The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 167. Adu Mulut


__ADS_3

Bab 167. Adu Mulut


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Jauhilah orang bebal!! karena pengetahuan tak terdapat dalam diri mereka. Apalagi bibirnya!"


.


.


Tiga pria itu turut mengikuti langkah dari dua wanita yang membantu Shinta untuk turun. Shinta menolak bantuan para pria itu. Ia lebih memilih dua wanita itu untuk menemaninya menemui Papa dan Mama mertuanya.


" Gak usah mas, saya biar sama Dhira saja!" ia menolak tawaran Danan.


Abimanyu dan Wisang hanya diam saat melihat raut kecewa dari Danan usai tawarannya yang mendapat penolakan itu. Ia tahu sahabatnya itu hanya murni karena kasihan. Ia yakin bila Danan sudah mulai menghadang perasan terlarangnya itu dengan kesungguhan.


" Udah biarin aja, kita lihat dari sini saja!" ucap Abimanyu menepuk bahu lebar Danan. Memberikan penghiburan buat sahabatnya itu.


Ketiga pria itu berdiam di balik pintu konektor dengan kaca bening yang menjadi aksen disana, mengiringi langkah Shinta, Dhira dan Sekar dengan tatapan mereka yang lekat.


Mereka bahkan bisa mendengar suara Shinta yang bergetar saat berucap. Dari jarak lima meter itu, mereka juga masih bisa mendengar bila wanita yang mereka yakini sebagai ibu Rangga itu, berkata keras, kasar dan tak layak untuk di lontarkan kepada istri Rangga itu.


Danan mengeraskan rahangnya saat ia mendengar wanita tua itu menyebut Shinta mandul, dan menjadi sasaran tuduhan mama Rangga atas musibah kecelakaan yang menimpa Shinta dan Rangga.


Rasa ingin melindungi menelusup sanubari Danan saat itu.


" Apa-apaan orang itu?" Danan hendak masuk namun di cegah oleh Wisang. Danan makin tak Kuta mendengar ucapan tak pantas dari mulut mama Rangga itu.


" Mau keman lo, diam! jangan buat semua tambah runyam!" Wisang memperingati sahabatnya itu.


Danan kembali merapatkan tubuhnya dibalik tembok tepat di sebelah Abimanyu dengan raut muram. Hatinya nyeri saat mendengar Shinta di maki dan di katai yang tidak-tidak.


" Sepertinya hubungan Shinta dan ibu mertuanya kurang baik!" tukas Abimanyu.


Wisang yang mendengar penuturan Abimanyu itu, seketika teringat dengan mamanya. Wanita yang juga tak suka kepada Sekar. Ia seketika menjadi menjadi kasihan dengan Sekar. Ia tak ingin sampai istrinya itu mengalami hal yang sama dengan Shinta.


Sejenak ia merasa nasibnya hampir sama dengan Rangga. Sama-sama memiliki orang tua wanita yang tak menyukai istri pilihannya.


Danan, masih tertegun. Sungguh ,entah mengapa bara api di dadanya seolah tersulut, hanya dengan mendengar Shinta yang di maki begitu.


Abimanyu menajamkan pendengarannya, saat ia familiar dengan sebuah suara. Ya, ia tahu bila Istrinya itu tengah turut bersuara.


"Diam kamu, saya gak ngomong sama kamu!"

__ADS_1


Terdengar suara lengkingan dari dalam. Membuat darah Abimanyu seketika mendidih. Istrinya tengah di maki oleh orang lain. Jelas membuat dirinya tak terima.


Ia tak bisa menahan diri lagi jika sudah menyangkut istrinya itu. Dengan gerakan cepat ia membuka lawang dari baja ringan itu seraya mengeraskan rahangnya.


"Siapa anda berani membentak istri saya?" ucap Abimanyu yang tiba-tiba muncul dari balik pintu konektor itu. Melipat kedua tangannya, lalu menatap tajam Bu Nisa.


Danan dan Wisang saling menatap. Jelas akan menjadi hal yang tak mudah untuk dua orang tua tadi.


Abimanyu yang berucap mendadak itu, sukses membuat kelima manusia yang menghubungi Rangga itu menatapnya dengan kompak.


" Sebaiknya anda harus menjaga ucapan anda Nyonya!" Abimanyu kini berjalan ke arah mereka. Membuat Dhira menelan ludahnya. Ia tahu, suaminya itu marah.


" Anda siapa. Saya tidak kenal anda!" sahut Bu Nisa.


" Oh anda tidak perlu mengenal saya. Saya juga tidak berminat untuk mengenal anda!" tukas Abimanyu dengan mode sombong.


" Mas!!" mata Dhira mendelik ke arah Abimanyu. Wanita itu memeringati suaminya, bila yang diajaknya bicara itu adalah orang tua.


Shinta dan Sekar saling menatap seraya menelan ludah bersama. Pak Ali kini turut menatap ke arah Abimanyu. Sementara Danan dana Wisang terlihat memenuhi ambang pintu, guna melihat perdebatan antara Abimanyu dan Bu Nisa.


" Saya tahu anda tengah khawatir, panik dan terkejut atas musibah yang menimpa anak anda!" Abimanyu memandang lekat ke arah Bu Nisa.


" Tapi saya rasa bukan hanya anda satu-satunya orang yang merasa seperti itu!"


Mereka semua masih terdiam.


" Lihat!" Abimanyu menunjuk ke arah Shinta yang masih duduk diatas kursi roda, seraya menyusut sudut matanya.


" Mas!!!" Dhira merasa suaminya itu sudah kelewatan. Bagaimanapun juga Bu Nisa adalah orang tua.


Abimanyu tak memperdulikan peringatan istrinya itu.


Bu Nisa menatap tajam ke arah Abimanyu. Ia begitu geram saat ini. Bisa-bisanya pria dengan usia yang lebih tua sedikit dari pada anaknya itu mengatainya buta. Pria itu sangat kurang ajar sekali pikirnya.


" Apa semua orang-orang di sekelilingmu ini kurang ajar hah?" kini Bu Nisa kembali menyalahkan Shinta.


" Ibu tolong dengar saya dulu...jangan menyalahkan orang lain!" Abimanyu menyergah ucapan Bu Nisa.


"Saya hanya ingin ibu tahu, anda jangan pernah merasa menjadi orang yang paling terluka disini. Anda wanita yang tadi anda bilang apa?..." Abimanyu menyipitkan matanya seraya menunjuk ke arah Bu Nisa.


" Ah...iya....anak anda selalu sial karena dia?" ucap Abimanyu menunjuk Shinta.


" Benar begitu Bu?" Abimanyu menautkan kedua alisnya. Bu Nisa menatap sengit ke arah Abimanyu.


Pak Ali masih dalam mode santai melihat kejadian di depannya itu. Menunggu Abimanyu menyelesaikan kalimatnya.


" Kenapa anda sesekali tak berfikir jika dia yang sial karena menikah dengan anak anda, heh?" Abimana benar-benar berang. Membuat kesemua yang disana terdiam akan ucapan telak dari Abimanyu.


" Cukup mas, cukup...itu orang tua mas!!" Dhira langsung menggeret lengan Abimanyu keluar, sebelum suaminya itu makin membuat segala sesuatunya runyam.

__ADS_1


Ia menyeret suaminya tanpa mengucap sepatah katapun. Dhira benar-benar malu dan merasa tak enak hati dengan Shinta, apalagi dua orang tua itu.


Jelas mereka berdua akan bertengkar siang itu.


" Lihat Pa! pria itu bahkan tidak tahu sopan santun!" ucap Bu Nisa saat Abimanyu sudah enyah dari hadapan mereka karena seretan Dhira.


" Lalu mama apa? mama sedari tadi gak mau mendengar ucapan papa!! mama pikir mama lebih baik dari anak itu?" Pak Ali benar-benar muak dengan istrinya itu.


Danan dan Wisang tak percaya bila Abimanyu terlibat adu mulut dengan emak-emak. Shinta yang mendadak pusing, seketika lemas dan dalam hitungan detik pandangannya kabur. Ia tak sadarkan diri.


" Mbak Shinta!!!" Sekar berteriak saat tubuh Shinta mendadak limbung.


Mata Danan yang menangkap keganjilan itu, sekita melompat dan berlari cepat bak anak kijang di hutan belantara. Pria itu panik saat melihat Shinta yang pingsan.


Pak Ali dan Bu Nisa terperanjat secara bersamaan saat melihat mantunya tiba-tiba tak sadarkan diri. Keadaan seketika menjadi kacau. Sekar panik tak karuan, Wisang kini turut berlari ke arah dimana Shinta pingsan.


Dengan sekali angkatan, tangan kekar Danan mengangkat tubuh Shinta yang tak sadarkan diri itu.


" Sekar, bawa ampul infus itu!" pinta Danan.


" Panggil dokter segera!" Danan berkata kepada Wisang, dan langsung di balas anggukan oleh pria bermata sipit itu.


Sebelum pergi Danan berbalik dan menatap kedua orang tua Rangga itu. Membuat Sekar turut berhenti mendadak karena ia membawa ampul infus milik Shinta.


" Kalau sampai keselamatan Shinta di pertaruhkan disini. Anda yang akan paling saya salahkan!" ucap Danan menatap tajam Bu Nisa lalu melenggang pergi, seraya membopong Shinta.


Bu Nisa menatap suaminya dengan alis bertaut.


" Siapa pria itu, mengapa berani berbicara seperti itu kepada mama Pa...semua teman istri Rangga orang gak tahu sopan santun!!" Bu Nisa menggerutu dengan suara keras.


" Dan lihat, mengapa dia begitu panik saat Sinta...."


" Jangan... jangan..."


" Udah Ma ,stop... Ma.... berhenti terus membuat kekacauan!!!"


" Semua ini gara-gara Mama yang gak bisa jaga mulut, gak bisa jaga sikap, gak bisa pakai otak dingin!!" Pak Ali telah sampai pada batas kesabarannya detik itu.


" Mereka semua teman Shinta. Wajar kalau bantu dan panik. Gak usah berfikiran macam-macam!!"


" Benar kata anak itu tadi, kalau ada yang patut disalahkan disini, orangnya adalah mama!"


Pak Ali mendudukkan dirinya ke sofa di sebelah ranjang anaknya seraya memijat keningnya yang begitu pening. Ia mumet tiada terkira saat itu.


" Kok Papa nyalahin Mama terus!!" Bu Nisa nampak tak terima.


" Terus harus nyalahin siapa. Udah Ma stop jangan bicara lagi, papa pusing!!!" Pak Ali kali ini membentak istrinya, membuat Bu Nisa langsung mengunci mulutnya rapat-rapat dengan mode kesal.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2