
.
.
.
...ššš...
Dhira
Malam hari pasca ia di labrak oleh ibu-ibu yang tak ia kenal tadi, sukses membuat dirinya insomnia. Ia tertegun menatap bayangan dirinya di cermin. Apakah menyandang status janda itu benar-benar sesulit ini?, jika diminta memilih tentu dia tidak mau untuk hidup begini.
"Huft!" ia menarik nafasnya dalam, apa yang tengah ia rasakan beberapa hari ini sebenarnya sudah cukup membuat hatinya menjadi sakit. Hinaan Indra, jalan hidupnya yang masih harus tertempa badai nasib, pikirannya tentang masa depan Raka, di tambah lagi hinaan ibu-ibu tadi.
Sekelebat bayangan Bu Kartika muncul, mungkin inilah dampak melawan orang tuan di masa silam, bahkan sampai saat ini ia masih belum tahu alasan kuat mengapa ibunya itu tak merestui dirinya.
Sebuah bukti nyata, bila restu orang tua itu sangat penting, dan sosok ibu adalah sosok keramat yang doanya manjur, mujarab, serta pasti dijabah oleh yang maha mengatur kehidupan.
Juga ucapan Shinta tempo hari yang memintanya untuk menikah, guna membereskan Citra negatif seorang janda, masih menjadi hal yang gamang untuk ia lakukan.
Tapi apa dia bisa membuka hati?, apa dia bisa keluar dari rasa trauma?.
Melihat jam di nakas kamar sederhananya, ia memilih untuk mensucikan diri dengan mengambil air wudhu. Ia sudah shalat isya', namun tak ada salahnya bukan. Ia ingin mengadu kepada yang maha membolak-balikkan hati.
.
.
Abimanyu
Ia malam ini pulang larut sekali, ia menghisap rokok di bawah cahaya temaram di balkon kamarnya. Ditemani angin yang kian menusuk kulit. Bulan yang terlihat sempurna itu, seakan menertawakan dirinya.
Bagaimana tidak, pria tampan, kaya sarat akan kehormatan. Namun apa yang di kejar?, bahka hatinya pun kosong melompong, tak berpenghuni.
Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, teringat akan ucapan Oma yang terus saja menyuruh dirinya untuk membuka lembaran baru.
"apa aku harus melepaskanmu Gwen?" batinnya berbicara.
Jika umur manusia rata-rata akan di berikan hidup hingga 60 tahun, itu artinya kurang dari 20 tahun ia akan menghirup napas di bumi. Itu artinya, bila tidak segera mengikuti kata hatinya, ia akan hidup dalam kegamangan, hidup dalam kekonyolan. Menunggu hal yang tak pasti, yang akan berujung kepada kesia-siaan.
Ia menggerus puntung rokok yang masih panjang, sekelebat niat hadir menelusup ke relung hatinya. Ia merebahkan dirinya diatas kasur, kasur yang dingin karena lama tak digunakan untuk perhelatan panas.
Ia menggunakan dua tangannya untuk dijadikan bantal, matanya nyalang menatap langit-langit.
"Akan aku lakukan besok!" ucapnya dalam hati, ia memejamkan matanya. Berharap segala keletihan yang ia rasakan, hilang terbawa mimpi.
__ADS_1
...ššš...
Malam yang dingin berganti dengan sinar mentari yang datang membawa serta harapan baru untuk semua penduduk bumi. Geliat kehidupan sudah terasa, anak-anak berangkat ke sekolah, para guru berangkat mengajar, karyawan menuju kantor, dan seorang janda cantik terlihat sibuk menata makanan dan kue lezat, mencoba peruntungannya dengan tetap berjualan.
Hari ini rencana akan buka setengah hari saja, lantaran nanti selepas magrib mereka akan memenuhi undangan Nyonya Regina.
"Dhir, lu udah ada kado buat buyutya temen Raka?" Shinta bertanya, seraya mengelap meja meja disana.
"Belum, bawa apa ya Shin. Aku belum tahu ini!"
"Lah, kok bisa. Eh Dhir, memang ya orang kalau kaya begitu. Udah tua, masih saja ulang tahun!"
"Ye, kamu ini di tanya apa jawabnya apa!"
Beberapa detik kemudahan datang sebuah mobil sepagi itu, Shinta sudah masuk ke dalam. Menyisakan dirinya yang masih membersihkan showcase.
Dhira terkejut, melihat Abimanyu yang rupanya turun dari mobil sedan itu. Orang yang sudah lama tidak ia temui, bahkan memang sengaja. Dan itu lebih baik.
Namun hatinya lega, begitu melihat sosok Jodhi yang ada di belakang pria jangkung itu. Terlihat menutup pintu mobil, dan berjalan ke arahnya.
"Pagi Tante!" sapa Jodhi yang selalu bersemangat saat bertemu dengan dirinya.
"Pagi Jo!" Dhira tersenyum ramah. Abimanyu terlihat masih menelpon seseorang di parkiran, entahlah mungkin dengan assistennya.
"Raka mana?, aku mau jemput dia sekalian Tan. Nanti pulangnya dia biar ikut kerumah ya. Kan nanti Tante kesana juga!" rupanya bocah itu ingin meminta ijin darinya, untuk mengajak Raka.
Setelah Jodhi meluncur kebelakang untuk menemui putranya, ia sempat melihat Abimanyu yang terlihat marah-marah saat berbicara di ponselnya. Ia hanya menggelengkan kepalanya, ia akan membuat teh untuk Abimanyu. Bukan apa-apa, hanya sebagai ucapan terimakasih karena mau menjemput putranya.
Entah siapa yang dimaki oleh Abimanyu, namun saat teh yang ia seduh telah siap, pria itu bahkan belum selesai mengeluarkan emosinya, Dhira memilih untuk menata sendok dan garpu di meja-meja kedainya itu.
Namun tak berselang lama, pria itu terlihat menghampiri dirinya." Hay, apa kabar?" seperti biasa, dia selalu bisa sesantai itu. Padahal, jelas dia baru saja marah kepada orang di sambungan telepon.
Dhira tersenyum," baik, silahkan mungkin bisa sedikit mengurangi emosi" ucap Dhira yang memberikan secangkir teh hangat, dengan sepotong cake lezat.
Abimanyu terkekeh demi mendengar ucapan Andhira, sepertinya wanita itu melihat dirinya yang memarahi Devan. Jelas assistennya itu membuat hal yang tak becus.
"Si Devan !" ucapnya memberitahu kepada Andhira. Tunggu dulu, kenapa harus memberitahu Andhira?. Apakah itu penting?.
Saat Shinta hendak meletakkan kue yang baru ia angkat dari oven, ia berhenti demi melihat sosok yang duduk di depan Andhira. Ia tersenyum, sejurus kemudian ia memilih kembali ke dapur. Memberikan ruang bagi sahabatnya itu. Ia akan melakukan pekerjaannya nanti setelah pria kaya nan tampan itu pergi.
"Emmm, kenapa semua hal mama Raka buat selalu enak ya" ucap Abimanyu yang tersenyum, sesaat setelah menyesap teh hangat, dengan aroma melati yang sedap.
Dhira terkekeh, selalu saja pria itu berlebihan dalam memuji. Bukannya, rasa teh dimana-mana begitu-begitu aja.
Mereka saling diam, Dhira bahkan kehabisan bahan untuk berbicara. Mau meninggalkan juga tak enak, ia adalah tamu sekaligus supir untuk anaknya nanti.
__ADS_1
Diam sejenak.
"Oma!"
"Oma!"
Mereka berucap secara bersamaan, membuat mereka tertawa kecil menyadari hal itu. Sudah dua kali ini selama mereka kenal, melakukan hal serupa.
"Kamu duluan!" pria itu mempersilahkan Dhira untuk berbicara terlebih dahulu.
"Oma sehat kan?" Dhira mengucapkan apa yang memang ingin dia tanyakan.
"Oma baru saja sakit, tensinya tinggi beberapa waktu yang lalu!"
"Repotnya, beliau selalu menolak untuk ku bawa ke rumah sakit!" mimik Abimanyu terlihat serius.
"Oh astaga, maaf kami tidak tahu!" sesal Dhira.
"It's okay, aku sudah meminta Richard untuk mengurusnya"
"Mungkin Oma perlu hiburan agar bisa lebih bahagia menjalani hari-harinya Tuan!" oh no!!, demi apa Dhira masih memanggilnya Tuan. Dhira masih belum tahu sih seberapa terhormatnya seorang Abimanyu, karena saat berada di kedai seperti saat ini pria itu menjelma seperti manusia biasa, seorang ayah yang mengantar anaknya menuju sekolah.
Abimanyu menatap wajah cantik Dhira," ada yang ingin aku bicarakan!" mimik wajahnya lebih serius, membuat Dhira tercekat.
"Mungkin ini terlalu cepat, tapi sungguh aku tidak bisa menundanya lagi!"
Jantung Dhira makin tak karuan, menerka-nerka apa yang akan di ucapkan pria di depannya itu. Mengapa perasaannya menjadi dag dig dug. Ia bahkan terlihat memainkan ujung jarinya, menandakan bila dirinya tengah gelisah.
"Saya tertarik sama kamu!"
Deg
Mereka masih sama sama diam, Abimanyu yang baru membuat pengakuan itu terlihat memegang tangan Dhira. Dhira masih diam, tak percaya juga tak tahu harus menjawab apa. Apalagi statusnya
Dhira menarik tangannya pelan," saya tidak pantas Tuan?" Dhira mendadak menjadi ciut, tak percaya diri.
Abimanyu menatap Dhira yang tertunduk layu," Dhira, salah satu sebab yang membuat Oma sakit adalah memikirkan keadaanku!"
"Aku free, kamu free kita bisa sama sama memulai!" ucap Abimanyu.
Dari arah belakang sayup-sayup terdengar suara Jodhi dan Raka yang tertawa, berseda-gurau.
Abimanyu yang menyadari kedatangan dua bocah itu adalah pertanda bahwa percakapan mereka harus segera berakhir, segera mengucapkan kalimat terakhirnya," Nanti kita bicara lagi, kamu pikirkan ucapan saya!"
.
__ADS_1
.
.