
Bab 21. Dia ada disini
.
.
.
...ššš...
"Gengsi itu merusak tabungan".
Ia kini sudah harus berfikir lebih luas, dan berjangka panjang.
Baginya apapun pekerjaannya, yang penting ia lakoni dengan cara halal.
Termasuk mau untuk datang ke rumah pelanggannya.
Ia menyadari, usianya memaksanya untuk lebih produktif guna menghasilkan pundi pundi rupiah.
Mengingat ia tak akan di terima bila bekerja di perusahaan, atau di kantor swasta lainnya.
Tentu saja umur persoalannya.
"Dhir, mobil siapa itu" ucap Bu Kartika yang mendengar suara mobil, berhenti di depan rumah mereka.
Dhira menebak itu sudah pasti mobil dari keluarga Jodhi, ia ingat dengan apa yang di sampaikan Raka tadi pagi.
"Kita di jemput Buk" tukasnya.
Ia sudah memberitahu Bastian bila mereka akan membuat kue ke salah satu pelanggan mereka.
Membuat Bastian harus membawa kunci cadangan, karena mereka pasti akan pulang malam.
"Rumahnya mas Raka?" sapa seorang pemuda kurus dan berkulit coklat.
"Iya mas betul"
"Saya utusan Nyonya Regina"
.
.
Mereka berdua nampak syok dan takjub, melihat ukuran bangunan rumah yang berada di depan mereka.
Bangunan luas, besar dan berlantai tiga itu benar benar mirip istana.
"Dhir, gak salah ni kita kesini" Bu Kartika menyenggol lengan Dhira.
"Ya, Dhira juga ga tau Buk. Dhira juga belum pernah kemari" ucapnya seraya menyapukan pandangannya ke berbagai arah.
"Mari Bu, saya antar" ucap supir itu kepada mereka.
Saat memasuki rumah besar itu, mereka di sambut dengan sejuknya udara AC yang berada dirumah itu.
Wangi dan bersih, serta menampilkan perabotan yang mereka taksir berharga fantastis.
"Ini rumah apa hotel Dhir" ucap Bu Kartika lagi, dengan suara pelan.
Namun belum sempat Dhira menjawab, terlihat wanita tua yang tak asing bagi Dhira datang menyambut kedatangan mereka.
Nyonya Regina
Ia sudah tahu bila supirnya telah kembali dari tugas menjemput dua orang keluarga teman Jodhi.
Nyonya Regina bergegas untuk menyambut kedatangan mereka
Ia terperanjat saat melihat dua orang wanita berbeda usia, yang datang bersama Bagus.
Seorang wanita dengan usia lebih tua, dan satu lagi wanita yang pernah ia temui.
Wanita yang menolongnya lebih tepatnya.
"Loh, nak. Kamu kan..." ucap Nyonya Regin menggantungkan kalimatnya.
.
.
Andhira
__ADS_1
Belum sempat dia menjawab pertanyaan ibunya, kini ia di kejutkan dengan sosok yang beberapa waktu lalu sempat ia selamatkan, dari aksi kejahatan penjambret.
Ia tak menyangka dunia begitu sempit, pertemuannya secara tak sengaja dengan wanita tua itu, tak pernah ia terka bila akan di pertemukan kembali hari ini.
"Ibu yang kapan hari?" ucap Dhira seraya mendekat ke arah wanita tua itu.
"Ya Allah, jadi kamu orangtuanya teman Jodhi?"
Wanita tua itu memeluk tubuhnya, mengusap punggungnya agak lama.
Membuat Bu Kartika menatap tak mengerti.
"Kita ketemu lagi disini nak, ayo ayo kita kedalam" wanita tua itu terlihat senang dan cenderung bahagia.
.
.
Dhira dan sang Ibunda tengah duduk di sofa besar , yang nampaknya menjadi ruang keluarga.
"Jadi siapa nama kamu nak?" Nyonya Regina bahkan belum sempat mengetahui nama dari wanita yang menolongnya tempo hari.
"Saya Andhira Bu, dan ini Bu Kartika ibu saya" ucap Dhira tersenyum ramah.
"Baiklah Dhira, nama kamu cantik. Secantik orangnya"
Membuat Dhira tersipu malu, entah kapan terakhir dia mendapatkan pujian.
"Saya berhutang budi dengan anak ibu"
"Dia sudah menolong saya" ucap nyonya Regina menatap Bu Kartika.
Bu Kartika tersenyum senang, ia kini mengerti dan juga tak lagi mempermasalahkan aksi nekat anaknya tempo hari. Mengingat yang di tolong sudah berusia senja.
"Saya juga senang, semenjak Jodhi berteman dengan..." ucapannya menggantung.
"Raka Bu" ucap Dhira membantu Nyonya Regina, yang kesulitan mengingat kembali naman teman Jodhi.
"Ia Raka"
"Jodhi menjadi anak yang ceria kembali, saya sangat senang"
"Astaga maafkan saya, saya jadi suka lupa waktu kalau nemu teman ngobrol yang pas"
"Sebentar ya" ucap nyonya regina meninggalkan mereka.
Dhira dan Bu Kartika merasa keluarga Jodhi sangat ramah, sekalipun mereka adalah jajaran orang kaya.
Membuat mereka tak merasa begitu canggung akan batasan kasta , dan kelas sosial yang biasanya cukup mengganggu. Membuat siapa saja tidak nyaman.
Mereka mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah, rumah itu benar benar bak istana yang sering ia lihat di fil film.
Namun ia menangkap tak ada satupun foto pernikahan orang tua Jodhi, atau foto keluarga yang di pajang disana.
Bukankah mereka keluarga bahagia?
.
.
Akhirnya mereka tak hanya disuruh untuk membuat kue lapis legit.
Bik Surti, Siti dan Endang juga sudah standby disana bersiap untuk membantu.
Peralatan canggih, dapur futuristik yang lengkap dengan alat alat masa kini, juga bahan bahan yang sudah komplit. Membuat Dhira dan Bu Kartika senang.
"Dhir, kamu saya tinggal ya. Ada Surti yang bantu kamu kalau butuh apa apa"
"Jangan sungkan" ucap Nyonya Regina kepada Dhira.
Sore hari mereka memulai aktivitasnya, membuka bahan bahan yang akan mereka uleni.
Setelah Nyonya Regina tahu bila ibu dari Dhira adalah keturunan orang ujung timur pulau Jawa, ia meminta untuk membuatkan makanan dan jajanan khas kota Gandrung itu.
Dhira dan Bu Kartika akan membuat Sego Cawuk dan Pindang Koyong, juga kue Petulo.
Petulo adalah kue yang terbuat dari tepung beras, diuleni hingga kalis, lantas dicampurkan beragam pewarna makanan, macam warna hijau, pink dan putih.
Kemudian di siram dengan kuah gula merah dan santan.
Panganan ini biasanya banyak di temui saat bukan Ramadhan, namun karena keinginan nyonya Regina yang sudah lama tak menyantap makanan tersebut.
__ADS_1
Akhirnya Bu Kartika memutuskan untuk membuatkannya.
Mereka berjibaku dengan tepung juga teman temannya.
Tak tanggung-tanggung, mereka membuat kue lapis legit dalam jumlah yang begitu banyak, bisa di pastikan mereka akan benar benar pulang malam.
Dari arah luar terdengar suara Jodhi yang tengah berceloteh ria, rupanya nyonya regina meminta Bagus untuk membawa Raka ikut serta pulang bersama Jodhi.
"Raka, kamu kok disini" Dhira terkejut.
"Biarlah Dhir, biar disini sama Jodhi. Kamu kan disini juga" ucap Nyonya Regina yang muncul dari arah belakang.
"Jodhi, ajak Raka makan lalu istirahat di kamar kamu ya" ucap nyonya Regina.
Membuat dua bocah itu melesat menuju lantai dua, tempat dimana kamar Jodhi berada.
Dengan tawa riang dan bahagia.
Saat Adzan Ashar terakhir berkumandang, Dhira meminta kepada Bik Surti untuk meminjamkan tempat atau kamar yang bisa ia gunakan untuk shalat.
Mengingat ibunya sudah lebih dulu shalat tadi, bergantian dengan dirinya.
"Mari mbak, ikut saya"
Bik Surti mengantar Dhira menuju kamar tamu, yang sudah tersedia perlengkapan shalat.
"Disini saja bisa mbak, kalau mau mandi ada baju ganti disana" ucap bik Surti yang menunjuk ke arah lemari putih besar di sebelah ranjang besar itu.
"Terimakasih banyak Bik" ucap Dhira.
Ia bergegas mengambil air wudhu, untuk kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
...ššš...
Saat Dhira menutup pintu kamar itu, ia dikejutkan dengan kehadiran pria jangkung, yang hampir saja menabraknya karena fokus kepada ponselnya.
"Astagfirullahhaladzim" ucap Dhira memegang dadanya.
Pria itu juga nampak membulatkan matanya, nampaknya juga tak kalah terkejut.
"Maaf" ucapnya singkat.
Dhira mengangguk, "Saya permisi" ucap Dhira yang malu, kemudian pergi meninggalkan pria yang mematung itu.
Nyonya Regina tak sengaja melihat kejadian itu, melihat mata cucunya yang terus menatap punggung Dhira yang berjalan kian menjauh darinya.
.
.
Abimanyu
Dia amat menyesal karena kenapa tidak meliburkan diri saja, bila ada wanita itu dirumahnya.
Ia pikir hanya neneknya Raka saja yang akan datang.
Tunggu dulu, apa dia sudah gila?, berharap bisa melihat wajah dari istri orang lain.
Oh Sh it!!!!!!!
Ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya untuk mandi.
"Rania mana" tanya Nyonya Regina.
"Oma, mengagetkanku saja" ucap Abimanyu yang tercekat karena kehadiran neneknya secara tiba-tiba.
" Dia pulang telat, ada pekerjaan yang belum dia selesaikan"
"Raka ada di sini, di kamarnya Jodhi. Mereka tengah tertidur, barusan aku tengok"
"Ya sudah kau masuklah" ucap Nyonya Regina memberitahu Abimanyu.
Sejurus kemudian menatap punggung cucunya itu, yang berangsur menghilang di balik pintu.
Menatapnya dengan tatapan yang penuh arti.
.
.
.
__ADS_1