
Bab 60. Sebuah Tekad
.
.
.
...ššš...
"Seribu sesal di depan mata, seperti menjelma. Kala memberimu dosa, oh maafkanlah!"
( Diambil dari lirik lagu Iwan Fals ~ Yang terlupakan)
Andhira
Dengan wajah malu, ia menyambar selimut guna menutup bagian tubuhnya yang polos akibat perbuatan Abimanyu.
"Aku ke kamar mandi dulu!" ucapnya tanpa berani menatap Abimanyu.
Ia bahkan mengunci pintu kamar mandi di kamarnya itu, ia bukanlah bocah kemaren sore yang tak mengerti tentang hal biologis macam barusan, atau ia bukanlah seorang wanita yang di perkosa oleh seorang pria hidung belang. Lalu mengapa kini ia harus menangis?.
Ia hanyalah wanita yang sejujurnya butuh sentuhan hangat, tapi yang membuat hatinya dihujam sembilu, adalah dirinya yang seolah tiada berbeda dengan Renata. Ia mengeraskan kran di kamar mandinya, agar Abimanyu tak mendengar dia yang tengah menangis. Sejumput kesalahan menyeruak di dasar hatinya, Ia teringat kepada Raka.
"Maafin mama nak!" ia menangis, tapi apakah dia salah bila ingin menerima tawaran kenikmatan itu. Ia bukanlah wanita suci yang mampu menolak hal manusiawi itu, tapi ia juga tak munafik bila dirinya menyesal telah melakukan hal ini. Ia tahu ini salah, hidupnya terlalu salah untuk semuanya.
.
.
Abimanyu
__ADS_1
Ia mengutuk dirinya sendiri, mengapa ia tak bisa menahan dirinya. Tapi sungguh rasa Andhira yang begitu nikmat malah ingin membuatnya tak mau beranjak dari tempat itu.
Ia tahu ini salah, ia takut bila Dhira mengira dirinya melecehkan wanita itu. Tapi sungguh, dengan menyentuh Dhira pagi ini membuat pikiran Abimanyu gencar untuk menceraikan Gwen.
Tapi buncahan rasa bersalah menelusup, mengingat wajah bocah yang di gandeng oleh Gwen kemaren. Nampaknya ia tak boleh berleha-leha dengan keberadaan Gwen, ia harus bisa meruncingkan sesuatu yang tumpul, membuat yang rumit menjadi lurus.
Dengan malas ia memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai, ia bergerak menuju luar dengan menyambar sebuah kain yang sepertinya sebuah Jarit batik. Entah mengapa bisa ada Jarit di dalam kamar wanita itu pikirnya.
Ia membersihkan dirinya di kamar mandi bawah, berniat menunggu Dhira dibawah.
.
.
Dhira kaget melihat kamarnya yang sudah kosong, dengan mata sembab dia menuju kemari guna mengganti bajunya. Rasa itu nikmat, harus ia akui Abimanyu benar-benar berstamina bagus, tapi sungguh ia malu dengan dirinya sendiri.
Ia mengenakan daster rumahan warna hijau pastel, menggerai rambutnya yang basah karena pergulatan panasnya dengan Abimanyu.
Dan benar, saat ia turun Abimanyu tengah menghisap rokok, pria itu sudah terlihat membersihkan dirinya. Namun dengan pakaian yang sama. Tentu saja, jelas tidak ada niatan untuk i'uk i'uk dengan dirinya pagi itu bukan.
Dhira canggung, entah harus bagaimana ia bersikap sekarang. " Sebaiknya mas pulang!"
Abimanyu yang melihat Dhira mendatangi dirinya, sontak berdiri. Menggerus batang rokonya ke wastafel cucian piring yang ada di dapur Dhira.
"Dhira, aku minta maaf!"
" Tolong kamu jangan berfikir jika aku melakukan itu karena ingin..."
"Aku tidak apa-apa, sebaiknya mas pergi. Aku takut jika ini tiba-tiba kemari. Akan semakin tak mudah nanti!"
Abimanyu sedikit tersinggung dengan kata Akan semakin tak mudah, ia merasa bersalah dengan Dhira.
__ADS_1
Abimanyu memeluk Dhira, wanita itu mematung. Hendak meluncurkan cairan panas dari kedua netranya. Ia merasa dirinya begitu jahat dan kotor.
" Aku sayang sama kamu Dhir, kasih aku waktu buat beresin urusanku dulu!"
Abimanyu melepaskan pelukannya, ia membingkai wajah Dhira dengan dua tangannya." Jika ada yang bersalah disini bukan kamu, tapi Gwen!"
"Apapun yang terjadi ,aku bakal perjuangkan kamu!"
.
.
.
.
.
.
Hello pembaca setia Mommy, mommy udah up tiga eps. Kalau masih ada yang bilang mommy lelet sepurane, mommy bukan jin tomang yang bisa cling semaunya.
Mommy juga punya dua novel lain yang sama sama om Going, jadi please comment yang bikin semangat aja ya. Karena mommy gak mau sembarang nulis.
Buat yang selalu dukung Mommy, Mommy doakan dilimpahkan kesehatan dan rejeki.
Baik baik semua ya.
love u all
Mommy eng š¤š¤š¤š¤
__ADS_1