
Bab 213. Apapun untukmu
.
.
.
...ššš...
" Janganlah kau tinggalkan diriku, tak kan mampu menghadapi semua...hanya bersamamu ku akan bisa...."
( Diambil dari lirik lagu Andra and the Backbone ~ Sempurna)
.
.
Bastian
Raut wajah pria itu terlihat biasa saja saat Rania mengajukan pertanyaan tentang siapa orang yang tengah menginterupsi kegiatan syahdu mereka itu.
" Ini Trainer ku!" ucap Bastian seraya menggeser tombol hijau di ponselnya.
" Ya Bu?" tukasnya menjawab panggilan.
Rania memandangi wajahnya dengan alis bertaut, seolah ingin tahu apa yang dibicarakan perempuan di sambungan telepon itu.
" Bisa bantu saya? mobil saya mogok di Jalan silasona!"
Otot rahang Rania menegang. Wanita itu kesal begitu mendengar kerewelan Trainer Bastian. Entah ini sudah keberapa kalinya wanita bernama Yona itu kerap melibatkan Bastian di luar kepentingan.
" Emangnya gak bisa apa panggil montir?" dalam sekejap, kekasihnya itu merajuk karena ia sudah mendengar dengan telinganya sendiri.
Bastian menatap muram Rania," Kamu ikut ya, biar gak salah paham!"
.
.
Setumpuk laporan yang harusnya bisa kelar kini kembali terbengkalai demi urusan asmara cengeng, yang mulai tercium aroma pengacau. Insting Rania tak bisa di ragukan. Meski ia masih membisu di dalam mobil Bastian, namun hatinya takut bila hubungan mereka akan mengalami hal yang tidak di inginkan.
Tak seorangpun berminat untuk angkat bicara selama mereka dalam perjalanan , kesunyian masih berlangsung dan kebisuan masih bertahan. Rania sibuk dengan menatap jalanan di kaca dengan hati dongkol, serta Bastian yang mendadak tak memiliki ide saat pacarnya ngambek.
Jalan itu sebenarnya dekat dengan lokasi Dapur Isun yang tengah di rehab. Rania menggeleng tak percaya seraya hatinya mencelos saat melihat Bastian yang turun, " Kamu disini aja ya, aku kesana sebentar!"
" Kamu lihat aja, biar kamu percaya kalau aku gak ngapa-ngapain?" Bastian mencium punggung tangan Rania.
Rania sebal. Dari jarak lima meter, ia melihat Bastian yang menggulung kemejanya sebatas siku demi orang lain. Otot lengan pria pujaannya itu mengetat saat membuka kap mobil bagian depan.
" Apa maunya wanita itu, berani bikin ulah. Abis elu!!!" Rania menatap tajam ke arah depannya, dengan posisi masih berada di dalam mobil.
" Oh, air radiatornya kering ini Bu!" Bastian sudah mengira. Hal sepele ini sering tidak di sadari oleh kaum wanita.
" Oh astaga, aku benar-benar gak tahu Bas!"
" Emmm Bu Yuna ada air mineral, atau...?" Bastian menatap Trainernya wajar, namun tidak dengan wanita itu.
" Ada, sebentar!" wanita itu terlihat memutari mobilnya, lalu masuk dan mengambil botol air mineral.
Rania tak tahan, ia kesal. Untuk apa ia harus ikut kalau hanya untuk jadi penonton. Menyebalkan sekali.
" Apa masih lama?" Rania keluar dari mobilnya. Menatap Bastian kesal.
Membuat mata Yuna membulat.
...ššš...
Dua bulan berlalu, tepat di hari Minggu ini Abimanyu sengaja mengajak Dhira untuk memeriksa kandungannya secara rutin. Ia tak mau kehilangan momen membahagiakan ini.
__ADS_1
Definisi dari suami siaga harus ia implementasi dong.
" Sudah masuk Minggu ke 29 ya Bu!" calon istri dokter Arya itu tersenyum ramah. Ia melakukan tugasnya dengan baik.
" Iya dok, saya mudah lapar sekarang!" sahut Dhira.
"Itu bagus Bu. Sudah gak mual lagi kan tapi, sudah masuk trimester kedua akhir soalnya ini!" Dokter Septa tersenyum ramah.
Abimanyu sudah terlihat tak mempersoalkan perihal Arya lagi. Kecemburuan Dhira sewaktu ia ke kota BL beberapa waktu yang lalu seolah menjadi penegas bila dia juga harus bisa berfikir idealis.
" Makannya memang harus banyak, karena pertumbuhan janinnya juga sudah besar!"
" Ini vitaminnya saya tambahi dengan zat besi ya Bu, usahakan untuk tidak terlalu lelah ya Bu!"
Dhira dan Abimanyu masih masih dalam daftar PUS ( Pasangan Usia Subur) .Namun, usia Dhira yang juga sudah terbilang matang, mengharuskan wanita itu untuk lebih menjaga kandungannya.
Abimanyu masih tekun mendengarkan interaksi kedua wanita itu. Tanpa berniat untuk menyela.
Dokter Septa mula-mula meminta Dhira untuk menimbang berat badannya guna mengetahui perkembangan berat normal ibu dan bayi, mengukur tekanan darah, mengukur tinggi fundus, juga memeriksa denyut jantung janin dengan alat khusus.
Hati Abimanyu menghangat saat mendengar rekaman detak jantung calon anaknya yang terdengar dari sebuah alat medis milik dokter Septa itu.
" Dok, apa jenis kelaminnya belum bisa dilihat lagi?" Abimanyu penasaran dengan calon anaknya itu.
" Oh baik, kemaren belum terlihat ya Pak. Adeknya malu kayaknya ini..." Dokter Septa berkelakar, karena memang pada USG bulan lalu, posisi bayi belum menguntungkan.
" Ini ya Pak, sepertinya anak bapak berjenis kelamin...."
.
.
" Mas, aku pingin banget beli duku!" Dhira mengusap perutnya yang membesar itu dengan bibir manyun. Ia bisa merasakan perbedaan antara hamil Raka dulu dengan hamil anak keduanya itu.
" Duku yang...asem itu. Yang pernah di bawakan sama Rania?"
" Bukan itu, itu Rania salah beli!"
Plak!!!
" Kebiasaan!!" sahut Dhira cepat. Kening Dhira berkerut " Yang Bapaknya itu mas Abi atau pak Devan?" Dhira memukul paha kiri Abimanyu yang fokus menyetir.
Membuat pria itu meringis.
Dan seperti suami siaga lainnya, Abimanyu juga ingin menunjukkan betapa sayangnya dia kepada wanita di sampingnya itu. Tak pernah lekang dari ingatan, semua penderitaan yang di alami istrinya itu saat bersama Indra.
Membuatnya harus sebisa mungkin, menuruti kemauan Dhira. Apapun untuknya.
" Kamu disini aja ya, panas diluar. Aku gak lama!" Abimanyu berbicara seraya melepaskan seatbelt yang ia kenakan, rupanya Dhira menginginkan duku yang dijual di mobil, yang berada di tepi ketika mereka melewati pasar dadak yang tergelar tiap hari Minggu itu.
" Iya, kalau ada sama pencit ( mangga muda) ya mas. Nanti aku mau buat sambal rujaknya sendiri. Dirumah ada buah lain!" jawab Dhira.
Pria itu mengangguk, seoalah akan menyanggupi semua permintaan Dhira. Jangankan pencit, bakulnya pun akan dia angkut kalau istrinya itu mau. Cihaaaaa!
Dhira menatap punggung lebar suaminya yang mulai menjauh dan berjalan menuju mobil pickup yang berkisar limapuluh meter dari tempatnya menunggu.
Dhira tersenyum melihat suaminya yang penampilannya kontras ketika berada di kerumunan aneka pedagang itu. Pria yang kerap mengungkungnya saat mereka bercumbu.
Abimanyu ganteng.
Ia lalu menyapukan pandangannya ke arah lain, dahinya berkerut saat ia melihat bocah berusia hampir sama dengan Raka, namun menangis seorang diri di bawah lapak dagangan orang yang persis berada di sampingnya.
Anak kecil itu memeluk lututnya seraya mengusap wajahnya yang berair.
" Kenapa dia?" entah mengapa Dhira menatap anak itu iba. Tampilan anak itu juga terlihat kurang bersih.
Dhira keluar dari mobil dan berniat menemui anak itu, ia membiarkan mobilnya kosong. Ia berjalan sebentar dengan keadaan perut membuncit.
" Hey, adek kenapa?" Dhira yang tak bisa berjongkok itu hanya mengelus puncak kepala bocah perempuan itu pelan.
__ADS_1
Membuat anak kecil itu mendongak menatap Dhira. Pandangan mereka bertemu. Sepasang mata jernih yang polos itu, langsung berkaca- kaca saat Dhira menyapanya.
" Seperti pernah lihat, tapi dimana?" batin Dhira seraya mengingat sesuatu.
Wajah anak itu datar dan menyambut Dhira dengan diam, meski rautnya tak menunjukkan keramahan juga.
" Kenapa dek?" Dhira kembali bertanya.
" Bisa tolong mama saya?"
.
.
Abimanyu
Pria sekelas Abimanyu yang biasa sarat dengan kehormatan itu, kini mendadak menjadi primadona ibu-ibu yang berjualan di lapak-lapak toko kelontong di samping trotoar pasar dadak itu.
Ia sampai menjadi rikuh sendiri.
" Dukunya satu tray itu mas. Jangan sampai salah ya mas!" Abimanyu menunjuk buah yang bentuknya mirip dengan Langsat/ Langsep.
Buah duku memiliki sedikit getah bahkan ada juga yang tak bergetah sama sekali, sedangkan buah langsat memiliki kandungan getah yang tinggi.
Tak seperti buah langsat, duku memiliki daging buah yang tebal.Meski buah duku berdaging tebal, tapi kandungan airnya lebih sedikit ketimbang buah langsat. Namun memiliki rasa yang manis.
" Aman ini Duku Pak, bukan Langsep kok. Nih,ini besar!"
" Semua pak?" pedagang itu menatap Abimanyu tak percaya, baru kali ini ada yang mau beli duku sebanyak itu kepadanya.
Abimanyu mengangguk " Tapi tolong bawakan ke mobil saya ya, sama itu pilihkan mangganya yang masih muda!"
Pedagang itu mengangguk paham, " Buat istrinya ya pak, pasti lagi hamil!" ucap pedagang pria yang nampak kegirangan karena dagangannya laku banyak.
Manfaat duku untuk wanita hamil adalah dapat membantu saluran pencernaan. Keluhan umum wanita hamil adalah sembelit. Dengan konsumsi duku yang memiliki kandungan serat yang cukup, dapat mengatasi masalah saluran pencernaan seperti sembelit.
Abimanyu tersenyum, karena ia memang sedang senang dan bahagia dengan permintaan Dhira yang kerap membuatnya terjun langsung untuk membeli. Membuat Abimanyu kini menoleh ke arah mobilnya.
Namun, kesenangannya menguap seketika karena ia tak melihat istrinya berada di dalam mobil. Abimanyu membuka dompetnya cepat, untung saja ia menyempatkan mengambil uang cash tadi.
" Ini mas, setelah ini tolong bawakan ke mobil saya. Ada disana!" Abimanyu memberikan lima lembar pecahan seratus ribu ke pedagang itu dengan terburu-buru.
" Wah!!! Pak ini...." pedagang itu melongo saat melihat banyak sekali uang yang diberikan Abimanyu.
" Doakan persalinan istri saya lancar ya mas. Ambil saja kembaliannya!"
Pedagang itu bahkan merasa takjub. Pria necis, ganteng dan kaya itu sungguh cerminan nyata sebuah kebaikan.
" Ya Allah makasih banyak Pak, semoga semua yang di harapkan Bapak terkabul ya Pak"
" Saya kesana dulu!" tunjuk Abimanyu ke mobil sedan hitam yang mengkilat itu.
" Siap Pak!" pedagang itu mengangguk paham.
Kecemasan mendadak melanda hati Abimanyu. Kemana perginya istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Readerku, maafkan mommy ya. Beberapa hari kedepan mommy sibuk di dunia nyata. Tapi akan mommy usahakan untuk Up.
Keponakan lagi berkhitan, doakan lancar ya semuanya....