
Bab 110. Manifestasi Doa
.
.
.
...ššš...
Beauty queen of only eighteen
(Ratu kecantikan yang baru berusia delapan belas)
She had some trouble with herself
(Dia memiliki masalah dengan diri sendiri)
He was always there to help her
(Si Pria selalu ada untuk membantunya)
She always belonged to someone else
(Si Gadis selalu menjadi milik orang lain)
I drove for miles and miles
(Ku berkendara bermil-mil)
And wound up at your door
(Dan tiba di depan rumahmu)
I've had you so many times
(Tlah kumiliki dirimu sekian lama)
But somehow I want more
(Namun entah mengapa aku ingin lebih)
I don't mind spendin' every day
(Aku tak keberatan menghabiskan hari-hariku)
Out on your corner in the pourin' rain
(Di tempatmu dalam guyuran hujan)
Look for the girl with the broken smile
(Mencari gadis yang senyumnya getir)
Ask her if she wants to stay a while
(Menanyainya apakah bersedia singgah sebentar)
And she will be loved
(Dan dia akan dicintai)
And she will be loved
(Dan dia akan dicintai)
Tap on my window knock on my door
(Ketuklah jendelaku ketuklah pintuku)
I want to make you feel beautiful
(Aku ingin membuatmu merasa cantik)
I know I tend to get so insecure
(Aku tahu aku cenderung merasa tak nyaman)
It doesn't matter anymore
(Itu tak lagi penting)
It's not always rainbows and butterflies
(Tak selalu ada pelangi dan capung)
It's compromise that moves us along, yeah
(Saling pengertianlah yang membuat kita bertahan, yeah)
My heart is full and my door's always open
__ADS_1
(Hatiku penuh dan pintuku selalu terbuka)
You come anytime you want, yeah
(Kau datanglah kapanpun kau mau, yeah)
( Maroon 5 ~ She Will beloved)
.
.
.
Dengan memancarkan sorot mata permusuhan Sekar memandangi Wisang penuh kekesalan.
" Kenapa sih anda itu selalu seenaknya begitu?"
kesal tiada tara, selain kesal agaknya dia sedikit malu. Semburat merah di pipi jelas menjadi bukti konkret, jika Sekar tengah tak baik-baik saja.
Mengapa pria itu tak berhenti mengganggunya. Ia merasa tak enak karena pernah melibatkan Wisang dalam masalah pribadinya.
Kini Wisang melipat kedua tangannya. " Biar ku tebak, apa karena aku mengatai mu 'seperti anak kecil'? Wisang menatap Sekar, yang masih mengatur nafas khas orang kesal. Menatapnya sebal.
"Sini, kamu siap-siap sana ini biar aku yang kerjakan. Aku ingin ngajak kamu keluar. Ini malam Minggu, tidak ada penolakan. Jika kau menolak, aku akan terus mengganggumu!" Wisang nyerocos, seraya melepaskan ikatan celemek di pinggang Sekar.
Sekar tak bisa barang sedikitpun mengelak, karena Wisang keburu membalikkan badannya.
Wanita itu sebenarnya agak kaget, namun tangan Wisang dengan cepat melucuti celemek itu, lalu memindahkannya ke tubuh tegapnya dengan cepat.
"Aku tidak mau Tuan, anda ini apa-apaan?!" Sekar benar-benar tak mengerti, mengapa pria itu terus saja mengganggunya.
"Sudah aku katakan cepat siap-siap. Atau aku....." Wisang sengaja memasang wajah menakuti kepada Sekar. Membuat wanita itu segera berbalik, dan masuk ke kamar sempitnya.
"Selalu saja memerintah seenaknya!"
Wisang terkikik geli demi melihat wajah ketakutan Sekar, sejurus kemudian ia mulai menggosok permukaan beberapa tempat kotor itu. Sambil menyelam minum air pikirnya.
Menunggu Sekar ganti baju, namun ia juga tak membiarkan tugas dari wanita itu terbengkalai.
Durasi ganti baju rupanya lebih lama dibandingkan dengan durasi Wisang yang mencuci perabot itu, membuat pria itu gelisah. "Mengapa lama sekali?" ia menggerutu seraya melepaskan celemek pink dengan gambar karakter kartun dengan blush on bundar di pipi itu. Kartun yang original soundtrack nya berbunyi...
'Picara Picara Parapampampam' 2x
Aku lapar sekali
a a a a a a a a a a
.
.
Sekar
Sesaat setelah ia menutup pintu kamarnya, ia memegangi dadanya yang berdebar tak karuan. Pria itu terlalu frontal pikirnya, ini gila! benar- benar gila.
"Wong edan!, nyium orang sembarangan!" gerutunya, namun detik berikutnya Sekar meraba bibir yang beberapa detik yang lalu di sambar oleh Wisang.
Ada kehangatan menjalar di tubuhnya. Namun ia buru-buru menepikan hal itu. Ia hanyalah wanita yang tak memiliki kedudukan apapun, ia bertemu Wisang dengan tak sengaja. Namun perihal ciuman itu?
Ah sudahlah, terlalu rumit untuk menggali jawaban sendiri.
Sekar takut Wisang akan membuktikan ancamannya, meskipun ia belum kenal sepenuhnya namun ia bisa menyimpulkan bila Wisang adalah jenis pria diktator, yang jika sudah bersabda harus segera di implementasikan.
Mencuci gunungan perkakas kotor kemaren lusa contohnya. Ia sudah menolak, namun pria itu cukup keras kepala rupanya. Dan hari ini, pria dewasa dengan wajah ganteng khas pria Asia itu kembali membuatnya takut. Sorot matanya mengisyaratkan bahwa dirinya harus ikut keluar. Atau, pria itu bisa memaksanya menggunakan cara lain.
"CK, yang benar saja. Aku ga punya baju bagus. Lihat dia, pakaiannya bagus sedang aku?" ia bermonolog cukup lama.
Sekar merasa tak pantas. Ia yang selama ini hidup dibawah tekanan Wisnu, mana pernah bisa belanja ini itu. Menyenangkan diri sendiri saja tidak pernah. Tidak bisa beli baju baru dalam waktu yang lama, apa namanya kalau tidak bisa menyenangkan diri sendiri?.
"Apa aku tolak aja ya?, biarin dia mau apa!" Sekar tak pede karena tak memiliki baju yang layak digunakan untuk keluar. Ia menatap nanar tumpukan bajunya di rak kecil yang berada di kamarnya.
Ia selama ini memang sendiri, hidupnya pucat tak memiliki rona. Ia hanya seorang wanita yang beruntung, karena ada majikan sebaik Dhira yang mau menampung dirinya disana.
"Apa aku pakai itu saja!" masih berbicara kepada dirinya. Menunjuk pada dress satu-satunya yang dia miliki, dress idaman yang terbeli dari hasil mengumpulkan sisa-sisa pemerasan yang di lakukan Wisnu.
Tunggu dulu, tapi untuk apa dia bingung akan penampilan jika tidak memiliki rasa. Tampil bagus atau tidak, harusnya itu tidak jadi masalah kan. Lantas....
Sekar memakai dress dengan bahan denim dengan panjang selutut, berlengan pendek. Masih terlihat bagus meski wanita itu sudah memilikinya dalam waktu yang sudah lama.
Dia memang wanita memprihatinkan.
Ia menyisir lalu menguncir rambutnya dengan satu ikatan, membiarkan poni samping nya bertengger rapih di dahinya. Ia menyapukan bedak agar wajahnya tak terlalu kusam. Sekar tak mengenal skincare, baginya hidup adalah untuk bertahan dengan caranya sendiri. Tak lupa ia menebalkan alisnya dengan pensil alis murah yang bisa ia jangkau.
Sebagai pelengkap, ia memoleskan lipstik warna nude, agar tampilannya tidak pucat namun tak menor. Ia menyemprot parfum spray cologne yang biasa ia beli di minimarket langganannya.
Semua yang ia kenakan cenderung barang biasa yang kesemuanya bisa dijumpai di minimarket.
Sebuah Sling bag warna hitam yang tak pernah ganti, juga sepasang sepatu flat shoes satu- satunya yang ia miliki kini terpasang sudah di tubuhnya.
Sudah mau apa lagi?
__ADS_1
Hanya ini yang terbaik yang dia miliki.
Tapi tunggu sebentar, dia berarti mengikuti semua sugesti pria itu dong? oh no!!!
"Kenapa aku bisa mau ganti baju begini?" ia mematut dirinya di cermin ukuran sedang yang bertengger di dinding kamarnya. Sebentar saja pikirnya, ia juga mau ke minimarket untuk membeli perlengkapan pribadinya yang sudah waktunya pengisian ulang. Alis sudah habis.
.
.
Wisang gelisah, mau mengetuk pintu juga segan. Ia lebih memilih untuk berselancar di dunia maya, sibuk menggulir ponselnya untuk memburu waktu.
Ceklek
Saat suara pintu itu sedikit berdecit, dan terdengar sudah tertutup detik berikutnya, ia menoleh. Darah Wisang berdesir , ia terpana menatap Sekar yang rambutnya di kuncir rapih, menampilkan leher jenjangnya yang bersih dan kini membuat Wisang kian gelisah.
Sekar cantik sekali pikirnya.
Dengan wajah berengut, Sekar menarik kunci kamar itu dari lubangnya. Sejurus kemudian ia berjalan menuju tempat Wisang berada.
"Udah siap, memangnya mau kemana?" ucap Wisang terkekeh.
Sekar tentu saja langsung mendelik, menatap Wisang dengan kening berkerut. Wisang tergelak, tertawa geli melihat ekspresi Sekar yang makin menggemaskan jika merajuk.
" Ok ok, kita jalan sekarang!" ia tak mau jika Sekar akan berubah pikiran lagi.
Sekar terlihat cantik dengan balutan dress itu. Ukurannya juga fit di tubuh Sekar yang ramping. Wisang juga melihat gadis itu kini sedikit bermake-up, terbukti dari goresan alis yang kini lebih kentara di banding saat tadi.
"Kamu cantik banget kalau begini!" Wisang berucap seraya memasang sabuk pengamannya, ia tak hentinya menyunggingkan senyum.
Sekar hanya mencebikkan mulutnya, ia merasa pria di sampingnya itu benar-benar seorang penggombal ulung.
.
.
" Kamu ingin pesta pernikahan yang bagaimana Dhir?" Oma bertanya di sela-sela kegiatan makan mereka.
Rania juga nampak disana rupanya, ia terlihat senang dengan kehadiran Dhira malam itu.
"Nanti kita cari gaun yang bagus Mbak, nyari tukang make up nya juga yang terbaik!" Rania antusias menjadi tim sukses disana.
"Ya benar, kamu harus bantu Ran!" sahut Oma Regina.
Jodhi masih sibuk melahap seafood di piringnya. Belum berminat menyahuti obrolan para orang tua disana.
"Ngundang semuanya kan?"
"Mau konsep apa?"
"Atau outdoor aja?"
Rania nyerocos tanpa jeda, membuat dia merasa sangat senang.
"Kamu ini, yang mau jadi manten belum jawab udah di berondong pertanyaan sebegitu banyaknya!" Abimanyu menggelengkan kepalanya.
"Ya kan, aku nanya ke mbak Dhira. Ya kan mbak Dhir?" Rania mencoba berdiplomasi dengan Andhira.
Dhira tersenyum, " Maaf Oma, Rania. Saya kepinginnya malah dihadiri keluarga inti saja. Yang penting niat baik kita bisa segera terlaksana" ucap Dhira dengan tenang.
Abimanyu menatap wajah calon istrinya itu, sungguh diluar dugaan. Istrinya itu benar-benar bersahaja pikirnya. Apa dia meragukan kemampuan Abimanyu.
Dhira menatap Abimanyu, ia seolah mengerti dengan apa yang di pikirkan pria di sampingnya itu. " Aku tahu mas mampu membuatkan pesta meriah untukku, tapi itu bukan satu-satunya hal yang penting untukku mas. Karena yang lebih penting adalah legalitas kita." Dhira tersenyum menatap Abimanyu.
Oma Regina menyusut air matanya, wanita di depannya itu benar-benar adalah calon pendamping cucunya yang ia selalu pinta dalam doanya. Ia adalah manifestasi dari jawaban Tuhan, atas segala doanya selama ini.
"Aku setuju dengan Tante Dhira. Tapi, habis acara nikah kita bulan madu bareng ya Te. Bulan madu keluarga besar. Tante gak boleh nolak kalau itu" tukas Jodhi dengan mulut penuh. Membuat ucapannya tidak jelas.
"Kalau ngomong makannya di telen dulu Jo" sahut Rania.
Jodhi menelan makanan itu, membuat kerongkongannya sedikit bekerja kerasa karena kunyahan bocah itu belum sesuai standar. Alhasil ia menjadi kesereten.
"Ahhhhh!" ucapnya usai meneguk segelas air hingga tandas.
"Iya maksud aku kita kan bisa bulan madu bareng. Sama Raka , Oma, Om Bastian, ibunya om Bastian, aku, ayah Abi, Tante Dhira!" ia menghitung seraya menggerakkan jarinya sesuai jumlah yang ia ucap..
Rania tentu saja membelalakkan matanya, " Dimana- mana bulan madu itu mantennya aja Jo. Mana ada bulan madu rempong kayak orang mau daftar vaksin!"
Abimanyu memijat keningnya karena ulah keponakannya, Oma Regina tertawa renyah sementara Dhira menahan malu. Karena bisa-bisanya bocah bau kencur itu membicarakan soal bulan madu.
"Jadi bulan madu itu bukan reinkarnasi ya?"
"Rekreasi!!!" ucap kesemua yang disana seraya menatap gemas Jodhi.
.
.
.
.
__ADS_1