
Bab 246. Satu lagi rasa syukur
.
.
.
...ššš...
" Ayah, dalam hening sepi kurindu...."
( Ebiet G Ade)
.
.
Sukoco
Ia tengah sibuk mengunyah kue dengan cita rasa Mak Nyoss itu, saat Shinta memberinya perintah untuk membuka pintu, karena dentang bel yang cukup gencar.
"Mbak, minta tolong bukain pintu ya, itu mas Danan kayaknya!" ucap majikannya itu seraya sibuk memotong lapis.
Dengan mulut masih sedikit mengunyah sisa makanan itu, ia berjalan ke arah depan untuk membuka pintu.
Ceklek
Yang terngiang-ngiang di otak adalah wajah Danan , namun yang datang adalah pria lain. Seorang pria tua dengan rambut beruban dan wajah sayu.
" Maaf Pak, Bapak siapa?" ucapnya bertanya.
" Saya Rudi, Bapaknya Shinta, apa benar ini rumahnya Shinta? . Bilang saya mau ketemu!"
Seketika membuat Sukoco menunduk hormat. Lagipula ia memang belum pernah bertemu orang tua majikannya itu. Meski ragu, ia lantas mengijinkan pria tua itu masuk.
"Halo Shinta apa kabar?" ucap pria itu sesaat setelah ia menutup pintu rumahnya, di detik berikutnya ia melihat mata majikannya membulat.
Benar-benar terkejut.
.
.
Shinta
Ia bahkan meminta resep lapis legit kepada Dhira, agar Danan bisa mencicipi kue itu dirumahnya. Meski ia tahu, Danan bisa membeli apapun diluar sana jika pria itu mau. Kantong tebalnya jelas tak diragukan lagi.
Namun, bagi Shinta membuat makanan atau memasak juga merupakan bentuk kasih kudus kita kepada orang yang spesial.
Dalam sekejap, matanya membulat sempurna demi melihat orang yang kini berada di depannya, menyebut namanya.
"Halo Shinta apa kabar?" suara yang sudah sangat lama tidak ia kenal. Suara yang seolah-olah tidak akan pernah ia dengar lagi. Bapaknya.
Matanya mendadak memanas, tubuhnya juga mendadak merasa bergetar. " Bapak?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Ia langsung meninggalkan segala perkakas yang ia geluti, lalu berlari menuju tempat Bapaknya berdiri.
" Bapak!" ia langsung menubruk tubuh Bapaknya yang sedikit kurus. Memeluknya erat.
" Bapak tahu rumah Shinta dari mana? Shinta kira...!" Shinta menangis.
.
.
Orang tua Shinta sudah bercerai lama. Sebab musababnya ialah, ekonomi. Ibunya lantas menikah dengan orang lain. Dan saat ini memiliki anak yang masih sekolah.
Di usianya yang sudah berumur, ibunya itu malah harus mengurus anak lagi. Sempat datang waktu Rangga meninggal, setelah itu ia kembali tak saling memberi kabar.
Memang begitu adanya. Terlalu rumit untuk sekedar di ceritakan.
Shinta merasa seorang diri sejak lama. Makanya, ia merasa sangat beruntung memiliki Rangga yang mau menerima ia dengan segala kebobrokan keluarganya.
" Bapak tanya dari tetangga kita dulu, baru tahu kalau suami kamu sudah meninggal. Maafkan Bapak Shin, selama ini...."
Penyesalan nampak jelas di raut wajah tua bapaknya. Membuat Shinta menangis. Ia menangis karena melihat keadaan fisik bapaknya. Dulu yang ia tahu, bapaknya juga sudah menikah lagi.
" Sudah, ayo pak duduk dulu. Mbak Suko buatkan teh ya!" ucapnya sembari menyusut air mata.
Mereka dahulu memang keluarga sederhana. Shinta sebenarnya hanyalah korban dari broken home, yang untungnya tak terseret arus kehidupan liar.
" Bapak turut menyesal Nduk, enggak tahu kalau kamu sekarang seperti ini!" ucap Rudi dengan wajah muram.
Shinta masih tak percaya dengan orang yang bahkan tidak akan pernah bisa ia harapkan kedatangannya itu. " Bapak kesini sama siapa tadi?" wanita itu iba menatap kondisi Bapaknya.
.
.
Rudi
Ia adalah Bapak kandung Shinta yang usianya jelas sudah berumur. Bercerai dari ibunya Shinta sudah lama. Ia pasrah, karena hidupnya yang dalam belenggu ekonomi yang tak baik-baik saja memang kerap menguji kaum hawa.
Sempat menikah namun gagal lagi, dari situ bisa ia simpulkan bila wanita benar-benar di uji saat pria tak memiliki apapun.
Tak apa. Ia terima dengan segenap hati. Ia menang di takdirkan hidup seperti itu. Sudah jalannya, sudah nasibnya.
Shinta dibawa ibunya, namun tak di nyana istrinya itu menikah lagi. Saling berkabar dengan Shinta meski tak serumah.
Beberapa tahun kemudian, kabar angin mengatakan bila Shinta bekerja dan tak ikut ibunya lagi. Hingga akhirnya, ia dicari oleh Shinta karena ia harus bertindak sebagai wali pernikahan putrinya itu dengan pria mapan.
Senang? sudah pasti. Namun semua itu tak bertahan lama. Sebab Rudi harus bekerja dan kerap berpindah.
Hingga beberapa tahun, ia kehilangan jejak anaknya dan tak mengetahui kabar apapun, karena ia minder dengan keluarga besan nya yang seorang purnawirawan TNI.
Puncaknya adalah saat ia membaca berita-berita media massa, di sebuah muatan surat kabar terbaru, ia membaca berita tentang kecelakaan.
Ia tak yakin apakah naman dalam koran itu adalah nama anaknya. Banyak yang bernama Rangga Dirgantara pikirnya.
Lima bulan berikutnya, tak sengaja ia melihat koran dengan berita yang sama. Disana terlihat jelas foto Shinta yang termuat dalam surat kabar itu. Kini Rudi yakin, jika Shinta yang ada di berita itu adalah Shinta anaknya.
__ADS_1
Sejenak diliputi penyesalan. Kini jelas anaknya itu seorang diri, merasa masih memiliki tanggungjawab. Ia lantas nekat mencari tahu alamat rumah Shinta.
Berbekal info dari koran dan juga beberapa orang, ia nekat mencari rumah anaknya. Merasa menjadi bapak yang kurang berguna, ia ingin datang menemui anaknya.
.
.
" Apa ibumu juga tahu kematian suamimu?" tanya Rudi usai menyesap teh nya.
Shinta mengangguk " Datang Pak, tapi gak nginep!"
Rudi mengangguk, pria itu terlihat kurus dan tak terawat. " Bapak minta maaf, selama ini jadi Bapak gak berguna buat kamu. Sekarang kamu jadi sendiri begini , bapak malah gak bisa bantu apa-apa!"
Mata Shinta memanas. Hendak meluncurkan cairan asin.
" Bapak ada punya rumah kecil sendiri Nduk, bisa kita tinggali berdua nanti!" ucapnya dengan wajah sendu.
" Ini rumah mendiang suami kamu. Kalau mau diminta keluarganya, kamu bisa ikut bapak. Seadanya tapi masih bisa buat berteduh!" ucapnya lagi. Membuat Shinta kini benar-benar meluncurkan air matanya.
Kini Shinta tahu, rupanya bapaknya itu mengkhawatirkan dirinya. Dalam benak Rudi, Shinta kesana ikut suaminya, ia pikir keluarga almarhum suaminya akan mengambil semua peninggalan Rangga.
Hal yang wajar, Shinta bahkan terharu akan hal itu. Bukti nyata sisa kasih yang ingin Rudi tunjukkan. Kasih yang dulu mungkin tak bisa ia berikan.
Sejenak rasa syukur kembali menyelinap di hati Shinta. Usai mendapat Danan dan keluarganya yang begitu baik, kini Tuhan masih berbaik hati untuk menggerakkan hati bapaknya dan mempertemukan mereka kembali.
Sungguh, Shinta pikir ia tak akan berjumpa kembali degan bapaknya. Mengingat masa lalu rumit keluarganya dulu, begitu terasa membuat hatinya pedih.
" Pak!" Shinta memegang tangan Rudi yang lekas keriput.
" Bapak dari dulu malu Nduk, mertua kamu orang berada. Sementara bapak sama ibu kamu begitu, gak punya apa-apa!"
" Malah tercerai berai, gak ada yang bisa di banggakan!" ucapnya muram. Mengakui keadaan yang ada.
Shinta menangis, padahal Rangga dan pak Ali tidak pernah membahas hal itu. Bahkan, ia ingat bila papa mertuanya itu pernah bicara soal rumah dan mobil yang masih ada. Mereka melimpahkan semua itu, kepada Shinta.
" Pak, Bapak gak perlu khawatir. Aku seneng bapak mau cari Shinta. Shinta pikir bapak udah pergi ke luar kota pak!" tubuh wanita itu bergetar. Mengapa waktu kerap mempermainkan hidupnya.
" Tapi Bapak harus tahu...."
Shinta dengan tak tanggung-tanggung menceritakan tentang keluarga mertuanya, juga tentang hidupnya. Semuanya ia bagi hingga tak tersisa.
Rudi tertegun mendengar hal itu. Apakah itu berarti dirinya selama ini tak becus untuk menjadi figur Bapak yang baik?
" Maafin Bapak Nduk!" Rudi memeluk anaknya, pria itu menitikan air matanya. Mata sayu nan menyiratkan usia yang tak muda itu, kini larut dalam kesedihan. Pun dengan Shinta.
Anak dan Bapak itu, larut dalam tangis haru yang bercampur kebahagiaan karena bisa bersua kembali.
" Shinta i'm com....." Ucap Danan yang membuka pintu tanpa mengetuk. Mata Danan membulat saat melihat Shinta yang di peluk oleh seorang pria.
.
.
.
__ADS_1