
Bab 42.Hukum Tabur Tuai
.
.
.
...ššš...
"Bersikaplah sesukamu. Mau baik, mau buruk semua ada upahnya!"
Pagi menyapa, terlihat Dhira yang tengah menumis bumbu. Mengeluarkan aroma sedap yang memenuhi seisi dapur itu. Ia tengah memasak rawon. Olahan daging dengan kuah pekat itu menjadi salah satu makanan favorit Raka.
Ia sengaja menutup rukonya hari ini, karena ia ingin menemani putranya. Lagipula, ia masih ingin menenangkan dirinya dari kejadian perkelahian antara mantan suaminya dan Abimanyu.
"Dhir, ada Shinta sama suaminya di depan. Kamu tinggal aja, biar ibu yang lanjutin" pinta Bu Kartika, yang tiba-tiba muncul dari arah depan.
Tanpa menunda, ia langsung melesat menuju ruang tamu.
"Shinta, Mas Rangga!" ucap Dhira menyapa.
"Aduh Dhir maaf ya, baru bisa nengok Raka sekarang. Soalnya aku baru tahu" ucap Shinta meraih tangan Dhira.
Dhira memang lupa memberitahu bila putranya mengalami musibah, ia hanya berpesan kepada Shinta untuk tidak datang ke ruko Rabu kemarin, karena dia akan ke gelanggang.
"Gapapa Shin, Raka juga gak harus nginep kok" jawab Dhira tersenyum ramah, sejurus kemudian ia beralih menatap suami dari sahabatnya itu.
"Mas Rangga apa kabar?" sapa Shinta pada pria yang yang duduk di kursi ruang tamunya itu.
"Alhamdulilah Dhir, seperti yang kamu lihat!" balas Rangga.
"Nih, buat Raka" Shinta terlihat memberikan sekeranjang buah-buahan segar.
"Aduh Shin, jadi ngerepotin kamu sama mas Rangga ini mah" ucap Dhira tak enak hati.
"CK, gak repot. Cuman buah kesukaan Raka" jawab Shinta, ia tahu bila Raka sangat senang dengan pir.
"Sekarang Raka dimana?" Shinta kembali bertanya.
"Ada di kamar"
Mereka datang menemui Raka yang setengah berbaring diatas ranjang. Terlihat sedang bermain ponsel dengan tangan kirinya
"Nak, ada Om Rangga sama Tante Shinta ini!" ucap Dhira. Membuta Raka menoleh, serta menghentikan kegiatannya berselancar di dunia maya.
"Om, Tante" sapa Raka mengangguk seraya tersenyum ramah. Benar-benar mewarisi sifat mamanya, murah senyum.
"Astagfirullah, Raka kok bisa sampai begini?" Shinta menatap ngeri kaki Raka yang terlihat membengkak.
"Biasa Tan, no pain no gain" Raka tersenyum lebar. Seolah cidera yang dia alami, tak menjadi ancaman apa-apa untuknya. Membuat semua yang disana terkekeh demi menanggapi selorohan Raka.
"Itu apa?" tanya Rangga yang melihat kaki Raka seperti di balur sesuatu.
"Oh, itu tadi Ibu kasih parem ( sejenis obat tradisional biasanya terdiri dari beras dan kencur dan rempah lain yang di tumbuk halus). Biasalah orang tua" terang Dhira kepada Rangga.
Rangga yang tahu maksud ucapan Dhira, hanya mengangguk paham.
"Dhir, ajak Shinta sama suaminya sekalian sarapan!" suara Bu Kartika, sayup-sayup terdengar lirih dari dapur.
.
.
Kamis pagi Indra terlihat datang ke kantor BCS, guna mengambil beberapa barang miliknya yang masih ada di kantor itu. Berniat segera angkat kaki dari sana.
__ADS_1
"Loh Pak, kok...?" sapa Budi ,salah satu bawahannya di Bank itu. Menatap Indra bingung, lantaran berpakaian tidak sebagaimana biasanya.
Indra tak menjawab, ia langsung masuk menuju ruang kerjanya. Kedatangan Indra ke Bank pagi itupun membuat semua karyawan disana saling berbisik, pasalnya dalam ruangan Indra rupanya telah hadir sosok Abimanyu.
.
.
Indra
Ia tak memperdulikan tatapan aneh dari pada bawahnya, persetan dengan itu semua. Ia hanya akan mengambil beberapa barang-barang miliknya yang masih berada di kantor tersebut.
Beberapa baju, jas, sepatu, laptop dan juga beberapa dokumen penting miliknya.
Namun ia terkejut, demi melihat Abimanyu yang sudah duduk di kursi kebesarannya. Direkturnya itu tak sendiri, terlihat ada dua orang disana. Pria yang sama sewaktu mereka melakukan sidak yang berhasil membongkar kejahatan Roger tempo hari.
"Kau!!" ucapnya dengan mata melebar.
"Kalian keluarlah dulu, aku ingin berbicara dengan dia!" ucap Abimanyu memerintahkan Wisang dan Danan untuk keluar.
.
.
Abimanyu
Ia sengaja meminta Wisang dan Danan untuk menemani, awalnya ia ingin cuci tangan. Tak mau bertemu lagi dengan wajah Indra.
Namun saat ucapan Wisang terus terngiang-ngiang di kepalanya, ia memutuskan untuk berbicara dengan Indra.
Ia bahkan sudah datang sedari pagi, tak mau jika dirinya ketinggalan momentum sialan ini.
Ia meminta dua sahabatnya untuk keluar dulu. Ia akan berbicara empat mata secara dewasa dengan pria yang menjadi mantan suami Dhira.
"Aku tidak ingin berbasa-basi!" ucapnya datar.
"Dengar, ada dua hal yang harus kau ketahui" terang Abimanyu berdiri, seraya berjalan ke arah Indra yang masih berdiri.
"Yang pertama, aku tidak akan mentolerir siapapun yang menyakiti Andhira!" ucapnya penuh penekanan.
Indra mengernyitkan dahinya, apa maksud ucapan pria didepannya ini.
"Kedua, aku tidak ingin melihat mukamu lagi!!" ucapnya menatap tajam, seraya menaikkan alisnya sebelah.
Indra justru tertawa sumbang," Apa hakmu menyuruhku seperti itu, ha?"
"Oh, jangan- jangan mantan istriku itu memang benar-benar berhasil merayumu ya?" Indra tersenyum penuh ironi.
"Berhenti menjelekkan Andhira!!, tuduhanmu sama sekali tidak benar!!" suara Abimanyu meninggi tiga oktaf, terlihat juga ia menunjuk wajah Indra.
"Dengar!!, tanpa kau perintah aku memang akan angkat kaki dari tempat ini. Dan untuk Dhira, ku pastikan dia akan menjadi milikku lagi!!" ucap Indra melawan dengan berbohong akan mengambil kembali Andhira. Ia tahu, bila pria di depannya itu memang menyukainya mantan istrinya.
"Kau!!" Abimanyu menarik kerah baju Indra.
Mereka diam beberapa detik, saling melempar tatapan permusuhan. Sejurus kemudian Abimanyu melepaskan cengkeramannya.
" Aku tidak akan membiarkanmu !!" ucap Abimanyu melempar tubuh Indra, membuat tubuh laki-laki itu terhuyung.
"Silahkan saja tuan Abimanyu yang terhormat" ucap Indra dengan senyum mengejek, seraya membetulkan bajunya.
.
.
Indra mengumpat berkali-kali, hidupnya benar-benar sial. Sementara renata, sejak pertengkaran kecilnya kemarin sampai sekarang ponselnya tidak bisa di hubungi.
__ADS_1
Ia membutuhkan teman untuk bicara, ia berniat menemui kekasihnya itu ke apartemen yang biasa ia gunakan untuk bercumbu saat dirinya masih berstatus suami Andhira.
Ia bahkan belum sempat mengisi perutnya sedari pagi. Pikiran yang semrawut juga ketiadaan seorang wanita dirumahnya, jelas membuatnya agak tak terurus.
Jauh dari ekspektasi, berharap bisa menikah dengan Renata selepas dia bercerai, namun tak di nyana Renata selalu menolak dengan berbagai cara.
Ia meninggalkan barang-barang bawaannya dari kantor tadi di dalam mobil. Setelah berhasil masuk ke lantai dasar, ia segera menuju ke dalam lift, menekan angka 11 untuk segera mendatangi tempat gundiknya itu.
Tring
Pintu lift terbuka, ia berjalan menyusuri koridor untuk menuju ke unit milik Renata. Ia masih ingat betul passcode pintu kamar itu.
Ia terlihat mengetik beberapa digit angka, dan berhasil. Ia membuka pintu utama apartemen itu. Ia di sambut oleh udara sejuk AC, membuatnya nyaman.
Namun kenyamanan itu hanya bersifat fana, lantaran saat ia memanggil nama Renata yang empunya apartemen tak memberi jawaban.
"Sayang!" panggilnya seraya berjalan menuju kamar. Ia mengira pasti Renata tengah berada di kamarku.
Namun bagai tersambar petir, begitu pintu itu terbuka matanya membulat sempurna demi melihat Renata tengah bercumbu dengan seorang pria. Bahkan Renata tengah dalam posisi women on top.
"Kurang ajar!!! pekik Indra.
"Mas Indra!" Renata kaget bukan kepalang, ia langsung mencabut penyatuan mereka berdua dengan buru-buru.
Indra dengan gerak cepat berusaha menarik Renata dari rengkuhan pria yang tidak ia kenal itu. Namun dengan sigap, pria di depannya itu mencekal tangan Indra.
"Apa-apaan ini!! ucap pria itu.
Bought
Bought
Bought
Indra terlihat tiga kali memberikan bogem mentah kepada pria itu, membuat Renata menjerit. " Masss!!"
"Apa yang kalian lakukan!!" Indra diselimuti emosi yang luar biasa, tak pernah mengira wanita yang selama ini ia prioritaskan tega mengkhianati dirinya.
Pria itu terlihat berdiri, seraya memegangi pipinya yang sakit akibat tinju ganas dari Indra.
"Rena, siapa dia!! apa kau sudah tidak waras??" Indra berteriak, demi melihat Renata yang malah menolong pria itu.
Mereka berdua kini berdiri, menatap ke arah Indra dengan senyuman licik." Maaf mas, tapi aku dan Bobby akan segera menikah!! ucapnya tidak tahu malu.
Tubuh Indra mendadak mematung, kakinya lemas, lidahnya kelu. Ia masih menatap tak percaya dua manusia di depannya itu.
"Sekarang mending elo pergi dari sini!!" Bobby mengusir Indra!!
"Rena, tapi kita..." Indra masih berusaha untuk meminta penjelasan Renata.
"Mas, Bobby lebih kaya dari kamu. Lagipula, kamu itu pelit. Dimintai uang alasan aja melulu. Buat si Raka lah, ini lah" ucap Renata kesal.
"Pergi kamu dari sini, atau aku panggil security!!" ucap Bobby mengancam.
Indra tak pernah menyangka bila semua ini akan terjadi. Ia bahkan sudah rela mengkhianati istrinya demi Renata, namun apa yang ia dapat saat ini?.
"Wanita *** ***, bang sat!!!!!" Ia mengumpat kepada Renata, jelas dirinya tak terima di perlakukan seperti ini.
"Arrrrggghhh!!! indra frustasi, ia menghancurkan vas bunga yang berada di dekatnya.
"Awas kamu wanita sialan!!!!" ancamannya menunjuk ke arah Renata.
Indra meninggalkan tempat itu dengan dada bergemuruh, apakah Dhira dulu juga merasakan seperti yang dia rasakan??
.
__ADS_1
.
.