The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 242. Freddy's Trap


__ADS_3

Bab 242. Freddy's Trap


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Seribu sesal di depan mata, seperti menjelma waktu aku tertawa. Kala memberimu dosa..!"


( Diambil dari lirik lagu Iwan Fals ~ Yang terlupakan)


.


.


Rania


Hatinya benar-benar dongkol, apalagi saat bertemu si pelaku ( Bastian). Tambah dongkol sekali. Sejenak ia merasa kasihan kepada Fredy, ia menggunakan pria itu sebagai alat untuk memuluskan misinya.


Membuat Bastian cemburu.


" Kamu lihatin apa, ada yang..." Fredy merasa ia terus menatap spion mobil, dan seakan melihat ke arah belakang terus menerus.


" Enggak ada, cuman udah lama rasanya aku gak lewat jalan ini!" Rania berkilah. Ia cuma ingin memastikan apa Bastian mengejar dirinya.


Sejenak Rania benar-benar merasa sunyi. Ia melempar pandangan ke sisi kiri. Nanar menatap jalanan yang seakan berlari karena gerak semu.


.


.


Bastian


Kegelisahan mendominasi dirinya. Ya, definisi dari berani karena benar dan takut karen salah itu nyata adanya.


Ia ingat bila jam tujuh ini, dimana penerbangan paling pagi itu akan mendarat.


" Kamu mau kemana Bas?" Bu Kartika yang tengah sibuk menyiangi tanamannya di halaman depan, terkejut dengan tampilan Bastian yang sudah rapih.


" Mau ke bandara dulu Buk, Rania pulang pagi ini!" sahutnya.


" Nomernya udah bisa kamu hubungi?" ucapnya seraya menggunting daun varigata yang sudah menguning.


" Belum, tapi dia pulang sekarang!" Bastian terenyuh kecut saat mengutarakan hal itu. Ya, Bastian sudah menceritakan apa adanya tentang dirinya yang sepertinya memantik kekesalan Rania.


Dalam mobil perasaannya campur aduk. Ia bingung memilih susunan kata-kata yang tepat, saat ia akan mengutarakan permohonan maaf nanti. Sungguh, ia benar-benar mumet saat ini.


" Kalau dia marah dan mengeluarkan isi hatinya, jangan di potong ucapannya!"


" Biarkan di mengeluarkan sampai lega!"


" Kalau udah, kamu peluk. Kamu akui kesalahanmu! Wanita yang di perlukan itu ungkapan dan kejelasan Bas!"


Kata-kata bijak dari ibunya terus saja memutari kepalanya. Kini, ia hanya bisa menunggu di parkiran. Memerhatikan tiap-tiap wajah yang keluar menggeret koper karena nomernya masih di blokir oleh Rania, hingga detik itu.


Ia bahkan mirip dengan supir travel yang menunggu tamu asing untuk di jemput. Dalam mode tidak jelas.


Tak berselang lama, ia melihat Rania dari kejauhan. Wanita itu berjalan dengan kacamata yang bertengger di kepalanya, sangat cantik. Namun, terasa janggal karena Rania turut bersama seorang pria yang ia kenal, Fredy.

__ADS_1


Ia lantas melambai-lambai kepada Rania. Tentu saja sungkan untuk berteriak.


Namun, ia terkejut saat Rania tak mau menatapnya, dan justru terlihat menggamit lengan pria yang pernah membuatnya minder itu.


" Itu kan Fredy? Apa jangan-jangan?" mendadak ia malah bernegatif thinking. Rania masuk dalam mobil itu. Ia bahkan sempat tertegun beberapa saat demi memastikan hal yang ia lihat itu.


Terasa menyakitkan.


Beberapa detik kemudian, ia melihat Fredy yang masuk ke mobil yang sama. " Brengsek, mau kemana dia?" Bastian merasa sebal sekali.


Apa mau mama Jodhi itu, sejurus kemudian ia langsung tancap gas dan berusaha mengikuti mobil Fredy. Jelas ini menyangkut harga dirinya sebagai pria.


.


.


Fredy


" Kita makan disini aja ya, ini punya temenku!" ucap saat ia menekan indikator lampu sen, lalu membelokkan mobilnya ke sebuah tempat makan berkonsep chinese food.


" Oh ia!" Rania sebenarnya tak terlalu memperhatikan sekelilingnya, ia hanya memastikan Bastian. Sepertinya pria itu tak mengejarnya.


" Kemana dia, apa dia pulang?" Rania berbicara dalam hati. Dan tanpa Rania sadari, perbuatannya yang menggamit lengan Fredy tadi membuat otak pria itu berkelana.


Apalagi, baju bagian dada Rania yang agak melorot membuat pria itu berpikir ke arah lain. Sekilas pemikiran aneh terbesit dalam otak Fredy.


Fredy meneguk ludahnya saat melihat isi dada Rania yang menyembul. Membuat otak pria itu gelisah.


Sejenak Fredy berfikir, apa jangan-jangan semua itu adalah sinyal Rania kepadanya.


Sinyal yang otomatis tersambung antara kedua mahkluk dewasa.


Hal itu bukanlah hal tabu bagi seorang janda bukan. Begitu pikirnya. Lagipula, bukankah Rania masih sendiri.


Fredy telah salah sangka.


.


.


Mereka masuk tanpa canggung, karena Rania dan Fredy memang merupakan teman. Hati Rania gelisah, karena Bastian tak mengejarnya.


" Cih, dia benar-benar tidak mengejar ku!"


Ya begitu wanita. Makhluk kontradiktif yang nyata adanya. Apa yang ada dalam hatinya, justru itulah yang berbeda dengan yang mereka perbuat.


Bertolak belakang.


" Sebentar ya, aku mau ke toilet. Tadi di bandara aku gak sempat!" pamit Fredy.


Rania hanya mengangguk tanpa curiga.


Namun tak di nyana, pria itu malah masuk ke pantry dan Kong kalikong dengan rekannya di sana.


Pria itu terlihat memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang Rania pesan saat mereka baru sampai tadi. Entah dari mana Fredy bisa memiliki benda pemantik gairah itu.


Mengapa para pria dengan mudahnya mendapatkan barang sialan macam itu.


.


.

__ADS_1


Bastian


Ia sebenarnya mengikuti Rania. Namun, saat ia tahu mereka membelokkan mobilnya ke tempat makan. Ia agak lega.


Bastian menepikan mobilnya agak jauh, toh hanya sarapan mungkin pikirnya. Ia akan membuntuti Rania kembali sampai Rania tiba di rumah, ia tak ingin orang lain tahu ia dan Rania tengah dalam persoalan.


Namun ketenangannya hanya bersifat fana. Matanya membulat saat ia melihat Rania yang sempoyongan dan di papah oleh Fredy. Tubuhnya mendadak mematung saat melihat Rania kini telah melesat bersama Fredy.


" Rania, apa yang terjadi!" sejurus kemudian dengan cepat ia mengejar mobil Fredy yang juga sudah berlaku dengan kecepatan tinggi.


" Sial!!" Ia mengumpat saat nyaris saja ia menabrak seorang pedagang sayur yang menyebrang jalan.


Kini dari jarak yang sangat tak terkejar ia melihat mobil Fredy yang kian melesat jauh.


" Brengsek!!" ia juga terkena traffic light. Membuat Bastian gelisah. Ia telah kehilangan jejak.


.


.


" Eughhh Fred, aku merasa..." Rania merasakan panas di sekujur tubuhnya.


" I know, emm tenang aku akan menolongmu!" sahut Fredy.


" Fredy, aku kenapa ya. Kok rasanya....!"


Fredy tak menjawab, ia fokus untuk sampai ke tempat yang bisa ia gunakan untuk enak-enak pagi itu.


Entah obat sialan macam apa yang ia campurkan ke dalam minuman Rania. Selain gairahnya yang kian berpacu meminta tuntutan lebih, Rania juga merasa Dejavu dan kesadarannya perlahan memudar.


" Fred..ini kita dimana!" dengan wajah yang mirip orang mabuk, Rania berusaha melihat sekelilingnya.


Ia membelokkan mobilnya ke rumahnya yang lama. Tak bisa lebih lama lagi menahan hasrat untuk sekedar mencari hotel. Beruntung, rumah itu juga berada di jalur yang ia lewati.


Sempat kesulitan mencari kunci di dasbor mobilnya, akhirnya Fredy menemukan kunci rumah itu.


" Emmm, kita masuk dulu!"


" Mungkin kamu kena jet lag jadi begitu. Istirahat dulu ya!"


Fredy berucap enteng.


" Fred..ini bukannya rumah..." Rania ingat, dulu sewaktu sekolah ia dan teman-temannya pernah belajar bersama dirumah ibunya itu. Wanita itu makin merasakan keanehan dalam dirinya.


Fredy tak menjawab, ia kini terlihat membuka pintu mobil dan memapah Rania yang berjalan sempoyongan.


" Fredy...aku..." Rania semakin merasakan dirinya menuntut hal aneh. Terasa panas dan bergelora.


Seringai terbit di bibir Fredy.


Ia langsung membuka pintu itu sesaat setelah memutar anak kunci itu dengan gusar. Sejurus kemudian Fredy menutup pintu itu dan langsung menuju kamarnya.


Ia menidurkan Rania yang terlihat sudah sangat kacau. Obat itu telah bereaksi saat ini. Tubuh Rania benar-benar terlihat menggiurkan.


Freddy langsung membuka bajunya, seakan mendapatkan santapan gurih nan lezat, kini Fredy telah melucuti pakaiannya sendiri dan menatap Rania penuh selera.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2