The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 114. Di Pusara Bapak


__ADS_3

Bab 114. Di Pusara Bapak


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Ada sajadah panjang terbentang, dari kaki buaian. Sampai ke tepi kuburan hamba. Kuburan hamba bila mati"


( Diambil dari lirik lagu Bimbo ~ Sajadah Panjang).


.


.


"Jodhi!!!" Dhira turut menelengkan kepalanya saat telinganya menangkap suara yang tak asing itu.


Jodhi rupanya datang bersama Rania. Membuat Bastian terperanjat, baru saja isi hatinya dipenuhi oleh wanita itu. Kini wujud nyatanya sudah berada di depan rumahnya.


"Tante, tadi aku ke ruko. Terus kata mbak Sekar Tante ke rumah Uti. Jadi aku nyusul!" Jodhi menyalami kedua orang itu dengan nyerocos.


Dhira tersenyum, " Berdua aja sama mama?" tanya Dhira yang melihat Rania turun dari ruang kemudinya.


"Iya, pumpung libur kan. Aku pingin ketemu Raka sebenarnya. Dia jam berapa sih pulang?"


"Jodhi, bantu mama ini. Malah ngacir duluan!" Rania kerepotan membawa beberapa hampers untuk Bu Kartika. Usai mengetahui bila Dhira berada si Rumah ibunya, ia membelokkan mobilnya untuk membeli buah tangan.


" Duh mbak maaf ya...Si Jodhi tuh, rempong banget ngeyel pingin main ke tempat Raka!" Rania memasang wajah sungkan.


Rania tampil dengan baju casual pagi itu, jeans denim dengan kemeja kotak yang di gulung sebatas siku , dengan rambut Curly nya di kuncir kuda. Membuat tampilannya kece abis.


Bastian tak melepaskan tatapannya kepada mama Jodhi itu. " Bas, itu bantuin!" ucap Dhira menyenggol lengan adiknya. Membuat kesadarannya kembali.


"Eh, sini Bu biar saya bantu!" Dhira menangkap sinyal tak baisa dari wajah adiknya itu.


Entah apa isinya sebuah hampers dengan ukuran besar itu. "Untuk ibu kak!" ucap Rania.


"Kok repot- repot Ran!" Dhir sungkan.


" Gak repot kak!"


"Masuk dulu yuk, panas diluar!" ajak Dhira kepada Jodhi dan Rania.


Mereka berduyun-duyun masuk kedalam rumah, Bastian langsung membawa masuk bungkusan sebesar TV tabung itu ke dapur.


" Ibu mana?" tanya Rania.


"Ke rumah cing Tami di depan, bantu-bantu bentar soalnya mau ada acara pengajian rutinan malam Senin!" jawab Dhira.


"Pengajian Bapak- bapak!" imbunya.


Rania mengangguk paham.


"Tante aku haus!" ucap Jodhi.


"Jo!" Rania malu,, anaknya itu benar-benar selalu tanpa tedeng aling- aling.


"Oh astaga, keasikan ngobrol jadi lupa sama anak Tante satu ini. Sebentar ya. Mau minum apa Jo?"


"Yang dingin Te!" Jodhi merasa senang ia di sebut anak oleh Andhira.

__ADS_1


"Jo, kamu ini jangan begitu kenapa. Gak sopan!" Rania memarahi anaknya yang bengal itu .


"Kenapa aku kan haus, ya minta minum lah. Masa Jodhi musti minta pisang goreng pas lagi haus? mama ni lebay kadang-kadang!"


Rania membulatkan matanya demi mendengar jawaban Jodhi. " Kamu itu ..."


"Nah, ni Tante bawakan es sirup semangka!" Rania muncul dengan empat gelas besar di nampan, berisikan es sirup dengan isian semangka yang terlihat segar.


"Ceper banget Te!" tukas Jodhi.


"Uti yang bikin, udah ayok diminum. Ran diminum dulu!" ucap Dhira.


Rania lekas menyendokkan minuman itu , dan memasukkannya ke mulutnya.


"Aku sebenarnya juga lapar Tan, kangen masakan Tante!" ucapan Jodhi membuat Rania tersedak semangka, bersamaan pula Bastian juga muncul dari arah dapurnya.


"Bu Rania kenapa?" Bastian panik dan langsung memukul pelan tengkuk Rania. Berharap meredakan sedakan yang di alami oleh bos-nya itu.


Jodhi melirik sekilas dengan tak peduli. Sementara Dhira mengulum senyum. Ia tau bila Rania pasti terkejut dan kesal di waktu bersamaan, saat mendengar ucapan Jodhi.


Melihat batuknya Rania tak kunjung reda, dengan terburu-buru Bastian mengambilkan segelas air putih ke dapur.


"Minum dulu Bu!" Bastian menyerahkan segelas air putih kepada Rania.


Setengah dari isi gelas itu telah meluncur ke tenggorokan Rania. membuat batuknya karena tersedak reda.


"Jodhi!!!" Rania benar- benar sebal dengan anaknya itu. Mulutnya benar-benar slong tak ada rem pikirannya.


Dhira tergelak melihat interaksi anak dan ibu yang tak akur itu.


"Kenapa?" Jodhi masih sibuk menyendokkan semangka ke mulutnya.


"Biarin aja Ran, Jodhi sudah biasa sama aku begitu!" Dhira berusaha menenangkan Rania yang malu bukan kepalang.


"Kayaknya yang mama kandungku itu Tante Dhira deh. Buka mama!" ucap Jodhi enteng. Membuat Bastian dan Dhira tergelak. Sementara Rania mendelik.


.


.


Selain itu hari ini adalah hari dimana mendiang suaminya di panggil yang kuasa. Jika lewat siang hari, sudah lain masuk lain hari. Hal itu dilakukan karena Bu Kartika masih memegang teguh budaya Jawa.


Bu Kartika masih paham dengan hitungan Wage, Pahing, Kliwon, Pon, Legi dan lain sebagainya.


"Saya tinggal dulu ya nak. Cuma bentar kok" Bu Kartika pamit.


"Kamu disini bentar ya. Raka udah mau pulang kok, udah dijalan. Nanti sama papanya langsung diantar kesini!" ucap Dhira.


"Ya udah mbak, bawa apa ke sananya?" tanya Rania.


"Pakai motor Bastian, gak jauh kok. Kami pergi dulu ya?"


.


.


Bastian kini berdua saja dengan Rania.


Sementara Jodhi, usai menghabiskan dua piring pelas tongkol dengan sayur bening kelor serta bersendawa empat kali, ia terlelap di atas gelaran kasur yang berada di depan tv yang menyala. Terlentang bak orang semaput.


"Habis kenyang terbitlah ngantuk. Dasar!" Rania menggelengkan kepalanya saat ia mau melihat mengapa anaknya tak kunjung keluar saat ia pamit makan di belakang.


"Biarin aja Bu, pasti capek nungguin Raka dia!" suara Bastian membuat Rania terkejut, pria itu berada tepat di belakangnya. Aroma khas Bastian kini kembali ia hirup. Menari- nari di rongga hidungnya.

__ADS_1


Kedua manusia beda jenis itu terdiam, sayup-sayup terdengar suara film kartun yang masih terputar. Dari suaranya, Jodhi tadi memutar film kartun dengan beberapa Hokage disana.


Mereka berdua saling tatap, jantung Bastian sudah mau melompat saja. Sementara Rania ia benar-benar mengangumi wajah ganteng Bastian.


"Ada di jendela...." Mereka terperanjat, suara Jodhi tiba-tiba terdengar. Namun bocah itu kembali memejamkan matanya. Jodhi ngelindur rupanya. Membuat kecanggungan yang tercipta disana, reda.


"Duduk Bu!" ajak Bastian kepada Rania untuk duduk.


Rania yang salting alias salah tingkah itupun menurut. " Kamu kalau libur dirumah aja begini?" tanya Rania dengan gerakan memangku bantal.


Bastian mengangguk," Libur kan memang untuk istirahat Bu!" ia tersenyum menampilkan giginya yang rapi.


"Gak jalan sama pacar?" Rania bertanya, ia juga ingin tahu apa Bastian itu masih sendiri apa sudah punya kekasih.


"Gak ada yang mau sama saya Bu. Wanita jaman sekarang kalau tunggangannya bukan sedan licin dan mengkilat, ga ada yang mau!" Bastia tersenyum getir. Ia mengutarakan ketidakpercayaan dirinya kepada targetnya sendiri.


"Masa sih, gak semua lah!" Rania mendadak nyeri hatinya mendengar Bastian berucap seperti itu. Ia membela karena dia tidak seperti itu. Ia ingat dengan Chandra mantan suaminya dulu yang juga berada dari golongan darah rakyat.


"Saya tengah dekat sama seseorang, tapi belum jelas Bu. Saya tidak ada kepercayaan diri!" ucap Bastian menatap sendu Rania.


Entah mengapa Rania cemburu mendengar ucapan Bastian barusan.


Berarti dia sudah ada perempuan yang dekat dengannya dong? ia membatin.


"Sejauh apa?, maksudku wanita yang mencintai kamu, pasti mau terima keadaan kamu apa adanya!" Rania menanggapi dengan hati gundah.


"Tidak se sederhana itu Bu. Wanita itu cantik, kaya dan terhormat. Sementara saya..." Bastian tersenyum getir.


Rania penasaran dengan wanita yang membuat Bastian jatuh cinta itu. " Orang mana?"


"Orang dekat sini aja. Entahlah Bu. Yang jelas saya minder!" Bastian menatap lekat wajah Rania yang terlihat gelisah.


...šŸšŸšŸ...


Bu Kartika mengajak Dhira ke makam Bapaknya. Dhira sering berkunjung ke makam Bapaknya. Saat hendak membangun ruko pun, Dhira juga menyempatkan diri untuk sowan ke pusara mendiang ayahnya itu.


Berusaha selalu melibatkan bapaknya itu meski tinggal tulang belulang yang berada di bawah gundukan tanah itu


Dengan menyusut air mata ia membacakan doa khusus untuk jiwa ayahnya. Agar tenang dan mendapatkan pengampunan dari sang khalik. Ia juga terlihat membersihkan rumput liar yang tumbuh diatas tanah dengan kijing batu nisan itu.


" Pak, Dhira datang lagi. Kali ini Dhira minta restu sama bapak. "


Bu Kartika duduk berjongkok di samping anaknya.


"Dhira mau di peristri sama mas Abimanyu pak. Pria baik yang sayang sama Dhira. Dhira juga sayang sama beliau"


Mata Bu Kartika mulai memanas. Ia masih tertegun mendengar anaknya berucap.


" Besok sebelum ijab kabul, Dhira akan ajak dia kemari. " Bu Kartika menyusut aliran air mata di pipinya.


"Ibuk udah kasih Dhira ijin dan restu. Semoga Bapak disana juga sama. Semoga pernikahan Dhira kali ini adalah pernikahan yang berkah pak, semoga suami Dhira kelak bisa mencintai Dhira sama kayak bapak mencintai ibuk sampai ajal datang!" Dhira menangis. Tak kuasa saat melihat batu nisan bertuliskan nama bapaknya.


Pertahanan Bu Kartika jebol, ia tak bisa menahan laju air matanya sendiri.


"Semoga Bastian juga segera ketemu jodohnya pak. Kasihan dia sibuk ngurusin ibuk sama aku terus. Gak sempat ngurus dirinya sendiri, gak sempat mikir buat kebahagiaannya sendiri!"


Mereka larut dalam Isak tangis. Cuaca mentari yang terik menjadi saksi keberadaan mereka yang larut dalam haru


"Mohon doa restunya pak, iringi langkah kami dengan doa bapak dari sana"


Bu Kartika terisak-isak. Dalam hatinya juga mengucap harapan yang sama. Yakni kebahagiaan untuk Dhira dan Bastian kelak.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2