
Bab 25. Keinginan Jodhi
.
.
.
...ššš...
"Sebelah mata dia memandang!"
Usai pertandingan ia segera mencari putranya, dan setelah itu berniat untuk bergegas pulang.
Rupanya pelatih dan sekolah telah menyiapkan tempat untuk menginap, bagi seluruh tim voli.
Mereka lolos menuju babak perempat final, artinya masih ada sederet pertandingan yang harus Raka beserta timnya ikuti.
"Mama pulang dulu nak, jaga diri baik baik"
"Nanti, jangan lupa hubungi mama ya"
"Jangan lupa shalat"
Kalimat demi kalimat terlontar ramah kepada Raka, ya kini mereka harus memisahkan diri untuk sementara, seraya memeluk posesif tubuh kurus anaknya.
"Mama pulang sama siapa?"
Namun belum selesai Dhira menjawab, rupanya Jodhi muncul dari arah belakang.
"Wih, Ka. Kamu tadi keren banget mainnya!!" ucap Jodhi saat menemukan Raka beserta mamanya.
"Makasih ya udah datang"
"Om, terimakasih" ucap Raka mengangguk ke arah Abimanyu.
"Sama sama, selamat ya" ucap Abimanyu, mengusap lembut puncak kepala Raka.
Saat mereka tengah asik ngobrol, terlihat dua pasang manusia yang datang ke arah mereka.
Rupanya Indra juga tengah mencari keberadaan putranya," papa cari cari kamu tadi, rupanya disini" ucap Indra, membuat semua yang disana menoleh.
.
.
Dhira
Dhira yang melihat tangan wanita penggoda itu menempel bak lem fox ke tangan mantan suaminya, membuat hatinya menjadi malas.
Tapi ia juga tak bisa melarang Indra untuk datang kemari, bagaimanapun juga Raka adalah adalah darah daging mantan suaminya itu.
Setengah mati ia mengupayakan diri, untuk bersikap tenang.
Ia juga enggan untuk sekedar menyapa, ia lebih memilih untuk membuka ponselnya. Itu lebih baik, dari pada hatinya harus sakit tiap melihat dua manusia tidak tahu malu itu.
.
.
Indra
Ia terkejut saat melihat Direktur yang datang sewaktu sidak kapan hari di BCS tempo hari.
"Untuk apa mereka ada disini"
Dan bagaimana bisa, orang nomer satu di Delta Group itu, mengenal mantan istri dan anaknya.
Kini dia bingung, bagaimana menempatkan posisinya. Apalagi, ia sempat terlibat pertikaian dengan Direkturnya itu.
Sementara Renata, malas untuk sekedar menyapa mantan istri kekasihnya itu.
Dengan sombongnya ia lebih sibuk dengan ponselnya.
"Pak Abimanyu" ucapnya menyapa pria dengan rahang yang terlihat mengeras itu.
"Bapak, ingat saya?" mau tak mau ia harus menyapa, bagaimanapun juga ia masih berstatus kacung di ranah perusahaan milik Abimanyu.
__ADS_1
"Saya Indra, kepala cabang Bank Seroja yang baru" ucapnya dengan nada antusias, menyunggingkan senyum terbaik.
Mengangsurkan tangannya, untuk menjabat tangan Abimanyu.
Ya, setidaknya dia harus menjilat bukan.
.
.
Abimanyu
Kini ia tahu siapa pria yang datang bersama wanita dengan pakaian super ketat itu, ia juga ingat saat Wisang dan Danan menemaninya melakukan sidak di salah satu bank yang ia miliki.
Kilasan ingatannya kembali kepada ucapan Wisang," aku Pindahkan satu orang untuk menggantikan Roger, dia bersih kok"
"Cih, ia merasa kecolongan, mengapa ia tak mengcrosschek terlebih dahulu, siapa orang yang menggantikan pelaku korupsi di banknya itu.
Entah mengapa ia teringat saat Indra hendak melayangkan pukulan terhadap Andhira.
Namun melihat Raka dan Andhira, ia harus bersikap baik bukan.
" Oh iya, saya ingat" ucapnya menjabat tangan Indra.
"Saya juga ingat kita pernah bertemu di halaman sekolah".
Dhira langsung menoleh, namun sejurus kemudian ia menenggelamkan kembali dirinya kedalam portal media sosial.
Membuat Indra menekan salivanya dengan susah, dan gelagapan.
"Jadi kamu, yang gantiin Roger?" ucapnya kembali, karena melihat wajah Indra yang sudah pucat pasi, setelah ia melontarkan pernyataan tadi.
"Be benar pak" Indra menjawab gugup, melihat sepasang mata elang miliknya.
Abimanyu tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya.
.
.
Raka
Benar kedua orangtuanya datang mendukung, tapi kenyataannya...
Ia ingin segera enyah dari tempat itu, ia begitu kasihan melihat mamanya.
Apalagi, papanya datang bersama wanita yang ia benci.
Bahkan dia sedikitpun tak berminat untuk menatap wajah wanita, yang berambut jagung itu.
Definisi dari malas dan jijik.
"Papa bangga sama kamu, nak" ucap Indra mengelus puncak kepala Raka.
Setelah mendapat pernyataan yang membuatnya malu sekaligus khawatir, bagaimana tidak Direktur itu nampaknya ingat, bila dirinya pernah terlibat pertikaian.
Raka hanya tersenyum," terimakasih sudah datang pa"
Ia terpaksa membuat kalimat kalimat yang baik, pikirannya melayang saat Dhira berbicara serius dengannya tempo hari.
"Mama ingin kamu tetap bersikap baik sama papa nak"
"Urusan mama sama papa, biar menjadi urusan kami"
"Dia tetap papa kamu, mama tahu kamu sudah besar"
"Sudah tahu mana yang baik, mana yang tidak baik"
Entah terbuat dari apa hati mamanya itu, tapi ia harus melakukan ini agar mamanya tidak mendapat perlakuan kasar lagi dari papanya.
...ššš...
Indra memilih untuk berpamitan, suasana yang mencekam jelas tak menguntungkan dirinya untuk berlama lama disana.
Apalagi, Abimanyu yang bersikap tak mau tahu dengan kehadirannya itu, jelas pertanda itu bukan hal baik untuknya.
Abimanyu sempat tak rela saat melihat Dhira lebih memilih pulang menggunakan taksi online.
__ADS_1
Ia menangkap kesedihan, dalam wajah wanita itu.
"Maaf saya sudah pesan taksi tadi" tolaknya halus, berusaha menghindar.
Ia bahkan sudah berkali-kali menawarkan bantuan kepada wanita itu, namun lagi lagi dia selalu menolak cenderung menghindar.
"Kenapa terus menghindar?" batinnya masih di depan kemudi.
"Yah" Jodhi bertanya seraya memainkan game, di ponsel mahal miliknya.
"Hem"
"Tadi itu siapanya Raka?"
Abimanyu heran, biasanya keponakannya itu tak pernah berminat untuk kepo dengan orang lain.
"Papanya Raka"
"Aku jadi kasihan lihat tante Dhira"
"Padahal cantikan Tante Dhira, dari pada mbak mbak yang rambutnya kayak rambut jagung tadi"
Abimanyu menatap bocah di sampingnya, yang masih sibuk memainkan game dengan berbagai nama unik itu.
"Kamu saja bisa merasa begitu, apalagi aku Jo" batinnya.
"Anak kecil, gak boleh bicara aneh aneh"
"Tapi masih mending Raka Yah"
Abimanyu menoleh kembali.
"Dia masih bisa ketemu papanya"
"Sementara aku"
"Aduh!!!, kalah lagi!!!" pekiknya tak terima, saat game nya harus end.
Ia menaruh ponselnya di dashboard mobilnya dengan malas.
"Aku gak akan bisa ketemu papaku, bahkan makamnya tidak ada kata mama" ucap Jodhi lesu, seraya melipat kedua tangannya ke belakang. Menjadikannya sebagai sandaran.
Hati Abimanyu bak teriris sembilu, omongan bocah itu menyayat hatinya.
"Kan masih ada ayah" ucap Abimanyu.
"Beda yah"
"Mama sama ayah sama sama sibuk"
Abimanyu menghembuskan nafasnya.
Memang benar, sikap Jodhi yang cuek tempo hari jelas adalah manifestasi dari ketidakhadiran orang orang dekat, dalam hidup Jodhi.
"Andai Raka bisa jadi saudaraku, mungkin asik ya yah. Tiap hari ada teman main di rumah" ucap Jodhi lesu.
"Kamu pingin Raka jadi saudaramu?"
"Hemm, tapi gak mungkin lah"
"Bisa, kamu mau bantu ayah?" ucap Abimanyu, seolah mendapat satu dukungan.
Menyunggingkan senyumnya.
"Bantuin apa?" Jodhi menatap heran wajah ayahnya itu
.
.
.
.
Follow author yuk.
Ig : Fitria Ermila Yessi
__ADS_1
fb : Fitria Ermila Yessi