setengah mendorong Abimanyu. Membuat pria itu tergelak.


"Dhir!" ucap Abimanyu.


"Apa?"


"Kangen!!" Abimanyu memasang wajah memelas.


Dhira menggelengkan kepalanya " Belum juga pulang udah bilang gitu, udah ayo sana!"


Abimanyu benar-benar menikmati saat bersama Dhira. Ia seolah tak ingin berpisah barang sedetikpun.


Dhira melambaikan tangannya saat Abimanyu memulai menjalankan mobilnya. Ia tersenyum sendiri demi mengingat tingkah Abimanyu yang manja. Ia merasa seperti anak muda yang termabukkan akan indahnya jatuh cinta.


...šŸšŸšŸ...


Tiga hari berlalu, hari ini adalah hari Sabtu. Seperti biasa siang jelang sore hari ia di bantu Shinta dan Sekar menyiapkan kue untuk mantan mertuanya.


Ya, Raka sebentar lagi akan di jemput Indra untuk menginap di rumah Kakung Joko seperti biasanya.


"Raka makan dulu ya!" ucap Dhira.


"Kalau papa makan disini boleh gak ma?" Raka ingin papanya makan dulu, karena ia tahu bila papanya itu selalu mengajaknya makan saat di perjalanan sebelum sampai dirumah kakungnya, karena papanya belum sempat makan.


Dhira menatap Shinta yang berdiri tak jauh darinya. Shinta mengangguk.


"Boleh, ajak papa makan ya. Mama mau nata kue buat Uti sama Kakung!"

__ADS_1


" Donatnya yang banyak ma, Dhea suka banget sama donat!" Raka antusias saat mengigat wajah adik sepupunya itu makan kue dengan bentuk bulat itu hingga mulutnya muncu- muncu.


Dhira tersenyum, " Beres, Shin bungkus semua donatmu itu!" pinta Dhira pada sahabatnya itu.


"Aman, udah ready!" sahut Shinta.


Sejurus kemudian mobil Indra tiba, Indra biasa menunggu di depan ruko itu. Namun kali ini, Dhira menyongsong kehadiran mantan suaminya itu usai menata kuenya. Ia tak akan bisa menghindari kehadiran Indra dalam hidupnya, meski pria itu bukanlah apa-apa saat ini baginya. Tapi semua itu ia lakukan demi Raka, Raka yang begitu pengertian terhadap dirinya.


"Mas masuk, Raka lagi makan. Kamu sekalian aja makan sama Raka!" Dhira berucap biasa saja.


Indra tertegun menatap Dhira. Apa sudah memang hukum alam, semua yang sudah tidak menjadi milik kita, akan terlihat lebih bagus. Indra menepikan perasaan itu, ia sudah tak berhak lagi kepada mantan istrinya itu.


Dhira terlihat makin cantik saat ini, sejumput rasa bersalah menjalari relung hatinya. Ia ingat dia pernah membuat wanita di hadapannya itu tidak bahagia. Merasa malu meski sudah terlambat.


Dan untuk pertama kalinya, ia berbicara dengan intonasi normal. Tidak seperti pertemuan mereka yang sebelumnya.


"Terimakasih, aku menunggu disini aja!" tolak Indra canggung.


"Tolong mas, Raka mau mas ikut!" Dhira tersenyum. Entah terbuat dari apa hati wanita yang pernah ia khianati itu. Mengingat perlakuan buruknya kepada Dhira, ia seharusnya tak mendapat sapaan seramah ini.


Adalah Raka, bocah itu memang ditakdirkan memiliki kepekaan yang tinggi. Ia bisa menguasai dirinya saat usianya masih begitu beliau. Pembawaannya yang tenang, sikap yang lugas jelas membuat dia patut di acungi jempol.


"Papa, makan dulu pa!" ia menyambut kedatangan papanya yang datang bersama mamanya. Kedua orang tuanya itu berjalan namun ia jelas melihat tembok tebal yang memisahkan mereka. Ia adalah manifestasi positif, dari produk gagalnya rumah tangga.


"Aku tinggal packing dulu ya!" ucap Dhira.


Raka makan dengan lahap dan tersenyum kepada Indra. Andai Indra dulu tak bodoh, dan tak termakan rayuan Renata ia pasti akan pria bahagia saat ini.


Tapi masa lalu tetaplah masa lalu, guru terbaik bagi kita yang mau berbenah. Sekalipun rekam jejak tak akan pernah hilang dan tergantikan, namun ia masih bisa merenda masa depan yang lebih baik.


" Ayo Pa makan yang banyak!" tukas Raka.


Indra menyendokkan makanan itu kedalam mulutnya, rasa makanan yang sama. Makanan yang lezat, yang dulu pernahkah mengisi perutnya setiap hari.


Namun semua sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Ia hanyalah kepingan masa lalu menyedihkan bagi Dhira. Tak memiliki arti lagi.


...šŸšŸšŸ...


"Sekar sama mau keluar sama bapak. Mau bertemu Oma, kamu kalau mau keluar jalan-jalan juga gapapa. Tutup aja kedainya!" Dhira sudah bersiap degan baju putih yang cantik. Rambutnya ia gerai menjuntai kebawah dengan indahnya.


Satu menit kemudian, mobil Abimanyu tiba. " Aku pergi dulu ya, titip Ruko!" Dhira tersenyum seraya pamit kepada Sekar.


"Wah, kamu cantik banget Dhir. Mau ketemu Oma aja, kamu beda banget!" tukas Abimanyu benar-benar terpesona.


Dhira merasa berdandan seperti biasanya, hanya saja ia sedikit memoles wajahnya. Bertemu dengan Oma merupakan momentum membahagiakan baginya.


Dalam mobil tangan Dhira tak henti-hentinya di genggam oleh Abimanyu. Bahkan pria itu menghujani punggung tangan Dhira dengan ciuman, seolah menegaskan jika itu adalah miliknya. " Duh Dhir, aku makin gak rela kalau lihat kamu cantik begini pas diluar. Banyak mata jahat ngelirik kamu!" Abimanyu mengerucutkan bibirnya.


"Lebay deh mas" Dhira merasa Abimanyu sangat berlebihan.


" Loh, kok kita kesini. Bukannya rumah mas ke jalan yang tadi?" Dhira bingung.


"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat!"


Mobil Abimanyu tiba di sebuah tempat dengan menara menjulang tinggi. Abimanyu sore itu ingin mengajak Dhira untuk kesana.


Tempat itu merupakan tempat favorit kedua orang tuanya dulu mengajak Abimanyu untuk melihat hamparan perkotaan semasa ia kecil.


Ia menutup mata Dhira sedari tadi menggunakan kain, " Mas ini kita dimana sih?"


"Sabar, sebentar lagi sampai!"


Mereka sampai di puncak tertinggi menara itu. Dhira belum pernah mendapatkan hal se manis itu. Ia mencoba mengikuti langkah Abimanyu dengan gerakan menuntun tangannya.


"Taraa!" Abimanyu membuka penutup mata Dhira. Wanita itu mengerjapkan matanya, beradaptasi dengan cahaya disana.


Sejurus kemudian ia mengedarkan pandangannya, Dhira takjub akan keindahan kota yang bisa ia lihat dengan mata telanjang dari tempat itu.


.


"Almarhum Bisma Aryasatya, pernah berpesan kepadaku dulu" ucap Abimanyu.


Dhira menatap Abimanyu meminta penjelasan.


"Bisma adalah nama papaku!" Abimanyu menatap hamparan perkotaan yang luas, mirip seperti kerlipan lampu tumbler sore itu.

__ADS_1


Dhira menepikan rambutnya yang tersapu angin, seraya mendengarkan Abimanyu berkata.


" Papa pernah bilang, saat kau berada di ketinggian, kau seolah memandang sekelilingmu itu kecil. Tapi kadang kau lupa, orang yang berada di jauh sana juga menatapmu kecil dari kejauhan!"


Abimanyu menerawang cakrawala yang berwarna Jingga sore itu, andai kedua orang tuanya masih hidup. Sore ini akan menjadi momentum yang istimewa untuk keluarganya.


"Dulu papa sering ngajak aku kesini, papa berpesan jika aku merasa sedih atau merasa bahagia sekalipun aku harus berada disini. Tempat ini mengajarkan kita untuk tidak jumawa akan keadaan kita."


"Tapi satu hal yang penting, aku ingin orang yang aku cintai turut merasakan dan mengetahui tempat peninggalan papa ini!" Abimanyu menatap Dhira lekat


Saat masih tenggelam dalam kekaguman, Abimanyu mengeluarkan sebuah kotak beludru dari saku celananya.


" Dhir, maukah kamu menjadi istriku?" Abimanyu menyodorkan cincin berlian indah kepada Dhira.


Dhira tertegun, tubuhnya mematung. Apakah Abimanyu melamarnya secara independen?


Mereka hening sejenak.


Hanya terdengar suara kibasan baju yang di terpa angin. Dhira tahu selama ini hidup mereka berdua tak mudah, mereka menghadapi ujian dari ganasnya badai kehidupan yang datang silih berganti , dalam hidup mereka masing-masing.


Abimanyu menanti jawaban Dhira. Wanita itu tengah berkaca-kaca. Matanya tergenang air mata, ia benar-benar bahagia. Sangat bahagia.


Terharu akan jalan Tuhan yang tak pernah ia selami, bahwa setiap kejadian yang Tuhan ijinkan terjadi tak lain hanya untuk membawa kebaikan bagi setiap umatnya.


Badai kehidupan yang melanda Dhira tempo hari, seolah sirna dan tergantikan dengan indahnya pelangi yang hadir bersama Abimanyu. Ia benar-benar sangat bahagia. Ia mencintai pria itu, begitu juga dengan Abimanyu.


Dhira mengangguk, ia mengangguk berkali-kali seraya menitikan air mata. Abimanyu mengambil cincin itu kemudian ia sematkan ke jari manis Dhira. Benar-benar pas dan terlihat cantik di jari bersih wanita itu.


Sejurus kemudian, ia memeluk Dhira lalu mencium kening wanita itu dalam. Ia sangat mencintai Dhira.


Dhira menangis bahagia, sejuta sentuhan bergabung setangkup senada, menjelma menjadi kebahagiaan yang tiada terkira.


"Aku mau mas, aku mau jadi istri kamu!" Dhira berucap dengan suara bergetar.



.


.


.


.


.


.


.



.


.


.


.


.


.


Hay semuanya. Kita siap- siap kondangan yuk


Udah pada siap belum 😁😁😁


****Salam hangat dari Mommy****,


terimakasih banyak yang sudah kasih like, komen dan vote.


Mudah-mudahan karya Mommy makin banyak yang baca ya readers.


Salam hangat dari Mommy šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2