The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 156. Siapa Musuhku? (1)


__ADS_3

Bab 156. Siapa Musuhku? (1)


.


.


.


...🍁🍁🍁...


Saat Abimanyu dan Dhira hendak keluar, ia melihat Sugeng yang berjalan lemas menuju pelataran. Pria itu terbangun dari pingsannya akibat obat bius. Mencoba menyelamatkan diri sebisanya.


Pria itu merangkak dengan tubuh bersimbah keringat. Tampilan yang kacau balau itu menyita perhatian Dhira yang sepertinya terkejut saat melihat Sugeng dan berada di luar area rumahnya.


" Mas, itu kayak mas Sugeng. Tapi kenapa bisa ada diluar dan .." Dhira terkejut melihat satpamnya itu dalam keadaan yang tak biasa


Mereka berdua berlari menghampiri Sugeng, yang duduk setengah berbaring di atas paving depan gerbang mereka. Otot lengan Abimanyu mengetat, saat menggeser gerbang besar rumahnya itu.


Ia juga ceroboh, mengapa ia tak curiga saat tak melihat keberadaan Sugeng sewaktu mengantar kepulangan para sahabatnya tadi.


Mendengar suara gerbang di buka, Yuni yang tidur di kamar bawah dengan lokasi yang dekat dengan pintu itu, kini turut terbangun.


Ia yang kerap terbiasa tidur ayam ( tak benar-benar tidur), sontak kaget dengan bunyi yang ditangkap oleh telinganya. Wanita itu berlari ke sumber suara, dan matanya membulat begitu melihat pemandangan yang tak biasa itu.


" Astaga, ada apa ini Bu?" Yuni panik saat melihat suaminya yang lemas degan posisi ndelosor di atas paving.


" Mbak, kami juga enggak tahu, kami baru mau keluar soalnya teman kami tadi ada yang kecelakaan. Dan saat kami kemari....."


Dhira menatap Yuni muram.


" Ya Allah, mas pie Iki. Sampean kenek opo kok iso koyok ngene iki loh ( Ya Allah mas, gimana ini. Kamu kenapa kok bisa seperti ini itu loh!!!)"


Yuni merasa cemas, khawatir, bingung semua setangkup menjadi satu.


Abimanyu merasa memang ada yang tak beres dirumahnya," Kita bawa ke dalam dulu. Ayo !" Abimanyu memapah tubuh lemas Sugeng bersama Yuni. Membawa pria itu ke kamar Yuni.


Sugeng masih lemas dan peluh di tubuhnya kian kentara, " Ta..di!!!" Sugeng lekas membuka suara.


Dhira dan Abimanyu yang berada di kamar Yuni, kini menatap pegawainya itu dengan memasang telinga betul-betul.


" Minum dulu ini!!!" Yuni datang dengan tergopoh-gopoh, membuat mereka harus menunggu dulu.


Satu gelas itu lenyap hanya salam sekali tegukan. Sugeng mulai bernapas kembang kempis, pria itu terlihat membenarkan letak duduknya.


" Ada yang bius saya Pak. Saya sempat berontak, tapi mereka sepertinya dua orang?!" ucap Sugeng masih sesekali mengatur nafasnya.


" Di bius?"


" Dua orang?"


Dhira mengulangi ucapan suami pembantunya itu dengan dahi berlipat.


" Benar Bu, saya ini tadi lari dari kebon pisang yang ada di pinggir kali sana. Tangan saya tadi di ikat, kurang dikit saja saya hanyut ke kali Bu. Sekuat tenaga saya coba lepas tali itu dari tangan saya!"

__ADS_1


Sugeng dengan nafas kembang kempis, masih berusaha membeberkan kejadian yang ia alami.


Abimanyu sejenak terdiam, ia tak pernah memiliki musuh selama ini. Lalu mengapa, rumah barunya bisA di satroni penjahat malam tadi, dan bertepatan dengan kecelakaan sahabat Istrinya.


Yuni sudah menangis, istri mana yang tak sedih melihat suaminya dalam keadaan seperti itu. Bahkan mendengar kata mau hanyut, membuat hati Yuni berdebar.


" Masih selamet saya Pak gak dibunuh. Maaf pak, tapi apa kejadian dirumah ini pasca saya di culik?" Sugeng kini bertanya dengan raut serius.


" Tidak mas, tidak terjadi apa-apa. Yang penting mas selamat dulu, ini saya jadi gemetar dari tadi dengar cerita mas. Kok ya barengan sama sahabat saya, pulang dari sini langsung kecelakaan!" Tutur Dhira dengan mata berkaca-kaca.


Sudah tiga orang di lingkupnya, yang mengalami kejadian naas malam tadi. Membuat Abimanyu seperti tengah mencari sebuah ide.


Abimanyu masih tertegun memikirkan sesuatu, sejenak ia merogoh saku celananya. Ia mengambil ponsel dan terlihat mencari nomer seseorang.


" CK!!!" Abimanyu mendecak lantaran telepon darinya tidak di angkat.


Terang saja, ini dinihari. Mana mungkin dengan mudahnya orang akan mendengar deringan ponsel.


Dhira, Yuni dan Sugeng masih terdiam. Melihat rahang Abimanyu yang mengeras serta alis yang bertaut, membuat mereka tak berani menyela pria di depannya itu.


Abimanyu tengah tersulut emosi.


Dan dalam panggilan ke empat, seseorang di seberang baru mengangkat sambungan telepon dari Abimanyu.


Hal ..


" Cepat datang sekarang juga kerumahku. Bawa Tim IT paling berkompeten!!!


" S E K A R A N G!!!!!"


.


.


"Kau bahkan tak membiarkanku menyelesaikan kalimat sapaan ku bos" gerutu Devan seraya melempar ponselnya.


Ia melihat jam dinding besar di kamarnya, temaram lampu duduk kamar Devan masih membuat jam itu jelas terbaca.


01.02


" CK, yang benar saja!!" meski mendecak kesal, Devan tetap beringsut dari bangunnya.


Titah untuk selalu menyalakan nada dering, serta taat menjalankan tugas diluar kantor masih menjadi darma bakti yang musti Devan tunaikan. Gaji besar rupanya harus berbanding lurus dengan dedikasi serta loyalitas tanpa batas yang musti di lakukan kepada Abimanyu.


Devan dengan langkah gontai dan malas menuju kamar mandinya, ia harus mandi guna mengusir rasa lemas yang kini melingkupi dirinya. Ia tahu, hari ini bisa jadi akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan untuknya.


.


.


Wisang terlihat tengah berbicara dengan seorang polisi yang sudah datang ke lokasi. Para supir yang sempat terserempet oleh mobil oleng yang di kendarai Rangga turut membeberkan keterangan yang jujur.


" Waktu saya mau nanjak, mobilnya udah oleng pak. Nah, pas kita udah dekat mobilnya dia serempetan sama bak truk saya. Wong saya dengar dan lihat dari spion pak, makanya saya terus berhenti. La...pas udah di turunan, ada pickup sama truk kuning itu, mungkin supirnya sengaja banting setir ke kiri pak buat menghindari tabrakan maut!" terang Paiman, sang supir kontainer besar itu.

__ADS_1


Semua yang ada di sana di mintai keterangan, dan status mereka kini sebagai saksi.


" Dari sana tadi saya lihat itu mobil sudah zig-zag pak, saya jadi mengurungkan niat mau nyalip pickup punya mas nya ini!" tunjuk seroang pria gondrong yang menjadi supir truk kuning, kepada pria muda yang menjadi supir pickup bermuatan pisang itu.


Garis kuning bertuliskan Do Not Cross ( Dilarang Melintas) terbentang sejauh satu kilometer dari kejadian laka tersebut. Kejadian yang terjadi dini hari itu, sedikit menguntungkan bagi pengguna jalan. Membuat kemacetan tak terlalu mengular. Hanya ada beberapa supir angkutan lain, yang musti sabar dengan aturan buka tutup yang dibuat oleh polisi.


Mengingat bahu jalan itu, masih di tempati oleh mobil Wisang yang rusak parah.


Semua keterangan baru selesai terhimpun di menit empat puluh, lepas dari jam satu pagi. Dan selama itu pula Wisang masih berada di sana.


Dugaan sementara semua ini mengarah ke human eror, lantaran korban keduanya tidak bisa di mintai keterangan.


" Kami akan melakukan investigasi lebih dalam lagi pak, mobil besok akan kami derek ke kantor guna penyelidikan. Mohon untuk selalu mengaktifkan nomor anda, karena sewaktu-waktu kami akan memerlukan keterangan kembali!" terang AKBP Made Alit.


...🍁🍁🍁...


Dengan seorang diri, dan dengan tak terhibur. Danan duduk terpekur menatap lantai rumah sakit itu. Entahlah, ingatannya kembali pada wajah pucat Shinta, juga wajah bersimbah darah Rangga. Dua wajah itu memenuhi otaknya.


Apa mencintai itu sedalam ini, tapi mengapa hatinya begitu buta dan tidak tahu diri?


Sekar terlihat memejamkan mata bersandarkan dinding dingin rumah sakit itu. Wanita itu terlihat lelah. Maklum saja, ini sudah dini hari.


Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah mau jam dua pagi tapi tak ada satupun sahabatnya yang datang.


Rangga dan Shinta masih di dalam proses penindakan. Selama itu pula Danan masih terjaga menunggu info dari dokter. Birokrasi sering membuat segala sesuatunya menjadi tak simple.


Beberapa menit kemudian, terdengar derap langkah seseorang. Abimanyu dan Dhira datang terlambat lantaran masih mengintrogasi Sugeng, serta masih membicarakan teknis terkait CCTV yang akan mereka unduh nanti.


Mereka harus melakukan hal itu, guna mengetahui siapa orang yang dengan beraninya menyatroni rumah mereka.


" Danan!!" ucap Abimanyu saat bertemu sahabatnya itu.


.


.


.


.


.


.


Part mendebarkan ini masih berlanjut ya. Buat yang nebak- nebak, mommy selalu senang lo. Artinya para pembaca mommy larut dalam cerita. Makasih banyak yang udah kasih vote sama hadiahnya. Sehat-sehat semuanya ya


Selamat Tahun baru untuk para readers sekalian. Tetap jadi pribadi yang kuat dalam menghadapi gempuran zaman ya bu ibu semuanya.


Tetap jadi Istri, Ibu dan anak yang strooong ya😘😘😘


Semoga apa yang di targetkan di tahun 2022 ini, tercapai sesuai harapan.


Terimakasih sudah menjadi pembaca setia karya receh Mommy.

__ADS_1


Selamat liburan semuanya.


🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2