
Bab 52. Pengukuhan Niat
.
.
.
...ššš...
Raka
Hatinya mendadak tercekat saat melihat tangan mamanya yang di pegang oleh ayah Jodhi. Ia tahu bila pria itu baik, jelas tak bisa ragukan lagi. Ia pun bersaksi demi yang satu ini.
Tapi entah mengapa, ada rasa tak suka menelusup dalam hati. Ia bukan bocah yang tak mengerti makna dari hal itu, dan semua kejadian yang ia lihat tadi fix membuat dirinya menurunkan standar kedekatan kepada Abimanyu.
"Iya kan Ka?" ucap Jodhi meminta pendapatnya. Tapi, entah apa yang sedari tadi bocah itu katakan. Ia tak menyimak sama sekali. Hatinya masih diliputi rasa tak suka saat melihat Abimanyu memegang tangan mamanya.
Dan reaksi mamanya yang terlihat tak nyaman, jelas mengganggu pikirannya.
"Ka!" senggol Jodhi, membuyarkan lamunannya.
"Emmm iya" jawabnya menoleh setengah terperanjat, karena senggolan Jodhi.
"CK, lah ini!. Diajak ngobrol malah ngelamun!"
"Awas kesambet!!"
"Sory, tadi aku mikir apa buku aku udah masuk ke tas semua. Soalnya semalam belajar di recokin Om Bastian!" jawabnya bohong.
.
.
Abimanyu
Dia menatap kedua bocah itu dari kaca depan mobilnya, menatap mereka bergantian. Beberapa detik matanya bertemu dengan mata Raka. Tersirat wajah kecewa dari anak itu.
"Nanti kamu jadi kan langsung balik ke rumahku?" keponakannya itu nampaknya gencar untuk mengajak Raka. Ya, ia tahu bila Jodhi sangat berapi-api saat ia akan kedatangan kawannya itu.
Tapi ia menangkap wajah tak biasa dari Raka, tatapan yang tak bisa ia artikan. Rasa-rasanya belum pernah dia melihat Raka berwajah begitu. "What"s wrong with u?
"Nanti mas Agos yang jemput kalian!"
Raka tak bergeming, masih diam membuang muka ke arah jendela. Terlalu malas untuk menjawab.
"Apa dia melihatku tadi?" isi otaknya berkata.
.
.
Bocah anak dari Andhira itu nampaknya tak bisa menyembunyikan sedikit rasa tidak sukanya pagi itu. Sepertinya semenjak dia mengetahui bila mungkin saja mamanya itu tengah dekat, dengan pria yang sebenarnya adalah pakde dari Jodhi itu.
Ia berbicara tanpa berani menatap Abimanyu. " Terimakasih Om!" namun, ia bukan menatap wajah Abimanyu, namun menatap deretan kancing jas mahal dan kenamaan yang di kenakan pria itu. Membuat sang pemberi tatapan jas bisa menarik kesimpulan.
Ada yang tidak beres.
Sementara Jodhi, as usually. Dia sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dilakukan bocah itu. Ponsel, ponsel dan ponsel. Agaknya sudah bisa di prediksi, di masa depan rekannya itu akan menjadi apa.
"Sama-sama, om berangkat dulu!" Abimanyu akan mengusap puncak kepala Raka, namun bocah itu hanya diam. Membuang pandangannya.
Abimanyu melajukan mobilnya seorang diri, tanpa supir. Baginya sekalian saja melakukan apapun seorang diri. Toh selama ini kesendirian masih menjadi tema hidupnya bukan.
Dan dia tersenyum sendiri saat ini, mengingat perlakuan Andhira yang selalu saja perhatian. Seperti memberinya secangkir teh dengan bau sedap melati tadi pagi. Apalagi, mulutnya sudah lancar mengungkapkan perasaannya. Hanya saja, ia masih belum lega. Karena ia yakin, Andhira masih belum bisa menjawab.
...ššš...
Andhira
Ia menjadi tak konsen mengerjakan apapun, usai mendengar kalimat Abimanyu tadi. Mulai dari donat yang menjadi mirip dengan kayu arang. Entah berkelana kemana pikirannya saat menggoreng makanan dengan lubang di tengah itu. Definisi karena kelamaan terangkat.
Tak berhenti disitu, kuah rawon yang harusnya lezat kini rasanya menjadi letih kebanyakan micin. Karena ia salah memasukkan komposisi bumbu, dikiranya garam tak taunya itu adalah Monosodium glutamat.
"Astaga Dhir, lu kayaknya tiap habis ketemu Tuan ganteng itu jadi gak beres deh!"
"Gak beres apanya, cuma salah goreng donat aja!" kilahnya.
"CK, masih ngelak. Udan Dhir, lu sama dia aja. Kayaknya dia suka Lo sama elu. Aku setuju kalau kamu sama dia!"
"Kamu bisa berhenti deh memproduksi donat versi kegelapan itu. Masa depan Raka juga terjamin!"
Mulut sahabatnya itu makin licin dan tak mau berhenti jika sudah bersabda tentang Tuan gantengnya itu. Sementara pernikahan bukan cuma urusan kelimpahan materi, namun ada hati dan perasaan yang berperan disana. Dan untuk saat ini, meskipun gelenyar aneh sering muncul tanpa sebab tiap mereka berdua, tapi saat ini dalam otaknya sama sekali tak terpikirkan untu menuju arah sana.
.
.
__ADS_1
Malam menjelang, setelah Jodhi yang merengek tanpa jeda kepada Raka, akhirnya dirinya mau untuk ikut.
"Mas, udah banyak orang belum? Jodhi bertanya kepada Agus, pria muda yang menjabat sebagai supir di keluarga Aryasatya.
"Sudah Den, tapi orang yang mengatur dekorasi aja!"
"Tamunya belum!"
"CK, kalau itu sih aku tahu!"
"Ya udah kita jalan sekarang!"
Sementara di keluarga Andhira, mereka tengah sibuk. Dhira sengaja pulang kerumah Bu Kartika bersama Shinta, usai membaca pesan dari Raka.
Ma aku bareng Jodhi, kita ketemu dirumah Oma Buyutnya Jodhi.
Pesan singkat itu, menjadi petunjuk bagi dirinya untuk datang kerumah ibunya. Dengan membawa serta kado yang dia sudah persiapkan. Sebuah mukena dengan harga termahal yang bisa ia jangkau. Entah mengapa, dari sekian banyak pilihan kado yang bis diberikan, ia kepincut dengan mukena itu.
Menurutnya, barang itu bisa di jadikan kenang-kenangan yang akan selalu digunakan. Karena sudah pasti orang sekelas Nyonya Regina, pasti bisa membeli apapun dengan uang yang ia miliki.
Mereka memesan taksi online malam itu, sementara Bastian rencana sepulang kantor akan melesat menuju kediaman Nyonya Regina.
.
.
Andhira
Ia berpenampilan cantik malam ini, balutan dress sopan warna nude pink nan fit di badannya, membuat dia terlihat lebih muda. Makeup tipis cenderung Natural, juga rambut yang ia buat sedikit Curly. Membuatnya tampil bukan seperti seorang penjual kue.
Ia berdandan bukan untuk seseorang, namun untuk dirinya sendiri. Jika ada pepatah "Ajining Rogo Soko Busono" ( Berartinya badan dari baju yang dikenakan) itu sudah mejadi ugeman untuk Dhira.
Suasana ramai terasa bahkan sejak mereka turun dari taksi, ada banyak petugas keamanan yang berjaga di depan rumah megah itu. Ia bahkan tak percaya, ada di antara kerumunan manusia dengan kelas tinggi itu.
Ia menggandeng tangan ibunya mengurangi kegugupannya, tak bisa menafikkan bila ini bukanlah tempat dari golongannya.
"Dhir, rame bener! " Bu Kartika takjub, tapi tidak dengan dirinya. Yang entah mengapa, takut bila bertemu Abimanyu. Lebih tepatnya takut bila ia akan membicarakan hal itu lagi.
"Selamat malam Bu, mohon maaf kami akan periksa dulu. Silahkan masukkan barang anda ke X-ray!" pinta petugas keamanan, dengan pakaian hitam yang fit di badan kekar mereka.
"Semuanya pak?" ia bertanya dengan bodohnya.
"Ya buk!"
"Astaga, udah kayak mau naik pesawat aja barang-barang kita masih X-ray" gumamnya dalam hati.
.
.
Tidak ada kompromi untuk urusan keselamatan, ia harus menjamin hal itu. Mulai dari semua barang tamu harus melalui mesin X-ray, body search untuk memeriksa badan tamu secara manual, benar- benar dari definisi mengutamakan aspek safety and security.
Dalam waktu kurang dari 24 jam, ia sudah berhasil mengkoordinir segala lini pesta itu. Jangan ditanya, lagi lagi uang selalu bisa memangkas birokrasi rumit yang melelahkan.
Nyonya Regina yang di temani cucu perempuannya, Rania. Sudah terlihat berdiri dan menyalami para tamu.
Mulai dari keluarga dekat, para sahabat Nyonya Regina yang juga sudah memutih rambutnya, para kolega, para kenalan yang termasuk di dalamnya adalah keluarga Bu Kartika.
Dengan perasaan yang menjadi kerdil, Andhira melangkah menuju tempat dimana Nyonya Regina berdiri bersama Rania. Mereka meletakkan kado di tempat khusus, mengikuti tamu lainnya yang yang melakukan hal yang sama.
"Mbak Dhira, Bu Kartika!" sapa riang Rania saat melihat mereka. Nyonya Regina tersenyum senang.
"Nyonya selamat ulang tahun, semoga di usia 80 ini Nyonya diberi umur panjang, kesehatan dan berkah selalu menuntun" Bu Kartika menyalami tangan keriput wanita tua itu.
"Terimakasih sudah mau datang, saya sangat senang kalian mau datang!" jawab Nyonya Regina dengan suara seraknya.
"Selamat ulang tahun Oma, semoga Allah memberkahi kesehatan dan umur panjang buat Oma!" Dhira berucap seraya mencium tangan wanita tua itu dengan takzim.
Mendapatkan perlakuan hangat dari Andhira, nyonya regina terharu. Ia mengelus puncak kepala Andhira.
"Terimakasih banyak Nak!"
.
.
Abimanyu tak percaya jika Andhira akan berubah menjadi secantik malam ini, Ia yang bersama Wisang tengah mengobrol bersama beberapa kolega yang diundang. Namun matanya masih menatap Andhira yang tengah berbincang dengan adik dan neneknya.
Sementara Danan, jangan di tanya. Ia sudah berada di kumpulan wanita cantik disana. Sebagian besar adalah saudara dan kerabat dari keluarga Aryasatya.
Wisang mengikuti arah pandangan Abimanyu, kemudian menggelengkan kepalanya. " Pantas saja dia berdandan total malam ini, rupanya janda pujaannya ada disini!" batinnya terkekeh. Sahabatnya itu nampaknya mengalami puber kedua.
Mereka saat ini tinggal berdua, karena para kolega barusan sedang berniat menemui rekan mereka yang lain. Tumpah ruah di rumah mewah itu.
"Ehem" Wisang berdehem, membuat lamunan Abimanyu menguap.
"Kau harus bertanggung jawab bila pesta ini gagal karena tempat ini akan banjir karena air lirumu itu!" ucap Wisang meledek Abimanyu yang terbengong menatap Dhira.
__ADS_1
"Anjing banget mulutmu!" Abimanyu terkekeh, rupanya Wisang mengetahui bila Dhira sudah ada disini.
"Kalau dia tampil begitu, udah kayak perawan Bim!" bisik Wisang kepada Abimanyu.
"Perawan rasa janda!" bisiknya lagi.
Saat itu Abimanyu memiting leher Wisang, membuat mereka berdua menjadi perhatian orang yang lewat di samping mereka.
...ššš...
Pesta berjalan lancar, setelah seremonial berjalan, sambutan, juga sedikit drama dari Rania, potong kue kini mereka sudah bersantai.
Saling menikmati hidangan, dan suguhan live musik dari penyanyi terkenal. Menghibur tamu dengan lagu- lagu klasik atau sesuai request dari tuan rumah.
Dhira yang ta melihat Raka sedari dari, langsung mengenal anaknya itu kebelakang. Ia barusan nampak melihat putranya itu berjalan. Ibunya tengah berbincang dengan Nyonya Regina, sementara Bastian yang datang terlambat karena pekerjaan juga tengah menikmati jamuan mewah di temani oleh Rania. Lapar tak terkira. Satu-satunya divisi yang sama, yang ia kenali dirumah itu. Lainnya, adalah wajah asing baginya.
Namun saat dibelakang, ia tak menemukan putranya. Disana hanya ada dua sofa minimalis kosong dan sayup-sayup suara penyanyi yang menyanyikan lagu.
Dan saat berbalik, tubuhnya membentur dada Abimanyu. Membuat dia terhuyung dua langkah ke belakang.
"Astaga maaf!" Abimanyu yang berniat menjawab sebuah panggilan telepon menuju halaman belakang, seketika men-switch off ponselnya.
Andhira terdiam, pria yang ingin ia hindari malah justru nongol di depannya." Maaf saya harus men..." kalimatnya menggantung.
"Bisa kita lanjutkan yang tadi pagi?"
.
.
Rasa tak nyaman terlihat jelas dari gestur Andhira. Ia memainkan ujung jarinya, kadang menghentak kakinya cepat ke lantai, memainkan ujung gaunnya. Membuat Abimanyu menghela nafas.
Ajakan yang cenderung seperti perintah, mau tidak mau ia turuti.
"Hanya sebentar!" ucap Abimanyu, yang membuatnya meng-iyakan ajakan pria itu.
"Aku janji tidak akan lama!" ucap Abimanyu yang sudah duduk di sofa hitam, dengan menatap Andhira yang berwajah tak nyaman.
" Saya tertarik sama kamu, dan sudah saya jelaskan tadi pagi!" ucap Abimanyu, Andhira masih terdiam. Belum mau menjawab, tubuhnya sudah bergetar karena degup jantung yang sama getarnya saat ini.
"Saya tidak pantas buat mas!" ucapnya sambil menunduk.
Tunggu dulu, "Mas?" seringai licik nampak di senyum Abimanyu. Ini adalah kali pertamanya Dhira, memanggilnya dengan sebutan lain selain tuan.
"Saya yang tahu kamu pantas opa tidak buat saya!"
Sama sama hening.
"Saya tidak bisa mas, saya...." ia bingung, jelas dia tidak mau menjawab iya.
"Baiklah, beri saya waktu untuk meyakinkan kamu. Tapi tolong jangan menghindar lagi, kasih saya kesempatan untuk kita dekat, setelah itu kamu yang putuskan!"
Belum sempat Dhira menjawab, terdengar langkah yang mengarah kepada mereka. Seketika Dhira menjadi takut, takut terjadi salah paham dengan apa yang terjadi disana. Seroang janda tengah mengobrol berdua dengan pria yang berstatus tidak jelas.
"Gila lu ya, semua orang nyariin kamu malah enak-enakan disini!" Danan nampak mencercanya dengan omelan, nafasnya terengah-engah karena berlari, sejenak memindai tampilan Andhira yang wow banget.
"Ada apa?" Abimanyu membuat Danan menghentikan tatapannya, membuat Abimanyu mendengus kesal karena malah memperhatikan Andhira.
"Gwen datang sama anak elo itu!!"
"Apa???" mata Abimanyu membulat tak percaya.
.
.
.
.
.
Hay Readers, segini dulu ya. Part yang ini udah mommy panjangkan Lo.
Ya, Gwen sudah kembali, yang penasaran kenapa Gwen meninggalkan Abimanyu tunggu besok ya. Konflik baru tengah dimulai.
Buat yang kasih mommy hadiah dan votenya terimakasih banyak, buat yang belum mommy berharap dari readers sekalian šš.
Jangan lupa mampir di karya Mommy yang baru, Sang Pengobral Dosa
m
Mommy tunggu like dan comment juga vote dari kalian ya.
Big hug from me š¤šš
__ADS_1