
Bab 103. Kemarahan Wisang
.
.
.
...ššš...
....
" Kamu?" demi apapun di dunia ini, Sekar terperanjat melihat Wisnu. Mantan kekasihnya yang tak terima ia putuskan. Sekar berpisah dengan Wisnu karena pria itu sering berlaku kasar terhadap dirinya. Lebih tepatnya Sekar melarikan diri.
Nasib baik masih berpihak kepadanya, lantaran setelah ia di PHK dari tempat kerjanya, Sekar mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik. Meski ia nyambi sebagai assiten rumah tangga untuk Raka dan Dhira.
Itulah sebabnya ia lebih senang jika Dhira memintanya untuk menginap di Ruko. Ia bisa bersembunyi dari kejaran Wisnu.
Sekar yang selama ini kost dan menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja keras, sering dimintai uang oleh Wisnu. Pria itu berdalih, jika Sekar harus berbalas budi karena Wisnu lah yang membawa Sekar ke kota untuk bekerja.
Wisnu adalah pria pemabuk, Sekar dulu tak mengetahui tabiat asli pemuda berkulit sawo matang itu. Yang dia tahu, Wisnu sukses di kota. Terbujuk rayuan gombal Wisnu, Sekar akhirnya dekat dan mau ikut Wisnu dengan iming-iming kerja kantoran. Namun naas, ia malah menjadi mesin uang bagi Wisnu dnegan berbagai alasan.
Mulai dari Wisnu yang terkena masalah, hingga ia menipu Sekar dan berdalih sakit. Sekar yang memiliki sikap mudah iba itupun, acapkali dibodohi oleh Wisnu.
Ya, Sekar adalah yatim piatu tak memiliki saudara. Ia seperti Hatchi, tokoh di serial kartun karakter lebah yang hidup sebatang kara. Wisnu berasal dari kampung yang sama, pernah membayari kost Sekar selama sebulan, sudah menganggap wanita itu memiliki hutang budi seumur hidup.
"Wah wah, makin cantik kamu sekarang. Udah gak ngekos tinggal dimana kamu sekarang. Jadi purel kamu?" ucap Wisnu.
Sekar diam tak menanggapi, ia sudah terlalu lelah menjadi budak Wisnu. Ia kerap di ancam akan dibunuh jika tak memenuhi keinginannya. Tak ayal, Sekar yang tak memiliki pelindung itu, hanya bisa menurut saja.
"Astaga, ada apa ini mbak?" ucap pegawai rumah makan itu.
"Maaf mbak, tadi saya gak sengaja!" tukas Sekar.
Saat tangan Sekar memunguti pecahan beling dan hendak membereskan kekacauan yang ia buat, Wisnu menginjak jemari Sekar.
__ADS_1
"Aaaarrggggg!!!" rintih Sekar.
"Sakit Wisnu!!"
"Ayo ikut, kamu datang kesini sama aku. Kamu juga harus pulang sama aku!!"
.
.
Wisang sebenarnya hanya ingin Sekar jauh dari sana, agar dia bisa mengamati wajah gadis itu. Sekar bukanlah wanita aktif seperti wanita yang biasa ia kencani dan diajak tidur untuk memuaskan hasratnya. Sekar adalah wanita pasif yang menggemaskan.
Dia gila, benar- benar gila. Ia pria berusia 43 tahun dan Sekar berusia 25 tahun. Tidak masalah pikirnya. Jika Abimanyu nyaman degan janda beranak satu namun cantik, nampaknya Wisang mulai nyaman dengan gadis gampang merajuk itu. Ciuman konsonan dari Sekar tempo hari, agaknya telah menjadi cikal bakal rasa yang tak bisa di jelaskan di hati Wisang.
Namun saat matanya tengah menikmati wajah manis Sekar, mendadak darahnya seolah mendidih. Semua orang disana menatap ke arah Sekar, dengan piring yang terjatuh ke lantai. Kacau balau. Ia seolah tak terima dengan apa yang ia lihat.
Wisang seketika naik pitam, begitu melihat seorang pria dengan tatapan mengintimidasi menginjak jemari lemah Sekar.
Tanpa menunggu lagi, Wisang segera melesat menuju tempat Sekar.
"Singkirkan kaki kotormu brengsek!!" Wisang mendorong tubuh Wisnu hingga membuat pria itu terhuyung kebelakang.
Wisnu menatap tajam Wisang. " Siapa lu ikut campur masalah gue!" Wisnu berang, ia merasa harga dirinya di tantang. Ia berbicara dengan posisi masih terduduk di lantai.
Sekar yang merasa tangannya telah aman, kini beringsut mundur dan menjauh dari dua orang pria di depannya dengan menahan sakit di jemarinya.
Para pengunjung mulai berdiri dan ikut tegang, para pelayan berusia remaja disana turut panik. Telah terjadi ketegangan disana.
" Gak penting elu tahu siapa gue. Tapi dengan menginjakkan kaki kotor elu ke tangan wanita yang berharga seperti dia, sama aja elu udah membuat urusan sama gue!" tukas Wisang.
Wisnu tertawa merendahkan," Oh, jadi elu pacarnya. Selera elu sekarang om- om ya!" Wisnu menatap Sekar yang berwajah pias.
"Bacot lu!!" Wisang tak sabar.
Bought
__ADS_1
Bought
Wisang yang melihat wajah kesakitan Sekar saat berada di bawah injakan pria itu, seketika tak tahan dengan pria banyak bacot di depannya itu. Ia meninju rahang Wisnu dua kali, membuat Wisnu terjerembab ke lantai.
Semua pengunjung disana histeris melihat keributan, anak-anak mendadak pindah ke gendongan orang tua mereka. Sekar panik, mengapa dalam sekejap suasananya berubah menjadi amburadul begini.
"Anjing emang elu, gak ada otak emang lu. Dia seorang wanita, brengsek!!" maki Wisang yang terus menghujani Wisnu dengan bogem mentah.
"Sudah Tuan, sudah!!!" ucap beberapa orang pria yang juga tengah makan disana, mereka melerai perkelahian itu. Melihat Wisang yang memberikan tinju membabi-buta, membuat para pengunjung segera ambil tindakan sebelum Wisnu mati konyol.
Sekar benar-benar tak menyangka, pria yang biasa berkelakar dengannya itu kini menjelma menjadi pria sadis. Ia memperhatikan otot-otot yang membesar di lengan Wisang saat melayangkan tinju ke arah Wisnu.
Wajah Wisang memerah, rahangnya mengeras, nafasnya memburu.
Wisnu sama sekali tak bisa melakukan perlawanan, pria itu jelas kalah tenaga. Wisang adalah pria yang tengah kuat-kuatnya di usianya yang matang. Sementara Wisnu hanyalah pria yang sepadan dengan Sekar. Namun unggul dengan mulut yang banyak cing-cong.
Wisang terlihat mengatur nafasnya yang memburu usai di lerai oleh beberapa orang disana. Sejurus kemudian ia membuka dompetnya, ia mengeluarkan pecahan ratusan ribu dalam jumlah yang banyak.
"Terima ini, anggap saja sebagai ganti rugi karena pacarku menumpahkan sepiring nasi!!" Wisang berang bukan main, ia meletakkan segepok uang tebal itu ke atas meja kasir di sebelahnya.
Sekar yang mendengar Wisang berucap seketika terperanjat, bagaimana bisa pria itu memproklamirkan diri sebagai kekasihnya. Membuat Wisnu menatap tajam.
"Ayo kita pergi!!" Wisang menggeret tangan Sekar, wanita itu masih berlinang air mata. Ia berjalan sambil menatap Wisnu yang juga menatapnya tajam.
Rahang Wisnu mengeras dengan wajah benjut disana sini. " Apa kalian lihat-lihat!" Wisnu memarahi beberapa orang yang masih bergerombol memandanginya. Sejurus kemudian ia pergi dari rumah makan Padang itu.
Ia menatap tajam ke arah Wisang yang membukakan pintu mobil untuk Sekar.
"Awas kalian!!" Wisnu tak terima dengan perlakuan Wisang. Meski ia belum tahu siapa pria yang mengaku sebagai pacar dari Sekar itu, namun ia berniat akan membuat perhitungan dengan dua orang itu di lain hari.
.
.
.
__ADS_1
.
.