
Bab 187. Supir Baru
.
.
.
...ššš...
" Malam tetaplah malam aku takut sendri"
Danan agaknya belum bisa memasuki hati Shinta. Wanita benar-benar telah merekatkan hatinya kepada mendiang suaminya itu.
" Kau istirahatlah, aku akan pulang!" Danan merasa harus segera memungkasi percakapan yang alot itu.
Pipi Danan masih berdenyut dan merasa panas usai di tampar Shinta tadi. Tapi itu tak sesakit rasanya di tolak untuk kesekian kali.
Shinta diam dan hanya sesekali menyeka air matanya. Ia masih berdiri di ruang tengah dekat tangga itu. Danan menghela napas berat dan panjang, sesaat sebelum ia pergi. Ia pergi tanpa menoleh lagi kebelakang, rahangnya mengeras menahan hati yang sesak.
Shinta menangis usai pintu itu di tutup oleh Danan. Sejurus kemudian ia menuju pintu depan lalu mengunci pintu itu, ia beringsut ke lantai seraya menangis. Ia bukannya buta dengan perhatian Danan selama ini, dan ungkapan Danan baru saja, jelas membuat ia semakin tak tenang.
Mereka berdua sama-sama tersakiti.
Danan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Menunjukkan pukul dua belas lebih dua puluh menit. Ia menatap rumah Shinta yang tertutup, lengan kekarnya mengetat saat menggeser gerbang rumah Shinta. Ia melenggang menuju mobilnya yang terparkir di sebrang jalan.
" Arrrgggghhhh!" pria itu terlihat mengacak rambutnya frustasi. Danan menangis diatas setir bundarnya. Apakah cinta selalu semenyakitkan ini? dimanakah cinta yang kerap di puja- puja orang itu, yang katanya membahagiakan? mengapa ia begitu asing dengan yang namanya cinta?
.
.
.
Kediaman Abimanyu
Pukul 06.30
Hari Rabu ini sesuai jadwal Abimanyu akan terbang ke kota BL dengan Devan, menggunakan pesawat komersil , yang akan di jadwalkan take off pukul sembilan nanti.
"Papa mungkin tiga sampai empat hari di BL, habis ini Pak Nanang datang. Itu supir baru buat Raka rekomendasi dari Om Devan!" tutur Abimanyu yang kini duduk menunggui Dhira menyelesaikan olesan selai ke atas roti miliknya.
" Sendiri Pa disana?" tanya Raka yang kini lebih dulu mengunyah roti isi selai cokelat kesukaannya.
" Sama Om Devan, harusnya sama mama. Tapi Papa gak mau mama capek!"
Abimanyu tidak mau menggadaikan keselamatan istri dan janinnya. Karena selain rapat koordinasi antar sesama perusahaan Manufakturing, disana juga akan diadakan acara Family Gathering yang diadakan oleh ketua aliansi perusahaan manufacturing se Indonesia. Dan kegiatan itu berpotensi membuat istrinya lelah, apalagi riwayat Dhira yang pernah keguguran serta usianya yang sudah matang ini patut Abimanyu perhitungkan.
" Lagipula mama gak mau ikut, nanti Raka sama siapa?" Dhira menyahut. Bagaimanapun juga, ia tak mau membuat Raka merasa di anaktirikan.
" Kita bisa atur jadwal liburan nanti kalau Raka libur ya. Papa janji!" Abimanyu memang semenjak menikah dengan Dhira belum pernah mengajak keluarganya untuk melancong kemanapun.
Kesibukan yang menyerang tiada henti, serta banyak sekali kejadian mendadak yang menyita waktu yang terjadi di sekelilingnya ,membuat ia tak memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu.
__ADS_1
" Nyonya, itu supirnya sudah datang!" Yuni menyembul dari pintu masuk, menginformasikan jika Nanang telah datang.
" Suruh masuk aja Mbak!" Dhira kini meletakkan roti yang sudah berbalut selai cokelat ke piring Abimanyu.
" Makasih sayang!"
Keluarga yang bahagia, keluarga yang selalu Dhira harapkan sejak dulu.
" Pagi Tuan, Nyonya!" Pria bernama Nanang itu ternyata , adalah pria lajang yang masih muda.
Sialan Devan, ngerjain gue lagi tu anak.
Abimanyu membatin saat ia melihat sosok supir yang berperangai anak muda banget, dan terlihat rupawan. Berbeda dengan ucapan Devan saat memberikan resume calon supir baru itu.
" Pagi..kamu beneran Nanang?" Dhira mengernyit sejurus kemudian menatap suaminya meminta penjelasan. Kalau tidak salah, suaminya tadi menyebutkan Nanang dengan panggilan ' Pak'.
" Kamu umur berapa?" Abimanyu bertanya dari kursi yang masih ia duduki.
" Benar Nyonya, saya Nanang Bagus. Saya 25 tahun Tuan!" Nanang nampak sopan dan terlihat luwes.
Awas aja si Devan ngerjain gue.
" Yakin kamu udah sering nyupir, udah ada SIM belum?" Abimanyu nampak mengintrogasi pria muda itu. Sementara Raka nampak sesekali melihat siapa yang akan setiap hari riwa- riwi dengannya itu.
" Sudah Tuan, pengalaman saya sebagai supir alat berat di bagian cargo bandara!" jawab Nanang.
" SIM kamu apa?"
" Siap, B1!"
" Siap Pak!" sahut Nanang cepat. Membuat Dhira tersenyum.
.
.
" Kamu punya HP?" Abimanyu kini berbicara dengan Nanang empat mata di kursi ruang tengah.
" Ada Pak!"
" Kamu wajib tahu semua nomor keluarga disini, minta sama Yuni nanti. Terus kamu selain jadi Supir bantu Pak Sugeng apa yang dia butuhkan. Saya tiga hari keluar kota, saya minta kamu bantu jaga istri sama anak saya!"
" Jemput antar Raka tepat waktu, kamu udah tau kan kalau nginep disini mulia hari ini?" tanya Abimanyu kembali.
"Siap, sudah Pak!"
" Apa keahlian kamu selain nyupir?"
" Saya bisa berkelahi dengan tangan kosong Pak!" ucap Nanang.
" CK, kalau itu semua orang juga bisa!" dengus Abimanyu.
"Maksud saya, saya bisa beladiri Pak!" sergah Nanang cepat.
__ADS_1
" Jangan cuma bela diri sendiri, bela istri sama anak saya juga. Ingat jaga anak istri saya seperti kamu menjaga harga diri kamu!"
Nanang menelan ludahnya, benar apa yang dikatakan Devan kepadanya bila majikannya itu penuh kejutan dan harus siap dengan hal aneh-aneh kalau sudah menyangkut istrinya.
" Siap Pak!"
.
.
Nanang sudah melesat pergi bersama Raka. Abimanyu tahu, rekomendasi dari Devan tidak akan pernah mengecewakan. Ia bisa melihat bila Nanang adalah anak baik- baik.
" Mas mau bawa baju berapa?" Dhira dan Abimanyu kini berada di kamar, sebenarnya Dhira sudah menata pakaian Abimanyu kedalam koper hardcase hitam milik suaminya itu.
" Banyakin kaos sama kemeja casual itu aja sayang, bawa jas sama kemeja resminya tiga aja. Palingan kita banyak acara outdoor!"
" Sama sepatu yang itu!"
Abimanyu sebenarnya tak sampai hati meniggalkan istrinya. Tapi bagiamana lagi.
" Kamu beneran gak apa-apa kan aku tinggal sendiri, duh apa aku gak berangkat aja ya Dhir?" Abimanyu yang duduk di tepi ranjangnya itu memasang wajah muram.
Dhira yang sudah menyelesaikan tugasnya itu, kini mendekati suaminya yang duduk muram. Abimanyu merengkuh pinggang istrinya yang berdiri sesaat setelah Dhira tiba di depan Abimanyu.
Dhira mengusap lembut rambut suaminya yang kini menyenderkan kepalanya ke perut Dhira yang berdiri. Dhira tersenyum senang dengan ketergantungan Abimanyu terhadapnya.
" Jaga diri jaga hati!" ucap Dhira lembut.
" Kamu curiga sama aku?" Abimanyu langsung melepas pelukannya. Ia mendongak menatap wajah istrinya yang tersenyum dengan begitu cantiknya. Ah ingin saja Abimanyu melahapnya pagi itu.
Dhira menggeleng seraya tersenyum " Bukan curiga, aku mau terus ngingetin mas. Ada aku, Raka dan ini ( menunjuk ke perut yang lekas timbul) yang nunggu mas dirumah!"
" Aku kangen Dhir!"
" Belum juga berangkat, mas jangan macem-macem disana!"
" Aku gak macem-macem loh Dhir. Nanti kamu bisa tanya di Devan, dia kan tim sukses kamu!" tukas Abimanyu muram.
Dhira terkekeh " Jangan nunda makan loh mas disana. Aku janji bakal baik-baik aja disini!" Dhira menatap suaminya.
Dhira mendudukkan wajahnya dan mencium bibir suaminya. Ia yang berniat hanya ingin mengecup, kini tengkuknya justru di tekan Abimanyu. Membuat ciuman itu berubah menjadi lum*atan panas dan terjadi dalam durasi yang lama.
" Duh jadi pingin Dhir, masih sempat kali ya?" Abimanyu merasa ciuman itu membuat mahkluk di bawah sana mulai bangkit dari persemayamannya.
Plak
Dhira memukul bahu kekar suaminya.
" Semalam kan udah!" sergah Dhira cepat yang membuat Abimanyu tergelak.
.
.
__ADS_1
.