The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 147. Sindrom Kehamilan Simpatik


__ADS_3

Bab 147. Sindrom Kehamilan Simpatik


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Pujangga mengatakan Oh, cinta berharga dari emas dan permata. Lalu kubawa cinta di persada jiwa. Sinar menyuluh gelita.."


( Diambil dari lirik lagu Iklim ~ Hakikat Sebuah Cinta)


.


.


Zonk rupanya adalah satu kata yang pantas di sematkan kepada Wisang. Pria dengan mata sipit itu benar-benar nestapa sekali malam itu.


" Maaf ya mas, aku...." Sekar merasa tak enak hati, bukan hanya Wisang saja yang seolah konyol, lantaran aksi mereka mogok di tengah jalan, dirinya yang menuntut untuk melakukan hal lebih pun, kini harus bisa meredam gelora yang membara di hatinya.


" Ya sudah ga apa-apa, bentar aku mau telpon yang di bawah dulu. Kamu gak bawa pembalut kan?" tanya Wisang dengan gelisah. Wajahnya sudah panas, dan kepalanya pusing. Namun pria itu masih berusaha untuk memberikan perhatian di tengah kesengsaraan yang melanda.


" Belum!" Sekar memandang Wisang muram. Siapa juga yang tahu jika akan begini.


" Tunggu sebentar ya biar ku telpon, aku juga mau mandi dulu . Kita istirahat lagi setelah ini!" Wisang mengecup kening istrinya, sejurus kemudian ia menuju pesawat telepon ekstensi, yang duduk rapi di nakas samping ranjang mereka.


Beberapa menit kemudian, petugas hotel dengan seragam putih hitam dan dasi kupu-kupu yang bertengger rapih di bawah jakunnya itu ,mengantar satu bungkus roti kempit ( pembalut) untuk penghuni kamar pengantin itu.


Usai mengucapkan terimakasih, Sekar menutup kembali kamar itu. Ia bisa melihat kebingungan terpancar dari raut wajah petugas hotel itu, malam pertama dengan headline sebuah pembalut tentu bukan hal yang baik-baik saja pikir petugas itu.


Entah apa yang di lakukan oleh suaminya itu, durasi mandinya lebih lama dari pada waktu mandi orang pada umumnya. Sekar mengganti bajunya dengan daster rumahan yang ia bawa, pakaian ternyaman kaum ibu-ibu dan sebangsanya.


Ia merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia menggerakkan tangan dan kakinya membentuk pola sayap kupu-kupu. Sambil terus menyunggingkan senyum, ia merasa sangat bahagia. Ia tak menyangka dibalik jalan hidupnya yang nelangsa, Tuhan malah memasangkan dirinya bersama orang yang begitu mencintai serta melindungi dirinya.


Ceklek


Pintu kamar mandi itu terbuka, Wisang terlihat menyembul dari balik pintu kamar mandi itu. Sekar dibuat menelan ludah saat melihat suaminya yang hanya berbalut handuk sebatas pinggang itu.


Tubuh Wisang yang berkulit sawo matang, otot perut yang nyaris mirip seperti daging durian yang timbul, otot yang bertabur liat disana-sini, bahkan besarnya lengan Wisang, bisa jadi dua kali lipat ukuran lengannya yang kecil. Membuat Sekar meremang dengan pria yang berkali- kali hobi menyambar bibirnyanya itu.


" Kok lama banget mas?" ucap Sekar , seraya berjalan menuju lemari.


Gimana gak lama, orang kamu buat aku berhenti di tengah jalan begitu. Terpaksa deh.


" Ia seharian berdiri, badan lengket banget. Jadi lama gosoknya !" Wisang berdalih seraya menyengir. Ia malu jika harus mengakui bila dirinya menuntaskan hasratnya dengan menggunakan metodenya sendiri.


" Mau pakek baju apa?" tugas pertama sebagai istri langsung ia tunaikan. Yakni melayani.


" Kaos itu aja, sama celana itu!" Wisang yang rambutnya masih basah itu makin terlihat tampan. Sekar menyukai tampilan suaminya yang ia nilai begitu maskulin.


Dengan sigap wanita itu mengambil baju, dan celana yang di tunjuk suaminya itu. Tak lupa, ia mengambil sebuah CD.


" Yang ini kamu gak tanya?" Wisang terkekeh saat Sekar memberikan CD dengan warna abu bertuliskan Calvin Klein itu.


" Yang ini gak perlu di tanya mas. Kalau gak dikasih ini, entar itunya mas kabur kemana-mana!" ucap Sekar mencoba mengikuti Wisang yang selama ini kerap berucap blak-blakan.


Wisang tergelak, istrinya begitu cepat beradaptasi dengan dirinya. Wisang langsung melepaskan simpul ringan handuknya, membuat tubuhnya kini polos los. Sekar yang melihat Wisang bertelanjang, ia langsung mengalihkan pandangannya. Membuat Wisang kian tergelak.


" Mas!!!" Sekar merasa malu, sejurus kemudian ia merayap ke ranjang lebar itu agar tak melihat benda yang mungkin malah membuat dia makin merasa bersalah, lantaran palang merah itu memblokade laju hasrat seorang suami, di malam pertama.


Wisang kembali tergelak. Usai memakai bajunya dengan lengkap, pria itu turut menyusul istrinya.


" Sini, aku mau peluk- peluk kamu!" dengan posisi terlentang, Wisang membuka tangannya agar Sekar masuk ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Sekar menuruti, wanita itu kini bisa menghirup aroma sabun dan segarnya tubuh Wisang. " Mas!" ucap Sekar saat suaminya itu menghujani dirinya dengan ciuman di rambut.


" Hmmmm!" jawab Wisang yang asik dengan rambut istrinya itu.


" Maaf ya?" Sekar merasa bersalah.


" Kenapa minta maaf, aku masih bisa membelahnya besok-besok!" Wisang terkikik geli. Sementara Sekar menjadi ngeri begitu mendengar jawaban 'membelah'.


" Udah kita tidur aja ya. Aku juga capek, kamu juga kan?" usai mencium kening istrinya lembut dan lama, Wisang tidur sembari mendekap tubuh istrinya itu. Meski gagal menyelami lautan kenikmatan bersama malam itu, namun Wisang tak hentinya merasa bersyukur atas kebahagiaan yang mereka dapatkan saat ini. Meski Wisang dan Sekar juga tak tahu, aral melintang seperti apa yang akan mereka hadapi di lembaran hari- hari berikutnya.


...šŸšŸšŸ...


Jika dua manusia yang menyandang gelar sebagai pengantin baru tengah dirundung kenestapaan, beda dengan dua manusia di belahan tempat lain.


" Ahhhhhhh!!!"


Tubuh Abimanyu mengejang saat cairan penuh rasa cinta itu terbenam diantara celah sempit milik Dhira. Bahkan wanita itu, sudah berhasil dibuat menggelinjang serta melesat ke puncak tertinggi kenikmatan yang pernah ada itu, berkali- kali.


Abimanyu dan Andhira usai melakukan percintaan panas mereka yang entah keberapa kalinya itu, kini tengah duduk bersandar di atas bantal kamar mereka.


" Mas masih suka mual karena Devan?" tanya Dhira yang merasa suaminya itu , tengah mengidap gejala yang aneh.


" Bau Devan itu aneh lo sayang , dia bilang udah gak pakai parfum apapun. Tapi masih aja baunya gak enak!" Abimanyu merasa memang dirinya sangat tak nyaman bila sudah berhadapan dengan bau parfum Devan.


Dhira selalu mengelus dada telanjang suaminya. Kebiasaan yang selalu ia lakukan, saat mereka selesai bertempur malam itu. Membentuk pola aneh aneh dengan jarinya, membuat Abimanyu selalu memejamkan matanya karena suka dengan sentuhan itu.


" Padahal pak Devan bau parfumnya aja bisa kecium dari radius jauh loh mas!" sergah Dhira.


" Entahlah sayang, tapi anehnya kenapa cuma sama Devan?" sahut Abimanyu yang kini lekas meraba tubuh istrinya. Dan pergulatan panas itu, kembali terulang. Jika tubuh Dhira itu buatan pabrik cina, sudah di pastikan akan remuk redam dalam dua hari saja. Mengingat Abimanyu adalah pria dengan stamina yang seolah tiada surutnya.


.


.


" Mas?" Dhira langsung membuka pintu kamarnya.


Ia menatap wajah pucat suaminya dengan butiran keringat yang kentara di dahinya.


" Mas sakit ?" tanya Dhira dengan raut khawatir.


" Gak tau Dhir, perutku kok gak beres begini ya?" jawab Abimanyu yang menyambar tissue di samping wastafel kamar mandinya. Sejurus kemudian ia mengelap keringat di dahinya sendiri.


" Kita ke rumah sakit ya, mas harus periksa ini!" Dhira begitu khawatir, suaminya beberapa waktu ini sering mengeluhkan perintah yang selalu bergejolak.


" Panggil Richard saja!" ucap Abimanyu yang kini manja kepada istrinya.


Abimanyu berbaring, ia merasa lebih baik jika sudah di elus-elus oleh Dhira. " Bentar ya aku buatin jahe hangat, sama mau nelpon dokter Richard dulu!"


Abimanyu lemas sekali pagi itu, sangat berbeda dengan dirinya yang berapi- api saat mengungkung tubuh istrinya semalam.


.


.


Tiga puluh menit berlalu, dokter Richard selalu memprioritaskan kebutuhan keluarga Aryasatya. Abimanyu yang jarang sakit itu, kini membuat dokter dengan wajah ganteng itu cukup heran. Apakah Abimanyu habis terkena hujan lalu pilek?


Dengan disambut oleh Dhira, doker itu mengekor di belakang istri Abimanyu hingga ke lantai dua kamar mereka.


" Terimakasih banyak dokter, sudah mau datang!" seperti biasa, Dhira memang selalu rendah hati terhadap orang lain.


" Jangan bicara begitu, biar dia tidak makan gaji buta!" sahut Abimanyu. Karena selama ini, keluarga Aryasatya selalu berkorporasi dengan dokter Richard.


Richard hanya mencebikkan mulutnya, " Kau bisa sakit juga?" cibir dokter Richard yang tengah mengeluarkan stetoskopnya. Membuat Dhira terkekeh karena melihat interaksi keduanya.


" Diem lu, lu pikir gua mahkluk apaan gak bisa sakit?" dengus Abimanyu.

__ADS_1


Richard tergelak, sejurus kemudian ia memeriksa Abimanyu. "Apa yang dirasa?"


" Mas Abi sering mual lo dok, sering ngeluh perutnya gak beres belakangan ini!" kini Dhira yang menjelaskan hal yang kerap di alami oleh suaminya itu.


Menurut pemeriksaan dan diagnosis sementara Richard, Abimanyu tak mengalami sakit yang serius. Semua hal yang menyangkut pemeriksaan dasar, juga terbilang normal.


Ricard memandang Abimanyu dan Sekar secara bergantian. Ia mencoba menarik kesimpulan versinya sendiri. Berniat akan menyampaikan hal ini kepada Dhira.


" Astaga!" Dhira terlonjak kaget saat teringat akan sesuatu.


" Kenapa sayang?" tanya Abimanyu, pria itu langsung berubah sikap kepada istrinya. Membuat Richard mencibir.


" Dokter saya tinggal sebentar ya. Saya mau temui Raka dulu!" pamit Dhira.


" Berangkat sama siapa Dhir?, atau aku anter aja dulu ya?" Abimanyu sudah merasa gusar jika menyangkut urusan anak mereka.


" Enggak usah, tadi aku nelpon Rania buat mampir kesini. Aku bilang kalau mas sakit jadi gak ngantor. Jodhi berangkat sama mamanya hari ini, soalnya Bagus mau ngantar Oma ke temannya. Jadi sekalian aja aku titip Raka !" tukas Dhira.


Usai Dhira menutup pintu kamar mereka, Abimanyu kembali ke mode biasa." Gue sakit apaan?"


Tuh kan , dasar tadi sama istirnya aja kayak bayi lu. Sekarang udah begini lagi. Dasar sableng. Dokter Richard mengumpat dalam hati.


" Elu gk sakit, gue jadi curiga jangan-jangan elu cuman alasan aja biar bini elu ngurusin elu terus!" Richard terkekeh.


" Matamu, tiap pagi perut b'rasa kayak di aduk begini , malah elu bilang gak sakit. Nyium di Devan malah ganti ganti baunya. Gak enak banget. Terkahir aku nyium bau parfumnya, malah kayak bau solar!" Abimanyu mendengus.


" Jangan-jangan elu yang dokter gadungan, selama ini kibulin keluarga gue!" Abimanyu terkikik geli saat mencibir sahabatnya itu.


Dokter Richard tergelak keras. " Lu kenapa sih, bisa sentimental sama assisten elu itu. Kuat banget ikatan kalian. Gue jadi curiga sebelum elu nikah sama Dhira, elu ada apa-apa sama anak itu!"


" Matamu Chad!" dengus Abimanyu. Membuat tawa Richard kencang.


" Aku berikan obat pereda mual ya, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tensi dan segala macammu juga normal!"


" Ya sudah, kau boleh pergi!" ucap Abimanyu dengan gerakan seperti mengusir ayam.


.


.


" Loh Dokter, sarapan dulu mari!" Dhira agak terkejut karen melihat Richard yang sudah keluar dari kamar mereka.


" Terimakasih banyak Bu Dhira, saya ada jadwal hari ini!" Richard merasa Dhira sangat baik, beruntung Abimanyu mendapatkan istri yang sumrambah ( ramah) seperti Dhira.


" Bu saya bisa bicara sebentar?" Richard yang merasa ada ganjalan, segera mengutarakan isi hatinya.


" Bisa dokter, kita bicara disana saja ya?" Dhira menunjuk sofa ruang tengah. Mungkin dokter Richard hendak menyampaikan hasil pemeriksaan yang tadi ia lakukan.


" Jadi begini Bu, Abimanyu setelah saya periksa tak mengalami indikasi sakit apapun!" ucap Richard dengan nada lembut.


" Jadi suami saya bohong?" Dhira mengerutkan keningnya.


Dokter Richard tertawa kecil, bisa-bisanya Abimanyu kini diragukan oleh istrinya. " Bukan Bu!"


" Bu mohon maaf, ini hanya prediksi saya. Ibu tolong ingat kapan terakhir Bu Dhira tengah datang bulan. Karena kalau berdasarkan hasil pemeriksaan saya yang tak menemukan hal serius terhadap suami anda, besar dugaan saya Abimanyu mengalami sindrom kehamilan simpatik!" terang dokter Richard.


Mata Dhira membulat sempurna " Sindrom kehamilan simpatik?"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2