
Bab 214. Titik Nadir untuk kepingan masa lalu
.
.
.
...🍁🍁🍁...
" Maafkan kata yang telah terucap, akan ku hapus jika ku mampu .."
( Diambil dari lirik lagu Andra & The Backbone ~ Hitamku)
.
.
Andhira
Ia mengikuti langkah anak kecil itu berjalan. Mendengar permintaan dari bibir anak yang ia rasa tak asing tu, membuatnya melupakan Abimanyu.
Dhira sembrono.
Istri Abimanyu itu terlihat berjalan mengekor di belakang tubuh kurus anak kecil itu. Hatinya menatap iba. Dari tampilannya, Dhira bisa menilai jika anak itu mungkin sedang butuh sesuatu.
" Kita kemana?"
" Tante mau nolong mama saya?" Anak kecil itu membalikkan tubuhnya kembali seraya mendongak menatap Dhira.
Dhira mengangguk, tapi ia telah meninggalkan Abimanyu tanpa pamit. " Masih jauh?" tanya Dhira.
Anak kecil itu menggeleng, " Disana!"
Dhira mengikuti arah dimana jari telunjuk anak kecil itu menunjuk. Ia kini berada di sebelah toko yang tutup, dan ada seorang wanita yang menggunakan Hoodie Hitam, tengah duduk dengan memejamkan matanya. Wanita itu juga mengenakan masker hitam.
Dhira menelan ludahnya, tempat itu sangat kotor. Tapi mengapa wanita itu duduk dengan tidak rikuhnya.
" Itu mama kamu?" tanya Dhira.
Anak itu mengangguk dengan wajah muram!
" Mama kamu kenapa?" Dhira merasa iba. Hatinya nyeri.
" Sakit !" Anak kecil itu menatap Dhira lemah.
Dhira berjalan mendekat meski dengan perasaan takut. Ia mengusap perutnya yang mendadak menegang.
.
.
Abimanyu
Telah lebih dari tiga orang penjual cilok yang ia tanyai perihal Istrinya. Ketiga pedagang itu merupakan orang yang berada di jarak terdekat dari mobilnya yang terparkir.
Saya tidak lihat pak
Kurang tahu ya pak
Jawaban yang makin membuat Abimanyu resah. Pikiran- pikiran negatif mendadak memenuhi otaknya. Kemana perginya istrinya, dan untuk urusan apa hingga wanita itu pergi tanpa pamit kepadanya.
" Mas lihat istri saya gak, dia hamil terus pakai dress warna kuning motif daun!" Abimanyu bahkan membeberkan ciri istrinya bak mencari DPO.
" Tadi sama anak kecil kesana mas, rambut Istrinya sebahu kan?" jawab pria yang sibuk dengan dagangannya, kecambah.
Tanpa menunggu lama, Abimanyu dengan langkah tergesa menyusuri gang yang sebagian besar konsesi tokonya tutup. Jika di lihat, bangunan itu mirip pasar yang telah mati. Alias lama tidak di gunakan.
.
.
Gwen
Usai bercerai secara tata negara dengan Abimanyu kurang lebih satu tahun yang lalu, wanita itu benar-benar bernasib sial bin malang.
Bagaimana tidak. Wanita yang dulu hidup bergelimang materi serta ketenaran, kini terlempar di dasar hidup paling bawah. membawanya ke titik nadir kesengsaraan.
Perselingkuhannya dengan Senopati rupanya banyak di ketahui banyak pihak. Adalah Wisang dan Devan, dua pria itu adalah tim sukses Abimanyu saat urusan perceraian. Membuat Gwen telak untuk menerima keputusan pahit, hasil dari keonaran yang ia buat sendiri.
Tatanan hidup paling mutakhir memanglah takdir. Tak ada yang bisa mengelak, apalagi merombak. Jika itu memang sudah menjadi takdirnya. Bukan begitu?
Ia kini harus menelan hasil dari ulahnya sendiri. Tak ada yang mau menerimanya, bahkan keluarganya sudah begitu malu. Ia kini bahkan tak memiliki tempat tinggal.
Tuna wisma.
" Pergilah, cari orang yang bisa kasih kamu makan. Biarkan mama disini!" Gwen dengan suara lemah meminta Calista untuk pergi. Ia bahkan sudah pasrah bila ia harus mati dalam keadaan seperti itu.
Gila memang, memaksa anak sekecil itu untuk memecahkan gelombang kehidupan sendirian.
Membusuk dengan keadaan menyedihkan.
" Mama!" dua netra jernih milik bocah ingusan itu tak hentinya meluncurkan cairan bening.
" Pergi Calista!" Gwen berasa mau mati. Ia tak sanggup menahan nyeri di kakinya yang tak senagaja tertusuk benda tajam.
Ia sudah tidak tahan dengan rasa sakit dalam dirinya. Entah apa yang terjadi.
Gwen pikir Calista benar-benar meninggalkannya, ia tak bisa mencukupi hidup anaknya itu. Ia bahkan mengira bila dirinya akan berada di tempat lain saat ia membuka matanya nanti.
Tempat kematian.
Tapi mata Gwen membulat demi melihat Calista yang berjalan bersama wanita yang beberapa bulan lalu sempat ia jambak. Dan ia kenali sebagai istri mantan suaminya.
" Kenapa kamu bisa bertemu Dhira nak?"
Untung Gwen mengenakan masker dan rambutnya yang ia pangkas secara tak rapi itu, kini tertutup Hoodie. Tampilan Calista yang dekil, juga sedikit membuat Dhira pangling , cenderung lupa- lupa ingat.
" Mama!!"
Gwen yang merasa kepalanya berat menatap Dhira dengan wajah datar. Ia merasa, wanita di depannya itu kini beruntung. Dilihat dari tampilannya, Abimanyu jelas tak kurang dalam memberikan nafkah lahir dan batin. Tak seperti dirinya.
__ADS_1
Senyum penuh ironi terbit dari bibirnya dari balik masker itu.
My bad!!!
.
.
Andhira
Ia benar-benar merasakan sesak di dalam hatinya. Pemandangan yang tersaji benar-benar menonjok rasa empatinya. Ia kasihan dengan bocah dan ibunya itu.
" Mbak!" Dhira berusaha mendekati wanita yang tidak ia ketahui itu. Dari sorot matanya, Dhira bisa melihat bila wanita itu menatapnya tajam.
" Kenapa kamu bawa orang kemari?" Gwen membuat nada suara lain, agar Dhira tak mengenalinya.
" Mama, kita minta makan Tante ini aja ya?" Calista menangis. Membuat Dhira semakin nelangsa.
" Mbak, saya tadi..." ucapan Dhira menguap begitu saja ke udara.
" Ayo kita pergi!" Wanita itu menarik tangan Calista cepat. Dengan tubuh lemas, wanita itu berusaha pergi dari sana.
" Mbak jangan kasar sama anak kecil!" ucap Dhira yang terkejut melihat Calista terhuyung karena tarikan perempuan ber-Hoodie hitam itu.
Wanita itu diam seraya membalikkan badannya.
" Saya gak ada urusan sama kamu, lebih baik kamu pergi!" Gwen merasa ia memang sudah kalah telak dalam hal apapun. Ia ingin pergi dengan segala keadaan yang ada. Tak berminat ataupun berniat untuk melawan. Ia sudah letih akan hidupnya.
" Ayo cepat!"
" Mama!!!" Calista berontak.
" Cepat!!!" Gwen sebenarnya tidak tega, tapi terus terang ia ingin segera pergi dari sana.
" Mbak tunggu dulu!!!" Dhira mencoba mencekal tangan Gwen.
" Lepas!!!" Gwen melempar tangan Dhira dengan kasar. Bukan sengaja, tapi ia benar-benar sudah lelah untuk sekedar melawan.
Tubuh Dhira sedikit terhuyung, wajah Calista muram menatap Dhira yang terhenyak. Berharap wanita itu mau menolongnya.
" Beraninya kau berbuat seperti itu kepada istriku!!!!" Suara berat Abimanyu membuatnya terkejut. Ia bahkan bisa melihat pancaran amarah di mata suaminya.
.
.
Gwen memandang tubuh tegap mantan suaminya dari balik masker dan Hoodie yang ia kenakan. Matanya memanas. Pria yang dulu pernah menggulung hasrat bersamanya itu, kini memakinya dengan tatapan kebencian. Meski Gwen yakin, bila Abimanyu tak mengenali dirinya.
Abimanyu masih terlihat memukau dan tampan.
" Ayo cepat kita pergi!" Gwen dengan cepat menggeret lengan anaknya. Ia tak ingin dua orang itu mengetahui siapa mereka.
Gwen cukup tahu diri akan hal itu.
" Kamu tidak apa-apa?" Abimanyu langsung memeluk tubuh istrinya yang mematung. Nanar menatap dua mata jernih Calista yang berjalan menjauh bersama ibunya yang terlihat tidak baik-baik saja.
Dari pancaran mata Calista, ia bisa melihat jika anak itu menatap Abimanyu penuh rasa takut dan kebencian. Meski saat itu, Dhira tidak mengetahui identitas dua manusia yang membuat hatinya sedih.
" Jangan seperti ini lagi, kamu kenapa sampai bisa kesini sayang?" Abimanyu menangkup wajah Dhira dan menghujani wajah bersih istrinya itu, dengan kecupan penuh kekhawatiran.
Abimanyu mengernyitkan alisnya " Sayang, wanita itu hampir buat kamu celaka. Aku udah bilang, aku gak bisa mentolerir siapapun yang bakal bikin kamu bahaya. Lagian, ngapain sih kamu ada disini!"
Abimanyu benar-benar hanya mencemaskan istri dan calon bayi mereka. Pria itu tak mau sampai sesuatu terjadi kepada mereka.
.
.
Calista
Ia kini tahu siapa sebenarnya wanita di depannya tadi, saat suara bariton seseorang membuatnya menoleh ke sumber suara. Pria itu adalah pria yang beberapa bulan yang lama lalu, sempat ia panggil 'Papa'.
Tapi, mengapa pria itu membentak dirinya dan juga mama?
Bocah yang usianya berkisar antara 10-11 tahun itu, menatap mamanya penuh rasa kasihan saat mereka kini bersembunyi di balik ruko, yang berjarak seratus meter dari tempat mereka bertemu Abimanyu dan Dhira.
" Ma, yang tadi itu bukannya Pa...."
" Ssssttttt, mama udah bilang sama Tata ( panggilan Gwen buat Calista)"
" Mama, ataupun Tata gak punya Papa. Maafin mama nak, buat hidup kamu kayak gini. Maafin mama!" Mama mendekap tubuhnya yang kurus, Calista bahkan bisa merasakan bila wanita yang melahirkannya itu tubuhnya bergetar hebat.
Jelas mamanya itu tengah menangis. Apa semua orang tua selalu bersedih?
Dan pertemuan paling mengharukan itu, menjadi titik balik kebencian Calista kepada pria yang pernah ia sebut ' Papa' itu.
Dalam hatinya kini tumbuh rasa kebencian yang amat dalam. Mengapa pria itu tak mengenalinya, bahkan tak mau menolong mamanya yang sedang sakit.
Kebencian yang mungkin saja awet hingga ke masa depan. Entahlah.
.
.
Gwen
Hidup bak roda pedati itu benar adanya, sesekali diatas sesekali di bawah. Kini, Gwen percaya akan petuah itu.
Ia kini benar-benar hidup melarat, miskin dan sengsara.
Hatinya kian diliputi rasa sesal dan sedih dalam waktu bersamaan. Bagaimana bisa, ia membiarkan Calista untuk hidup sendiri. Bagiamana bisa ia menjadi ibu yang egois.
Sejumput sesal kini menjadi bekal dirinya, untuk lebih menyayangi Calista. Bagiamana pun caranya.
" Maafin mama nak, maafin mama!" dengan suara bergetar yang bergumul dalam tangis, ia memeluk tubuh kurus Calista. Buah hatinya.
" Mama jangan nangis terus, Tata cuma punya mama!!" anak itu mengeratkan pelukannya kepada induknya itu.
Jika ini adalah bagian penebusan segala kesilapannya di masa lalu, maka ia akan rela dan ikhlas dalam menjalani. Gwen merasa, kita tak akan pernah bisa lari dari hukum karma. Sekecil apapun itu.
Ia kini pasrah akan hidupnya, andai dulu ia tak kepincut dengan Senopati.
__ADS_1
Andai ia dulu setia dengan Abimanyu. Pria baik yang bahkan tidak pernah menyakitinya.
Andai ia dulu hidup lurus.
Tentunya ia tak akan hidup rombeng seperti saat ini.
Tapi andai selalu berdampingan dengan sesal yang membuncah. Tiada berguna meski di ucapkan berkali-kali. Hanya orang-orang yang bijaksana lah, yang menjadikan kesalahan sebagai sebaiknya guru di dalam kehidupan.
Karena pelajaran sabar, tak bisa di dapati di dalam sekolah manapun. Murni timbul dari sanubari.
" Ta?" ucap Gwen menatap wajah anaknya.
" Ya ma!" Calista yang berwajah muram itu menatapnya dengan wajah penuh pertanyaan.
" Calista harus janji sama mama mau?"
Anak itu terlihat memikirkan sesuatu. Lali sejurus kemudian mengangguk " Janji!"
" Calista gak boleh lagi tanya soal papa, Calista hanya punya mama. Dan akan terus seperti itu. Kita hadapi semua ini sama-sama ya?"
Bocah itu mengangguk " Tata sayang sama mama!"
Nestapa sekali memang. Tapi sekali lagi, hidup orang tidak ada yang tahu bukan?
" Calista lapar?" Gwen dengan rahang yang mengeras menahan sesak di dadanya.
Bocah itu mengangguk " Mama juga kan?"
Gwen tersenyum " Ayo ikut mama!"
.
.
Jika hidup melempar kita kepada kenestapaan, percayalah sebenarnya hal itu terjadi tak lain karena ulah kita sendiri. Coba saja kita menengok ke dalam diri kita, kesalahan apa yang pernah kita perbuat hingga membuat Tuhan murka.
Gwen telah mendapatkan bagiannya, begitu juga Indra dulu. Agaknya semua orang di masa lalu mereka sudah mendapatkan bagiannya.
" Dhira , sayang kamu pergi dan enggak bilang. Wajar kalau aku panik!" Abimanyu menatap istrinya yang kesal. Kesal dengannya tentunya.
" Anak itu cuma butuh bantuan aku loh mas. Aku juga gak tahu siapa dia, tapi gara-gara mas datang dan langsung bentak ibunya, mereka ketakutan!" Sergah Dhira dengan wajah muram.
" Oh ayolah Dhira, apa kita sedang bertengkar karena orang asing?" Abimanyu selalu kalah jika melihat istrinya sudah hampir menangis.
Dhira hanya mendengus. Dhira hanya kasihan, itu saja. Anak dan ibunya itu membutuhkan bantuannya.
Istri Abimanyu itu terlihat menyusut air matanya dengan cepat. Sejurus kemudian ia berjalan kembali ke tempat mobilnya berada dengan membisu. Suaminya itu mengapa selalu saja arogan. Pikirnya.
Tapi mari kita lihat Abimanyu dari kacamata seorang suami dan calon papa yang tengah khawatir tingkat akut. Keduanya, tentu tidak bersalah bukan.
Brak
Sebenarnya Dhira tak sengaja menutup pintu mobilnya dengan keras, namun wanita itu hatinya masih dongkol. Ia kepikiran dan teringat akan wajah kusut gadis cilik tadi.
" Maafkan aku!" Abimanyu meriah tangan Dhira, dan mengecup punggung tangannya berkali- kali, saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
Sungguh, he was just worried, that's all.
Dhira masih membuang pandangannya, hatinya sedih. Ia gagal menolong orang yang jelas-jelas membutuhkan bantuannya.
" Sayang!!!" panggil Abimanyu.
Dhira masih bergeming.
" Sayang!!!"
Masih sama.
" Andhira Avanti!!!" Panggil pria itu yang kini mulai merasa serba salah.
Wanita itu menoleh. " Mas gak akan tahu gimana rasanya gagal menolong orang, padahal kita sanggup dan mampu menolongnya mas. Mas bahkan gak lihat wajah anak itu kan? wajah yang ketakutan saat melihat mas!"
Abimanyu menghela napas.
" Mas gak ..."
Dengan gerakan cepat Abimanyu menempelkan bibirnya ke bibir Dhira. Ia tahu jika istrinya marah itu sangat tak baik untuk nasibnya.
Mereka berciuman di dalam mobil saat geliat pasar itu masih terasa. Beruntung riuh rendah suara roda perekonomian di pasar sedang tak berfokus pada adegan di dalam mobil itu.
Abimanyu selalu menenangkan istrinya yang terburu emosi itu, dengan ciuman. Lebih berkhasiat tinggi rupanya. Teruji klinis.
Ciuman lembut penuh kasih, serta lum*atan yang mendalam membuat Dhira tahu, suaminya itu jelas mengkhawatirkan dirinya.
" Sorry for all, hm!" Abimanyu mengusap pipi Dhira lembut, penuh kasih mesra.
" Aku cuma gak mau terjadi apa-apa sama kamu, dan ini!" ia menunjuk ke arah perut Dhira yang sudah membesar.
Dhira yang melihat wajah suaminya penuh kecemasan seketika mengembuskan napasnya. Rupanya ia musti harus belajar lebih banyak lagi, tentang sifat Abimanyu yang kerap tak mentolerir sesuatu jika sudah menyangkut dirinya.
" I'm just worried, I love you so much baby!"
Abimanyu menatap lekat wajah istrinya, lalu mengatakan hal itu dengan penuh kesungguhan. Dhira menatap sendu wajah suaminya.
Dan saat itu juga, Abimanyu memiringkan kepalanya kembali, lalu melu*mat kembali bibir istrinya. Ia begitu mencintai Dhira. Today Tomorrow and forever.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Up belum normal ya booeebooooo
Masih sibuk di hajatan, mohon maaf🙏🙏🙏