
Bab 44. Kena Grebek
.
.
.
"Tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya!"
( Diambil dari lirik lagu Iwan Fals ~ Seperti Matahari)
.......
"Bu Rania!" ucap Bastian panik begitu pintu lift itu dibuka secara paksa, menampilkan Rania yang sudah lemas, entah sudah berapa lama wanita itu berada disana dengan keadaan minim oksigen.
Tanpa menunggu lagi, Bastian segera masuk kedalam lift itu. Ia mengangkat tubuh wanita itu dengan cepat. Panik tiada terkira.
"Kita bawa ke ruangan Bu Rania!" perintah Bastian kepada yang lainnya, dengan maksud untuk segera membukakan pintu ruangan wanita itu.
Satrio dengan sigap membukakan pintu tersebut, sementara Bang Togar turut masuk ke dalam ruangan.
Ia meletakkan tubuh Rania diatas sofa berwarna merah. Meluruskan kakinya. Beberapa orang turut mengikuti Bastian.
"Sial!, kenapa aku jadi mikir begini!" batinnya karena melihat paha mulus, yang terpampang setengah. Ya benar, Rania pagi itu mengenakan rok.
" Tolong ambilkan air!" ucap Bastian meminta tolong kepada CS yang ada di ambang pintu, mencoba menepis pikiran kotornya.
"Kami permisi dulu, mau mengecek ada trouble apa sebenarnya?" Terlihat ketua staff engineering itu berpamitan untuk melanjutkan tugasnya. Diikuti Bang Togar yang menyusul keluar.
"Baik, terimakasih!" jawab Bastian.
"Ayo bubar, kembali ke pekerjaan kalian?" titah sang ketua tadi kepada beberapa karyawan yang masih kepo disana. Membuat kerumunan itu terurai seketika.
Satrio dan Bang Togar terlihat tengah berbincang dengan staff keamanan, karena Bang Togar yang menjadi saksi kejadian tersebut.
Rania masih terlihat lemas, tak bisa berbicara barang sedikitpun. Bastian terlihat menutupi bagian pahanya yang sedikit terlihat menggunakan sebuah kain, sepertinya syal milik Rania yang ada di gantungan dekat meja kerjanya.
Rania dengan wajah lemas menatap Bastian, Bastian pun juga menatap Rania. Mereka saling menatap selama beberapa detik.
"Ini Pak airnya!" kedatangan CS dengan membawa segelas air mineral itu, sukses menginterupsi aksi saling pandang mereka.
"Terimakasih" ucap Bastian.
"Bu, diminum dulu!" Bastian menyodorkan segelas air putih.
.
.
Rania
Ia senang begitu mendengar ada orang yang mengetahui keberadaannya. Namun, rupanya oksigen yang minim membuat dia kesulitan untuk bernafas. Pandangannya mulai kabur. Namun saat dirinya sudah hampir tidak kuat lagi untuk membuka mata karena hendak pingsan, pintu itu terlihat terbuka.
Sayup-sayup ia bisa mendengar suara Bastian yang berteriak.
Ia bisa merasakan degup jantung Bastian yang berdetak kencang, saat ia di gendong ala bridal style oleh pria itu.
Aroma maskulin juga tak sengaja terhirup olehnya. Namun tubuhnya benar-benar lemas, tak memiliki daya apapun. Bahkan untuk sekedar membuka suara.
__ADS_1
Ia bahkan merasa amat tersanjung saat pria itu menutupi bagian pahanya yang sedikit terbuka, karena pagi ini entah mengapa ia malah mengenakan rok formal.
"Terimakasih" ucapnya setelah meneguk setengah dari isi gelas itu. Membuatnya sedikit merasa lebih baik.
"Saya panggil Pak Abimanyu dulu" Bastian hendak pamit. Tentu saja hal ini harus diketahui oleh kakak wanita itu.
Namun tak dinyana, ia malah menahan tangan Bastian.
"Jangan pergi, tetaplah disini!" pinta Rania degan suara lemah.
...ššš...
Dhira
Siang hari Shinta dan suaminya sudah pulang dari kediaman Bu Kartika. Dhira terlihat membereskan sisa cangkir dan beberapa kudapan di meja ruang tamu. Membawanya menuju dapur.
Sayup-sayup terdengar adzan Dzuhur berkumandang. Ia mencuci gelas dan beberapa perabot kotor itu di wastafel khusus cucian.
Pikirannya melamun, kenapa musibah datang silih berganti dalam hidupnya?. Apa ganjaran atas kesilapannya di masa lalu belum usai?.
Melihat putrinya melamun, Bu Kartika datang mendekat. Sebagai seorang Ibu, jelas ia juga merasakan kesedihan yang di alami putri sulungnya itu.
"Jika hati terasa berat baiknya kita pasrahkan kepada Allah!" Dhira menoleh sekilas, kemudian melanjutkan membasuh beberapa gelas itu. Ia mencoba tersenyum saat Bu Kartika menatapnya.
Ya, masih bisa ia tahankan meski Indra telah melumatkan hatinya. Mantan suaminya itu seolah menyayat luka baru diatas duka lama. Kata-kata makiannya tak pelak membuat Dhira berkali-kali merasakan sakit hati.
"Hanya Tuhan yang tahu pasti nak, apa yang bakal terjadi nanti!" ucap Bu Kartika memberikan nasehat.
Dhira masih setia mendengar, meski matanya sudah terasa panas.
" Ibu tahu kamu kuat!" ucap Bu Kartika menepuk pundak Dhira, kemudian pergi meninggalkan putrinya itu.
Air mata itu kini telah meluncur, membasahi pipi bersih Dhira. Ternyata mengagungkan cinta harus ia tebus dengan kesedihan. Indra seolah bukan pribadi yang ia kenal dulu.
Entah sampai kapan dia bisa hidup tenang dan mendapatkan kebahagiaan yang sejati
.
.
Sore ini ia berada di rumahnya. Rumah bekas ia merajut rumah tangga bersama Dhira. Wanita yang dulu rela memilihnya, daripada ibunya. Cinta yang tulus, kasih yang sejati nampaknya tak memiliki arti dimatanya.
Terbukti, ia berani memasukkan orang ketiga dalam biduk rumah tangganya. Sebuah ujian yang tak mampu ia lewati sebagai insan Tuhan.
Sekarang lihatlah, apa yang dia dapatkan dari perbuatan-perbuatan kejinya!.
Sakit bukan, melihat orang yang kita cintai berkhianat?.
"Arrrrggghhh!!" Indra merusak berbagai vas dan hiasan yang terpajang di nakas rumahnya. Ia benar-benar tak terima, sakit, hancur.
Rumah yang rapi dalam sekejap berubah menjadi acak adul. Terlihat beberapa benda pecah belah yang sudah menjadi puzzle, bahkan sejumlah guci dan vas dengan harga yang tak murah itu turut menjadi sasaran amukan Indra.
Ia beringsut ke lantai dingin rumahnya itu, lantai yang sama dinginnya dengan hatinya. Ia menangis, meratapi kehancurannya. Disaat bersamaan, ia menatap sebuah foto putranya yang tersenyum, berkalungkan medali saat ia menjadi juara Voli tingkat Sekolah Dasar beberapa tahun silam.
Ia tersenyum, saat itu ia masih merajut indahnya cinta bersama Andhira. Buncahan rasa sesal menelusup ke sanubari Indra.
Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Benang kusut di hadapannya kian rumit. Dipecat secara tak hormat dari BCS, mendapati Renata yang enak-enak bersama pria lain, permusuhannya dengan keluarga Andhira, juga kedua orangtuanya yang turut membencinya.
...ššš...
__ADS_1
Tanpa berniat membereskan kekacauan yang Indra buat dirumahnya, malam itu ia melesat menuju sebuah diskotik. Berniat meluapkan kepenatan di otaknya yang bertumpuk-tumpuk.
Suara keras musik DJ turut membuat hatinya bergetar. Menggema di setiap sudut ruangan dengan lampu berkelap-kelip itu.
"Beri aku Wisky!" titahnya kepada bartender berambut warna khaki.
"Baik Tuan" jawabnya.
Ia menenggak sloki demi sloki minuman beralkohol itu. Hatinya kosong, seolah tak memiliki arah tujuan hidup.
Namun ia sama sekali tak berminat, ia lebih memilih menenggelamkan dirinya dalam alkohol di depannya. Tak ada yang menarik baginya saat ini. Hatinya kosong melompong.
Entah sudah berapa lama dia berada di tempat dengan suguhan dunia malam yang memabukkan itu. Balutan gemerlap dunia yang melenakan.
Namun sepersekian detik kemudian, terdengar suara ricuh. Suara jeritan yang berasal dari bibir wanita-wanita malam yang berkeliaran disana.
"Jangan bergerak tempat ini di kepung!" terlihat beberapa polisi berpakaian preman yang hadir disana, menodongkan senjata. Membuat beberapa wanita disana menjerit ketakutan.
Suasana yang menyenangkan seketika berbalik seratus delapan puluh derajat. Nampaknya Indra datang di saat yang tidak tepat. Jelas telah terjadi penggerebekan di diskotik itu.
"Angkat tangan kalian, semua!!" titah seorang polisi bertubuh tinggi tegap, sepertinya ia adalah komandan dari personelnya.
"Sial!" ucap Indra mengangkat kedua tangannya ke atas, seraya melirik kesana-kemari guna mencari celah. Barangkali ia masih bisa meloloskan diri.
Bentakan suara petugas yang tegas itu, membuat semua yang disana berdiri dengan wajah tegang, takut dan panik.
Namun lebih tak disangka lagi, di ujung meja sebelah stand DJ ada seorang pria mabuk yang melawan, mengarahkan tembakan ngawur, memberondong peluru ke berbagai arah.
"Aaaaaaa!!!" riuh suara teriakan di campur suara peluru yang dar der dor, membuat kesempatan beberapa orang disana untuk kabur.
Saat keadaan mulai tidak kondusif, Indra memiliki kesempatan untuk kabur. Meski dengan kepala yang sudah mulai berat. Efek terlalu banyak minum.
"Hey!! jangan kabur!!" seorang polisi yang mengetahui aksi Indra yang hendak kabur meneriakinya. Namun sudah bisa di tebak, Indra masih gencar untuk berlari menuju pintu keluar.
Dor Dor Dor
Polisi terpaksa mengeluarkan tembakan karena Indra tak mengindahkan peringatan yang diberikan.
Dor Dor
"Auhhh!!" Indra meringis, nampaknya peluru itu berhasil menyerempet serta menggores lengan kanannya saat ia berlarian.
Dan saat dirinya akan melewati sebuah pintu, tak disangka ia menabrak tubuh seorang wanita. Dilihat dari penampilannya sepertinya dia adalah wanita-wanita yang biasa open BO untuk pria hidung belang. Sepertinya wanita itu juga mempunyai tujuan yang sama.
Melarikan diri.
"Auuwww!" wanita itu memekik kesakitan, lantaran ambang pintu yang sempit itu, hendak di lalui Indra bersama wanita muda itu. Membuat jalan sesak, dan malah membuat tubuh wanita itu jatuh.
"Astaga maafkan aku!" ucap Indra terburu-buru, merasa kasihan.
"Sakit Tuan!!" kaki wanita itu sepertinya agak terkilir.
"CK!!" Indra mendecak, mau tidak mau Indra meraih tangan wanita itu lalu membantunya untuk berdiri, menggandengnya lalu dengan terburu-buru mereka berlari. Meski dengan rasa perih di lengan kanannya akibat kena serempetan timah panas. Ia bahkan bisa merasa darah itu masih mengalir dari lengan kekarnya.
Tujuan mereka sama, kabur dari aksi penggerebekan penegak hukum itu. Mereka berlari dengan posisi tangan saling bergandengan. Kabur entah kemana, yang penting mereka bisa lolos terlebih dahulu dari hal yang bisa saja membuat hidup mereka tak baik.
.
.
__ADS_1
.
.