The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 232. Danger for Wisang (4)


__ADS_3

Bab 232. Danger for Wisang (4)


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Meskipun kerap menjadi dungu dan rombeng, korban cinta buta tetap keukeuh ( ngotot) menyebut diri mereka sebagai pemuja unsur kehidupan bernama kesabaran!"


.


.


Devan


Ia tak memiliki kesempatan bahkan hanya untuk mengganti pakaiannya. " Jason, jangan lupa bawa senjata Laras panjangmu!" ia dituntut cepat saat ini juga.


Kapan ia bisa berkencan dengan Alexa jika begini terus. Ia bahkan merasa harus bisa meledakkan kepala musuh Wisang yang kini turut membuatnya rempong itu.


Lagipula, ia ingin memberangus kaum yang dengan beraninya mengusik orang-orang disekitar Abimanyu.


Sisi serigala para pria di delta group itu, agaknya lekas bangkit, mengingat potensi tersangka yang sama ,saat kasus sabotase mobil pria pemilik pabrik marine produk itu tempo hari itu cukup tinggi.


Devan bermanuver kasar, ia mengemudi seorang diri. Sementara Jason dan yang lain ia juga sedang dalam perjalanan menuju kawasan Pegangsaan.


.


.


" Apa kau berpikir sama denganku Bim?" ucap Danan yang berada di kursi penumpang bagian belakang.


" Apa?" Abimanyu tak mengerti maksud sahabatnya itu.


" Jika tebakanku tidak salah, pasti mereka adalah orang yang sama saat aku dan Bastian membantu Wisang di gudang minyak kapan hari!"


Nanang yang mengemudi dalam mode tegang itu, hanya bisa meneguk ludahnya. Jakun pria itu naik turun seiring dengan keterkejutannya akan obrolan keren dua pria berumur yang tampan itu. Ia merasa sudah mirip di film- film mafia yang pernah ia tonton.


" Mantan kekasih Sekar?" ucap Abimanyu.


Danan mengangguk seraya memasang peluru dalam magazen senjatanya. " Dia lolos saat aku mengejarnya, aku bahkan sudah lupa jika pria itu masih hidup!"


Klek Klek


Danan mengokang senjatanya usai seluruh isi bullet case itu berpindah ke senjatanya. Ya, Danan mengecek kondisi barang itu. Sudah lama dia tidak bermain-main dengan benda berisi timah panas itu.


Nanang yang melihat Danan dari rear vision mirror di depannya, benar-benar merasa takjub. " Wah!" pria bujang itu terperangah. Orang kaya memang punya segalanya.


" Tapi, polisi sudah menyebar wajah pria itu. Bagaimanapun bisa?" Abimanyu sedikit berpikir.


" Itulah yang harus segera kita ketahui, kau harus selamat. Ingat janin dalam perut istrimu yang membesar itu!" Danan menyerahkan senjata Laras pendek yang usai ia isi dengan peluru itu.


Abimanyu meraih senjata itu, lalu menyelipkannya ke belakang punggungnya. Wajah Abimanyu datar tak terprediksi. Nanang benar-benar tak bisa lari saat ini, jelas ia akan terlibat dalam satu hal yang membuat adrenalinnya mendadak simpang siur.


.


.


Di kediaman Wisanggeni


" Siapa kamu!" Tuan Wikarna menatap tajam seseorang yang mengarahkan pucuk senjatanya kepada dirinya.


" Tidak penting anda tahu siapa saya!" Pria itu menatap tajam tuan Wikarna.


Saat dua orang tua Wisang itu masih bingung dengan yang terjadi, puluhan orang berpakaian serba hitam datang secara bersamaan. Membuat nyali tuan Wikarna terkikis perlahan.


" Pah..!" nyonya Lisa semakin ketakutan saat mereka seakan terkepung, wanita itu tubuhnya seketika bergetar.


" Apa mau kalian?" Tuan Wikarna mengeluarkan segala keberanian yang ia miliki.


" Hahahaha!" Pria yang mengintimidasinya dengan sepucuk senjata itu tertawa mengerikan.


" Mau saya?" pria itu berjalan mendekat seraya memasukkan kembali senjatanya ke belakang punggungnya.


Berkata dengan penuh nada ironi.

__ADS_1


Pria itu mendekati tuan Wikarna dan Nyonya Lisa. " Mau kami adalah, nyawa anak anda!" ucap pria itu penuh penekanan dan nada serius.


Seketika nyonya Lisa mendelik dan langsung menampar wajah pria yang berkata kurang ajar itu.


Plak!


" Kurang ajar?" Nyonya Lisa melayangkan tamparan ke wajah pria itu.


Pria itu terlihat memegangi wajahnya yang terasa panas dan berdenyut akibat tamparan keras dari wanita tua cantik di depannya itu " Brengsek!" pria itu langsung menarik pucuk senjatanya yang tersimpan di balik punggungnya.


" Kuhabisi kalian sekarang juga!"


Dor!


.


.


Wisang dan Sekar yang berada di lantai atas di kejutkan dengan suara tembakan. Mereka berdua saling menatap.


" Mas, apa itu?" Sekar benar-benar takut. Ia merasa hidupnya seolah kiamat saat ini juga.


Wisang menggenggam tangan istrinya. Ia harus keluar kamar untuk bisa luar dari rumah itu melalui pintu belakang.


Tidak ada cara lain, istrinya tengah hamil. Tak mungkin ia mengajak Sekar untuk kabur dari lantai atas kamarnya.


Terlalu beresiko.


" Sebentar!" Wisang menunduk dan menghampiri tubuh pria yang terkolek tak berdaya itu, ia meraba tubuh pria itu , seperti sedang mencari- cari sesuatu. Ia rupanya mengambil sepucuk senjata yang ada dibalik punggung pria itu.


Wisang juga dengan langkah cepat menarik laci lemarinya, mengambil satu senjata lain. Sekar yang melihat itu mendelik seketika. Tak mengira bila suaminya memiliki dan menyimpan senjata api itu di kamar mereka.


" Ayo, ikut aku!" Wisang tak memiliki banyak waktu. Ia bahkan melupakan ponselnya yang jatuh ke kolong kamarnya saat ia berkelahi degan pria asing tadi.


Dan betapa terkejutnya Wisang saat ia membuka pintu dan kini berada di depan kamarnya. Ia bisa melihat dengan jelas kekacauan yang terjadi di rumahnya dari lantai dua itu.


Rumahnya sudah sangat kacau. Lebih terkejut lagi, ia melihat mamanya yang kini di tarik oleh seorang pria lain yang mengacungkan senjatanya ke atas.


Ya, rupanya pria itu menghardik nyonya Lisa usai menampar pipinya dengan keras. Membuat dia orang tua Wisang itu kini ketakutan.


" Mama!" gumamnya lirih dengan napas memburu.


" Singkirkan tanganmu!" tuan Wikarna berusaha melepaskan cengkraman tangan orang asing itu, yang terlihat begitu menyakiti Istrinya.


" Diam kau orang tua, aku akan membunuhmu sekarang juga jika kau melawan!" hardik orang lain dari arah belakang.


Membuat dua orang tua itu hanya bisa diam pasrah.


" Wisang!, kau turun atau kedua orang tuamu akan aku bunuh Sekarang juga!" Ucap seseorang dengan lantang.


Sekar yang mendengar suara itu, seolah merasa mengenali. Tapi...


Wisang seketika bingung, jika ia turun itu artinya ia mempertaruhkan nyawa istri dan calon anaknya.


Namun, jika ia tak turun kedua orang tuanya dalam bahaya. " Brengsek!" ia mengumpat dengan rahang mengeras.


" Mas, mama sama papa!" Sekar panik, ia tak bisa melihat orang tua suaminya dalam keadaan seperti itu.


" Aku hitung sampai tiga, jika kau tak segera turun. Jangan harap kau bisa melihatnya lagi!" orang itu tertawa mengerikan usai mengatakan hal biadab seperti itu.


Wisang menarik napas dalam. Semua terasa sulit jika melibatkan orang-orang terkasihnya.


" Satu.."


Wisang masih bergelut dengan dirinya. Wajah pria itu nampak menimbang-nimbang.


"Dua..."


Nyonya Lisa memejamkan matanya karena ketakutan, sementara tuan Wikarna mengeraskan rahangnya karena merasa tiada berguna.


" Tig..."


" Hentikan!" Wisang berbicara dari atas. Ia tahu semua ini tak mudah. Bak menelan simalakama.


Pria di bawah itu dan kesemua orang disana mendongak keatas. Nyonya Lisa menatap anak dan menantunya dengan wajah kasihan. Sejenak ia melihat keadaan Sekar yang kacau, begitupun anaknya.


Pria sebagai komando pasukan jahanam itu tersenyum licik

__ADS_1


Wisang berjalan menuruni tangga, pria itu terus menggenggam tangan Sekar. Entahlah, ia benar-benar berada di posisi yang sulit sekali saat itu.


" Bagus, itu artinya kau menyayangi orang tuamu?" pria itu tertawa mengerikan saat menyongsong kedatangan Sekar dan Wisang.


Sejurus kemudian ia menggerakkan alisnya, memberikan kode bagi anggotanya untuk menangkap Wisang.


" Mas!!" Sekar yang melihat suaminya di tarik paska oleh dua orang berbadan tegap itu , seketika menjerit.


" Diammm!!!" pria jahat yang mengetuai aksi itu membentak Sekar. Membuat rahang Wisang mengeras karena menahan emosi yang membuncah.


Kini Wisang berada dalam cekalan dua orang, entah apa yang mereka mau. Nyonya Lisa dan tuan Wikarna menatap iba putranya.


Pria itu berjalan menuju Sekar yang berdiri seorang diri. " Kau sudah hamil ternyata, jadi


... pria itu sudah menggagahimu rupanya?" Pria itu mendekat ke wajah Sekar.


Mengusap wajah Sekar dengan seringai licik.


" Wisnu!" ucap Sekar menatap mantan kekasihnya itu dengan tak percaya.


Pria itu membuka penutup wajahnya. Membuat Sekar serat Wisang terkejut karena tampilan Wisnu yang terlihat berbeda. Tatto yang menghiasi wajah Wisnu kian membuat Sekar tak percaya.


" Kau rupanya sangat mengenaliku sayang!" Wisnu meraba pipi Sekar.


" Jangan sentuh istriku brengsek!" Wisang memberontak, pria itu terlihat begitu geram, namun ia tak bisa untuk pergi karena ia di pegangi oleh dua orang yang berbadan tegap seperti dirinya. Jelas Wisang kalah jumlah.


Tuan Wikarna dan Nyonya Lisa bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Sekar mengenali pria jahat dengan tato di wajahnya itu.


" Wow, suaminya marah rupanya!" Wisnu tergelak mencibir.


" Iko..!" Wisnu mengedipkan matanya seraya berjalan mundur, memberikan petunjuk pada Iko untuk menembak Wisang.


Wisnu berjalan dengan santai seraya menyunggingkan senyum licik. Iko kini sudah siap untuk membidik Wisang.


Namun, Sekar yang mengetahui hal itu, seketika berteriak . Suaminya dalam bahaya.


" Mas awas!"


Dor!


Mata nyonya Lisa dan tuan Wikarna seketika membulat demi melihat peristiwa yang sama sekali tak pernah mereka pikirkan.


Peluru yang harusnya mengenai Wisang, kini malah mengenai Sekar karena wanita itu berusaha menyelamatkan suaminya.


Perut sebelah kiri menantunya yang kini tertembak. Timah panas itu kini bersarang di tubuh menantunya yang tengah mengandung calon cucu mereka.


" Tidak!!" Wisang berteriak hingga tenggorokannya serak.


Demi dunia dan seluruh isinya, melihat istrinya yang tertembak membuat Wisang menghempaskan cekalan tangan dua pria itu, dengan keras.


Kini mereka tahu, seberapa besar kekuatan seorang Wisang.


" Sekar!!!" Wisang tak memperdulikan siapapun lagi, ia segera merengkuh tubuh istrinya yang langsung limbung.


" Arghhhhh, mas sakit !" Sekar merintih kesakitan seraya mengeluarkan air mata.


Kini Nyonya Lisa tahu arti dari perasaannya yang tak enak sedari kemarin. Kini matanya juga seolah di celikkan oleh aksi heroik Sekar yang menyiratkan cinta yang penuh kepada putranya.


Dor


Dor


Dor


Terdengar suara tembakan dari luar, membuat Wisnu menautkan kedua alisnya seraya menatap anak buahnya yang saling mengendikkan bahu, tanda tak mengerti.


" Wisnu!"


" Mundur Wis, sepertinya aku melihat sekretaris Abimanyu yang membawa pasukan mereka!"


" Kita kalah jumlah!"


Mira dengan suara gugup menginformasikan hal itu kepada Wisnu.


" Brengsek, siapa Abimanyu!" Info dari Mira tersebut membuat Wisnu geram, sejurus kemudian ia memberikan kode bagi para anggotanya untuk segera pergi dari tempat itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2