
Bab 128. Terror
.
.
.
...ššš...
" Terdalam yang pernah kurasa
Hasratku hanyalah untukmu
Terukir manis dalam renunganku
Jiwamu jiwaku menyatu..."
( Diambil dari lirik lagu Glen Fredly ~ Kasih Putih)
Hangat sinar horison mengantar pasangan pengantin baru itu pulang dari bermimpi. Dengan rasa remuk yang luar biasa, Dhira mengerjapkan matanya. Ia melihat suaminya yang masih lelap di sebelahnya. Ini adalah kali pertamanya, Dhira di suguhi wajah natural sang suami.
Ganteng banget kamu mas. Batinnya yang berbicara, seraya senyum tersungging indah di bibirnya.
" Kau pasti terpesona dengan ketampananku,,hm?" Abimanyu rupanya tak benar-benar tidur. Ia berucap dengan suara parau, sambil tetap memejamkan matanya.
Dhira tersenyum. Mereka berdua hanya tidur dengan di tutup oleh bad cover putih tebal yang menutupi tubuh polos mereka.
Sejenak ingatannya kembali akan pergumulan panas yang telah terjadi berulang kali itu. Abimanyu telah berhasil menghujani batinnya yang selama ini gersang. Membuat jiwanya yang hampa kini berwarna. Dan membuatnya menjadi wanita yang beruntung.
"Kita check out jam berapa mas?" Dhira menggunakan kedua telapak tangannya sebagai alas kepalanya, ia kini menghadap miring ke arah suaminya.
"Terserah Nyonya Abimanyu mau jam berapa pulangnya. Atau masih mau....." Pria itu membuka matanya, lalu menggoda istrinya dengan senyum nakal. Membuat Dhira menyentil hidung Abimanyu dengan keras.
"Janjinya mau mijitin, malah di buat remuk. Lalu sekarang..????" dengus Dhira.
Abimanyu tergelak sambil merengkuh tubuh istrinya kedalam dekapannya. Mereka uleng- ulengan diatas kasur itu. Rasanya tak pernah cukup dan tak pernah merasa jemu Abimanyu ingin terus bersama istrinya. " Tapi enak kan?"
Dhira tersipu malu.
"Nanti kamu biar di temani Rania ke tempat spa sama massage ya. Kalau aku yang mijitin, takutnya tanganku malah bergerilya kemana- mana!" Abimanyu terkikik geli.
"Dan itu gak bagus buat juniorku. Kamu mengerti kan?"
"CK, dasar!" Dhira mendecak.
"Aku belum telpon Raka mas, Astaga!" Dhira merasa bersalah sekali, ia sejak semalam sibuk melayani suaminya hingga gempor.
"Aku udah di info sama Rania. Raka ikut Bastian ke tempat Ibu!" ucap Abimanyu masih memainkan tangannya di bagian dada istrinya. Laksana mengganti channel radio.
Dhira senang, suaminya saat ini juga turut memangil ibunya dengan sebutan yang lebih akrab tanpa embel-embel nama.
__ADS_1
" Sayang!" panggil Abimanyu dengan tatapan sendu.
"Ya?" belum sempat menjawab dengan sempurna, tubuh Dhira sudah di gulingkan kembali. Sepertinya Abimanyu akan membuat Dhira tak bisa berjalan hari itu.
Dan pagi itu, mereka kembali mengulang indahnya nikmat duniawi rasa surgawi yang pernah ada.
...ššš...
Sekar pagi itu bingung. Ia sendirian di ruko itu. Tak mengerjakan apapun membuat dia merasa bosan. Seorang diri pula.
Dhira meminta Sekar untuk tak membuka rukonya. Selain karena ia masih akan sibuk dengan suaminya, Shinta juga izin untuk tak masuk selama beberapa hari, lantaran tengah bertandang ke tempat mertuanya.
Ya, sebagai istri yang baik tentu ia selalu berusaha memenuhi keinginan suaminya bukan.
Kamu sedang apa?
Pesan dari Wisang masuk ke ponselnya. Harus ia akui, pria dewasa itu berhasil membuatnya merasa tersenyum berkali- kali.
Sedang bingung karena jadi pengangguran mendadak š
Ia terkikik sambil membalas pesan Wisang. Dan entah mengapa ia tak sabar menunggu balasan Wisang.
Astaga aku lupa, kau pasti sendirian disana. Tunggu aku ya, aku kesana sekarang.
Dan entah mengapa, Sekar merasa senang. Banyak sekali bunga-bunga bertaburan diatas kepalanya saat ia membaca pesan dari Wisang. Ia segera mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih pantas.
Tiba- tiba ia ingin tampil cantik di depan Wisang. Apakah pria itu sudah bisa membuat gadis seperti Sekar jatuh hati?. Entahlah, ini adalah kali pertamanya Sekar merasa sangat di cintai oleh seorang pria. Pria yang selalu berhasil membuat hatinya senang. Terlebih, pria dewasa itu rupanya lebih maju di segala bidang.
Ia menyemprotkan cologne ke bagian lehernya. Dengan hati berbunga-bunga, ia menantikan kehadiran Wisang.
Tiga puluh menit kemudian, deru mobil Wisang telah terdengar. Kali ini agak berbeda, mengapa jantungnya mengajaknya untuk senam di pagi itu. Tak biasanya Sekar merasakan hal itu.
Ceklek
Pintu itu terbuka bahkan sebelum Wisang mengetuknya. Sekar lebih dulu menyongsong kedatangan Wisang pagi itu.
"Pagi!" sapa Wisang . Pria di depannya itu selalu saja ganteng. Rambutnya yang basah, membuat tampilannya kian segar.
" Kok bajunya..." Sekar memindai tampilan Wisang yang masih mengenakan jas.
"Kamu ikut aku ke kantor sebentar, nanti kita baru pergi ya. Biar gak bolak-balik!" ucap Wisang masih di ambang pintu.
Sekar mengangguk, " Mas udah sarapan?" tanya Sekar malu-malu.
Dan demi apapun yang ada di dunia ini, Wisang senang mendengar Sekar memangilnya ' Mas' pagi itu.
Wisang senyam-senyum bagai orang gila. Hatinya happy banget dibuat Sekar pagi itu." Kamu manggil aku apa tadi?" Wisang menatap Sekar gemas.
"Mas!" Sekar berucap dengan percaya diri.
"Kamu masak apa memangnya?" Wisang berjalan mengekor di belakang Sekar, yang tengah menuju dapur.
__ADS_1
"Enggak masak sih!" Sekar meringis.
Wisang mendecak, lalu untuk apa wanita itu menawarinya. " Kok nawarin?"
"Siapa juga yang nawarin, aku kan cuma nanya. Mas udah sarapan apa belum. Soalnya sama, aku juga belum sarapan!" Sekar berucap sambil menunjukkan gestur tubuh yang begitu manja. Membuat Wisang gemas.
Pria itu langsung menarik pinggang Sekar, lalu dengan segera menekan tengkuk Sekar dan langsung menyerang bibir lembab yang membuatnya selalu tergoda.
Wisang meremas bokong Sekar sembari terus menyesap bibir lembut wanita itu. Sekar kini juga sudah lebih ekspresif ketimbang beberapa waktu yang lalu. Ia juga meraba rahang kokoh Wisang, seraya menikmati ciuman itu.
Dan saat mereka masih larut dalam gulungan ciuman panas pagi itu, sesuatu menginterupsi kegiatan penuh cinta mereka.
Praaaanggg!!!
Terdengar kaca yang pecah karena hantaman suatu benda. Ciuman mereka lagi-lagi terlepas karena paksaan.
"Apa itu mas?" Sekar yang masih meraba rahang Wisang, menautkan kedua alisnya.
Wisang tertegun sejenak. " Sepertinya di lantai atas, ayo kita kesana!" Wisang menggenggam tangan Sekar saat menapaki tangga menuju lantai dua ruko itu. Dan betapa terkejutnya mereka , melihat kaca jendela yang kacau balau akibat terhantam oleh sebuah batu.
Wisang mengambil batu yang kini berada di dalam ruangan itu, sebuah kertas membungkus benda keras itu.
Jangan main-main denganku sialan, ingat yang harus kau beri untukku! Aku bisa mencarimu hingga ke lubang semut sekalipun.
Wisang mengeraskan rahangnya, seraya meremas kertas yang membungkus batu tersebut. Membuat Sekar menatap Wisang penuh tanya.
"Ada apa mas?" Sekar meraih kertas kusut karena remasan Wisang barusan.
Sekar membulatkan matanya, apa itu dari Wisnu. Ini gawat, anak itu sudah berani merusak tempat Bu Dhira. Aku harus bagaimana. Sekar cemas.
" Siapa yang sengaja melakukan aksi pengecut seperti ini!" Wisang berkacak pinggang seraya tak habis pikir. Ia menatap Sekar dengan wajah khawatir.
" Apa kamu pernah mendapat teror semacam ini sebelumnya?" Wisang menatap Sekar.
Sekar menggelengkan kepalanya, mewakili jawaban 'tidak'. Apa dia harus jujur terkait Wisnu yang mengancamnya semalam?, tapi ini terlalu berbahaya. Ia tahu Wisnu itu pasti tak bekerja sendirian. Kecemasan melanda diri Sekar. Ia tak mau Wisang sampai terlibat hal ini.
"Jangan beritahu Dhira. Aku tidak ingin mengganggu acara mereka. Sebaiknya kita ambil dokumentasi. Suatu saat kita pasti memerlukan. " Ayo bantu aku!" ucap Wisang.
Sekar gundah gulana, apa ia harus memberitahu hal ini apa tidak. Jujur dia sangat malu jika harus mengutarakan persoalan yang paling ia hindari kepada pria yang bersamanya saat ini.
Persoalan yang paling membuatnya sungkan terhadap orang lain.
Uang.
.
.
.
.
__ADS_1
.