The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 66. Manusia Memang Tempatnya Salah


__ADS_3

Semua cerita ini adalah kehaluan Author semata, mohon untuk tidak dikaitkan dengan kejadian atau peristiwa tertentu.


Semua hanya bertujuan untuk menghibur. Jadi bedakan mana yang real, sama yang halu😁.


Pastikan like dulu sebelum baca, Mommy kadang heran. Lihat statistik yang baca banyak, tapi yang like cuma puluhan.


Mari dukung penulis dengan beri like and comment yang membangun, agar author makin semangat.


Bab 66. Manusia Memang Tempatnya Salah


.


.


.


...🍁🍁🍁...


"Haruskah aku lari dari kenyataan ini?, pernah ku mencoba tuk sembunyi. Namun senyummu, tetap mengikuti!"


(Diambil dari lirik lagu Iwan Fals~ Yang terlupakan)


.


.


Abimanyu harus segera menghentikan ciumannya, saat sesuatu di bawah sana sudah terasa kekurangan tempat untuk sekedar bertengger dengan tidak tenangnya. Sesak dan seluruh tubuhnya sudah di jalari rasa panas.


Oh astaga, setengah mati pria bernama Abimanyu itu menghalau rasa edan dalam dirinya itu. Sementara Dhira mengutuk dirinya sendiri yang selalu tak bisa menolak sensasi menyenangkan yang di berikan Abimanyu. Aroma tubuh Abimanyu yang menyeruak, seolah menjadi terapi untuk batinnya yang kering kerontang karena haus kasih sayang.


"Ayo kemarilah!" Abimanyu menggeret tangan Dhira dengan lembut, mengajaknya untuk duduk di sofa kamarnya. Untuk sesaat Dhira menurut.


"Ini minumlah dulu" Abimanyu mengangsurkan sebotol air mineral, dari dalam showcase water di kamarnya.


"Terimakasih!" jawab Dhira merasa tak enak hati,meski ia sempat menampar Abimanyu, namun pria itu seolah tak menanggapi hal itu.


"Apa sakit?" Dhira merasa bersalah karena sudah melayangkan tamparan, emosinya benar- benar tidak stabil tadi.


Abimanyu tersenyum, ia senang Dhira rupanya masih mengkhawatirkan dirinya. " Aku malah yang akan bertanya padamu, apa tanganmu terasa sakit?" Abimanyu terkekeh.


"Tangan kamu biasa dengan adonan tepung yang lembut, sedang rahangku keras. Bisa kena tuntutan nanti kalau aku membuat tangan mama Raka terluka!" Abimanyu terkekeh.


"CK, enggak lucu!" Dhira berengut seraya memukul lengan Abimanyu yang terlihat liat, karena mengenakan kaos lengan pendek. Sebenarnya memang sakit.


Selalu saja Abimanyu berhasil membuat dirinya bahagia walau dengan hal kecil. Lantas bisa apa dia sekarang?, lagi-lagi dia merasa membohongi putranya.


"Aku minta maaf telah menculik mu!" wajah Abimanyu berubah agak serius.


"Aku gak bisa berfikir lain lagi selain nyuruh Devan buat bawa kamu kesini dengan cara seperti ini"


"Aku gak bisa kamu diamkan begini Dhir!"


Dhira masih diam seraya menggigit bibir bawahnya, ia harus menjawab apa bila Abimanyu mendesak dirinya untuk mau bersama dirinya, sedang Raka sudah terang- terangan menolak Abimanyu. Tapi jauh dari itu semua, ia tak mengira bila Abimanyu senekat ini.


Ia hanyalah wanita biasa, tak memiliki kelebihan apapun tapi mengapa pria di depannya itu memperlakukan dirinya seperti itu.


Abimanyu ganteng, baik, berduit. Siapa yang bisa menolak pesona Abimanyu. Apalagi usianya yang matang, jelas membuat pria itu nampak unggul di berbagai sisi.

__ADS_1


"Dhira, aku mau tanya satu hal sama kamu" Abimanyu menatap Dhira yang mulai merasa gundah.


Dhira mulai merasa jantungnya berdetak kencang, rasa yang sama tiap ia bertemu Abimanyu.


"Apa kamu memiliki perasaan yang sama denganku?"


Abimanyu menanti bibir Dhira terbuka untuk menjawab pertanyaannya, " aku tidak ingin segala usahaku nanti sia - sia. Aku hanya perlu pengakuan dan kejujuran dari kamu!"


Dhira tertegun, jujur dari dasar hatinya ia menyukai Abimanyu, ia merasa tenang bila bersama Abimanyu, tapi hidupnya saat ini adalah Raka. Ia tidak yakin jika jalannya kedepan nanti akan mudah atau tidak.


"Aku..."


Abimanyu nampak menanti, ia membaca raut gelisah dari wajah Dhira, raut yang menampakkan ketidaktenangan.


"Jawab saja!"


"Mas, terus terang Raka no sama mas Abi!" Dhira berucap dengan wajah muram.


Abimanyu terdiam, jadi itu masalahnya Dhira sampai memblokir nomernya. Adalah suatu kewajaran pikirnya. Wanita di depannya itu memang seorang supermom.


"Raka mulai bicara sama aku sewaktu mas datang ke ruko tempo hari, aku tidak tahu kenapa Raka antipati kepada mas!" Dhira menerangkan lebih detail.


"Aku bisa atasi untuk hal itu, masalah Raka aku hanya perlu sedikit waktu lagi!" sahut Abimanyu, dia hanya ingin mamanya yang cantik ini tidak terluka. Abimanyu sebisa mungkin membuat suasana tidak tegang, tentu ia tak mau rugi hanya dengan mengobrol malam ini.


"Dan untuk mama Raka?" Abimanyu nampak tak sabar menunggu jawaban.


Dhira menghela nafasnya sejenak, ia memejamkan matanya " Jujur mas, mas adalah pribadi yang baik. Dan jujur aku memiliki rasa yang sama pada mas!"


Abimanyu tersenyum senang, ia ingin melompat saat ini juga. Tapi ia masih memasang wajah sebagai pendengar yang baik.


"Tapi aku tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, mengingat mas sed..."


"Yang penting kamu sudah mau sama saya Dhir, untuk Raka biar itu jadi tugasku nanti. Dan tolong kamu jangan blokir nomerku!"


Dhira sedikit terkekeh mendengar kalimat akhir yang di ucapkan Abimanyu, pria itu bisa-bisanya masih ingat dengan urusan blokir memblokir nomor saat mereka tengah berbicara serius.


"Kamu jangan ketawa aku serius" Abimanyu tersenyum, setidaknya Dhira sudah tak semurung tadi.


"Aku bisa apa mas, aku merasa apa yang di katakan mbak Gwen benar!" ia kembali mellow.


"Segala ucapan Gwen lebih baik kamu skip, aku minta kamu bersabar. Wisang udah aku kasih tugas buat ngurus ke pengadilan"


"Aku sayang banget sama kamu Dhir!


Aku juga sama mas


Dhira hanya membatin, tapi ia terlalu malu untuk mengungkapkan.


Kedua manusia beda jenis itu nampak senyap, saling menatap, Abimanyu menatap nanar bibir Dhira yang selalu menggoda. Pikiran erotis muncul tiba-tiba di otaknya. Pikiran saat dia berada di atas tubuh Dhira yang terasa nikmat itu.


"Emm mas, ini rumah siapa?" otak kotor Abimanyu tersapu oleh ucapan Dhira, membuat lamunannya buyar ke udara.


"Oh ini, apartemenku!"


"Aku tidak pulang semenjak kita bertiga bertengkar tempo hari!"


"Apa?, jadi mas kabur?"

__ADS_1


"CK bukan kabur, ini tempatku. Aku hanya menghindari Gwen!"


Dhira lebih memilih diam saat membicarakan Gwen, hati kecilnya selalu merasa bersalah saat mengingat wanita yang masih menjadi istri Abimanyu itu.


"Dhira?"


"Ya!" Dhira mendongak.


"Maaf!" usai menyampaikan permohonan maaf, ia menyambar bibir Dhira posesif. Ia tak bisa menahan dirinya untuk tak menyentuh wanita yang ia cintai itu.


"Mas!" Dhira mendorong tubuh Abimanyu, membuat ciuman mereka terlepas sejenak.


"Dhir, bolehkan?" wajah sendu Abimanyu berucap dari jarak dekat, Dhira mulai gelisah saat sekarang .Apakah malam ini ia akan melewati pergantian detik dengan sentuhan Abimanyu?.


Belum sempat menjawab, Abimanyu mencium ceruk Dhira di sofa itu. Membuat Dhira merasakan gelenyar aneh si sekujur tubuhnya. Rasa yang Dhira harapkan, rasa yang Dhira inginkan saat masih bersama Indra dulu, ia yang jarang di sentuh menjadi wanita paling menyedihkan, ia yang haus kasih sayang menjadi wanita paling fakir dalam hal nafkah batin.


Lantas, bolehkan saat ini ia membiarkan Abimanyu memuaskan dahaganya?


Bibir mereka saling berpagut, Abimanyu selalu berhasil membuat Dhira mendesah saat bagian yang menjadi incaran Abimanyu sedari tadi sudah dalam genggamannya. Dalam keadaan bibir masih saling menempel, Abimanyu mengangkat tubuh Dhira ala bridal style ke ranjang king size di sebelahnya.


Ciuman itu berangsur menjadi memanas, tubuh mereka seolah menuntut hal lebih. Dengan terengah-engah Dhira melepaskan ciumannya. Otaknya mulai merasa Dejavu, ia lagi- lagi harus melupakan siapa dirinya saat ini.


Abimanyu sudah melepaskan kaos yang membalut tubuhnya, kini Dhira bisa dengan jelas melihat otot sixpack Abimanyu yang liat, bulu-bulu halus yang menghiasi dada bidang itu juga tak luput dari sapuan matanya.


Sejenak ia memandang wajah Abimanyu lekat- lekat, tak menyangka pria sempurna ini sudah pernah memasuki dirinya. Dan sepertinya, sebentar lagi akan mengajaknya kembali terbang menembus batas kesenangan ternikmat yang pernah ada.


Ia memejamkan matanya kembali, saat Abimanyu menyambar bibirnya kembali tanpa jeda. Dan malam itu, Dhira dan Abimanyu bahkan kembali mengulang hal dahsyat yang pernah terlewati bersama.


Sebagai manusia dewasa yang sarat dengan hal biologis, tentu mereka sudah tahu konsekuensi akan hal itu. Tapi yang jelas, Dhira hanyalah wanita yang rindu akan kasih sayang, serta Abimanyu yang merasa lebih percaya diri karena dia merasa dibutuhkan oleh sosok wanita yang ia sayang itu.


Lain tempat lain jalan, lain ranjang lain decitan. Mereka bergumul tanpa mengkhawatirkan suara krak krek krak krek yang biasanya mengganggu, kasur sultan mah bebas dari segala ancaman.


Abimanyu yang terlihat pulang dari membawa Dhira terbang menuju puncak tertinggi rasa paling melenakan itu, kini terbaring seraya mengatur nafasnya yang kembang kempis, tak jauh beda dengan Dhira yang bermandikan peluh. AC disana seolah tiada berguna, unfaedah!.


Abimanyu bukan untuk hal ini saja terpaksa menculik Dhira, tapi segala pengakuan wanita di sampingnya itu tadi ,jelas membuat dirinya bahagia. Dan kebahagiaan itu perlu di rayakan bukan.


Sementara Dhira yang selalu terpuaskan batinnya saat bersama Abimanyu, lagi- lagi tak bisa berbuat apa-apa, bahkan hanya untuk sekedar menolak. Mereka bukan bocah kemaren sore yang tak mengetahui hal semacam ini.


Abimanyu tak bisa menampik jika Dhira adalah wanita yang mampu membuat dirinya merasa menjadi lelaki seutuhnya, yang keperkasaannya dibutuhkan. Dan dia bangga akan hal itu.


Namun sebagai lelaki yang berpengalaman, bisa ia pastikan jika Dhira akan aman- aman saja, meski dua kali ia telah mengungkung tubuh wanita itu.


.


.


.


.


.


.


.


Tiga bab hari ini mommy up, demi kalean gaes.

__ADS_1


Yuk tinggalkan jejak, jangan jadi pembaca gelap ya. Yang kasih like mommy doakan besok dapat durian runtuh😁😁😁


__ADS_2