
Bab 243. Mengahadapi
.
.
.
...ššš...
" Kau tahu hal apa yang paling membuat mu rugi?, adalah membiarkan hatimu dikuasai ajakan si perusak ( iblis)"
.
.
Waktu terus bergulir, membuat mereka semua di tuntut untuk bergegas dengan pemikiran taktis yang wajib tepat meskipun minim mitigasi yang terencana.
Agaknya mereka memang harus segera memberangus dua manusia laknat macam Mira dan Wisnu.
Tak bisa untuk menunda lebih lama lagi.
Devan kini bersama Danan dalam mobil yang sama, sementara Abimanyu tengah berada satu mobil bersama Wisang. Mereka memang bukan ahli berkelahi seperti mafia kelas kakap, namun sebagai pria yang di anugerahi titipan harta yang lebih, mereka bisa memanfaatkan teknologi dan kepemilikan senjata legal yang ada.
" Van, jangan lupa hubungi polisi. Mereka sudah masuk ke kasus pembunuhan berencana. Dan tetap ingatkan anak buahmu untuk jangan sampai membunuh mereka, aku malas dengan birokrasi rumit di kepolisian!"
Ucapan Abimanyu melalui ponselnya itu terdengar jelas dan tegas. Tak ada waktu untuk sekedar bermain-main.
Wisang masih belum bisa berkonsentrasi, pikirannya masih berpusat kepada istrinya. Belahan jiwanya itu berada di batas antara hidup dan mati.
" Wis, elu enggak boleh seperti itu. Elu bisa membahayakan nyawa elu sendiri!" Abimanyu menatap sahabatnya itu seraya terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Brengsek!" Wisang memukul kerasa kaca mobil di sampingnya. Berusaha melupakan emosi yang membuncah dan seolah ingin segera meledak saat itu juga.
" Akan ku ledakkan kepala pria biadab itu!" Wisang masih ingat betul wajah Iko, anak buah Wisnu yang menarik pelatuk senjatanya hingga mengenai Sekar.
Hatinya hancur saat ini.
.
.
" Sebenarnya apa maksud mereka menuju pabrik utama itu Tuan?" tanya Devan kepada Danan.
Ya mereka kini juga dalam perjalanan untuk misi yang sama, hanya saja atmosfer yang terasa disana lebih sedikit rileks. Itu karena Danan yang memang berpembawaan santai.
" Mira mungkin ingin membuat keluarga Wisang hancur. Wanita itu sedari dulu memang berambisi bisa menjadi menantu keluarga Om Wikarna. Tapi, Wisang dari dulu tak menyukai wanita itu!"
" Tapi, bagaimana bisa dia kenal dengan pria itu?" yang di maksud adalah Wisnu.
" Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas ini merupakan suatu kebetulan yang tidak betul!"
Devan mengerutkan keningnya. Apa maksud pria di sampingnya itu.
" Hey, kau jangan terlalu serius. Kau harus bisa menang, agar kau bisa menghadiri pernikahanku nanti!" ucap Danan terkekeh.
Pria yang doyan banyolan itu malah bisa-bisanya berkelakar di saat situasi genting seperti saat ini.
Devan tergelak, untung saja ia satu mobil dengan Danan. Akan menjadi sangat lain suasananya bila ia bersama Wisang, atau bahkan si pria diktator itu, Abimanyu.
.
.
Wisnu
Rupanya ia memanggil anggota yang lebih banyak lagi. Pabrik yang jauh dari jangkauan masyarakat itu, kini menjadi target Mira.
Mereka langsung menyerang beberapa petugas Security yang berjaga di areal pabrik itu. Pabrik yang luas dan besar itu , tentu saja menampung ratusan pekerja. Sibuk memproduksi aneka olahan laut dan sejenisnya.
Bug
Wisnu berhasil melumpuhkan satu lagi Security yang berusaha melawan. " Rey, barikade semua sisi. Kumpulkan semua pekerja!"
Wisnu benar-benar biadab. Pria itu berniat ingin meledakkan tempat itu hari ini juga.
Mira tersenyum memandang hamparan perusahaan yang memproduksi bahan dari laut itu dengan puas. " Jika aku tak bisa memiliki tempat ini, maka seorangpun juga tidak boleh memiliki!"
Benar-benar sudah tidak waras.
Jeritan ketakutan para pekerja menguar hingga luar pabrik. Para Security juga banyak yang berjatuhan, Mira dan Wisnu benar-benar sudah membajak tempat itu.
.
.
Jason
Jason rupanya sudah tiba. Ia mengambil alih perintah selama Devan dan trio konglo itu belum datang.
Ia melihat situasi dengan teropong dari jarak yang jauh. Terlihat para pekerja yang berjalan menunduk serta tangan mereka yang berada di belakang kepala.
" Bos, mereka membajak pabrik utama itu. Semua karyawan mereka tahan!" ucap Jason kepada Devan.
" Aku datang dalam sepuluh menit, buat mereka terkecoh!" jawab Devan yang nampak geram.
Sejurus kemudian Jason melihat empat orang lain yang membawa sebuah kotak besar. Entah apa yang ada di dalam kotak itu.
" Arah jam tiga dan arah jam sembilan!" ia menekan earpiece yang ia kenakan, menginstruksikan kepada para anak buahnya untuk menyerang dan melakukan perlawanan kepada Wisnu dan pasukannya.
Pasukan Jason juga tak kalah banyak, bisa dikatakan mereka imbang. Jason kembali melihat ke empat pria yang menggotong sebuah kotak itu, ia penasaran dengan isi kotak mencurigakan itu.
" Oh sial!" Jason mengumpat demi melihat bom rakitan, yang sudah siap mereka ledakkan.
.
.
" Bos, mereka membawa bom!" ucap Jason kepada Devan.
__ADS_1
" Apa?" Devan bahkan berbicara keras saat mendengar ucapan anak buahnya itu.
" Kenapa?" tanya Danan panik.
" Mereka mau meledakkan pabrik Tuan Wikarna!" Devan kini berwajah pias usai mendengar laporan dari Jason.
Membuat Danan membulatkan matanya. "Mereka memang biadab!"
Abimanyu dan Wisang kini sudah tiba di lokasi. Mereka masuk melalui pintu belakang yang jarang orang ketahui. Sengaja mengambil jalur yang berbeda dari Devan dan Danan.
" Wisang!" ucap Abimanyu mengentikan langkah Wisang.
Wisang berbalik dan menatap sahabatnya itu " Ada apa Bim?" jawabnya lesu.
" Gue mohon untuk jangan membawa istri elu saat kita dalam situasi seperti saat ini. Gue tahu ini berat, tapi sedikit saja elu lengah maka istri elu yang bakal kehilangan elu Wis!"
Wisang tertegun dengan ucapan sahabatnya itu, ia harus menjaga dirinya untuk Sekar.
Abimanyu khawatir Wisang tak fokus. Ia tahu, semua ini tak mudah. Tapi mereka masih bisa memilih dan menggunakan skala prioritas bukan.
" Mereka memasang bom, kita harus cepat membebaskan para pegawai itu!"
Devan kini berbicara kepada Abimanyu yang juga sudah memasang earpiece nya, saat memasuki kawasan pabrik.
" Brengsek!" ucap Abimanyu geram.
" Kenapa?" kening Wisang berkerut demi melihat reaksi terkejut Abimanyu yang diiringi umpatan.
" Karyawan mu di sandra dan mereka akan meledakkan tempat ini dengan bom!" Abimanyu mengeraskan rahangnya.
" Tak akan ku ampuni mereka semua, cepat Bim. Karyawan ku tidak tau apa-apa. Akan ku pastikan kepala Wisnu kutembak sebelum bom itu meledak, brengsek!"
Kekesalan, dan kemarahan bertangkup. Membuat darah mereka mendidih dan sudah cukup untuk bersabar.
.
.
Mira
" Diam kalian semua!" Suara Mira menggema saat ratusan karyawan itu kini berada di bawah kendalinya.
Puluhan anak buahnya yang menodongkan senjata api mereka ke arah para karyawan pabrik itu, membuat mereka semua kini ketakutan.
Suasana ricuh dan mencekam.
" Aku mau lihat apa bos kalian masih memikirkan nasib kalian yang seperti ini!" wanita itu tertawa mengerikan.
Mira benar-benar sudah gila.
" Anda sudah gila, cepat lepaskan kami!" ucap salah satu karyawan pria yang muak dengan semua ini.
Dor
Mira menembak pria yang memakinya itu seketika, membuat yang lain turut gemetaran. Takut dan tak berani melawan.
Pria yang tertembak itu mengerang kesakitan, membuat rekannya yang lain kini ciut nyali. Mereka benar-benar ketakutan.
Suara Mira terlihat meradang. Kini semua karyawan Wisang itu hanya diam dalam rasa takut yang kian menyeruak.
" Kunci ruangan ini!" titah Mira kepada para anak buah sewaannya. Membuat kesemua yang disana menjerit.
.
.
Dor
Dor
Senyum penuh kesenangan dari bibir Mira itu hanya bersifat fana. Mira terkejut dengan suara tembakan yang bersahutan dari luar.
Apa yang terjadi diluar pikirnya.
" Wisnu!" panggil Mira melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.
" Wisnu kau dengar aku?"
" *Sial, mereka ada disini!"
"Mau tidak mau kita harus melawan mereka. Bom itu sudah aku on kan. Jika kita tidak keluar dari sini, kita juga akan mati sialan*!"
" Apa? brengsek!"
Ucapan dari Wisnu tadi tak pelak membuat Mira mengumpat, ia mendadak melihat ke arah luar. Banyak sekali orang yang terlibat perkelahian.
" Cepat lindungi aku!" ucap Mira kepada salah seorang anak buahnya. Mencoba kabur dan menyelamatkan diri.
" Baik Bos!"
Sayup-sayup masih terdengar raungan dan gedoran pintu dari ratusan karyawan yang di kurung oleh Mira.
Mira ingin meledakkan tempat itu beserta para karyawan milik keluarga Wisang. Berharap keluarga itu mendapat kemiskinan sekaligus tuntutan dari keluarga karyawan yang bekerja disana.
Namun, mereka tidak menyangka bila Wisang dan rekan-rekannya mengetahui rencana mereka.
.
.
Abimanyu & Wisang
" Sial, mereka mengunci semua pintu!" Wisang mengumpat saat pintu belakang gudang itu tak bisa ia buka.
Namun, tak di nyana lima orang anak buah Wisnu melintas disana.
" Hey!" ucap anak buah Mira yang memergoki mereka.
Membuat Abimanyu dan Wisang mau tak mau harus menghadap lima orang itu. Abimanyu terlihat mengelak saat salah satu dari pria itu hendak menyabetkan senjata tajam ke wajahnya.
__ADS_1
" Baiklah, jangan menyesal setelah ini, kalian yang memulai!" ucap Abimanyu kini memasang kuda-kuda.
Usai berhasil menghindar, suami Dhira itu kini menendang perut pria asing itu, dan meninju wajahnya hingga membuat pria itu ambruk.
" Sudah aku katakan, jangan menyesal!" ucap Abimanyu kepada pria yang kini mengerang kesakitan dan langsung tak sadarkan diri.
Wisang yang diliputi emosi langsung mengarahkan serangan kepada dua orang sekaligus, pria dengan mata sipit itu membanting tubuh anak buah Mira tanpa ampun, ia juga menancapkan pisau ke kaki pria yang satu. Membuat pria itu mengerang kesakitan.
Bug
Wisang meninju muka kedua pria itu hingga membuat mereka tak sadarkan diri. Wisang benar-benar diluar kendali saat itu.
" Kurang ajar!" ucap dua orang lain yang melihat tiga rekannya terkapar.
Wisang langsung menjegal kaki satu pria yang kini berlari ke arahnya, memukul rahang pria itu dengan pukulan tajam dan keras. Kini mereka benar-benar tahu seberapa kekuatan seorang Wisang.
Bug
Satu lagi pria yang di hadapi oleh Abimanyu terlihat mengarahkan senjatanya ke arahnya. Abimanyu terdiam sejenak seraya mengangkat tangannya. Dan sejurus kemudian,
Krak
Dengan gerakan cepat Abimanyu memiting tangan pria itu, lalu merampas senjata yang tadi dipegang oleh orang itu, lalu menembakkannya ke dua kaki anak buah Wisnu itu.
" Argggggghhh!" pria itu jatuh dan langsung mengerang.
Dug
Abimanyu memungkasi riwayat pria itu dengan menendang bagian wajah pria yang sudah terkena tembakan itu. Membuat pria itu kini terkolek tak berdaya.
" Huft!" mereka terlihat mengembuskan napasnya.
Kini napas Abimanyu dan Wisang sama sama kembang kempis usai menghadapi lima musuh mereka. Benar-benar badas.
" Are you oke?" tanya Abimanyu kepada Wisang dengan napas memburu.
" Oke. Ayo cepat kita tidak punya waktu banyak!"
.
.
Danan dan Devan langsung di sambut oleh puluhan orang sewaktu ia masuk dari pintu depan. Todongan senjata langsung serentak mengarah kepada mereka berdua.
" Jangan bergerak!" ucap Reymond yang rupanya mengkoordinir anak buahnya di bawah perintah Mira dan Wisnu.
Membuat Devan dan Danan langsung menaikkan kedua tangannya keatas. Mereka berdua mengamati situasi di sekeliling.
Ada sekitar sebelas orang yang mengarahkan senjatanya kepada mereka berdua.
" Oh, ayolah kalian serius sekali!" Danan masih bisa bersikap santai saat itu. Mencoba mencari celah agar bisa menyerang.
Dan saat ketegangan disana terjadi,
Brummmm
Brak
Mobil sport yang di kendarai Jason menerobos dinding dari bata itu hingga ambrol. Membuat seisi ruangan itu penuh degan debu.
Dalam gerakan cepat, Danan dan Devan menarik pistol yang mereka sembunyikan di belakang punggung mereka.
Dor
Dor
Dor
Danan membidik tangan para musuhnya yang memegang senjata, membuat senjata itu kini lepas dari genggaman tangan para musuhnya. Sejurus kemudian ia menembaki kali para anak buah Wisnu itu.
Suara selongsong yang berjatuhan kian membuat suasana mencekam dalam hitungan sepersekian detik.
Raungan suara kesakitan terdengar dari mulut anak buah Wisnu yang mereka tembaki dengan membabi-buta.
Devan terlihat melakukan hal yang sama dengan Danan, sebisa mungkin untuk tidak menghilangkan nyawa para musuh mereka. Instruksi dari Abimanyu agaknya cukup kuat menghipnotis mereka.
" Brengsek!" merasa keadaannya kurang beruntung, Reymond kabur ke depan. Namun terlambat, Jason kini mengejar pria dengan rambut bak jilatan api itu dengan berlari cepat.
Danan dan Devan masih harus menyelesaikan beberapa kutu yang masih bertahan disana. Mau tak mau mereka harus berkelahi man to man. Mengimplementasikan hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang menang.
.
.
Abimanyu dan Wisang berhasil mencukit pintu dari baja yang terkunci dari dalam. Mira dan Wisnu benar-benar tidak main-main dalam usahanya untuk menghancurkan keluarga Wisang.
" Bim kau dengar itu?" Wisang seperti mendengar suara teriakan.
" Tolong!"
" Buka pintunya!"
" Tolong kami!"
" Sial, mereka mengunci semua karyawan mu di ruang produksi!" Ucap Abimanyu saat mendengar suara yang berasal dari sebuah ruangan yang pintunya di gembok dengan kunci ganda. Ruangan yang jelas tak akan bisa mereka buka jika tanpa kunci.
" Brengsek!" Wisang panik.
Mereka kini seakan kehilangan ide.
" Bos bom itu akan meledak dalam waktu delapan belas menit!"
Devan berucap dengan suara nafas yang memburu. Abimanyu menggeleng lemah. Apalagi Wisang. Pria itu nampak kian frustasi.
Bagaimanapun juga ia harus mengeluarkan ratusan orang yang terjebak di dalam ruangan itu.
Otaknya mendadak blank dan tak bisa berfikir taktis. " Oh astaga!"
.
__ADS_1
.
.