
Bab 75. Terbakar Cemburu
.
.
.
...ššš...
Andhira
Orang tua tunggal yang cantik, dengan segala sikap lembutnya dan wajah keibuan
Abimanyu
Wajah khas pria Asia, dengan wibawa yang penuh
Arya
Berwajah ramah, berkulit sawo matang
"Aku terbakar Cemburu, cemburu buta. Tak bisa ku padamkan amarah di hatiku.... Tak bisa ku terima apa yang ku alamai!"
( Padi ~ Terbakar Cemburu)
Arya senang malam ini, wanita cantik disampingnya itu sudah tak sedingin kemaren. " Dhir, kamu pingin kemana?" tanya Arya masih fokus di belakang kemudinya.
"Terserah mas Arya aja!" meskipun belum sepenuhnya terbuka, Arya senang Dhira sudah memanggilnya dengan sebutan Mas.
"Kita ke Patrick Star aja ya!"
Dhira sempat tertegun, ia agak familiar dengan nama cafe itu. Tapi dimana dia pernah mendengar.
__ADS_1
Setelah sampai, Dhira baru paham bila itu adalah cafe yang pernah ia kunjungi bersama Raka dan Bastian, dengan segala tingkah norak mereka.
Dress denim selutut, dipadu dengan flatshoes favorit warna nude membuat Dhira terlihat lebih muda. Arya malam itu mengenakan kemeja yang digulung sebatas siku warna navy, juga celana warna krem yang menampilkan tubuhnya yang fit.
Dhira bahkan diam saat Arya memegang pinggangnya saat hendak duduk, meski pria itu memperlakukan dia begitu lembut, namun Dhira tak merasakan gejolak apapun. Masih terasa asing.
Mereka terlihat menerima buku menu dari pelayan disana, setelah memesan terlihat seseorang menabrak Arya lalu baju Arya terkena cipratan minuman di bagian lengannya.
"Oh astaga, saya minta maaf tuan!" ucap pria yang memakai masker itu.
"Haaacim Haaacimmm!" pria itu nampak bersin-bersin.
Dhira berdiri turut panik, takut jika Arya marah. Namun kekhawatirannya tak terbukti," tidak apa-apa?" Arya tersenyum.
"Aku ke toilet dulu ya!" pamit Arya, berniat membersihkan noda di bajunya.
Sejurus kemudian....
"Dhir!" Abimanyu terlihat berdiri di samping Dhira, pria bermasker itu membuka maskernya. Dhira mendelik. Apakah mereka bersekongkol.
Ya, Wisang sengaja menumpahkan minuman ke baju Arya, guna menjeda waktu mereka.
"Cepat jangan lama!" tukas Wisang.
Abimanyu menarik Dhira menuju mobilnya yang terparkir di belakang, sepi tanpa ada lalu lalang orang disana. Untung saja kaca mobil itu dilengkapi oleh lapisan yang membuat kegutan mereka tak terlihat.
Abimanyu langsung menyambar bibir Dhira, kali ini agak kasar dan menggebu-gebu. membuat Dhira merasa tersakiti. Tangan kiri Abimanyu menekan tengkuk Dhira, sementara tangannya memegang pinggang Dhira. Ia melahap habis bibir Dhira, rasa yang sudah hampir terlupakan karena lebih dari dua Minggu mereka tak bertemu.
"Mas!!" Dhira mendorong Abimanyu, ia tak mau jika Abimanyu berbuat kasar terhadap dirinya.
Mereka saling terengah-engah, saling mengatur nafas.
"Ini yang kamu bilang ibu kamu tidak setuju?"
"Jelaskan siapa dia?" Abimanyu mati-matian menahan emosi dalam dirinya.
Dhira menangis detik itu juga, air matanya tak mampu lagi dia tahan. " kamu tega banget Dhir, tega?!" Abimanyu kini berbicara dengan suara bergetar.
"Tiap hari aku datengin ruko kamu, tapi tiap hari juga kamu gak ada!"
__ADS_1
"Siapa laki- laki tadi?" Abimanyu mengeraskan suaranya, karena Dhira tak kunjung menjawab.
"Siapa!!!!!" Abimanyu lekas kehilangan kesabarannya.
Dhira menggeleng seraya menggigit bibir bawahnya, hatinya sakit , terlalu sakit. Prasangkanya benar, bila Abimanyu akan mengira dia telah menyeleweng. Tapi biarkan saja , lebih baik Abimanyu membencinya saat ini, itu lebih baik dari pada dia merasa bersalah.
Dhira berfikir, mungkin lebih baik bila Abimanyu melihat dirinya yang jahat dari pada menyalahkan ibunya.
"Dia tunangan ku!"
Jeduaaaar
Tubuh Abimanyu seketika mematung, jantungnya serasa tak normal. Apa maksud ucapan wanita di depannya itu.
"Apa maksud kamu?" Abimanyu kini terlihat mengeluarkan air matanya.
Dhir masih tetap menangis, entahlah bagian terdalamnya sudah lebur tak bersisa.
"Kamu menghilang tanpa penjelasan, setelah apa yang kita lalui bersama. Dan setelah kamu kepergok dengan pria itu kamu bilang dia tunangan kamu?" Abimanyu mengeraskan rahangnya.
"Oh..." Abimanyu tertawa sumbang, otaknya tak bisa berfikir keras. Baru besok ia akan berencana mengunjungi keluarganya bersama Nyonya Regina, namun malam ini sepertinya ia harus menelan kenyataan pahit.
"Aku gak terima Dhir, besok kamu harus jelaskan ke aku. Empat mata, aku tunggu kamu besok di apartemenku. Aku ingin kejelasan, setelah itu terserah kamu!"
Brakkkkk!!!
Abimanyu membanting pintu mobil itu, ia memilih pergi sebelum ia tak bisa lagi berfikir sehat.
Dhira menangis sejadi jadinya, ia tak tahu lagi musti bagiamana. Cintanya harus tergadaikan dengan dalih baktinya kepada pintu surganya itu.
Sementara di tempat lain...
Klek Klek Klek
"Loh, kok terkunci pintunya!" Arya terperanjat.
Dan semua itu adalah kerjaan si Wisang.
.
__ADS_1
.
.