
Bab 90. Tak sadarkan diri
.
.
.
...ššš...
"Hanya diri sendiri, dan tak mungkin orang lain akan mengerti"
( Diambil dari lirik lagu Last child ~ Diary Depresiku)
.
.
Indra yang dalam perjalanan bersama Ayahnya, masih diam seribu bahasa. Sampai akhirnya, suara pak Joko memecah keheningan.
"Ayah menyesal karena mengapa tak sedari dulu tak mencari tahu siapa orang tua mamanya Raka" ucap pak Joko, masih menatap ke jalanan.
Indra masih diam, ia bingung mau menyahuti dengan jawaban apa.
"Aku berharap Kartika mau sedikit membuka hatinya, dan mau menyadari jika memaksakan kehendaknya, hanya akan membuat hidup anaknya tertekan."
"Tapi andai dulu Dhira mau menuruti ibunya, mungkin Dhira tidak akan terluka karena ku Yah" sahut Indra akhirnya.
"Belum tentu!" tukas Pak Joko.
Suasana senyap.
"Selama nyawa masih melekat di badan, manusia tak akan lepas dari namanya ujian hidup. Jika tidak denganmu, bisa jadi ia Dhira akan mendapat ujian lain. Itu pasti."
"Lalu, bagiamana dengan Abimanyu?" Indra tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
"Abimanyu adalah pria yang pernah gagal..."
"Dhira juga sama" Ucapan ayahnya itu , merobek harga dirinya. Dia memang looser!
"seseorang yang sama-sama mengalami kegagalan pasti akan saling berkaca dari rekam jejak. Saling melengkapi, saling berbenah."
"Terlebih saling menyempurnakan!"
Suasana kembali hening.
"Sementara Pria yang melamar Dhira adalah seorang perjaka, kemungkinan besar Dhira lah yang akan ngemong nantinya."
Indra tertegun, sejenak ia merasa konyol karena membicarakan wanita yang sudah bukan mejadi bagian keluarga mereka. Sedikit nyeri, tapi ia menyadarinya bila ia telah banyak berbuat salah kepada mantan istrinya itu. Dan jika suatu hari nanti, istrinya mendapatkan kebahagiaan. Ia adalah orang pertama yang akan memberikan selamat.
Indra hanyalah manusia biasa, ia bukan makhluk suci yang tak pernah di perbudak oleh dosa. Sekilas ia menjadi teringat dengan Anggi. Wanita itu seolah hilang di telan bumi, padahal ia sudah berkali- kali datang ke club' untuk bertemu.
.
.
Hari berganti, menyisakan 6 hari lagi. Semalam mereka membatalkan acara makan malam di ruko dengan Arya, lantaran keadaan yang tak kondusif. Usai di satroni pak Joko, Bu Kartika menjadi lebih murung.
Bu Kartika masih menginap di Ruko Dhira," Uti, Uti sarapan dulu ya. Ini Sekar bawakan urap kesukaan Uti" Sekar memanggil nama Bu Kartika seperti Raka memanggil wanita tua itu.
"Makasih Sekar. Bu Dhira mana?" tanya Bu Kartika, ia masih berada di kamar Dhira.
" Ibu dibawah, masuk angin kayaknya ti, semalam minta saya buat kerokin dia. Gak enak badan dari kemaren lusa katanya" jawab Sekar.
Bu Kartika tertegun, benarkah jika putrinya itu tertekan. Dhira adalah wanita kuat yang jarang sakit.
Semalam ia memang melihat Dhira yang kelingsekan karena tak bisa tidur. Bolak balik ke kamar mandi. Bu Kartika berniat menemui anaknya setelah ini
.
__ADS_1
.
Di dalam kamar mandi Dhira mual, " beneran masuk angin ini aku. Mana kemaren telat makan" ia bermonolog dalam keadaan masih di toilet bawah.
Ia mengecek pembalutnya, darah di benda putih itu hanya sedikit. Ia yakin, stress membuat haidnya tidak lancar. Tekanan dan persolan yang silih berganti, membuat Dhira mumet. Dan itu pasti memicu ketidaklancaran haidnya.
Ia membuka ponselnya, pesan dari Arya ada banyak sekali yang masuk. Namun tak satupun yang menarik perhatian Dhira. Ia menyenderkan tubuhnya ke dinding kamar mandi itu, sejenak ia merasa kasihan kepada Arya. Dia adalah pria baik-baik. Tapi jujur tak ada cinta darinya, hanya perasaan ingin melegakan hati ibunya.
Tok Tok Tok!
"Dhir!!" panggil Shinta.
"Dhir, kamu kok lama banget, elu gak kenapa-kenapa kan?" suara Shinta terlihat panik.
Ceklek
Dhira membuka pintu berwarna hijau itu, membuat Shinta terlonjak. " CK, ngapain aja sih. Lama banget!" Shinta memang tengah khawatir.
"Enggak ada , biasa " Dhira malah nyengir.
"Kirain!" sahut Shinta, tentu saja Shinta berucap seperti itu. Ia baru mendapat cerita dari Sekar, bila kemaren ada kejadian besar disana.
"Dhir!"
"Emmmm" jawab Dhira, tengah duduk di meja makan.
"Gue udah tahu semuanya dari Sekar!" ucap Shinta.
Dhira memasang wajah biasa saja, tentu saja Sekar tahu. Ruko ini ada banyak manusia isinya, dan mereka berdebat bukan dalam mode silent.
" Gue gak nyangka, mantan mertua elu ternyata...." Shinta mengerucutkan bibirnya.
"Pantas aja, ibu elu mati-matian nolak Indra dulu. Kok ga ada bilang ke kamu ya Dhir?"
Shinta terus saja nyerocos." Terus gimana setelah ini?"
"Gimana apanya?" jawab Dhira enteng. Meski hatinya penuh beban, namun Dhira tak mau terlalu menunjukkan.
Sejenak suasana senyap, Dhira terlihat meminum segelas air putih di hadapannya.
"Ibuk syok sampai sekarang. Tapi, yang jelas beliau tetap mau aku nikah sama Arya.... Bisa apa aku Shin, aku gak mau durhaka buat kedua kalinya. Aku terima nasibku yang memang begini, kalau gak cocok tinggal cerai aja. Jujur Shin, aku lelah. Pikiran, tubuhku letih. Aku bahkan udah gak punya daya lagi, untuk sekedar memohon kepada ibu. Aku gak bisa kalau ancaman ibuk, menyangkut nyawa dia. Gak bisa Shin" Dhira memandang nyalang kaca jendela yang terbuka, ia sudah kehilangan kemudi pada dirinya sendiri.
Shinta yang mendengar ucapan Dhira yang panjang lebar, sungguh merasa ikut iba. Arya memang bukan pria buruk, tapi hati mengenal kepedihannya sendiri bukan.
"Dhir, kamu kok pucet banget?" Shinta memperhatikan wajah Dhira.
"Aku sebenarnya gak enak badan sedari kemaren lusa Shin"
.
.
Hari berganti degan cepat, menyisakan tiga hari jelang pernikahan. Segala persiapan sudah di lakukan, proses pendaftaran juga sudah beres. Tinggal menunggu waktu.
Pagi ini Dhira tak bangun dari tidurnya, ia sakit. " Ma, kok mama panas" ucap Raka usai menempelkan punggung tangannya, ke dahi Dhira.
Bocah itu khawatir karena tak biasanya Dhira tidur di pagi hari, apalagi saat ia hendak berangkat. Ia tengah menunggu Jodhi. Ya, hari ini Raka akan berangkat bersama sahabatnya itu.
"Mama kecapekan aja. Udah minum obat kok, mama mau tidur bentar ya" suara Dhira terdengar lemah, auranya juga suram.
Raka memandang wajah Dhira yang pucat, bibir pink milik mamanya kini berubah warna menjadi warna lain. Warna yang tak memiliki rona. Bu Kartika sudah pulang kerumahnya bersama Bastian kemaren lusa.
Bu Kartika sempat membuatkan jamu, ibunya Dhira itu berkata pasti Dhira terlalu lelah karena persiapan ini itu. Lebih menyarankan untuk banyak istirahat saja, mengingat pernikahan akan berlangsung, tak kurang dari tiga hari lagi.
Namun sikap ibunya itu kini lebih diam, Dhira tak mau terlalu banyak bertanya. Ia benar-benar pasrah. Yang penting orang tuanya satu-satunya itu bisa merasakan kelegaan dan dalam kondisi sehat. Persetan untuk dirinya sendiri , begitu pikirnya.
Bastian rupanya mendapatkan pesan dari Raka, jika mamanya sakit. Namun Bastian yang sudah sering ijin, merasa tak enak hati bila hari ini harus ijin lagi. Jelang akhir bulan banyak sekali report, yang musti ia kerjakan.
Om nanti sore baru bisa kesana
__ADS_1
Raka membaca pesan itu dengan murung, kini ia harus meminta bantuan siapa lagi. Jika Abimanyu, apakah boleh?. Jika dokter itu, ah ...dia kan sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tak melibatkan dirinya, pada pria itu.
Dhira bolak balik ke kamar mandi karena perutnya seperti sedang di aduk. " Ma.." Raka panik.
"Bukakan pintunya nak!" suara Dhira lebih terdengar seperti gumaman.
"Mbak Sekar, Tante Shinta!!!" Teriak Raka yang panik.
Raka yang sudah mengenakan seragam sekolah itu, kini memegangi leher mamanya. Memijat tengkuk itu, berharap bisa membantu proses muntah ibunya lebih lancar.
Dua wanita pegawai Dapur Isun itu, berlari tunggang langgang karena teriakan Raka. Nafas mereka terengah-engah.
"Ada apa ka?" Shinta panik.
"Mama muntah, badannya panas dari semalam. Kita ke dokter ya Tante?" Raka turut panik, ia belum pernah melihat mamanya sakit seperti itu.
Dengan cepat mereka membawa Dhira yang sudah lemas, susah payah karena harus memapah Dhira untuk menuruni tangga. Rak terlihat kembali ke kamar Dhira, entah apa yang di ambil bocah itu.
"Astaga Dhir, kamu sakit apa sampai lemes begini?" gumam Shinta.
"Bu, Bu Dhira tahan dulu ya. Ki cegat taksi aja ya Mbak" ucap Sekar, ia juga panik.
Namun beruntung, rupanya Jodhi sudah datang. Raka sudah janjian akan berangkat bareng Jodhi, dengan imbalan sepaket bekal lengkap, hasil masakan Dapur Isun.
Rupanya Rania membawa mobilnya sendiri. Ya, meski ia tahu bila Dhira sudah dilamar orang lain, namun Raka yang menjadi sahabat Jodhi, sudah masuk urusan lain. Membuat Rania tak sungkan untuk datang kesana. Sementara Agus, hari ini mengantar Oma Regina, untuk pergi kerumah temannya sesama manula.
"Loh mbak, ada apa?" Rania panik, melihat dua wanita yang susah payah memapah Dhira yang sudah lemas.
Kedua wanita itu saling tatap, mereka belum mengenal siapa Rania.
"Saya mamanya Jodhi, temannya Raka" Rania sampai tergagap, saat menjawab karena ia juga panik.
"Tante?" Raka muncul dari belakang, ia rupanya membawakan tas Dhira yang biasa dipakai saat bepergian, berisikan sejumlah uang, kartu ATM dan ponsel.
"Tan, mama sakit dari kemaren. Semalam demam, terus barusan muntah banyak" Raka sudah berwajah pias.
Namun sejurus kemudian..
Brukkkk
Dhira beringsut ke lantai, ia pingsan.
"Mama!!"
"Dhira!!"
"Bu!!"
"Tante!!"
"Mbak Dhira!!"
Semua manusia disana terlonjak kaget, seraya menyebutkan nama si pemilik tubuh yang tengah pingsan.
"Ayo kita rumah sakit saja, cepat!" ketidakhadiran laki-laki disana, membaut mereka agak kesulitan. Bibit manusia yang tak sadarkan diri, pasti bertambah dua kali lipat beratnya.
Jodhi yang asyik main ponsel kini langsung ikut membantu membukakan pintu.
"Mbak Shinta ikut ya, saya tak beresin Ruko dulu!" ucap Sekar.
"Ya udah, kamu nanti nyusul pakai apa?" tanya Shinta kawatir.
"Gampang mbak nanti, udah cepat mbak. Kasian Bu Dhira!"
Dengan terburu-buru dan panik, mereka membawa Dhira ke rumah sakit.
.
.
__ADS_1
.