The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 178. One Secret


__ADS_3

Bab 178. One Secret


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Selamat jalan kekasih, kaulah cinta dalam hidupku. Aku kehilanganmu... untuk selama- lamanya"


( Diambil dari lirik lagu Rita Effendy ~ Selamat jalan Kekasih)


.


.


Shinta


Jalanan beraspal nampak rata dengan warna langit malam itu. Gelap dan terasa sama. Ia menatap wajah Rangga yang terbujur kaku di dalam peti terbuka, yang berada di ambulans itu. Shinta di temani pak Ali. Mereka berdua mengiringi jenazah Rangga menuju rumah duka.


Shinta menatap wajah pucat suaminya yang tak akan pernah membuka matanya lagi untuk selama- lamanya , pria yang selama ini menjadi separuh jiwanya itu, benar-benar telah meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun.


Bahkan di detik terakhir mereka bersama selain memangilnya dengan sebutan ' sayang'.


Air mata Shinta kembali menetes dengan sendirinya. Pandangannya tak mau beralih ke objek lain selain wajah pucat suaminya yang terpejam. Petir yang seolah menyambar itu, membuat ia merenung dalam keadaan diri yang hancur. Meluluhlantakkan ketegaran hatinya secara bersamaan.


" Iklhas...sabar...!" Pak Ali mengusap punggung menantunya yang terlihat begitu terpukul atas kepergian suaminya.


Andai Shinta di berikan kesempatan, tentu ia akan selalu menuruti apa yang di inginkan suaminya. Andai waktu bisa diulang kembali, ia ingin perbaiki segala yang belum pernah ia lakukan. Termasuk mengadopsi seorang anak.


Mas, apa kamu mendengarku saat ini?


Dengan tatapan terus tertuju pada jasad suaminya, Shinta berbicara dalam batinnya. Berharap jiwa suaminya bisa mendengar jeritan hatinya saat ini.


Aku sekarang gimana mas, kok kamu tega ninggalin aku sendirian!


Aku sama siapa mas?


Air mata itu terus saja mengalir tidak mau berhenti sama sekali, berbanding lurus dengan hatinya yang hancur bagai tak memijak bumi lagi. Shinta merasa dirinya sepi dan sunyi.


Apakah ia sanggup menelan getirnya hidup seorang diri, lantaran di tinggal mati oleh pria yang amat ia cintai?


Entahlah, Tuhan seringkali membolak-balikkan hati ciptaannya. Tak menentu, dan tanpa permisi terlebih dahulu. Tapi, satu hal yang tetap harus ada didalam hati semua insan.


Bahwa semua yang di izinkan terjadi, pasti membawa kebaikan untuk yang menjalani.


.


.


Sementara Bu Nisa yang masih belum kuat menerima kenyataan, berada dalam mobil lain bersama Richard dan satu perawat perempuan.


Abimanyu bersama istrinya membawa mobil sendiri dan berada lebih dulu di rumah Shinta, guna mempersiapkan segala sesuatunya.


Wisang bersama Sekar juga turut bersama Danan dalam satu mobil yang berada di belakang ambulans. Turut dalam barisan iring-iringan mobil ambulans itu.

__ADS_1


Wisang dan Sekar saling menatap, ia merasa Danan menjadi berubah semenjak ia keluar dari rumah sakit tadi. Pria itu kini lebih membisu. Dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak.


Setibanya di rumah duka, rumah tersebut sudah di penuhi banyak pelayat. Kebanyakan dari teman Rangga satu letting yang juga berdinas di Airport kota J. Para tetangga juga nampak memenuhi rumah Rangga.


Bendera kuning berkibar lemah, menjadi penegas bila keluarga itu tengah di rundung duka. Suara sirine ambulans yang telah terdengar di telinga Abimanyu menjadi penanda, bila jenazah Rangga sudah tiba.


Isak tangis dari para sabahat , serta para tetangga turut menyambut kedatangan jenazah Rangga. Empat petugas dari ruang sakit milik Richard itu terlihat dengan penuh kesigapan menurunkan jenazah suami Shinta itu.


Shinta yang nampak berpandangan kosong, kini turut menyalami para pelayat yang hadir dengan wajah yang terlihat begitu letih.


" Mohon di maafkan segala kesalahan dan kesilapan mas Rangga ya mas...mbak!" ucapnya sembari terus mengalami satu persatu pelayat yang kebanyakan berseragam Aviation Security .


Wanita itu mencoba menguatkan dirinya di tengah badai yang kini memporak-porandakan pondasi hatinya. Separuh jiwanya telah pergi ke nirwana.


.


.


Dananjaya


Sedari keluar rumah sakit ia bahkan belum sempat menemui, atau berbicara kepada Shinta. Ia tau tatapan mata pak Ali menginginkan jawaban lebih. Namun moment yang dirasa tidak pas, mengharuskan Danan untuk bungkam.


Mertua laki-laki Shinta teramat bijak. Pria itu mampu menyembunyikan rasa keingintahuannya kepada Shinta dan Danan. Walau dalam hal ini, Shinta sama sekali tak bersalah. Wanita itu masih tetap pada jalurnya hingga akhir hayat suaminya.


Danan tak langsung masuk. Ia melihat Shinta dari kejauhan. Entahlah, mengapa ia turut merasa hancur sekaligus merasa bersalah kepada Rangga. Meski ia tak melukai hati Rangga secara langsung dan terbuka, tapi ia merasa telah berbuat curang kepada pria yang sudah terbujur kaku itu.


Maafin gue Ngga, maafin hati gue yang udah kurang ajar dan lancang karena tertarik sama istri elo!!!


Danan rupanya menangis saat itu. Ia yang tak pernah merasa mellow akan hidupnya itu, kini menitikberatkan persolan ini pada dirinya sendiri. Ia merasa bersalah.


.


.


Kakak perempuan Rangga yang menjadi seorang polwan itu tentu saja ingin memberikan penghormatan terakhir kepada adiknya.


Malam semakin larut, mata Shinta masih terjaga dan tak mau terpejam. Bu Nisa yang tertekan belum menampakkan diri sejak tiba dirumah duka tadi. Masih dalam pengawasan dan penjagaan dari perawat yang di tugaskan oleh Richard.


Wisang dan Abimanyu serta Danan berkolaborasi guna menutup biaya rumah sakit Rangga. Menyadari bila Wisang turut andil dalam kecelakaan itu, membuat dia harus bertanggung jawab penuh atas kejadian itu.


Namun begitulah sahabat, Abimanyu dan Danan tentu tak mau tinggal diam. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.


" Gue pulang dulu, besok pagi- pagi sekali gue balik kesini lagi!" Abimanyu harus pamit. Bagaimanapun juga ia kini sudah berkeluarga.


" Elu gimana?" Wisang bertanya kepada Danan yang masih menjadi pribadi lain.


" Kalian duluan aja, gue masih belum tahu!" jawab Danan tak mampu berfikir. Ia masih memerhatikan Shinta yang terus duduk menatap wajah suaminya yang berada dalam peti terbuka itu. Nanar dan tak memiliki semangat hidup.


Abimanyu dan Wisang saling menatap. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Danan. Ini rumit, terlalu rumit untuk di telaah bahkan untuk sekedar dilihat.


Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, Pak Ali terlihat masih terjaga. Nampak selesai mandi malam itu. Entah mengapa di waktu selarut ini, pria tua itu malah mengguyur tubuhnya.


Shinta seperti orang linglung. Wanita itu terlihat terus membelai wajah suaminya di bawah cahaya terang lampu dengan Watt tinggi.


"Bisa saya bicara Pak?" Danan dengan segala keberaniannya harus segera meluruskan kesalahpahaman sebelum Shinta menjadi sasaran.


Pak Ali menatap Danan lekat. Sejurus kemudian pria itu mengangguk.

__ADS_1


.


.


Sofa panjang berwarna hitam itu terlihat menampung dua tubuh pria. Sofa yang berada di ruangan tengah.


Wajah Pak Ali nampak biasa saja, tapi tidak dengan suasana hatinya. Kecanggungan kini menyeruak.


" Saya minta maaf karena harus membahas hal ini disaat suasananya masih benar-benar kurang pas!"


Danan tak mau basa basi lagi. Seketika suasana menjadi senyap. Sejurus kemudian Pak Ali angkat bicara.


" Saya tidak seperti istri saya....!" Danan menatap wajah pria tua itu.


"Saya tahu, kamu pasti takut saya berfikir kamu ada main bersama Shinta di belakang anak saya kan?" Kini Pak Ali menatap Danan dengan tersenyum.


Danan terperanjat. Sejurus kemudian ia mengangguk, karena ucapan pria di depannya itu memang benar. Bagiamana bisa pria di depannya itu bisa sesantai itu.


" Benar Pak, saya hanya takut anda turut menyalahkan Shinta. Dia wanita baik dan setia kepada suaminya!"


Danan tidak rela bila wanita yang ia cintai secara sembunyi-sembunyi itu, menjadi sasaran pergunjingan keluarga Rangga setelah ini.


" Apa yang terlihat belum tentu yang terjadi. Saya mengenal menantu saya lebih dari yang kamu tahu. Terimakasih sudah membantu kami!" Pak Ali menepuk pundak Danan.


Danan tak menyangka akan semudah ini untuk menjelaskan masalah. Kini ia tahu mengapa Shinta begitu mencintai Rangga. Dari perbincangan singkat barusan, bisa ia simpulkan bahwa Rangga adalah pria yang mewarisi sifat bawaan dari sang Papa.


Sifat bijak dan penuh pengertian.


Pantas saja Shinta begitu mencintai Rangga


" Saya hanya...." Pak Ali mendadak suaranya tercekat lalu menundukkan kepalanya.


Membuat Danan kini mengernyitkan dahinya. Pria tua itu akhirnya kini menangis di hadapan Danan.


" Rangga sering merasa bersalah kepada istrinya karena....."


Pak Ali menceritakan sebuah hal penting yang selama ini ia pendam. Danan yang mengetahui hal krusial macam itu hanya bisa menelan ludahnya.


Benar-benar tak menyangka.


" Saya tidak pernah memberitahukan hal ini kepada siapapun. Bahkan istri saya!" Pak Ali menangis. Sedu sedan kian terasa disana.


Danan seolah tak percaya dengan yang terjadi. Haruskah kini ia menurunkan standard kagumnya kepada jenazah yang bahkan belum di masukkan ke liang lahat itu? atau ia harus berterimakasih karena semua hal ini?


Entah mengapa pria itu merasa nyaman saat berbicara dengan Danan. Namun entah mengapa juga, Danan dengan tulus merasa iba dengan pria tua yang guratan kharismanya masih terasa kentara itu.


" Tolong kamu jaga rahasia ini" pinta Pak Ali menatap sendu wajah Danan.


" Saya tahu kamu pria dewasa yang cukup berakal. Saya hanya butuh teman cerita saat ini. Hati saya sesak dan penuh!" Pak Ali merasa berada di titik leburnya saat ini.


" Kehilangan anak ternyata sesakit ini. Saya hampir tidak sanggup" Pria yang terlihat paling tegar itu, kini juga terlihat sama rapuhnya.


Tak ada yang kuat jika di perhadapkan dengan dukacita.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2