The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 125. Disclosure of Feelings


__ADS_3

Bab 125. Disclosure of Feelings


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Kali ini ku akan menyatakan cinta, nyatakan cinta. Aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama..."


( Diambil dari lirik lagu Vierra )


.


.


Lain lubang lain sarang, lain orang lain persoalan. Di waktu yang sama namun berbeda tempat, Shinta merasa tak nyaman berada disana. " Besok aku cuti, kita kerumah mama ya. Kamu ijin dulu sama Dhira!" Rangga berkata kepada istrinya, saat Danan juga masih berada disana untuk makan.


"Besok ya?" tanya Shinta ,yang sebenarnya tidak excited tiap Rangga mengajaknya kerumah mertuanya. Bukan tanpa alasan, Shinta memang sampai sekarang belum di karuniai momongan. Ibu mertuanya kerap memberikan sindiran pedas terhadapnya. Jika boleh memilih, tentu ia tak mau seperti itu.


Tapi bukankah anak itu juga sama seperti rejeki? yang tidak akan pernah menjadi milik kita, jika yang kuasa belum menghendaki.


Melihat istrinya muram, Rangga segera mengalihkan topik pembicaraannya. Ia tahu apa yang di pikirkan istrinya itu. Sudah beberapa tahun terakhir hubungan ibu dan istrinya merenggang akibat persoalan anak.


Ia berniat akan membujuk istrinya saat dirumah nanti.


" Tuan Danan sendirian? maksud saya...." Rangga ingin tahu, mengapa pria se sukses Danan tak terlihat bersama istri atau pendampingnya malam ini?


Danan tersenyum, " I'm singgle, but available" ucapnya sambil tergelak.


Rangga turut tertawa kecil, ia tak mengira pria tampan dan memiliki karir cemerlang seperti Danan masih belum berumah tangga.


"Maaf Tuan, saya tidak tahu!" Rangga menimpali kemudian. Danan bersikap biasa saja, sebab dia sudah sering mendapatkan pertanyaan macam itu. Dan itu hal remeh temeh buatnya.


"It's Ok. Sebenarnya saya sudah mendapat sesuatu yang sesuai kriteria. Tapi rupanya belum jodoh!" Danan mengendikkan bahunya, sembari sekilas melirik Shinta yang masih menatapnya sebal.


Shinta tak nyaman dan terlihat kesal, karena ingat bila pria itu tadi sempat menyentuh dua barang berharganya. Namun mustahil dia akan menceritakan hal memalukan itu kepada suaminya.


"Belum berarti masih akan atau bisa jadi kan. Beda dengan tidak. Kalau 'tidak' sudah di pastikan tidak akan pernah Tuan!" Rangga menjawab.


Danan mengangguk setuju, " Anda benar, mungkin belum!" Danan tersenyum. Sejurus kemudian ia menatap wajah Shinta yang terlihat makin tak nyaman. Cenderung muak.


Sayup-sayup terdengar lagu berikutnya yang di nyanyikan oleh seorang tamu, namun memiliki suara emas. Lagu yang cukup membuat para tamu lajang disana baper. Sebuah lagu milik penyanyi pria legenda, yang di cover oleh band terkenal.


šŸŽ¶


Sejak jumpa kita pertama ku langsung jatuh cinta


Walau ku tahu kau ada pemiliknya


Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani


Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini


"Anak-anak tidak di ajak?" Danan mencoba mengakrabi dua pasutri di depannya itu.


Lagi-lagi Rangga yang menjawab dengan antusias. Ia senang pria kaya sekelas Danan rupanya begitu ramah." Kami belum di beri kepercayaan oleh Tuhan. Mungkin sebentar lagi!" Rangga menggenggam erat tangan istrinya. Dan hal itu tak lepas dari pandangan Danan.


Shinta yang di perlakukan hangat oleh suaminya itu, membalas senyum tulus dari suaminya. Pria bernama lengkap Rangga Dirgantara itu, selalu bisa membuat hati istirnya lapang. Ia juga tidak pernah menyinggung soal anak kepada Shinta, meski banyak orang memandang dirinya sebelah mata , termasuk ibunya. Hanya karena Shinta belum bisa mengandung benih dari Rangga.

__ADS_1


Namun ia mencintai Shinta melebihi apapun. Dan ia menerima segala kekurangan dan kelebihan istrinya itu.


Lagu itu masih mengalun, membuat kesemua yang disana memasang telinga untuk mendengar. Sayup-sayup juga masih menjadi original soundtrack perasaan Danan kepada Shinta yang terbilang instan. Namun harus Danan akui, Shinta adalah wanita yang menarik perhatiannya. Membuat dia kini menjadi penganut paham 'cinta pada pandangan pertama'.


Maka izinkanlah aku mencintaimu


Atau bolehkanlah ku sekadar sayang padamu


Izinkanlah aku mencintaimu


Atau bolehkanlah ku sekadar sayang padamu


"Masih 'belum 'Tuan, anda sendiri yang bilang. Jika belum itu ,berarti masih akan. Tidak ada yang mustahil bukan jika yang di atas sudah berkehendak?" ucap Danan, ia menangkap raut muram di wajah Shinta. Dan hal itu membuat hati Danan terenyuh.


Wisang pasti membenturkan kepalanya saat itu juga, bila ia mendengar Danan yang berbicara dengan intonasi dan ucapan normal. Bisa bijaksana juga pria dengan otak kotor itu.


Hati Danan benar-benar tak bisa menepis rasa sukanya kepada istri orang lain itu. Ia terus menatap Shinta saat Rangga tengah sibuk dengan makanannya.


Cinta memang tak mengenal kasta, usia, bahkan keberadaan sesungguhnya. Ia hanya manusia biasa yang tak dapat mengelak dari salah satu rasa yang di titipkan oleh Tuhan itu.


Memang serba salah rasanya tertusuk panah cinta


Apalagi ku juga ada pemiliknya


Tapi ku tak mampu membohongi hati nurani


Ku tak mampu menghindari gejolak cinta ini


Ow hancur dan lara


Yang dibumbung asmara


Hilanglah selera


Oh izinkanlah aku mencintaimu


Atau bolehkanlah ku sekadar sayang padamu


Maafkan jika ku mencintamu


Lalu biarkanku mengharap kau sayang padaku


( Kala Cinta Menggoda ~ Noah)


.


.


Bastian memilih pergi dari sana. Ia tak tahan melihat Rania yang satu meja dengan teman-temannya bersenda gurau bersama Fredy. Ia meninggalkan Satrio yang mendengus kesal lantaran bang Togar yang sudah bersendawa lima kali karena menghabiskan tiga piring rolade dan juga sate.


Rania sebenarnya juga mencuri- curi pandang sedari tadi. Ia merasa senang dengan tampilan Bastian yang begitu tampan. Namun, ia belum memiliki kesempatan untuk sekedar bertegur sapa bersama Bastian.


Usai menemani Oma Regina menyambut para tamu, ia rupanya menemani teman- temannya yang jauh-jauh datang dari luar kota untuk pesta kakaknya itu.


Rania melirik sekilas. Ia tahu jika Bastian pergi. " Sebentar ya, aku lupa mau sesuatu!" bohong Rania pada teman- temannya. Fredy juga tak menaruh curiga disana. Mereka semua larut dalam obrolan seru, seputar pekerjaan dan gaya hidup yang seiras.


Bastian benar- benar merasa sunyi di tempat se ramai itu. Kakaknya sudah bahagia bersama pria yang di cintai. Ibunya juga sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Hanya dirinya saja yang masih bernasib tak jelas, seraya terus minder terhadap wanita yang kerap membuat tidurnya tak nyenyak itu.


Ia hanya pria dengan penghasilan yang tak seberapa pikirnya, bila di bandingkan dengan sekumpulan teman-teman Rania. Lalu apa yang bisa ia banggakan untuk sekedar ingin dekat dengan wanita sekelas Rania?


Bastian memilih untuk berjalan ke luar, ia ingin merokok. Mungkin bisa mengurangi gelisah di hatinya.

__ADS_1


Rania terus mengikuti langkah Bastian. Ia penasaran, kemana pria itu pergi. Sebenarnya Rania sedih saat mendengar penuturan Bastian tempo hari, yang menerangkan bila pria itu tengah minder dengan seorang wanita. Rania sangat penasaran, siapa wanita beruntung itu pikirnya.


"Ehem!" Rania berdehem saat Bastian baru saja duduk dan menghisap rokok yang baru saja ia pantik menggunakan korek.


Bastian terperanjat, " Bu Rania, kenapa disini?" Bastian bingung. Wanita yang terang-terangan ingin ia hindari karena cemburu itu, kini malah berada di hadapannya. Ia menggerus batang rokok yang masih panjang itu, lalu berdiri menghampiri Rania yang berdiri.


Rania sempat bingung, ia tak memiliki alasan yang bisa ia kemukakan kepada Bastian. " Aku...emmm aku.." Rania terlihat bodoh. Ia bahkan tak memiliki rencana B.


" Aku cari sinyal tadi, soalnya temenku dari Singapura telpon tadi!" jawabnya asal.


Bastian menautkan alisnya. Bukannya di hotel itu, terpasang WiFi yang bisa dinikmati setiap pengunjung. Kini Bastian menarik sudut bibirnya. Bosnya itu tak pandai berkelit pikirnya.


"Anda mengikuti saya?" Bastian melipat kedua tangannya. Wajah tampan Bastian makin bersinar tatkala senyum terkembang di wajah pria berkulit kuning langsat itu.


"Aku!" Rania menunjuk dirinya sendiri.


"Mengikutimu??" Rania mencibir.


"Mana mungkin, aku hanya...." Rania benar-benar tak pandai bohong.


Bastian tergelak," Saya takut pacar anda nanti salah paham Bu. Kita disini hanya berdua!" ucap Bastian mengangkat kedua tangannya.


Samar-samar ia mendengar lantunan musik dari dalam. Nampaknya makin banyak tamu yang turut menyumbang lagu untuk memeriahkan pesta itu.


Mereka berdua terdiam. Masih memandang satu sama lain. Rania membasahi bibirnya dengan mengulum mulutnya sendiri. Ia jatuh cinta kepada Bastian sejak pria itu membuatkan kopi untuknya di kantor.


Ia juga ingat akan Bastian yang dengan wajah panik menolongnya sewaktu terjebak di lift. Apalagi aroma tubuh Bastian yang kerap membuat dadanya berdesir. Ia yang tahu bila Jodhi juga sangat dekat dengan Bastian,. mengingat bila putranya itu selalu memiliki sikap antipati terhadap orang baru. Tapi mengapa hal itu tidak terjadi terhadap Bastian.


Rania rindu figur seorang pria yang bisa mendampinginya. Ia merasa Bastian adalah pria yang mampu membuat dirinya kembali berdesir setelah sekian lama tenggelam dalam kepedihan karena di tinggal Chandra.


Bastian ganteng, baik dan juga perhatian. Ia juga kerap membantu Rania dalam menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu lihai di segala aspek.


Bastian menelan salivanya, disana benar-benar sepi. Jarak mereka pun juga tak terlalu jauh. Berada di tempat sepi dengan seorang wanita cantik jelas membuat otak dan hatinya akan menjadi tak sehat.


"Bu Rania saya minta anda kem...."


Rania maju dengan cepat kemudian mencium Bastian. Pria itu membulatkan matanya saat bibir mereka menempel. Terasa dingin dan lembut. Jantung Bastian seakan melompat, aroma nafas tubuh Rania seakan turut mengalir mengisi laju darahnya . Apakah dia bermimpi?


Ia baru saja ingin berkata agar Rania kembali ke dalam. Ia tak mau dirinya menjadi sebab musabab persoalan bos-nya nanti. Karena takut mendapatkan fitnah.


Rania tertunduk malu usai mencium Bastian. Ia merapikan anak rambutnya yang berantakan, seraya menelan ludahnya. Ia sudah gila. Benar-benar gila. Kondisi jantungnya jangan di tanya lagi, seakan meledak saat itu juga.


Bastia masih tak percaya dengan apa yang ia alami barusan. Wanita cantik yang kerap membuatnya gelisah itu, baru saja menciumnya.


"Maaf, mungkin aku sudah terlambat. Tapi aku menyukaimu sejak lama Bas. Tapi aku sudah lega karena mengungkap kepadamu. Persetan setelah ini kau anggap aku apa" Rania berucap dengan suara bergetar. Hidung dan mata wanita itu lekas memanas.


Bastian masih mematung seraya mengontrol laju darah dan gejolak dadanya yang tak normal.


"Dan semoga wanita yang kau kejar itu, bisa menjadi milikmu!" Ia tersenyum kecut, sejurus kemudian Rania berbalik dan berlari. Meski ia malu, namun jujur ia lega dengan mengungkapkan. Setidaknya buncahan rasa di hatinya yang selama ini ia simpan, sudah tersingkap dan di dengar langsung oleh yang bersangkutan.


Bastian menatap nanar Rania yang berlari kedalam. Ia memejamkan matanya dan menarik nafas.


Wanita itu adalah anda Bu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2