
Bab 192. Kong- kalikong
.
.
.
...ššš...
" Maafkanlah cinta, atas kabut jiwa yang menutupi pandangan kalbu"
.
.
Melinda
Ia adalah wanita dengan usia sepadan dengan Dhira. Rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja, ia masih berstatus istri orang namun sudah pisah ranjang lama. Suaminya memiliki simpanan diluar sana. Singkat kata, dia wanita jablay.
Wanita itu dibuat terpesona oleh Abimanyu saat pria itu tak sengaja menabraknya di pintu kedatangan bandara internasional BL tadi siang . Saat itu, itu tidak tahu bila Abimanyu adalah peserta Family Gathering yang notabene sama dengan dirinya.
Ketidaktahuannya akan Abimanyu yang sudah beristri, membuat Melinda kian ingin mendekati. Acara itu di khususkan untuk keluarga, hanya Direktur yang belum menikah saja yang memang datang sendiri bersama para assisten mereka. Atau mungkin orang yang tengah bermasalah seperti dirinya saja yang datang seroang diri.
Mengenaskan.
Selebihnya, mereka semua membawa istri. Ia yang datang terlambat ke acara pembukaan dan makan malam itu, sempat kebingungan karena ia tak pernah mengikuti acara seperti ini.
Dan parahnya, ia masih belum banyak mengenal orang-orang disana.
Sebelumnya, perusahaan warisan dari orang tuanya itu, di kelola oleh suaminya. Namun karena belakangan ini suaminya main serong, ia mengambil alih asetnya itu. Ia yang kaya, justru dikhianati.
Melinda senang bukan main saat melihat Abimanyu yang duduk seorang diri hanya bersama seorang pria yang lebih muda, yang ia prediksi itu adalah assistennya.
Ia belum tahu siapa Abimanyu, namun pertemuannya tak sengaja di bandara tadi siang, menjadi bekalnya untuk berani bergabung.
Melinda pikir, Abimanyu sama seperti dirinya. Pria yang masih sendiri. Karena jika sudah beristri, tentu akan mengajak istrinya sama seperti direktur yang lain.
Begitu pikir Melinda. Dasar yang sudah salah dari awal. Tertutup fatamorgana ketertarikan.
Ia merasa mendapat sinyal saat Abimanyu tak marah sewaktu dia mengambil sisa tissue yang menempel di wajah ganteng pria itu. Membuatnya kian gencar untuk mendekati.
__ADS_1
Perempuan dengan gaya hedon itu benar-benar menyukai Abimanyu sejak ia tak sengaja bertemu. Tapi dari sikap Abimanyu, ia merasa pria di depannya itu menginginkan untuk di kejar. Sebuah pemikiran yang sangat salah.
Puncaknya saat acara makan malam itu selesai, ia yang rupanya satu lantai dengan kamar Abimanyu berniat ingin menjajal sikap pria itu.
Ia sengaja mengganti pakaiannya dengan dress satin mengkilat yang menggoda, ia sempat terperangah saat Abimanyu membuka pintunya dalam keadaan bertelanjang dada. Sebuah desira aneh timbul dalam diri Melinda. Wanita itu benar-benar kurang sentuhan.
Namun tak di nyana, Abimanyu malah meninggalkannya dan membuka pintu kamar itu lebar- lebar, seraya asik dengan ponselnya. Melinda sebenarnya kesal, mengapa Abimanyu tak seperti pria lainnya yang mudah tergoda. Akhirnya ia memilih untuk kembali saja dulu ke kamarnya. Berniat akan mendekati pria itu dengan cara yang elegan.
"Terimakasih banyak Mas...emmm Pak Abimanyu!" Ia sengaja mengucapkan kata-kata itu agar Abimanyu tahu bila ia sudah selesai.
Sejurus kemudian ia menutup pintu kamar itu dengan pelan. Ia penasaran, mengapa pria itu selalu sibuk sendiri dengan ponselnya.
Oh andai kata dia tahu, bila Abimanyu telah memiliki bidadari yang amat ia cintai.
...ššš...
Andhira
Ia sengaja mematikan ponselnya. Suaminya itu sedang tidak beres pikirnya. Insting dan intuisi yang kian tak bisa di ragukan lagi dalam diri itu, membuatnya tak lemah seperti dulu.
Pengalaman benar- benar membentuk pribadi yang kuat.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia mengambil ponsel Raka dan berniat menghubungi Devan. Pikirannya dituntut cepat saat itu.
Urusan Devan beres, ia berlanjut menghubungi Rania.
" Apa Mbak, mbak Dhira serius mau berangkat sendiri. Mbak lagi hamil loh?" terdengar suara kepanikan dari mulut Rania.
" Iya, udah kamu yang penting besok jemput dan antar anak- anak. Aku titip ke kamu dulu ya, ingat jangan bilang kakakmu!"
Dhira menceritakan keganjilan yang ia dengar tadi. Suaminya itu tidak bisa di lepas sendirian. Ia tahu, siapapun juga tahu pesona suaminya.
Tugas terakhir adalah menghubungi dr. Septa. Ia perlu membawa surat kelaikan terbang yang menerangkan kehamilannya aman untuk digunakan saat bepergian menggunakan pesawat udara.
Dokter Septa sudah membalas pesannya malam itu, ia meminta Dhira untuk datang pagi-pagi sekali ke kliniknya, sebelum ia berangkat menuju rumah sakit.
Dan di malam itu juga, ponsel Raka yang masih ia gunakan itu mendapat sebuah pesan dari Devan. Rupanya sebuah E- tiket pesawat kelas bisnis, lengkap beserta kode booking.
Sepertinya, itu adalah maskapai yang di naiki suaminya sewaktu berangkat kemaren. Dhira malam itu sengaja tak menyalakan ponselnya. Bahkan sampai waktu yang ia sendiri tak bisa tentukan.
Jika suaminya tidak melakukan apapun disana, setidaknya mungkin memang dia harus menunjukkan kepada dunia bila Abimanyu itu adalah miliknya.
__ADS_1
.
.
Pagi menjelang, usai memberitahu Raka dan Jodhi terkait kepergiannya yang menyusul papa mereka secara mendadak, kini Dhira tinggal menunggu Rania menjemput mereka.
" Mbak serius sama yang mbak ceritain semalam?" Rania selalu saja kepo dengan semua hal.
" Mbak gak yakin, tapi kakak mu disana gak bisa dibiarin sendirian rupanya Ran. Entah bagaimana kakakmu itu bersikap, aku bahkan dengan jelas mendengar suara wanita di kamar kakakmu!"
" Aku antar aja ya, mbak sendirian loh?" Rania khawatir, apalagi Dhira tengah hamil.
" Aku minta tolong kamu untuk jaga anak-anak aja ya!"
Sepakat, kini Rania sudah melesat dengan membawa serta kedua bocah itu. Dan Dhira kini sudah berada di dalam mobil bersama Nanang.
Dhira hendak menuju tempat praktik dr. Septa, untuk memeriksa diri dulu sekaligus meminta surat kelaikan terbang sebagai syarat wajib yang ia sertakan saat check in nanti.
" Kondisinya bagus, tekanan darah ibu juga normal. Saya buatkan suratnya ya Bu. Surat ini hanya berlaku 3x24 jam. Jika ibu nanti kembali lebih dari hati itu, maka Ibu harus memeriksa diri kembali ke dokter atau karantina kesehatan pelabuhan yang biasanya ada di bandara ya Bu".
" Intinya, ibu harus tidak dalam kondisi tertekan yang bisa memicu tensi darah meningkat!"
Dhira sudah menerangkan tujuannya karena menyusul suaminya. Memang ada sedikit kebohongan, karena Dhira berdalih jika ini urusan mendadak yang memerlukan kehadirannya untuk mendampingi suaminya.
Tiket dan surat sudah berada dalam genggaman. Kini ia tinggal bersiap untuk berangkat.
Ia menyesal karena tak mau ikut sedari awal, ia tak mau memberikan celah bagi para perempuan sebangsa Renata. Ia yang sudah berpengalaman itu, kini menjadi lebih dewasa secara pikiran dan sikap. Ia tak ingin langsung marah-marah seperti dulu. Ia bisa melakukan segala sesuatunya dengan cara elegan.
Meski ia tahu, pasti saat ini Devan menjadi sasaran uring-uringan suaminya karena hingga detik ini, ponsel Dhira dalam keadaan mati.
Ia juga sudah kong kalikong dengan Devan, Rania, kedua anaknya, bahkan Nanang dan mbak Yuni. Agar tidak menjawab panggilan dari Abimanyu.
Ia ingin mengejutkan orang, yang semalam membuatnya terkejut.
.
.
.
.
__ADS_1