
Bab 29. Awal Yang Luar Biasa
.
.
.
...ššš...
"Senangkan saja hidup, meski aral melintang datang tak kenal kasihan. Datang silih berganti, menempa habis habisan batas kesabaran".
.
.
.
Shinta hari itu mengantarkan Bu Kartika, ia yang berniat ingin main ke tempat Dhira tidak mengetahui bila sahabatnya itu sudah berpindah ke ruko.
"Maaf Shin, kemaren itu acara kecil kecilan aja"
Dhira merayu Shinta yang tengah merajuk, karena tak diberitahu tentang kepindahannya.
"Ya udah lah, tapi aku turut seneng Lo"
"Semoga ini jalan kamu untuk sukses Dhir" ucap Shinta.
"Pumpung ada Shinta, bantuin sekali aja yuk"
Bu Kartika yang lewat di depan mereka berdua berseloroh.
Dengan senang hati Shinta menerima ajakan Bu Kartika, lagipula hari ini suaminya berdinas pagi. Jelasnya akan pulang agak malam.
Bu Kartika sudah memasak beberapa olahan daging dan ikan dirumahnya. Ia belum berani memasak banyak, mengingat baru buka.
Hanya kue mereka selalu membuat banyak, karena tak pernah sepi pemesan.
Sehari seutas benang, setahun selembar kain.
Peribahasa itu nampak bisa ia jadikan motivasi, bahwa setiap usaha pasti akan membuahkan hasil seiring berjalannya waktu.
Mereka berjibaku dengan adonan, ovenan, juga mixer. Diselingi beberapa candaan, yang membuat waktu tak terasa bergulir.
"Makan dulu yuk, kita istirahat nanti lanjut" ucap Dhira.
"Shalat dulu aja" jawab Shinta.
.
.
Usai makan dan shalat, mereka kini tengah beristirahat. Seraya membuka ponselnya masing masing.
Simbiosis mutualisme, Dhira merasa terbantu dan Shinta juga kini tak merasa bosan.
"Aku jadi pingin kerja sama kamu deh Dhir" ucap Shinta.
Ya, Shinta berfikir menyenangkan juga memiliki kegiatan.
__ADS_1
"Jangan!, aku belum bisa gaji orang"
"Issshhh, dari pada aku bosan dirumah sendiri" Shinta memanyunkan bibirnya.
"Gak di gaji juga ga apa apa, yang penting aku ada teman"
Dhira mana mungkin bisa menggaji Shinta, apa yang ia miliki saat ini saja atas bantuan Bastian.
Dhira menatap wajah Shinta, sahabatnya itu selain menjadi ibu rumah tangga murni, ia juga belum di karuniai momongan.
"Ya Dhir, aku biar ada kegiatan" Shinta nampak gencar memohon, dengan wajah memelas.
Dhira menatap ke arah Bu Kartika, meminta persetujuan.
Bu Kartika mengangguk, tanda menyetujui.
"Baiklah"
.
.
Keputusan untuk mengijinkan Shinta membantunya rupanya tepat.
Jelang sore hampir petang banyak sekali mobil dan motor yang menyerbu kedai baru Dhira.
Ya jam itu adalah jam pulang kantor.
"Dhir, kenapa kayak orang demo" ucap Bu Kartika , yang melihat banyak sekali mobil dan motor yang berbelok ke kedai mereka.
Hasil masakan beserta kue kue disana ludes dalam sekejap.
"Ini kembalinya, terimakasih ya" ucap Dhira yang tengah meladeni pembayaran.
"Risoles sama pastelnya juga mbak" ucap seorang wanita dengan seragam kantoran, yang membungkus beberapa kue.
"Ini aja mbak ada lagi?" tanya Shinta yang meladeni para pembeli.
Hampir dua jam mereka berjibaku dengan ramainya pembeli.
Jelang magrib, keriuhan itu baru terurai.
Menyisakan tubuh tubuh yang letih, bahkan kipas angin disana seolah tiada berguna. Terbukti dari keringat yang masih saja timbul.
"Aku mau mandi dulu" ucap Dhira.
Selepas shalat Magrib mereka berkumpul di kursi, yang berada di lantai dasar.
"Gila Dhir, baru juga buka udah rame gini"
"Bastian pinter banget cari lokasi, di sebelah perempatan, yang semua orang juga karyawan bisa lihat dan mampir, pas mereka balik ngantor" Shinta benar benar takjub.
"Aku juga gak ngerti Shin, padahal aku cuma nitipin tiga kotak kue sama Bastian. Tapi yang datang kayaknya satu kantor deh"
Dhira berpikir, Bastian pasti sudah mempromosikan usahanya itu.
Bu Kartika juga merasa senang, ini adalah awal yang baik. Semoga konsisten dan membuat usaha putrinya itu makin berkembang.
.
__ADS_1
.
Devan
Ia turut memantau pergerakan bawahannya, yang terlihat menyerbu kedai milik Andhira.
"Sebenarnya siapa teman Tuan Abimanyu" ia berucap sendiri, dengan posisi masih di depan kemudi.
Ia menepikan mobilnya di tepi jalan, membuka kaca mobilnya sedikit guna memperjelas pandangannya.
"Pak, ini" ucap seorang karyawan bertubuh gemuk, yang berhasil mengambil kue kue disana terlebih dahulu.
Ia bahkan juga mendapat mandat, untuk turut membeli makanan itu. Sesuai perintah Abimanyu.
Tentu saja ia tak mau bersusah-susah untuk antri, ia bisa menyuruh orang lain untuk melaksanakannya.
Bosnya itu sudah benar benar gila!!!.
"Terimakasih" ucap Devan kepada salah satu bawahannya.
Ia membuka kotak putih bertuliskan "Dapur Isun" dengan gambar karikatur koki wanita, yang membawa nampan.
Dalam satu box rupanya terdiri dari banyak jenis kue.
"Pasti si gendut itu yang memilihkan" gumamnya.
Berisikan pastel, lumpia, juga kue yang di bungkus daun pisang yang ia sendri tidak tahu apa namanya, juga ada beberapa kue lain lagi.
Total ada 6 jenis kue.
"Astaga, ini enak sekali" mata Devan berbinar, begitu ia menggigit satu lumpia basah itu.
Secepat kilat ia menghabiskan kue lezat itu.
"Ini lebih enak dari yang di resto milik pak Abimanyu" ucapnya lagi.
Tanpa terasa ia yang tengah lapar, bertepatan dengan dia yang habis pulang dari kantor, menghabiskan seluruh kue kue itu hingga tandas tak bersisa.
"Astaga, aku lupa harus memfoto makanan ini" sesal Devan yang lupa akan perintah Abimanyu.
"Kau harus foto dan kirim ke aku, sebagai bukti jika kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik!!"
"Sepertinya aku dalam masalah"
.
.
.
.
.
.
Hay Readers, gimana ceritanya menurut kalian.
Tinggalkan jejak dengan beri like and comment.
__ADS_1
Biar author makin semangat berkarya š¤.